Jerat Kecil yang Masih dikendalikan Tuhan

Jerat yang menjeratku kali ini, telah menunjukan taringnya. Jerat paling menjerat yang membuat aku, terasa tercekik dengan cengkraman paling kuat. Jerat itu tak hanya mencekik leher ini, rasanya kaki dan tanganku dirantai hingga aku tak bisa lari kemanapun. Aku tak bisa bepergian jauh, selain hanya berputar di tempat yang sama. Jeratan-jeratan gila yang sebenarnya tercipta dari lingkunganku sendiri. Jerat yang menjerat ini lantas dinamis sesuai konteks. Dinamis ketika tak terancam namun berubah menjadi mengancam ketika terancam. Ada sedih yang berteriak dalam benak, tapi tak bisa bereaksi selain hanya membiasakan segalanya. Kadang ada air mata yang mencairkan sedih yang sudah membatu, tapi sama saja. Rasanya aku hanya ingin mengakrabi segalanya.

Jerat yang berupa tekanan yang terus menekan ini, membuatku tak ingin bertumbuh, membuatku rasanya ingin enyah dan berlari sejauh mungkin namun terhalang dan ditegur oleh semesta. Semesta mengingatkan untuk terus berbaik sangka pada kendali Tuhan. Sesungguhnya, kedaginganku lebih kental seperti yang terkutip dalam ayat Alkitab sehingga seringkali aku tak luput dari prasangka buruk pada kendali Tuhan. CaraNya mendewasakanku masih belum aku pahami, sehingga seringkali aku bersedih hati hingga berhari-hari untuk segala nyata yang dinyatakannNya.

Patah hati, merasa kecil hingga meremuknya kepercayaanku padaNya menunjukan betapa aku tak dewasa menyikapi rencanaNya. Apa dayaku yang tak bisa mengukur dan menyelami keinginanku sendiri yang kadang terlalu pasif untuk semuanya? Inginku hanya direstui olehNya, hanya merestui segala nyata yang sedang aku persiapkan atas ijinNya. Tapi agaknya sekilas kelihatan seperti aku mengatur kehendakNya, bukan?

Iya. Aku terlalu mengatur kendali Tuhan hingga lupa diri bahwa apa yang diperbuatNya adalah terbaik versiNya. Sekarang jerat yang aku alami kini, bukan jerat yang melebihi kemampuanku, tapi sesekali aku tak berdaya menanggungnya. Jerat itu menghantam diriku hingga tak berdaya, jerat itu menghilangkan seluruh harap yang sedari dulu sudah aku semogakan. Kadang tak ada yang bisa memenangi hatiku, selain kesedihan yang terus menggagahiku. Kesedihan telah menggagahiku berulang kali, hingga dalam benakku hanya mengandung hingga beranakan kesedihan yang terus menghujaniku. saudara-saudari dari kesedihan itu adalah remuk hati, patah hati hingga tak pernah berbaik sangka pada kendali Tuhan. Sejatinya, ada apa denganku?. Aku sedang kacau oleh nyata yang menyedihkan. Aku sedang dikacaukan oleh nyata yang membunuh bahagiaku dan nyata yang menyakiti hatiku.

Tak ada apapun yang bisa aku lakukan selain berdoa dan berserah pada cara Tuhan untuk menunjukan berkatNya padaku, walau sesungguhnya menurutku ini berbeda. Aku hanya ingin menapaki hari depan yang penuh harapan bersama kasih Tuhan yang terus merestui langkahku. Setelah jerat yang menjeratku kini, aku semakin menyadari bahwa ada pribadi yang merindukanku.

Siapa lagi kalau bukan Tuhan? Dia yang rindu ketika aku telah jauh beberapa langkah dariNya, dia yang rindu ketika aku sedih dan lupa mengadu padaNya. Karnanya, caraNya menegurku telah menyadarkanku bahwa dengan terus mengakrabkan diri denganNya, perkara berbaik sangka pada kendali Tuhan adalah hal mudah. Pencobaan serta jerat yang aku alami sekarang, adalah cara halus dariNya untuk memulihkan langkahku dan caraNya untuk membuatku percaya sepenuhNya pada kebaikan versiNya. Sebab pencobaan serta jerat yang pernah merenggut rasa percayaku padaNya, sudah aku pahami bahwa semua terjadi atas caraNya.

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya- 1 Korintus 10:13

img_20180712_12151484463732.jpg

Belajar dari bunga daripada tanaman putri malu yang dengan kokoh mekar berwarna merah muda, memperindah duri yang menghiasi tubuh tanaman putri malu. Adalah suatu ciptaan terindah ketika duri yang mengekang, membiarkan bunga bertumbuh dengan leluasa. Sederhana, seperti bunga pada tanaman putri malu bisa tumbuh dengan kasih, pencobaan serta jerat kecil yang sekarang aku alami akan mem”bunga”kan kisahku bahkan nyata pada masa ini. Saat ini aku hanya ingin menyadari bahwa jerat kecil ini masih terus dikendalikan oleh Tuhan.

