Kepada yang terasing dan tak bernama

Pagi ini aku susuri jalanan sempit di tempat terasing. Tak ada rumah warga, yang ada hanyalah bekas tempat tinggal para biarawati beserta sebuah Gereja Katholik yang aku pun tak tahu namanya. Kira-kira pukul enam pagi, orang berdatangan sembari lonceng gereja berbunyi tanda memanggil umat. Lorong kecil di depan pagar, dipenuhi tanaman hijau menawan. Tak hanya tanaman indah, ada juga rerumputan yang menambah kesan ke”asri”an tempat yang kami tempati kurang lebih dua hari itu. Bertambah dengan sebuah selokan yang kedalamannya kurang lebih dua meter, menggenangi air yang sejak semalam mengiring malam kami. Entah darimana air itu datang, namun melihatnya beserta arusnya ada rasa kagum yang lahir dari benakku.

img_20180812_0652461676902105.jpg

Kupetik sebuah tanaman rumput yang sejak kecil sudah aku kagumi. Sesungguhnya, tak banyak aku mengaguminya selain selalu mencabut atau mengenyahkannya karna ditugaskan oleh ibu. Namun tugas mengenyahkannya mengantarkanku pada suatu rasa kagum akan sederhanya rumput itu. Setelah beranjak dewasa, aku lupa akan kekagumanku padanya sebab tak pernah lagi berjumpa dengannya.

Entah bagaimana, aku bertemu kembali dengan rumput itu karna perkenalanku dengan seseorang. Aku bukan pengagum rumput itu ketika aku bertemu dan sempat saling mengisi waktu. Dia tahu bahwa aku menyukai sesuatu yang sederhana, tanpa tahu bahwa bunga yang begitu disukainya adalah juga rumput yang dulu aku kagumi.  Kami sempat bercerita soal kekaguman masing-masing hingga akhirnya aku tahu bagaimana dia bisa menyukai rumput tak bernama itu.

Sekarang kami telah menatap dan menghirup angin yang berbeda dengan suasana yang berbeda. Segala cara yang kita tempuh untuk saling melupakan, telah meluap-luap dalam ingatan. Tak ada lagi obrolan panjang, selain hanya mengucapkan selamat ulang tahun pada beberapa hari yang lalu. Sudah bisa menepi rasa sedih masing-masing dengan saling mendoakan untuk saling bahagia dengan jalan ceritanya masing-masing.

img_20180812_065123565789864.jpg

Ketika aku ingin menyapa pagiku, rumput itu tergeletak dan subur di tepi jalan. Aku petik lalu menatapnya lama. Tak banyak kata yang bisa aku katakan pada kedua orang yang bersamaku saat itu, selain hanya menatap rumput yang saat ini ada dalam genggamanku. Rumput yang dulu selalu mengiringi cerita lucu maupun tragis, di waktu yang lalu. Tentu saja, aku teringat padanya. teringat akan sosok yang menghidupkan kembali memori masa kecil yang tanpa sengaja lenyap, lalu kembali hidup dan mungkin akan abadi. Rasanya ingin aku potret lalu segera mengirim padanya, namun terhalang ketika namaku diteriaku. Syukurlah, kali ini semesta campur tangan untuk mengutuki rencanaku tadi.

img_20180812_0651312100240634.jpg

 Teruntuk rumput “tak bernama” yang dulu menghiasi percakapan (kami).

Selamat Pagi, kepadamu. Semoga kau terus bertumbuh dengan subur serta kuat terhadap ancaman. Semoga kau merumput ke benua seberang lalu menjalari keindahan yang memang sudah istimewa di sana. Maafkan aku yang melukai dirimu pagi ini, dengan memetik bungamu yang artinya melepaskan kepalamu dari tubuhmu. Bukan maksudku melukaimu, tapi kau adalah bagian dari kisah lamaku yang usianya belum menahun. Kau tahu kan, bagaimana rasanya?.

Kedua kali; teruntuk rumput “tak bernama”. Sampaikan pada keluargamu yang sudah tumbuh subur dan menyebar di benua berbeda, sapalah paginya. Dia yang begitu mencintaimu. Aku tak tahu, apakah kau telah menampakkan dirimu padanya sama sepertiku pagi ini atau tidak?

Sapalah paginya, hanya untuk membuatnya merasa dikenal olehmu. Maafkan aku karna menyuruhmu di pagi yang masih buta ini. Sebab aku rasa, pagi ini kau telah menyapaku lebih dulu. Terima kasih, teruntuk yang asing dan rumput yang “tak bernama”.

Iklan

Ceritaku pada Subuh.

