Teruntuk, Tuan.

Eloknya parasmu, seirama dengan eloknya pribadimu. Pribadi ter-menyenangkan yang pernah kugenggam jemarinya. Ada ruang kosong di antara jemariku yang sejak dahulu tak pernah aku ijinkan untuk diisi. Sejak paras dan kepribadianmu yang setara, yang seketika merenggut perhatianku, sejak itulah kau mampu mengisi ruang kosong pada jemariku. Ruang kosong itu, kau isi dengan genggaman lembut yang seketika menenangkan. Ruang kosong itu seketika terisi penuh namun sesuai dengan porsinya. Tak pernah aku merasakan kekurangan maupun kelebihan pada ruang kosong yang sudah terisi itu.

img_20180620_150426_51579978649.jpg

Jemarimu menggenggam erat jemariku. Tak pernah lekang oleh waktu di ingatanku, bagaimana kau menggenggam jemariku yang membuat langkah kita menjadi beriringan. Hal yang tadinya adalah kehampaan belaka, kini menjadi penuh tak tahu mengapa. Jawabannya adalah kau. Kau yang menghempas ruang kosong dengan dirimu dan kau yang mengisi ruang kosong itu dengan dirimu.

Eloknya pribadimu membuatku berkali-kali tak mampu melupakanmu. Melupakan setiap inchi pada sikapmu yang sungguh-sungguh menawan. Tahukah kau bahwa aku sudah terpesona, sejak waktu pertama kau mengisi ruang kosong pada jemariku? Genggamanmu rasanya berbeda, yang aku temukan adalah adanya rasa ketulusan yang kau titipkan disetiap genggamanmu. Aku menemukanmu hal itu sejak matamu yang tak pernah sekalipun berpindah ketika mendengar ribuan ceritaku, sejak kau tak pernah mengeluh ketika aku sedang berantakan terhadap setiap kenyataanku dan sejak kau tak pernah meninggalkanmu bahkan ketika aku ingin sekali meninggalkanmu. Bagaimana mungkin tak kurasakan setiap ketulusan yang kau titipkan pada sabarnya sikapmu, terhadapku?

Kau elok pada segala hal yang tersimpan padamu. Kau selalu menepis segala tudingan yang aku lahirkan dari bibirku, berkali-kali. Kau selalu dan selalu menguatkan ketika aku lengah terhadap waktu dan ketika aku bertindak berlebihan pada diri sendiri. Kau berkali-kali melihatku terikat oleh egoku sendiri, berkali-kali kau melihatku berpikir berlebihan, hingga berkali-kali banyaknya kau melihatku berlebihan pada diri sendiri. Tak pernah sedikitpun kau meninggalkan, kau hanya menasihati dengan lembut. Hingga saat ini, kau adalah tempat ternyaman untuk perteduhanku. Segala yang telah busuk dalam hatiku menjadi segar kembali, hanya dengan sikapmu yang selalu menenangkan. Tak tahukah kau, bahwa telah kunobatkan kau takkan tergantikan dalam ingatan? Kau adalah pemandangan baruku, untuk melihat segala hal yang baru untukku. Kau ajarkan bagaimana berbaik sangka pada kendali Tuhan, bahkan ketika hatiku sedang dibuat retak olehNya. Kau ajarkan bahwa jangan membusukkan hati hanya karna aku tak bisa bertahan dengan, nyata-nyata yang menyedihkan. Kau sudah berkali-kali membuatku melupakan hal sedih, bahkan ketika hal sedih selalu menghampiriku berulang kali.