Iklan

Berbaik Sangka Pada Kendali Tuhan.

img-20180708-wa00181722936032.jpg

Belum terlintas sama sekali untuk mencoba berdalih atas kenyataan kini. Masih segar di pikiran ini, bagaimana kenyataan meledakkan waktu dan membentak mimpi panjang ini. Mimpi panjang kita, ya mimpi panjang kita. Mimpi yang membuat kita merasa berntung telah saling bersama, tapi terhempas begitu saja ketika kenyataan meneriaki kita. Lantas aku berpikir, siapakah yang bersalah atas segalanya?

Kita. Kita terlalu mendahului segalanya, hingga saling terluka ketika kenyataan sesungguhnya menghampiri kita. Kita terpental milyaran kilometer, saling berpunggungan, saling tak menyapa, saling tak berpamitan bahkan saling merindukan namun menolak keberadaan rindu itu. Kesalahan kita ketika mendahului kenyataan, hanya karna saling berprasangka baik dan merasa saling membutuhkan. Saling membutuhkan untuk saling bertumbuh lalu lebih menekankan untuk merasa saling membutuhkan. Sudah terasa, namun kenyataan masih enggan menghampiri semuanya hingga apapun yang selama ini telah kita hampiri kelihatannya seperti fatamorgana. Ironisnya, semuanya itu terlihat sebagai ilusi yang nyata walau sebenarnya itu nyata. Wahai kenyataan, tak bisakah kau membuat kita berbaik sangka padamu?

Aku lupa menjelaskan, bahwa alasan kita untuk mendahului kenyataan adalah alasan kita untuk berbaik sangka pada kendali Tuhan sebab kita yakin ketika kita dipertemukan, adalah cara Tuhan mempertemukan insanNya. Alasan itu kita pegang, ketika kendala maupun ancaman-ancaman menyakitkan bahkan mengerikan pernah mendatangi kita. Kita saling menguatkan hanya dengan harapan kita bersama yaitu tetap berbaik sangka pada kendali Tuhan.

Hingga kenyataan menghampiri kita, kenyataan yang begitu sesungguhnya. Kenyataan yang melukai setiap nyata kita, kenyataan yang merobek seluruh nyata yang kita taklukan dengan cara kita, kenyataan yang menggemparkan dan meretakan semua nyata paling baik yang telah kita hampiri sebelumnya. Boleh aku katakan, bahwa ini adalah kenyataan pilu. Wahai kenyataan, mengapakah kau buat murung wajah-wajah yang ingin berbaik sangka padamu?. Wajah murung kita, menandakan bahwa telah kita tolak kenyataan yang sesungguhnya. Setelah kita tolak kenyataan yang sesungguhnya, lantas apa lagi yang bisa aku katakan selain kali ini kita tak dapat lagi berbaik sangka pada kendali Tuhan bukan?

Fase berikutnya setelah tak bisa berbaik sangka pada kendali Tuhan, kita diperhadapkan dengan nyata berikutnya yaitu terluka dengan sendirinya. Tak ada sayatan yang menyebabkan darah, tak ada luka robek pada daging, tak ada sayatan ratusan meter pada permukaan kulit di tubuh namun kita telah terluka. Wajah kita yang dulu tersenyum tanpa diminta, kini lebih pelit senyum. Obrolan kita yang dulu begitu banyak dan panjang, kini kita hanya berdialog seadanya. Hanya saling menyapa ketika pagi, bila ada situasi genting. Bila tak ada, maka percakapan kita sunyi senyap. Siapakah yang harus bertanggung jawab untuk semuanya ini?

Nyata sesungguhnya yang atas ijin semesta menghampiri kita, sudah aku putuskan untuk menenggelamkan apapun yang muncul di permukaan tentang kita. Tak tahu dengan kau, sepertinya kau juga demikian. Walaupun sesungguhnya ketika kita saling membutuhkan, rasa enggan untuk menyapa membuat kita begitu arogan. Jika saling tak ada rasa canggung, sekarang kita begitu menyetujui jarak yang sedari dulu ingin mengalahkan kita. semua omong kosong yang dulu sempat kita sanjung-sanjung, kini hanya berupa isapan jempol. Bukan jempol jari, namun kaki yang sulit dilaksanakan.