Pukul Tiga Subuh.

img_20180811_202102578177129.jpg

Aku terbangun di subuh yang merekah. Kupejamkan kembali, mata yang sejak semalam sulit menyenyakkan tidur. Tubuh yang terbaring dan terkulai lemas tak berdaya sebab bersedih sejak kemarin, rasanya enggan bangkit dan mengakrabi hari baru, di hari Minggu. Sejak Sabtu abu-abu kemarin, segalanya masih haru. Haru yang sejak kemarin tertanam hingga berakar dalam ingatan. Cermin yang bisa aku gapai hanya dengan empat hingga enam langkah, rasanya begitu jauh untuk menggapainya. Rambut yang terurai di atas bantal, rasanya sudah tak ingin dirapikan ketika keringat yang mulai menghadiri kening. Keadaan tak berdaya ini, masih terus menghantui hingga rasanya aku ingin membeli racun untuk membunuh kesedihan. Sayangnya, racun itu tak terjual dimana pun. Aku putuskan menciptakan racun pembunuh kesedihan itu.

img_20180811_2021451922665767.jpg

Aku membuka mataku lebar-lebar, lalu beranjak dari ranjang. Di ranjang itu, aku tinggalkan segala keraguan, segala sedih yang aku upayakan dengan sepenuh hati di sana. Aku buka kain jendela yang kusebut gorden, sambil berharap matahari sudah terbit di pukul tiga subuh sebagai hadiah patah hati yang dihadiahkan Tuhan padaku, di Minggu pagi. Aku salah, sebab pukul tiga subuh masih diterangi dengan lampu jalan dan angin. Tak ada matahari, sebab saatnya matahari terbit masih di beberapa jam mendatang. Mengapa aku bisa berharap segila itu?

Aku duduk di kursi sambil menatap gelapnya subuh, yang sebentar lagi akan merdu dengan nyanyian ayam berkokok, suara ibadah dari masjid, maupun suara jejak kaki yang melintasi jalanan maupun suara bisikan kecil para penikmat jalan.

Aku salah, tak ada yang bisa aku tinggalkan apalagi kesedihan itu di ranjangku. Tak bisa, kesedihan itu menempel di ingatan hingga terbawa kemana saja aku pergi. Aku beranjak dari kursi dan melangkah enam langkah pelan menghadap cermin.

img_20180812_070830130792097.jpgAku jepit rambut yang sejak sejam lalu berantakan. Aku tatap wajah yang mulai tak berekspresi selain menatap diri di cermin. Aku hitung banyaknya jerawat yang hadir karna tidur yang tak sehat beberapa waktu terakhir. Aku tatap mataku dalam-dalam di cermin, sambil menyadari kesedihanku pun tak bisa aku sembunyikan untuk diri sendiri. Rasanya aku ingin menciptakan skenarioku sendiri dengan mengubur dalam-dalam sedih biadap ini, yang aku pun sendiri tak ingin bahkan tak akan mengenalinya. Sekali lagi aku salah, tak semudah itu nyatanya.

img_20180812_0705591246834434.jpg

Rambut yang aku ikat tak seperti biasanya meninggalkan jejak di tekstur rambutku. Langkah yang tadi pelan, kini lebih cepat. Aku kembali ke kursi sambil menatap gelapnya subuh yang sedang aku akrabi sekarang. Rasanya aku ingin bercerita kepadanya, kepada subuh namun urung. Aku ingin kembali berbaring sambil mengundang seluruh kantuk lalu tenggelam di dalamnya. Kesedihan ini rasanya seperti gurun yang gersang. Semakin aku bersedih maka semakin luas gurun yang sudah aku sematkan dalam ingatanku. Hingga aku putuskan untuk mengingat kembali nyata yang dulu dirancang indah namun kini telah berubah menjadi sedih.

Di waktu yang lalu, ada nyanyian merdu tentang kasih kita. Di waktu yang lalu nyata kita terancang dengan indah. Segala deskripsi indah tentang nyata kita sudah kita bincangkan hingga segalanya berirama. Ada harmoni terindah yang telah kita ciptakan hingga nyanyian itu begitu merdu, di setiap percakapan yang tak pernah putus walaupun pertemuan yang tak sesering mungkin. Kini, segalanya sudah begitu asing. Kita yang terasing. Nyata serta nyanyian kasih kita yang dulu itu, bukan lagi berubah menjadi sejarah maupun kenangan. Urung segalanya, bila kita sebutkan itu adalah sejarah maupun kenangan. Sebab kita sudah saling menyakiti dengan hanya menjadikannya kenangan maupun sejarah.