Entah bagaimana kau bentuk hati dan pikirmu, menjadi sebijaksana itu. Tak takutkah kau, bahwa aku bisa terpesona berjuta-juta kali? tentu saja kau takkan pernah takut. Aku tahu bahwa tak pernah kau pikirkan hal itu, karna kau hanya melakukan apapun yang bisa kau lakukan. Aku tahu bahwa kau hanya sedang berbuat baik padaku, yang sama-sama adalah mahkluk mulia di hadapan Tuhan. Kau sudah melakukan tugasmu dengan benar, tuan. Kau sudah sangat melekat dalam ingatanku. Namun pertanyaan mengenai takut dariku untukmu, rupanya adalah pertanyaan yang berbalik pada diriku sendiri. Namun aku selalu mengaduk akal sehat, bilamana takut kehilanganmu. Sebab sesungguhnya kehilangan adalah pasti dari setiap konsekuensi yang ada. Menggenggam jemarimu saja adalah suatu keberuntungan, jadi aku putuskan untuk tak berpikir lebih selain menyiapkan diri untuk segala kemungkinan terburuk yang bisa datang bertamu dan menjemputku, kapan saja. Iya kan?

img_20181104_165912442690728.jpg

Kau selalu menitipkan cerita tentang alam yang menjadi kegemaranmu, hingga kegemaran kita menjadi sama. Apa saja ketika didiskusikan denganmu, tentu saja akan melahirkan hal-hal baru. Sebegitu menyenangkan bilamana berbagi apapun denganmu, termasuk berbagi perasaan. Dulu selalu saja tak terpuaskan, dan ingin menginginkan lebih. Namun sekarang, sebelum berpikir bahwa apapun tak cukup, pikiran semacam itu tak lagi bersarang dalam ingatanku. Semuanya terpuaskan, entah dari mana pikiran bisa bersarang dalam ingatanku. Yang aku ingat, kau selalu bilang bahwa tak perlu menambah maupun mengurangi, yang penting cukup. Dan sejak saat itu, aku selalu merasa cukup. Aku ingat, dedaunan yang kau bilang pun selalu membuatku bersemangat untuk seketika menulis apapun tentang percakapan kita. Tuan, sadarkah kau bahwa kau telah merobohkan apapun yang dahulu menjulang tinggi dariku.

img_20181104_1659551100879337.jpg

Teruntuk tuan yang melekat dan membekas dalam ingatan:

Tuan, tak tahukah kau bahwa posisimu takkan bisa direnggut dengan mudah dalam ingatanku? Berkali-kali namamu berteriak keras dalam diam. Berkali-kali kau bertamu dalam ingatanku, berkali-kali dan berkali-kali berikutnya kau dikisahkan oleh ingatanku. Lalu bagaimana bisa bibirku menyembunyikan namamu yang menghujani pikirku? Tentu saja, bibirku akan memanggil namamu. Memanggil namamu adalah hal terakhir ketika aku sudah tak berdaya, bila pikirku memperdayaiku dengan berkali-kali menyajikan dirimu. Bisakah seperti itu? entah bagaimana kau terus berteduh dalam ingatanku. Padahal tak ada terik maupun hujan yang bisa menggoresimu, namun pikiranku adalah perteduhanmu. Aku sudah kalah, sejak kau mengisi ruang kosong diantara jemariku. Aku sudah merasa begitu beruntung mengenalmu, sebab kau buat aku mengubah kebiasaan-kebiasaanku yang seringkali aku benci.

Aku jadi paham bahwa musuh terbesar adalah memang diri sendiri. Perubahan-perubahan kecil yang aku rasa terjadi pada diriku adalah bantuan Tuhan melalui dirimu. Aku jadi sadar bahwa Tuhan melalui semesta menitipkanmu dalam kisah sebentarku ini, ternyata cukup berdampak besar. Aku melihat bagaimana kesabaran melahirkan rasa syukur yang tak jemu-jemu berhenti, bagaimana ketulusan mampu mengabadikan rasa yang hadirnya pun tak tahu sejak kapan, bagaimana ketulusan membuat seseorang menyayangi apapun yang ada pada dirinya sendiri sebelum menyayangi orang lain, dan bagaimana ketulusan akan selalu melahirkan ratusan hal baik dalam pikiran maupun perbuatan.