Sesungguhnya aku yakin, semua ini adalah rasa terbaik dan kesalahan terbaik yang pernah aku lakukan. Kesalahan terbaik yang membuatku betah untuk berbaik sangka pada kendali Tuhan. Kesalahan terbaik yang aku alami sekarang membuatku merasa bahwa sesungguhnya, tak perlu lebih dahulu dilukai untuk merasa terluka. Bahkan ketika sedang berbaik sangka pada kendali Tuhan pun, kita masih memiliki peluang paling besar untuk terluka. Sekarang aku sedang menikmati rasa terluka yang aku alami kini, dengan terus percaya bahwa alasan semesta melayakkan ini terjadi pada kita adalah sebuah pengalaman baru yang membuatku menapaki hari baru dengan berpegang pada restu semesta yang terus dikendalikan oleh Tuhan.

Soal kau, yang juga sudah menyerah; aku tak ingin kita saling terpaksa untuk saling menjaga. Aku sangat tahu, bahwa caramu menjagaku adalah berbeda dengan pria manapun di bumi ini. Caramu menjagaku adalah cara ter-unik yang takkan kutemukan dimanapun, selain hanya pada dirimu. Caraku menjagamu juga kujadikan sebagai acuan untuk melakukan segala sesuatu dengan cinta-kasih dan ketulusan. Lewat kisah dan nyata yang kita punya dahulu itu, aku telah menemukan defenisi mengasihi yang sesungguhnya. Yang kau perlihatkan bahwa ketika mengasihi yang sesungguhnya adalah cara mencintai apapun yang ada pada orang lain termasuk segudang keburukan yang membuatnya terjebak di sana. Aku menemukan bahwa cinta kasih serta ketulusan adalah rasa paling bahagia yang membebaskan seluruh belenggu yang membelenggu, seluruh jebakan yang menjebak maupun semua seluruh luka yang terus melukai.

Cause all of me, loves all of you. I love all of your perfection and imperfection.

Itulah mengapa setelah aku berpikir dan berefleksi atas kisah kita yang sudah kandas dan karam ini, aku merasa begitu beruntung telah mampu menyatakan semua ingin serta kepribadianku pada orang sepertimu, telah percaya dan bercerita apapun tanpa sekat apapun padamu, telah menemukan semua yang sempurna bahkan ketidaksempurnaan yang membalutmu dan telah menemukan apa itu rasa syukur setelah nyata atas ijin semesta membentak kita.

Aku yakin, inilah alasan Tuhan membuat kita saling menemukan lalu saling mengurai apapun untuk saling bertumbuh lalu menemukan defenisi apapun yang selama ini bertanya-tanya dan melintas di ingatan. Inilah juga merupakan skenario Tuhan, bahwa semua bisa terjadi atas restuNya. Kita hanya dipertemukan untuk saling melengkapi, bukan saling memiliki. Tangan kita yang sekuat mungkin berusaha menggenggam, kini telah terlepas dengan sendirinya. Inilah yang selalu kita katakan, ada cara Tuhan untuk mempertemukan dan memisahkan.

Lantas kesalahan terbaik ini, adalah yang pertama yang membuatku tak lagi menghakimi nyata maupun kenyataan. Setelah aku menuliskan ini, aku sudah mampu tersenyum akan segalanya. Terima kasih untuk nyata di kenyataan sesungguhnya yang dahulu melukai, menurutku. Sekarang ini bukan lagi sebuah luka, tapi nyata di lembaran paling baru dan pengalaman atas segala kesalahan terbaik bersamamu.

Terakhir untukmu, tetaplah berbaik sangka pada kendali Tuhan!. Harapanku, kau akan terus mencari dan menemukan orang yang darinya bisa membuatmu bercermin, darinya mampu membuatmu ingin terus pulang, dirinya yang membuatmu betah untuk terus mendengarkan dan terus membuatmu berbaik sangka pada kendali Tuhan. Terima kasih telah membuatku merasa beruntung.

Untukmu Tuan Irit Kata, yang juga menguatkanku dengan tetaplah berbaik sangka pada kendali Tuhan!.

Dariku, Gadis Banyak Kata. Semoga kita terus berbaik sangka pada kendali Tuhan.

 

Kala Cinta Meluka, Cinta pun Membalut

img_20180625_1610001831274158.jpg

Cinta yang seharusnya tak melukai, kini semakin dalam menikam. Tak berdarah, sekalipun tak berdarah namun sakitnya sudah berakar. Cinta yang tadinya baik-baik saja, kini sudah sakit-sakitan dan membutuhkan penyembuhan. Cinta yang tadinya saling memahami, kini telah lebih banyak saling menuntut. Cinta yang tadinya saling mengasihi, kini lebih banyak saling menghakimi. Cinta yang tadinya saling mengampuni, kini lebih banyak mengungkit kesalahan dan cinta yang tadinya bisa menghidupkan kini lebih bisa untuk membunuh.