img_20180812_0709302094132715.jpg

Lebih tepat aku menyebutnya kisah tersedih tentang kita. Ada yang mengganjal dengan keberadaan kita. Setelah segalanya sudah asing diantara kita, persamaan kita adalah pasrah. Aku pasrah pada campur tangan Sang Semesta sambil terus membingkai kisah baruku nanti. Sedang kau, pasrah pada segala nyata yang katamu membuatmu terluka. Aku menutup percakapan paling terakhir diantara kita dengan berkata luka itu akan mengantarkanmu pada kenyataan terbaru yang membahagiakan. Kau pantas bahagia, dengan pasrahmu yang aku tahu begitu teduh. Pasrahmu yang membuatku mengenal bagaimana kita membelok pada nyata kita yang terdahulu.

Ah, aku kembali teringat akan caraku mengakhiri kisah ini. Jarum jam menunjuk pada pukul enam subuh ditandai dengan mampirnya matahari yang sama-samar sudah menerangi. Aku enggan membuka gorden itu. Sejak itu aku putuskan untuk meninggalkan segalanya pada subuh, termasuk kisah ini yang aku kisahkan sekarang.

img_20180812_0706562110761653.jpg

Subuh tadi, baru aku sadari segalanya sudah asing. Nyata kita yang tak seirama bahka kasih kita yang sudah tak bernyanyi lagi. Kini, nyata maupun nyanyian kasih kita sudah tak merdu semerdu kala itu. ~masih segar di ingatanku, nyata serta kasih kita yang merdu itu~. Teruntukmu, selamat berbahagia.

Catatan Kecil, Teruntuk yang sedang Berbahagia

-Not knowing what it was-

img_20180731_1728041764951815.jpg

Siang ini mentari bersinar seterang-terangnya. Tak ada yang salah dengannya sedikitpun, ia hanya melaksanakan kewajibannya sebagai pemeluk dan penguasa siang hari. siang ini, ada rahasia yang terungkap, entah soal apa. Aku hanya ingin menjelaskan bahwa aku telah menghabiskan keempat surat yang sebelumnya telah aku janjikan pada seseorang, seseorang yang terus saja tanpa lelah mengingatkan, seseorang yang terus saja memintaku untuk berjanji menepatinya, bahkan seseorang itu yang terus saja melemparkan ancaman bernada candaan bila aku takkan menepatinya.

Hari ini aku habiskan segalanya, yang hanya tersimpan dalam lembar-lembar baru di laptop. Tak tahu, harus kemana aku mengutarakannya, hanya aku berjanji untuk memberikannya tepat di hari ulang tahunnya yang jatuh pada beberapa hari mendatang. Ketiga surat itu berisi gurauan terkonyol ketika aku merasa begitu bahagia saat menuliskannya. Berbeda dengan surat keempat, aku membuat satu keputusan yang sudah aku pikirkan matang-matang. Keputusan untuk berhenti berjanji apapun, bahkan ketika hari-hari depan dia masih terus muncul dalam dering telpon maupun pesan singkat. Suratku yang keempat, terdengar begitu serius. Ada harapan yang kandas sekandas-kandasnya. Tak ada doa yang bisa aku katakan, selain hanya berharap yang terbaik padanya. Semuanya aku tulis, dalam kedaan paling sadar dengan kondisi hati yang sudah bisa dikendalikan.

Semalam dengan terus terang aku bercerita pada kawan lama, katanya tepati saja janjinya dan berhenti mengharapkan dia mengucapkan terima kasih sekalipun. Sebab jika dengan ucapan terima kasihnya, maka ada relung-relung yang tadi kosong menjadi terpenuhi kembali. Kawanku berkata bahwa, tak ada yang lebih baik selain hanya menepati janji, lalu hilang bersama janji-janji itu. Dalam pembicaraan berdurasi sejam tadi malam, kita habiskan hanya dengan bercerita dan melihat dua sisi dibalik narasi yang telah aku sampaikan sejak awal kita bercerita. Dia hanya mengatakan bahwa, ada kisah yang belum selesai, terlebih kisahku yang dulu. Aku hanya mengangguk, tanpa suara karna dia pun takkan melihat apa yang sedang aku lakukan. Aku

Sekarang aku pun sudah lebih tenang, ketika dengan cermat menuliskan surat pada dia yang dulu selalu bersama. Aku sudah dengan senang hati menolak percakapannya, bahkan dengan tanpa ada paksaan menolak dering telpon darinya. Aku merasa sedikit lega, ketika aku bisa seperti ini. kawanku, mengatakan ada luka yang aku ciptakan pada diriku sendiri juga pada dia yang dulu. Tapi aku dengan segala keyakinanku, aku sudah dengan rela hati melepaskan segala yang dulu sempat menjadi bahan ceritaku di blog. Sekarang sudah tidak lagi, selain meng”asing”kan segala tentang dia yang dulu. Nomor ponsel bahkan foto-foto bersama pun sudah aku kebumikan tempo hari, ketika aku sudah dengan senang hati serta tenang hati.