Tuan, kau sudah menunjukan segalanya padaku. Aku memang tak pernah paham bagaimana seorang sepertimu bisa sedemikian tulus seperti itu, tapi aku tahu sekarang bahwa masih ada orang sebaik dirimu di tengah derasnya kejahatan di masa kini. Kau dan segala kekinianmu di kisah sebentar kita, telah menjadikanku mengingat segalanya yang menjadi kenangan kita. Kau tak pernah bisa terbunuh dalam ingatanku, tuan.

img_20181104_1659012139108192.jpg

Kemarin aku berkunjung ke tempat bersejarah dalam hidupku, aku temukan satu tanaman yang menemani masa kecilku. Seketika pikiranku melayang pada dirimu, ketika jarak di tanaman itu mengingatkanku pada jarak pada jemariku yang dahulu kau isi. Kau sudah sama sepertinya, yang tak bisa hilang dari ingatanku. Tak tahu lagi, apa yang akan aku tulis. Pastinya aku senang mendengarmu baik-baik saja.

Tuan, Terima kasih untuk segalanya!.

Iklan

Berkunjung di Kisah yang Mati.

Berkunjung kembali ke kisah yang dulu adalah pilihan yang tak mudah. Butuh banyak keberanian untuk memantapkan langkah memilihnya. Aku hanya sedang dihujani pertanyaan untuk berkunjung kembali ke sana, walau aku sudah menyiapkan langkah untuk segera berkunjung ke sana; sekalipun kisah itu telah tutup buku. Kisah itu telah terkikis habis oleh waktu. Yang tersisa hanyalah beberapa pengingat yang mengingatkan. Pengingat yang membuatku menetapkan langkah berkunjung ke kisah yang telah tamat itu.

img_20181104_165240982987515.jpg

Kakiku mengarahkanku untuk menjumpai kisah lalu itu. Bukan jalanan bagus seperti yang dahulu lagi. Sekarang jalanan itu telah gersang, sejak rerumputan menolak menumbuhi tanahnya kisah yang lalu itu. Sejak aku tiba di kisah lalu itu, aku mengalami batuk terus-terusan. Batuk yang seringkali menolak bersarang pada diriku. Batuk kali ini hanyalah karna kegersangan yang terjadi di kisah lalu ini.

Serangga sudah menjadi penghuni kisah ini, walau ketika aku melangkah lebih jauh ke tempat yang lebih jauh aku dapati ada rerumputan yang bertumbuh di sana.

img_20181104_1650431782476750.jpg

Rerumputan itu sudah memenuhi seluruh tanah di tempat yang berbeda itu. Tak tahu apa yang istimewa dari tanah ini, hingga reremputan memilih untuk memenuhi tanah itu dengan tubuh mereka. Aku jadi ingat bahwa kisah ini telah aku tinggalkan bertahun-tahun yang lalu. Kisah yang sudah aku hapus sekian lalu, dan sekarang aku ingin mengunjunginya hanya karna rasa penasaranku yang berlebihan.

img_20181104_165240982987515.jpg

Tak aku temukan sedikitpun, jejak manusia di sana. Hanyalah jejakku yang tertinggal di sana, di tanah yang gersang yang baru saja aku lintasi beberapa menit yang lalu. Kali ini aku tetap berdiri di tempat yang sama, pilihanku detik ini. Tak ada apapun yang aku temukan selain aroma perpisahan yang mematikan suburnya tanah ini. Kini aku ingat bahwa sesungguhnya, aroma perpisahan-lah yang telah membunuh suburnya tanah itu. Para rerumputan pun enggan menjumpai tanah itu, hanya karna sang tanah terus menyimpan aroma perpisahan. Aroma perpisahan ini tak membusukkan tumbuhan apapun, ia hanya sedang merekam bagaimana perpisahan terjadi sepanjang waktu yang lalu itu. Aku tertawa tipis, bagaimana mungkin sang tanah bisa beralih fungsi menjadi lemari yang menyimpan aroma perpisahan?. Ah, rupanya aroma perpisahan ditumpahkan pada sang tanah. Sang tanah yang tak bersalah, berulang kali menampung pedihnya perpisahan.