Ada mata pedang yang dengan mudah menusuk bila cinta itu sudah tawar dan tak berasa lagi. Mata pedang itu bercabang hingga ketika membayangkannya saja, sudah ngeri. Belum lagi dengan luka yang diciptakannya, yang ingin dengan segera tersembuhkan namun luka itu terus menganga dan bahkan semakin lama semakin membesar hingga enggan tersembuhkan. Lalu harus bagaimana lagi? haruskah mati percuma karna sakit tak tersembuhkan ini? Kemarin, aku bercakap dengan seorang teman dekat. Katanya, dia pernah mati secara rohani untuk hal ini karna menyalahkan Tuhan yang mematahkan hatinya menjadi berkeping. Aku memperhatikan bagaimana dia bercerita kemarin, sepertinya dia sudah sangat berbaik sangka pada kendali Tuhan. Sepekan dia membiarkan dirinya dihancurkan oleh rasa pahitnya patah hati dan sibuk mengenang soal yang dahulu. Hingga dia tersentak serta terantuk kenyataan yang sekarang sudah berubah. Dia mulai membuka komunikasi dengan penyebabnya sulit melupakan masa lalu, lalu melalui komunikasi itulah mereka saling berbagi bagaimana sakitnya mereka ketika dipatahkan hatinya.

Di sana, mereka kembali melihat sosok berbeda ketika mereka telah saling menguatkan. Cinta yang tadinya telah patah itu, telah pulih dan semakin kuat kembali. Katanya padaku, jangan remehkan setiap sakit yang kau derita, sebab tak selamanya sakit itu menyengsarakan. Katanya lagi, aku telah patah sepatah-patahnya, tapi telah kutemukan arah paling baik untuk melihat alasan patahnya hatiku saat itu. Sakit yang aku derita, telah membawaku pada sebuah gerbang baru yag lebih berarti. Gerbang itu membawaku ke kediaman bahagia, yang sejatinya telah aku pahami bagaimana menata sakit untuk menjadi pelajaran. Cinta yang semakin kuat itu, bukan untuk kembali menjadi berdua. Namun saling mendukung untuk terus bersama, dalam cinta yang telah berbeda rasa. Semakin dekat bukan untuk berdua, namun untuk saling menjaga ketika tangan tak lagi saling berpegangan. Tak lagi saling merana agar luka tak mengaga, ketika jalan telah buntu. Namun sebaliknya, saling menemukan jalan keluar walau sesungguhnya sakit namun ditanggung berdua. Begitulah cinta yang mengajarkan bahwa pasrah pada kendali Tuhan (yang sering aku katakan pada kawanku ini), adalah rasa cinta kita yang kita utarakan pada Tuhan termasuk bagaimana Tuhan mematahkan hati lalu mengarahkan untuk kembali dipulihkanNya.

Sekali lagi aku tatap dia, ada senyum yang lahir di setiap narasinya. Sekarang, ia telah benar-benar positif untuk menikmati sakitnya yang dahulu padaku. Dia hanya menerangkan padaku bahwa selamanya cinta takkan pernah melukai, yang melukai hanyalah kenyataan. Yang melukai adalah semesta yang tak memberikan restu, yang melukai adalah kenyataan yang tak sesuai harapan dan asa yang tak terkendali dan masih sulit dikendalikan.

Aku setuju dengannya. Sebab yang aku pahami adalah, cinta itu tulus. Cinta takkan pernah bertumbuh jika tidak dipupuki, cinta takkan menangis sedih jika tak ada perpisahan. Cinta takkan meninggalkan, jika telah ditinggalkan. Jika semesta tak merestui cinta, sejatinya cinta terus mencari tempat untuk berteduh. Cinta terus mencari arah jalan pulang untuk tinggal dan tumbuh di tempat yang semestinya. Jika cinta tak bersedia tinggal bahkan ketika cinta menanamkan duri, tenanglah dia akan membalutnya kembali dengan kasih. Tak ada cinta yang tak pernah tulus, sebab cinta mengajarkan tentang ketulusan. Hal paling maha bahagia adalah ketika tulusnya cinta merelakan yang bukan tempat tinggalnya untuk bertumbuh. Karnanya, dia hanya mengatakan padaku bahwa merelakan dan melepaskan adalah bagian dari mencintai yang sebenarnya. Mencintai setiap pergerakan yang berubah hingga menyakiti, mencintai perubahan yang belum terbiasa dan mencintai seluruh kekurangan yang tak pernah terperi.

Terima kasih untuk kawan yang terus berterus terang, terima kasih untuk terus menerangkan. Terlalu menyenangkan menjadi seorang yang engkau cari ketika terluka dan telah disembuhkan.

Belajar Berbaik Sangka pada Kendali Tuhan.