Kawanku berkata, kau akan mudah melupakan bila dengan kerja keras melupakannya. Lucu juga ya? antara mudah dengan kerja keras, adalah pilihan tersulit. Selebihnya sekarang, keduanya sudah aku rasakan. Sudah aku nikmati, termasuk dengan surat keempat yang aku tulis kemarin, sudah dengan rasa yang amat lega untuk segala kisah yang dulu kandas tak direstui waktu. sekarang pun, aku sudah sangat percaya bahwa waktu memberikan cerita yang paling terbaik. Hanya saja, aku yang terlalu perasa untuk segala yang baik itu. Kadang kala, untuk mengerti apa yang terjadi perlu dulu mengalami sedih untuk menemukan apa yang baik ketika sang waktu campur tangan. Sekarang aku sudah mengerti bahwa, yang terbaik adalah membiarkan segalanya menjadi angin yang akan terbang kemana pun angin membawanya. Aku yakin, dengan jelas bahwa kemanapun angin membawanya sudah pasti ke tempat yang tepat. Aku takkan menyalahkan kemanapun angin akan menerbangkannya, yang jelas aku sudah menerapkan sikap percaya. Percaya pada apapun yang terjadi sekarang adalah yang paling baik.

Penggalan kata bahasa inggris yang aku tulis untuk membuka tulisan ini, mungkin adalah yang paling tepat untuk menggambarkan bagaimana aku tak bisa memprediksi apa yang saja yang akan terjadi, termasuk dengan mempersiapkan surat yang manis untuknya yang dahulu selalu bersama, di tengah perasaan yang tak semanis dahulu. Bisa aku bayangkan bagaimana aku berpikir keras, untuk membuat tulisan itu bernyawa untuk sebuah kisah yang sudah berakhir. Tenang saja, kasih dari hatiku tak pernah berakhir untuk siapapun yang sekarang sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri.

Selebihnya, aku hanya ingin mengucapkan selamat berbahagia untuk keputusan paling besar yang kau pilih sekarang. Semoga kebahagiaan menyelimuti setiap inchi dalam kehidupanmu. Akhir kata, Tuhan Memberkatimu.

Senja, Kau dan Lapang Berbeda.

img20160530175615194599015.jpg

Kemarin, aku bercerita pada senja. Aku bercerita padanya, bahwa matahari dengan kejam menusuk kulitku, hingga aku kesakitan dibuatnya. Semuanya terasa sangat sakit, tapi tenang saja. Tak sesakit biasanya, kali ini matahari bekerja sama dengan hujan untuk sama banyak menyentuh kulitku hingga tak terasa seperti ditusuk dengan kejam oleh mentari di banyak hari sebelumnya. Aku ingin bercerita padanya, bagaimana panjangnya hariku namun terhalang dengan cahaya senja yang menyejukkan. Cahaya senja yang membuatku teduh. Di ufuk timur mentari berangsur-angsur menghilang. Aku sedih, mengapa dia pergi. Tapi aku sadar, dia butuh istirahat untuk aktifitasnya. Satu yang aku yakini, mentari tak pernah pergi tanpa sebuah pesan. Pesan yang selalu dia bisikan lembut di telingaku: tenanglah, takkan kubiarkan kau sendiri. Asamu akan aku peluk sekuat tenaga, jangan takut!.

Sebuah janji paling romantis yang selalu ditepatinya. Janji yang katanya segala asaku akan dipeluknya sekuat tenaga, tak ada apapun yang bisa aku lakukan selain menggenggam janjinya yang bagiku menyegarkan seluruh dahaganya kesadaranku. Baiklah, takkan aku katakan bagaimana harus aku perlakukan hubungan baikku dengan mentari, namun senjalah yang selalu menenteramkan apapun yang aku lakukan serta apapun yang menjadi harapan terdalamku.