Sejak meninggalkan kisah ini di beberapa waktu yang lalu itu, telah membuatku melupa bagaimana perpisahan itu terbentuk. Bagaimana karya darinya yang merenggut segalanya yang tercipta. Perpisahan itu telah membuatku tak melihat apapun darinya di setiap jendela yang aku lihat. Udara segar yang aku cari pun, menolak bertamu pada jendela kamarku. Udara segar pun menolak menyuburi tanah yang gersang ini. Bahkan tak ada perjanjian apapun yang bisa mereka buat, hanya untuk saling menolong. Ternyata kisah yang sudah berlalu bersama dengan seluruh isinya sudah menjadi asing, sejak hari pertama aroma perpisahan itu menggema di udara. Bagaimana dengan hal-hal baru selanjutnya?

img_20181104_165929918611235.jpg

Kisah yang berakhir ini hanyalah ingin ditemui kembali, katanya. Dia rindu pada seluruh kejadian yang lalu, sejak dia dihinggapi oleh aroma perpisahan. Perpisahan yang sejatinya, tak begitu menyakitkan. Iya kan?. Bilamana menyakitkan ketika hujan kesakitan menimpa kepala. Aku rasa sejak waktu yang lama itu, semua tentang kisah yang lalu itu sudah gugur dari ingatanku. Tak ada lagi yang merintih berjuang serta tak ada lagi yang merintih dan banyak lagi yang lainnya. Tak sedikitpun kebahagiaanku terenggut melalui perpisahan ini, walau memang benar segala yang dahulu itu masih tersimpan di sana, di kisah yang sudah berlalu itu.

Sejak aku berkunjung ke kisah yang lalu, sudah tak ada yang perlu diragukan lagi. Tanah yang kering dan yang penuh rerumputan di tempat yang berbeda telah menyimpan dengan rapi kisah itu bertahun-tahun lamanya. Mungkin semuanya sudah lenyap, hingga yang tersisa hanyalah aroma perpisahan yang tetap menajam di usianya yang telah menahun. Tak tahu dengan pemeran-pemeran yang menciptakan aroman perpisahan itu seperti apa sekarang.

img_20181104_165240982987515.jpgagain, here. 

–Untuk kesekian kali pada tanah yang terus menyimpan aroma perpisahan—

Masihkah terus kau biarkan dirimu tersakiti? Tak baik menjadikannya bersatu denganmu. Bukankah kau sendiri yang telah memilih menyimpannya? Apa untungnya untukmu? Kau begitu berjasa mengisahkan satu per satu hal yang telah aku lupakan. Kau merekam bagaimana peluh dan kata-kata berhamburan ke tanah bahkan melayang ke udara, hingga perpisahan itu menjadi nyata. Apakah selama ini kau simpan segalanya, agar aku menyaksikannya sedemikian rupa ketika aku mengunjungi kisah ini?

Hanya aku kan yang berkunjung?, aku tak butuh jawaban apapun soal ini. Aku hanya tak ingin kau menyakiti dirimu untuk hal bodoh yang menjadi kisahku di waktu yang lama itu. Terima kasih, karna kau telah mengisahkannya lagi (dan lagi, nantinya).

Kepada yang Terkasih: Terima Kasih telah terus Menghadirkan Kasih

img_20181027_1735352032565073.jpgSebuah gedung gereja disinari mentari petang itu. Aku takjub sejadi-jadinya, hingga mengabadikannya dalam sebuah potret. Kejadian ini sudah berulang kali aku lakukan, mengingat ini kali kedua aku menemukan gedung gereja berwarna kuning yang seperti keemasan ketika disinari mentari di setiap petang. Petang dan petang berikutnya, pemandangan seperti ini akan terus berulang, namun aku tak berpikir bahwa kejadian-kejadian yang nampak di depannya akan sama setiap kalinya.