Aku amat bahagia tatkala kendali Tuhan masih mampu aku nikmati dengan sikap positif. img_20180620_150426_51579978649.jpg

Menikmati setiap nyata yang terlintas dan terekam sedemikian rupa hingga menjadi nyata paling bersejarah yang membuatku ingin terus berziarah pada nyata itu. Setiap nyata itu sempat membuatku berdrama cukup banyak, sebab tak aku nikmati. Jangankan menikmatinya, merasakannya saja membuatku tak berselera. Seringkali sikapku hanya tertegun ketika berziarah pada nyata itu, namun semakin aku menghindarinya semakin pula nyata itu menghampiriku. Baru aku sadari, ternyata kita (aku dan nyata itu) saling berziarah, saling berjumpa. Tapi aku terus menghindar, namun nyata itu terus memelukku. Nyata itu terus memelukku, nyata itu enggan hilang bahkan enyah. Nyata itu yang sempat aku bunuh, bangkit kembali dan masih terus bernyawa dalam ingatan. Nyata itu tak bisa dibunuh dengan racun yang aku ciptakan untuk mencemari ingatanku dan nyata itu juga tak bisa aku bunuh hanya dengan mencekik ingatan itu.

Nyata itu terus menghampiri ingatanku terus menerus, hingga aku mengerti mengapa dia terus kembali. Rupanya aku masih belum berbaik sangka pada kendali Tuhan, bahkan terus meragu padaNya. Bagaimana aku bisa berbaik sangka pada kendaliNya, bila aku terus mengalami guncangan-guncangan besar? Bagaimana aku terus berbaik sangka padaNya, ketika aku sudah dengan sepenuh hati pasrah dan percaya pada kendaliNya tapi aku tak pernah menemukan hal yang baik? Bagaimana aku bisa tak meragu padaNya, ketika aku sudah melakukan semua yang terbaik versiku, tapi selalu tak pernah menguntungkan aku?

img_20180623_1403201320780602.jpg

Nyatanya, aku terlalu banyak meragu. Aku juga terlalu banyak kecewa, terlalu banyak melihat nyata orang lain yang menyenangkan, hingga lupa bahwa belum saatNya, kendali Tuhan terlaksana dalam hidupku. Perkara menunggu memang terasa begitu menyakiti, apalagi gejolak dalam diri yang terus berteriak hingga membuatku muak akan seluruh kenyataan itu. Perkara kata-kata yang mampir di telinga, yang seketika mampu membunuh segala rasa percaya dan segala rasa berbaik sangka. Perkara kalimat-kalimat yang bisa menghentikan denyut jantung yang masih normal, kalimat yang mampu membunuh rasa bahagia dalam sekejap. Bisakah aku temukan jawaban yang sederhana untuk menjawab bahkan menjelaskannya? Tak ada, selain hanya terus berbaik sangka pada kendali Tuhan. Melihat semua nyata yang ditampilkanNya adalah yang terbaik versiNya, melihat semuanya sebagai hal paling menguntungkan.

img_20180625_140035585951680.jpgIya, semua memang hanya soal sudut pandang. Tapi bagaimana bisa, sudut pandang bisa dikalahkan oleh kenyataan? Semakin aku merenung, semakin aku melihat bahwa setiap kenyataan menghadirkan hal-hal yang bisa membungkam sudut pandang. Soal bungkam-membungkam, memang itu handalnya kenyataan. Sebab segala jawaban adalah kembali pada kenyataan yang merekam segala peristiwa serta rasa.

Setelah aku berjumpa dengan pantai, aku belajar begitu banyak darinya. Aku belajar soal kenyataan adalah hal sebaik-baiknya dari Tuhan, laksana bibir pantai yang disinggahi jejak-jejak kaki manusia.

img_20180625_1447221113325564.jpg

Aku juga belajar bahwa nyata yang tak berdrama adalah terus berbaik sangka pada kendali Tuhan, laksana ombak yang menghantam bibir pantai dengan ganasnya, bahkan tak pernah melembut. Soal itu, pantai tak pernah marah maupun dengki. Ia hanya menanti, sebab dirinya tak pernah merasa kesepian. Sama seperti kenyataan, ada yang begitu men”suka”kan rasa, namun ada yang mendukakan nyata. Soal itu, sesungguhnya aku hanya perlu untuk terus berbaik sangka padaNya atas segala peristiwa dan nyata yang menyapa kisahku.

img_20180625_1344481420176382.jpg

Soal bunga rerumputan yang mengindahkan setiap sudut rumput di pinggiran pantai adalah soal kasih pada kendali Tuhan, yang mengirimkan kemungkinan yang terus membuatku berpikir bahwa ada nyata selanjutnya yang membuatku berbahagia. Terima kasih untuk setiap kendali Tuhan, yang membuatku belajar menikmati kasihNya.

img_20180623_1353431709432174.jpg

To my beautiful life, i love you as you are and i promise to stay positive with everything happen in my life. Thankyou for showing how wonderful you are. 

img_20180625_16094039299152.jpg

Teruntuk, Yang Teristimewa.