Ada banyak harapan yang selalu aku semogakan, namun nahas tertenggelam seiring terhempas di sudut-sudut memori. Harapan kecil yang kian hari kian menumpuk, apa daya hanyalah menjadi lemak yang membengkak hingga membuat kelebihan muatan harapan yang lebih tersakiti lagi. Setelah kelebihan muatan akan kapasitas harapan itu, yang tertinggal hanyalah mengikis dengan habis lemak-lemak harapan yang membengkak di sudut memori. Harus aku apakan segalanya?

img-20180708-wa00211292640933.jpg

Senjalah, yang mengetahuinya. Segala yang sudah menjadi lemak itu, aku kumpulkan menjadi satu dalam sebuah catatan kecil lalu mulai bercerita serta berdiskusi dengan senja. Senja yang pernah menjawab, sebab aku juga tak butuh jawaban darinya. Yang aku butuhkan sekarang, hanyalah seseorang yang mendengar tanpa mendikte sedikitpun. Yang aku inginkan yaitu setenang mungkin, tanpa terburu-buru membacakan bahkan menyampaikan semua yang tersimpan di sudut memori, yang sekarang berupa catatan kecil.

Mengapa aku pilih senja? Sebab aku ingin menenggelamkan seluruh perih, duka, kelam serta apapun yang sudah merenggut sukacitaku. Aku hanya ingin menenggelamkannya lalu segalanya akan lenyap walau tak cepat. Aku tahu, senja akan mengingat apapun yang aku katakan padanya. Tapi tak masalah, setidaknya ada ada rasa lega untuk apapun yang boleh aku sampaikan padanya.

img-20180708-wa00211292640933.jpg

Teruntuk senja yang menyatakan segala keluh kesahku, terima kasih. Terima kasih untuk cahaya jingga yang kau perlihatkan, untuk kegelapan termegah yang kau hadirkan serta kemegahan dirimu yang dengan puas mendengar seluruh kesahku. Ada banyak manusia yang mengangumi, tapi terima kasih telah mengakrabkan diri denganku. Terima kasih karna tak pernah tenggelam dengan percuma, sebab masih kau tunjukan bagaimana menakjubkannya dirimu yang memeluk segala sesuatu yang terkumpul di sudut memoriku.

img_20180601_164706_04990721371.jpg

Wahai senja, sampaikan padanya bahwa akan aku perbaiki segala yang telah terhempas ke sudut itu. Segala itu aku janji, akan membuatnya tetap hidup dan tetap berkarya. Dan untuk seseorang yang dahulu selalu menatapku di tengah megah gelapnya senja, terima kasih untuk mengingatkanku bahwa tak ada yang buruk sekalipun itu buruk. Terima kasih untuk terus meyakinkanku, bahwa segala yang baik takkan pernah habis massanya. Sekarang kau telah berada di lapang yang berbeda bersama seseorang yang juga berbeda. Aku di sini dengan senja yang tengah bersamaku, menatap haru bagaimana dulu kita melepaskan serta merenggangkan jemari yang dulu sempat tak ingin terhempas. Bahkan angin pun kewalahan mengalahkan kita, tapi senja yang menjadi saksi kita memutuskan untuk melepaskan tanpa terlebih dahulu merenggangkan. Tak ingin aku bertanya bagaimana kabarmu, sebab aku tahu kau sudah bahagia ketika melalui dering telpon, kau menyapaku dan bertanya serta menyematkan kabar bahagiamu di lapang yang berbeda. Ah, aku juga bahagia.

Teruntuk tuan yang sudah berbahagia sekarang, terima kasih sebab dahulu kau yang membuatku begitu gigih untuk berakrab dengan senja walau aku ditolak oleh senja. Terima kasih karna tawamu sempat menjadi pengingat bahagiaku juga terima kasih karna ada banyak sisi yang aku temukan ketika bersamamu. Terima kasih kembali sebab bersamamu dulu, ada banyak kali aku tersesat namun bersamamu aku menemukan jalan keluar yang paling baru. Kau tahu mengapa aku mengatakan terima kasih?

Sebab kemarin, kau dengan senyuman termanismu mengenggam jemariku sambil mengucapkan terima kasih untuk segala hal yang membuat kita tersesat, untuk segala hal yang juang yang membuat kita berjuang bersama namun tak seindah dulu ketika kita bersama. Kau tetaplah saudaraku, seperti janji kita dahulu. Janji paling konyol yang kau katakan padaku bahwa kau takkan menangis sedikitpun, ketika melihatku nanti walau aku tahu suaramu terdengar berbeda. Aku juga berjanji, akan tersenyum bahagia serta haru melihatmu nanti di hari bahagiamu, kak.

Terakhir, aku berjanji takkan menuliskan apapun tentangmu lagi. Dan, selamat menatap senja dengannya yang baru di lapang berbeda.