Aku bersembunyi dibalik cerita ini. Cerita tentang seseorang yang tengah membangun masa depannya, dan masa depannya sudah digenggamnya. Banyak hal dia ungkapkan padaku, termasuk katanya tetaplah berbaik sangka pada kendali Tuhan. Kalimat yang berulang kali aku tulis pada linimasa blogku bahkan linimasa instagram millikku. Banyak hal katanya, yang harus dikorbankan. Katanya musuh terbesar ketika membangun masa mudanya adalah dirinya sendiri.

Aku menopang daguku sambil menatapnya dalam, dia yang sedang berada di depanku. Mulutnya tak henti-henti bercerita, bahkan ketika aku sudah meneguk air mineral belasan kali. Dia terus bercerita padaku, bahkan ketika aku sudah menyesal menemuinya hari ini ketika aku sedang mengantuk sejadi-jadinya. Ada banyak cerita yang tak mampu tersimpan dalam ingatanku, sebab beberapa kali mataku terpejam dan aku ditegurnya dalam beberapa kali pula. Sesungguhnya aku tak ingin ditegurnya, sebab apapun yang dikatakannya tidak pernah aku seriusi, apalagi ketika dia sedang marah.

Kali ini, dia meminta waktuku lebih banyak untuk berbagi kisahnya. Entah soal kisah terkelam maupun kisah bahagia diselimuti haru. Aku tak tahu, sebab memprediksi ceritanya, akan segera melahirkan cerita-cerita paling baru setiap hari. Hari ini dia bercerita bahwa dahulu, di beberapa tahun yang lalu dia sempat berkali-kali gagal merintis masa depannya. Soal pendidikannya, bahkan soal asmara yang terselip dalam pendidikannya dirasakannya gagal. Impiannya untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi sempat tertunda, sebab dia harus menghidupi adiknya. Baiklah, kali ini entah bagaimana, kantukku enyah dan aku menyimak apapun yang dikatakannya.
Dia bercerita bahwa dirinya adalah seorang payah yang gagal berkali-kali. Dia telah menyerah, namun sekali lagi dia malu menatap pohon yang tumbuh dengan rindang namun berkali-kali ditebang. Katanya, pohon saja tahan uji, masa aku tidak?. Kali ini dia tersenyum dan menepuk jemariku, katanya memberikan penghargaan pada diri sendiri adalah hal termudah. Setelah itu menjadi hal termudah, aku akan dengan mudah mencintai diriku yang lemah ini. Katanya, aku akan semakin bersemnagat bila aku menatap mataku di cermin dan berujar bahwa kegagalan ini adalah tangga-tangga baru untuk menapaki hari sukses. Dia telah membuktikan padaku, bagaimana dia berjuang. Ketika banjir melanda ibukota tercintanya, dia menerobos banjir itu dan bertamu pada masa depannya. Ternyata, masa depannya telah menjumpainya. Masa depannya telah digenggamnya, namun dia masih seperti dulu. Masih menjadi periang terselimutkan sedih, hingga menjadi teruji diantara yang diuji. Hebat bukan?

img_20181027_1735352032565073.jpgPetang aku menatap gedung gereja, aku teringat akan dia. Dia yang bercerita dan berkali-kali memotivasi diriku. Kita sama-sama pemalu, namun katanya jangan menjadi orang yang terus mau tampil di belakang, kau harus melepaskan rasa malumu untuk menjadi berani dan berada di depan. Aku tertegun mendengarnya dan aku rasa tak ada yang salah padanya. Aku ingat bagaimana dia membantuku meraih keberanian untuk berhari-hari berbagi rasa bahagia ketika satu-per satu pengunjung menghadiri linimasa blogku. Aku ingat bagaimana dia tak mengejek namun terus membuatku ingin menulis setiap hari. Dia tak pernah ambil bagian dalam gedung itu, namun bagiannya telah emmbentuk kecintaanku ketika mengabadikan perasaan lewat aksara-aksara yang berimbun-rimbun dalam kertas. Ah, betapa aku cinta keadaan ini!.