Dear, My Particularly Person. I don’t just love you, but I also adore you very much!

Semilir angin yang bersayup menjumpai tubuh, mengingatkan bahwa ada pertemuan singkat yang baru saja terlaksana. Pertemuan yang diskenario sedemikian rupa, yang sempat berkali-kali gagal karna tak menemukan jalan keluar yang sesungguhnya. Pertemuan yang sempat pula didesain sebaik mungkin, namun terkendala karna hujan yang tak merestui. Hujan hari itu tak sepenuhnya berkuasa atas langit, namun sejatinya ia telah cukup banyak mengendalikan waktu kala itu. Tapi sudahlah, kita sudah bertemu hingga aku yakin hujan telah pergi jauh setelahnya (haha).

img-20180630-wa00451614102254.jpg

Semilir angin yang sejenak menyapa, membelai lembut para insan yang merindukannya. Tak tahu bagaimana, namun semilir angin mengirimkan sejumlah gelombang indah hingga menghaturkan ihwal-ihwal kasih yang terajut. Ihwal yang tak sempat terdeskripsi lagi, karna sudah habis massanya. Semilir angin yang belum mau pergi itu, berbisik lembut akan kebahagiaannya yang turut membuat suasana pertemuan kita menjadi menyenangkan. Sesungguhnya segala yang menyenangkan adalah rupa kita yang perlahan-lahan telah mengalami perubahan (haha). Janganlah aku kisahkan di sini, sebab aku yakin akan tercipta ejekan-ejekan membangun yang berikutnya (haha). Soal rupa yang mengalami perubahan-perubahan kecil, memang pada dasarnya adalah kebutuhan. Iya kan? sekali lagi, maafkan aku yang mulai bicara tak jelas karna tak menemukan apa yang harus kukatakan disini, dan hanya memperpanjang karakter kata di tulisan tak berjangka panjang ini.

img-20180630-wa0041809234358.jpg

Tak ada cerita panjang yang membingkai pertemuan kita karna dikandaskan oleh kesibukan memotret bersama, berkunjung banyak kali ke toilet ataupun sibuk dengan ponsel masing-masing. Tapi sejenak aku pikir, bahwa pada dasarnya kita punya dunia masing-masing yang cukup membelah kebersamaan kita. Sebaliknya, membelahnya kebersamaan itu yang menurutku telah memperpanjang percakapan yang memuat hal-hal aneh nan enak bila ditelusuri semakin jauh. Rumusnya adalah timbal-balik, ketika seorang yang menjadi kunci cerita dan yang lain melahirkan ribuan pertanyaan yang memperpanjang cerita yang tadi-tadinya sesungguhnya terlalu garing dibahas.

img-20180630-wa00811167584072.jpg

Bila harus jujur, aku tak hanya mencintai setiap detik ketika kita bersama. Sebaliknya, aku begitu mengagumi setiap inchi yang tersimpan di balik diri kalian. Setiap bibir yang bergerak ketika berbicara, setiap mata yang melotot ketika menatap, setiap suara dan tawa yang menggema di udara, setiap tangan yang menunjuk dengan tujuan apapun dan setiap kaki yang mengantarkan tubuh untuk bertemu. Semua yang kelihatan itu telah membuat kita begitu saling mengenal.

Karnanya harus aku pastikan bahwa, kalian telah meng”istimewa”kan setiap nyata yang belum terwujud serta mewarnai setiap gambar yang belum sempurna. Terima kasih telah terus bersama, untuk setiap peristiwa istimewa yang telah kita buat.

To all of my particularly person’s. umi squad 20180704_1137511000983239..jpg

Prakarsa, Prasangka dan Prakarya diantara Kita.

Atas prakarsa Tuhan, semua yang asing kini terasa telah terbiasa. Sejak atas kendali Tuhan; kita diijinkan untuk saling mengenal. Perkenalan singkat yang berisi saling menguatkan akan kejadian lalu yang membekas di ingatan. Masing-masing kita membutuhkan angin segar nan sehat untuk mengeringkan bekas itu hingga menghilang. Tanpa sadar, perkenalan kita menyebabkan bekas paling baru di tempat yang tak sama. Bekas itu membekas sepenuhnya hingga angin segar nan sehat yang sekarang sedang kita cari, semakin sulit kita temukan. Aku yakin, bahwa memang kita sama-sama menyadari bahwa hal ini sungguh diluar dugaan kita yang sempat menyangka akan terus baik-baik saja.