Tempo Hari, di Jalanan Ibukota.

img_20180725_130629879880429.jpg

Tempo hari, jalanan ibukota terlihat begitu ramai. Aspal jalanan yang berkali-kali digiling roda motor dan mobil, aspal jalanan yang berkali-kali dilintasi jejak kaki manusia. Suara ramainya kendaraan bahkan suara tawa yang berteriak di jalanan membingkai jalanan di hari Rabu, pekan yang lalu. Tak terdengar bisikan dari manapun. Yang terdengar hanyalah kerasnya suara kendaraan yang tak ingin mengalah, yang tak ingin patuh bahkan yang tak ingin bekerja sama untuk menenangkan rusuhnya suara yang lahir di jalanan. Di tiap persimpangan, yang terdengar hanyalah ramainya suara kendaraan yang sudah mulai ternikmati oleh pengguna jalanan.

img_20180728_1310041626613792.jpg

Tempo hari jalanan ibukota sepi. Gema suara tawa yang menggelegar di jalanan pun, terdengar hingga ketinggan ribuan meter. Terlihat dari daerah ketinggian ini, bagaimana tersusun dengan rapi perumahan warga yang menjadi daya tarik tersendiri. Setiap insan yang menatapnya, akan dengan mudah terpikat begitu menyaksikannya dalam diam. Tak perlu penjelasan bagaimana daya pikat itu bisa lahir, karna ada beberapa daya pikat yang dengan mudah memikat orang lain tak butuh alasan. Dan ini adalah salah satu dari yang beberapa itu. Langit yang memayungi kota terlihat dengan jelas melahirkan awan putih yang mengepal begitu banyak. Ah, tentu saja awan serta langit pun sudah begitu nyata terpikat dengan segalanya. Terpikat dengan keindahan yang terjepit jelas di tiap lembaran sudut kota. Tiap bagunan yang masih menjadi kerangka dan belum sempurna pun menambah kejelasan, bagaimana setiap sudut kota yang terus direnovasi hingga menjadi semakin indah.

Tak tahu apa yang melatarbelakangi aku, untuk menulis hal ini. Yang jelas, sejenak ketika aku pandang pemandangan ini, aku teringat akan seseorang yang dahulu selalu bercerita soal keinginannya untuk membangun bangunan tinggi, hingga melihat bagaimana menawannya awan yang menggenggam langit hingga begitu haru melihatnya. Sesungguhnya aku sudah lupa akan rupa orang yang bercerita, tapi aku begitu mengingat ceritanya, ketika pijakan kakiku berdiri di lantai tujuh sebuah bangunan dan menatap bahwa sejatinya awan dan langit saat itu telah menyajikan yang pernah aku dengar tempo hari. Tak ada apapun yang bisa aku lakukan, selain hanya mengabadikannya melalui kamera ponsel, pada Sabtu pekan lalu.

Bagaimana mungkin cerita yang sudah meng”abu” itu lahir begitu saja ketika kupandang pegunungan itu? tak tahu, bagaimana menemukan jawabannya. Ternyata cerita yang sudah mengabu itu bisa dengan leluasa mampir ya? jika yang sudah mengabu mampu muncul dengan sendirinya, bagaimana dengan cerita yang masih segar ini? atau jangan dulu aku berpikir soal yang segar, bagaimana dengan cerita yang masih menghangat ini? melihat uapnya naik ke udara, rasanya seperti cerita itu mencari persinggahan untuk mendengar pengisahannya. Ah, sulit juga ya?

Sulit meng”abu”kan yang sudah mengabu dan sulit membekukan yang masih segar maupun yang sudah menghangat. Yang aku maksud adalah cerita tempo hari, yang selalu aku dengarkan dan diskusikan bersama. Rasanya semua itu telah berserakan dalam ingatan, hingga bagaimanapun tentu saja akan saling menggesek lalu saling berkelahi untuk saling merasa bahwa masih hidup. Lucu kan? iya. Nyatanya, mungkin benar adanya. Benar adanya, bahwa semua cerita yang telah menjadi kenangan itu terkenang dengan rapi di sana, di lembaran ingatan yang terus menampungnya.

Keinginan untuk membekukannya hanya menjadi wacana bilamana semuanya dengan kejam berurutan datang. Nyatanya, tak mudah membekukannya. Yang sudah terjadi ratusan bulan yang lalu pun, masih segar di ingatan. Aku bingung, antara segar dan hangat mana yang lebih dominan. Sebab menurutku, sama dominannya.