Ternyata prasangka kita untuk terus berbaik sangka pada kendali Tuhan, patah juga ya? sejujurnya sejak saat itu aku sempat meragu mengapa harus seperti sekarang? Sudahlah, sejumlah tanya yang lahir dalam diam maupun suara hanya bisa aku sendiri yang menjawabnya dan sedang aku usahakan sendiri untuk menjawabnya, lewat sejumlah kenyataan yang menghampiri. Aku masih terus ingin terus berbaik sangka pada kendali Tuhan, karna itu aku terus meyakini bahwa ini adalah bagian dari jalan menuju kebahagiaan. Kadang ada kenyataan yang memotong-motong peristiwa bahagia menjadi kelam, namun melahirkan pengalaman-pengalaman paling berharga untuk terus aku pelihara. Juga sebagai pengingat untuk melangkah lebih baik lagi.

Prakarya Tuhan yang tak sengaja membuat kita saling menemukan, membuat kita patut bersyukur karna sempat mengisi kekosongan yang benar-benar menghampakan rasa. Setelah kita sudah saling memahami sebagaimana kita pada dasarnya, kita terkejut pada kejujuran masing-masing yang tak bisa lagi dikendalikan oleh logika. Di antara kita ada yang masih belum mampu menyeka keraguan yang terus bersarang, sedang yang satunya sudah mulai menjauh karna menepi untuk ketidakjelasan dalam hubungan ini. Aku tak bisa menjelaskan siapa yang menepi bahkan siapa yang belum menyeka keraguan itu, sudah jelas itu adalah kita berdua. Kini, kita telah menyadari bahwa telah ada sejuta pengalaman di puluhan bulan kebersamaan kita yang terpisah oleh lautan dan pulau. Jarak yang semestinya sudah kita taklukkan, kini telah mengalahkan kita. Kau yang dulu dengan gigih mengorbankan segalanya, kini telah kembali mengedepankan segalanya itu yang sudah pasti mengorbankan jarak ini. Sedang aku yang sudah terlanjur panas hati, sudah tak mau ambil pusing lagi atas semua lakumu yang dulu menghangatkan itu.

Peristiwa saling menemukan itu telah saling mendewasakan, telah saling mengingatkan kita bahwa kejenuhan bisa melenyapkan seluruh bahagia yang sempat menerbangkan kita. Kadang kita terlalu berpikir tinggi hingga terjatuh, terpental dan terluka karna tak ada pegangan dan inilah yang tepat bila melukiskan bagaimana kita sekarang. Kita masih sering menyempatkan diri untuk bersalaman dan bersilaturhami, namun terkalahkan oleh ego masing-masing yang kembali menggunung. Ego itu seperti gunung berapi yang terus menyimpan laharnya dan juga tak ingin memuntahkannya. Ego itu terus terpelihara hingga berakhir seperti ini. Mengambang tak jelas, seperti terapung di danau paling luas. Kita mengambangkan kisah yang pernah kita impikan indah, namun sekarang entah bagaimana harus aku jelaskan.

img_20180625_141131322560625.jpg

Sejak aku putuskan untuk mengisahkan ini, aku sudah merasa lega dan bersyukur atas segala yang terjadi diantara kita. Kita harus bahagia atas pilihan masing-masing. Bila kau membaca ini, terima kasih telah mengukir cerita indah bersamaku.

Gambar Yang Berbeda.

img-20180428-wa00221409867068.jpg

Yang namanya perubahan, tak ada yang menyenangkan bila dibiarkan begitu saja. Soal mengadaptasi segala proses, soal berpikir positif terkait segala juang yang sudah berhenti, soal belajar mencintai segala yang sudah terjadi, semuanya memang seputar segala yang akan menjadi kenangan. Soal kenangan, entah bagaimana aku masih sulit melepaskannya karna begitu saja tertempel di ingatan. Aku masih yakin seputar menyembuhkan diri memang butuh waktu yang tak singkat. Semua masih seputar, kenangan yang terus hidup dan terus bertumbuh. Semua juga masih berputar soal kenangan yang menyegarkan sakit. Semua memang terus berorientasi di tempat yang sama, yaitu soal tergenangnya kenangan bersamamu. Aku hanya ingin memeliharanya sekarang, sebelum aku siap menebang segalanya. Soal menebang, tak begitu mudah bukan? Iya, sungguh tak mudah. Masih terus aku usahakan, namun terhalang oleh ingin untuk terus memeliharanya.

Sekarang jarak yang sudah melonggar itu sudah mampu menghilangkan rasa untuk memelihara, walau hanya mampu bertahan dalam beberapa detik. Jarak yang melonggar itu sempat ingin membuatku pulang pada kenyataan, namun sekali lagi terhalang. Jarak itu hanya penguji sesaat bahwa aku harus siap menebang atau kembali memeliharanya. Sejauh ini, aku masih berpegang pada ingin yang terus memeliharanya. Aku masih menjadikannya cermin untuk memulai kembali segala lembar paling baru. Kedengarannya bahwa aku masih sulit bangkit dari semua yang dulu terlalu manis, bukan?