Baiklah, aku kalah. Kalah menghilangkan yang ingin aku lupakan. Aku setuju dengan bisikan oleh diriku sendiri, soal bagaimana bisa kau melupakannya jika aku terus berkisah disini? Haha. Aku tertawa sejadinya, sebab sebelum aku ingin membekukannya sekarang, di waktu yang lama semua begitu nyata dan mengindahkan segala nyata yang tak indah.

img_20180712_1306041589358440.jpg

Karnanya, biarkanlah cerita (kenangan) itu dengan leluasa menjadi segar maupun hangat. Menjadi segar dan hangat, seperti rumput yang dengan leluasa tumbuh dimanapun. sekejam apapun yang datang membunuhnya, dia akan semakin tumbuh dengan lebat. Sulit juga, ternyata ya?. sekarang, dengan melestarikannya sudah pasti akan terasa lebih ringan.

img_20180712_130525375529544.jpg

Aku juga tak punya kendali untuk menghapusnya. Hanya saja, tolong jangan datang beruntun. Aku letih, harus mengingatnya berulang kali.

Sebenarnya, ada hal positif dibalik datangnya cerita (kenangan) yang beruntun itu padaku. Aku jadi melihat sesuatu yang sejak dulu tak aku ketahui, melalui sudut pandangku. Kupandang dengan kedua mata dibalik kacamataku, kupikir dengan pemikiranku untuk melahirkan sesuatu yang benar-benar menjadi aku

 

Mengenang(kan).

Pagi ini, aku disapa gerimis ketika membersihkan sisa makanan yang berserakan di piring makan bekas semalam. Gerimis menyentuh kulit di lenganku, karna baju berlengan pendek yang aku kenakan. Seketika, segala kantuk yang tadi bersarang kini enyah semenjak dibangunkan gerimis yang awet sejak dini hari tadi. Aku melaksanakan hariku, tanpa sedikitpun menyentuh ponsel seperti yang biasanya aku lakukan jika ingin menghabiskan seluruh tanggung jawabku, di waktu yang tepat.

Tanggung jawabku di dapur, telah usai. Kutatap ponselku, dengan mengecek masing-masing pemberitahuan. Satu yang sesungguhnya, selalu aku hindari yaitu melihat pesan yang berentetan datang darimu. Aku sudah lelah ketika mendapati diri masih terus tertegun ketika kau dengan leluasa terus menghubungi. Ingin rasanya memasukan kontak namamu pada blacklist di ponsel, namun selalu saja jemariku terasa begitu berat hingga segan melakukannya. Melihat namamu yang terus saja menghiasi pesan singkat di ponsel, mengantarkanku pada sejumlah masa lalu itu. Hingga akhirnya, ingin rasanya aku bercerita soal patahnya hatiku di beberapa waktu yang lalu. Aku ingat, disinilah kutumpahkan seluruh kesal yang merana dalam diri, untuk sedikit merasakan lega atas segalanya.

Sedari tadi aku berpikir keras. Aku berpikir mengapa gerimis terus menyapa hingga terus menyentuh jemari bahkan lenganku. Aku teringat akan dikau, yang dulu selalu bercerita bagaimana dengan kejamnya hujan menyakitimu, hingga hujan yang membingkai keputusan kita untuk berpisah. Ah, rasanya hujan sudah berupaya sekuat tenaga untuk membuatmu terus subur dalam tanah memoriku. Lucunya, aku tak bisa mengingat bagaimana dulu kita baik-baik saja. Jika yang teringat dan mampir dalam ingatan adalah soal dirimu, maka yang teringat adalah soal bagaimana percakapan kita yang ternyata telah saling menyakiti namun berakhir dengan keputusan untuk berpisah. Parahnya, saat itu kita tak bisa bertindak apapun selain hanya mengangguk sebagai tanda mengiyakan segala nyata yang sudah jelas menekan kita. Kita sudah tak bisa saling memperjuangkan lagi, sudah tak bisa saling menguatkan lagi, yang tertinggal hanya saling memeluk kenangan yang dulu kita ciptakan.

Episode baru dalam kisah kita adalah kita pura-pura bahwa segalanya sedang baik-baik saja. Sungguh apakah ini baik-baik saja?

Iya. Sekarang sudah baik-baik saja, ketika kita dengan sepenuh hati saling menjauh. Saling menolak memberi kabar, saling angkuh terhadap jarak dan juga terhadap waktu. Selebihnya, kita terpeluk dalam doa yang nyatanya disana adalah cara kita bercerita tentang bagaimana kita menata kehidupan kita setelah tak ada kita. Kita hanya saling terpeluk dalam narasi singkat yang hanya kita lakukan ketika membuka dan menutup hari, juga pada situasi yang genting. Sejak beberapa waktu yang lalu, sudah aku putuskan untuk berhenti mengisahkanmu. Catatan ini, bukan bermaksud untuk mengisahkanmu. Ini hanyalah sekedar mengenang soal bagaimana semuanya sudah baik-baik saja ketika semuanya sudah berakhir.

img_20180715_1028001798114889.jpg

Mengenangkan segalanya laksana memandang wajah diri sendiri cermin, segalanya terpantulkan. Entah bagaimana panjang rambut, lebar senyum, bahkan apapun yang digenggam. Begitulah seterusnya jika mengenangkan terus mengambil bagian. 