Sesungguhnya, tak demikian. Aku bukan sama sekali tak ingin bangkit atau bangun dari tertidurnya aku bersama mimpi di kisah yang lalu itu. Aku hanya sedang belajar menerima semua kenyataan yang sesunggunya masih terus aku teriaki, namun sudahlah masing-masing insan punya cara  sendiri mengembalikan rasa percaya dirinya setelah terpuruk oleh kenyataan. Bukan maksudku menyatakan bahwa aku terpuruk dan kehilangan rasa percaya diri, aku hanya sedang menyatakan sikapku untuk menata kembali rasa percaya pada kenyataan yang selalu melahirkan ribuan makna untuk aku pelajari.

Soal bagaimana selanjutnya, memang masih menjadi rahasia paling dalam. Rahasia terpaut segala jenis duka maupun suka yang masih belum bisa aku prediksi bagaimana jadinya. Soal prediksi-memprediksi memang menyenangkan, tapi lebih menyenangkan bilamana soal berkhayal. Sebab dalam sebuah khayalan tak ada yang mendukakan. Selalu menyuka hati, jiwa dan raga juga happy ending. Itulah mengapa aku katakan berkhayal menjadi kesengan tersendiri. Tapi sudahlah, aku hanya ingin menatap kehidupan yang terus berlanjut ini dengan setiap cerita baru yang lahir yang sudah tentu lebih nyata dari khayalan.

Aku terus belajar berlari dengan kenyataan yang semestinya bahwa aku mungkin tak seberuntung insane yang lain, yang bisa menerka dan terkaan mereka sangat tepat sasaran. Aku mungkin belum bisa mengasihi diri sendiri sehingga tanggung jawab besar belum bisa aku emban, sebab tak bisa aku sangkal kenyataan yang telah melukis dengan indah kisah ini. Soal membela diri sendiri setelah melihat yang lain, rasanya memang begitu ampuh untuk menghibur diri sendiri serta memelihara sikap untuk berpikir positif, walau aku tak yakin bisa bertahan sampai kapan. Sebelumnya aku terlalu banyak membandingkan diri dengan orang lain, hingga lupa bahwa setiap berkat tak pernah salah dialamatkan. Aku terlalu terlena dengan gambar orang lain, hingga aku memaksa untuk gambarku harus persis dengan mereka. Padahal gambar tiap orang berbeda kan?. Berkatku (mungkin) di tempat yang lain dan masih hilang arah, hingga belum menemukanku. Sungguh, aku telah lupa diri hingga lupa bersyukur sampai-sampai menyakiti batin sendiri dengan prasangka-prasangka paling buruk yang meretakkan rasa percaya.

Last, So don’t ever think I need more. Aku tak ingin apapun selain terus belajar berbenah diri untuk terus menjadi yang baik versiku. Menjadi orang yang terus belajar besyukur untuk setiap duka yang kejam dan kelam, suka yang menggembirakan maupun perpisahan yang begitu keji dan pedih aku rasakan. Aku ingin membuat gambar yang telah Tuhan gambarkan untukku ini, menjadi versiNya yang juga adalah yang terbaik untukku. Aku ingin menemukan gambarku yang sederhana, sebab Tuhanku adalah sederhana dengan cinta yang tak sederhana. Aku hanya ingin punya cinta yang sama dengan diriNya, yang terus mengasihi tanpa batas. Mengasihi tiada tara dan terus serta mampu mengampuni tiap hari. Memang tak semudah itu aku mampu sama dengan diriNya yang rela menderita bagiku manusia paling berdosa ini, namun aku terus mengagumi cintaNya yang tak kenal batas. Aku hanya ingin terus dibimbingNya menjadi manusia yang memanusiakan kehidupanku. Jika harus aku katakan, aku hanya ingin bilang bahwa selama ini aku tak menangis sendiri. Ada Dia yang menangis bersamaku, ada Dia yang lelah bersamaku dan ada Dia yang menangisi keangkuhan maupun kesalahanku. Ah, betapa aku beruntung dimilikiNya.

Soal berkat yang selama ini aku pertanyakan, sudahlah. Aku tak ingin meribetkannya hingga membuatku kalut dan hilang arah. Soal berkat yang datang tepat waktu, adalah bagian semesta sesuai arahan Tuhan. Sejatinya, sekarang aku hanya ingin mewujudkan diri untuk terus mendekatkan diri dengan Tuhan, belajar menemukan dan memelihara ketulusan dalam diriku, mencintai segala kenyataan yang menyenangkan, mendukakan, maupun perpisahan terkejam dan termanis. Masing-masing akan terjadi sesuai prinsipnya.

Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan memberi semangat kepada yang tiada berdaya- Yesaya 40:29