Mengantongi Restu Sang Pencipta.

img_20180722_0838141007939239.jpg

Mengantongi restu Sang Pencipta adalah kiat pertama untuk berbenah diri. Sebab sesungguhnya, tak mudah untuk mengantongi restuNya. Kadang ada suka dan duka yang terpaksa diberikanNya, supaya kita berbenah untuk segala nyata yang kita punya. Soal mengantongi restu dariNya, adalah hal yang terkesan dipaksakan, ya? iya. Terkesan memaksa dan tak ada apapun yang diinginkan selain restu dariNya. Disinilah kesalahan kita yang seharusnya tak kita pelihara. Ada rasa ingin yang lebih dominan dibandingkan menerima. Padahal, sudah semestinya soal “dominan dan ingin” harus setara banyaknya. Sebagai manusia-manusia yang berjiwa “ingin”, perkara “menerima” adalah hal nomor dua setelah ingin yang tak sesuai harap. Sedang “ingin” bagi manusia berjiwa “menerima” adalah menjadi urutan pertama, sebab segala seuatu disadarinya sebagai restu Sang Pencipta. Hal inilah yang menggelitik kalbu, ketika kita dipertanyakan harus ada di posisi mana?

Menariknya, kita terkesan memilih keduanya setelah nyata telah menyatakan bagaimana dia berperan sesuai dramanya. Inilah letak kesukaran yang paling hakiki bagi sekalian umat yang sudah terlanjur memeluk “ingin” dan hanya bisa “menerima”. Perkara mengantongi restu dari Sang Pencipta adalah langkah dari sekian langkah yang bisa dilakukan. Sekian langkah yang sesungguhnya akan muncul di akhir narasi yang dilakukan sambil memejamkan mata. Narasi yang disampaikan sambil memejamkan mata itu sesungguhnya menginginkan terlahirnya dialog, namun tak mungkin bisa lahir dialog dalam narasi bersifat sacral dan intim itu. Dialog yang sesungguhnya akan lahir ketika nyata menyingkap dan menampilkan pertunjukannya.

Setelah nyata menunjukan perannya, langkah selanjutnya adalah menerima semua nyata. Entah menerima dengan senyuman, dengan cacian, dengan cinta-kasih, dengan menghakimi diri sendiri dan apapun yang berikutnya. Semuanya tergantung pada pilihan, pada pilihan kita memilih bagaimana kita menempatkan diri. Aku tak pernah bisa memprediksi kapan “ingin dan menerima”, bisa setara banyaknya dalam pilihanku. Semua ini aku tulis, hanya berdasarkan pengalaman pribadi yang sudah sejak dahulu selalu menggebu-gebu untuk memimpikan damai-sejahtera terbaik terlaksana dalam segala rancangan drama kisahku. Nyatanya, dari sekian banyak rancangan itu, yang terlaksana hanya beberapa. Setelah aku pikir-pikir lebih dalam lagi, ada banyak hal positif yang lahir ketika rancangan-rancangan itu gagal. Walaupun sesungguhnya ada banyak kendala yang aku ciptakan bagi diri sendiri ketika aku sudah kecewa-sekecewa mungkin. Kecewaku itu telah menguliti kepercayaan diri yang membuatku  begitu rapuh hingga menjadi pribadi paling pesimis namun arogan. Semuanya aku balut dengan tawa yang aku ciptakan, hingga bila aku terluka, aku akan menertawakan diri sendiri.

Sekarang telah aku pelajari bagaimana menutup luka yang dahulu lahir ketika kecewa menguliti rasa percaya, menutup rasa pesimis dan mengelolah pikiran dan hati untuk menjadi berdampingan. Sekarang, aku hanya menambahkan setetes akal sehat dan pikiran yang lebih positif, bahwa ketika mati satu akan tumbuh yang lain di lahan yang berbeda pula. Semuanya hanya perkara kesempatan dan keyakinan. Akan aku pupuk rasa percaya, akan aku siram rasa keyakinan agar semuanya subur dan lebat dalam diriku. Mungkin hanya itulah caraku, untuk mendapatkan restu Sang Pencipta atas segala nyata dominan yang diskenariokan olehNya. Terakhir, aku hanya ingin berbaik sangka untuk segala nyata yang terus dikendalikan oleh Tuhan.