Kepada yang terkasih: terima kasih telah terus menghadirkan kasih.

 

Kenangan dan Kau di Penghujung Oktober.

img_20181007_0747261062216898.jpg

Aku suka berulang kali menunggangi kenangan yang masih membekas dalam ingatanku. Kenangan yang sudah mendaging dalam ingatan yang sekarang telah tumbuh sehat. Berulang kali menolak memberinya nutrisi namun dia kuat untuk hidup tanpa secuil nutrisi pun. Ya begitulah jika harus aku katakan, bahwa kenangan telah menjadi bagian yang mendaging dan tumbuh bersama hariku bahkan hari siapapun. Aku lupa, juga hatinya yang memang dari sanalah kenangan lahir karna tak berhati-hati mengontrol rasa.

Beberapa bulan yang lalu kita merayakan ulang tahunmu, tanpa bertemu. Hanya saling mengucapkan selamat ulang tahun dan terima kasih dari sebuah pesan singkat. Tak ada lagi harapan panjang yang mampu aku katakan, selain kata yang selalu aku sematkan pada siapapun yaitu, Tuhan memberkatimu!. Tak ada apapun yang terlintas dalam pikiranku untuk mampu mengatakan harapanku, selain apapun yang ada di pikiranmu adalah yang selalu diberkati oleh Sang Pemilik Hidup ini.

Aku terkejut bahwa kau masih menantikan bahkan menagih hadiah yang dahulu aku janjikan ketika kita masih bersama. Hadiah yang selalu aku berikan ketika kau buat aku merasakan bahagia berkali-kali hnaya dengan trik murahanmu. Kau paham kan maksudku?

Suaramu yang berat bahkan salam perpisahan kita pun tak ada yang berubah hingga berbulan-bulan kisah kita sudah kandas. Aku ingin mengubahnya, karnanya aku selalu menepi jauh dari kisah kita yang rasanya terus bertumbuh sehat walau sesungguhnya sudah sangat sekarat. Tak ada lagi oksigen sehat yang bisa kita hirup, tak ada lagi kehangatan yang meremas kedinginan kita, dan tak ada lagi yang lain seterusnya. Kita telah sakit sejak lamanya, namun mengurungkan rasa sakit itu dengan kebahagiaan yang semu. Kau paham kembali kan?

img201604260907552123707834.jpg

Hari ini adalah penghujung bulan Oktober, bulan yang istimewa bagi kita. Kau paham lagi kan?. Hari ini di Pagiku yang sibuk, mentari datang menyinari. Dia telah menyingkap semua persembunyianku, yang selama ini telah menepi bahkna lari darimu. Mentari membawa kabar tentangmu, yang sejak lama selalu aku hindari. Aku sudah berulang kali menolak dirimu yang datang, namun kali ini mentari datang membawa semua pesan darimu. Kau menjadi yang ter-rumit diantara segala kerumitan yang pernah menimpaku. Kau membuatku marah serta bahagia disaat yang bersamaan. Kau telah kembali bertamu dengan tujuan yang sama seperti setahun yang lalu. Apa maumu sebenarnya?

Kau menjelaskan tak ada maksud apapun selain dengan maksud memperbaiki dan mempertahankan. Memperbaiki seluruh salahmu yang tak mendaging padaku, dan mempertahankan kisah yang memperindah harimu. Penjelasanmu cukup singkat namun tepat sasaran. Aku paham, apa tujuanmu. Tak ingin aku jelaskan bagaimana aku meresponinya, selain hanya tersenyum dan menutup percakapan kita. Bukan perkara aku tak siap, aku hanya sedang mencerna kata demi kata yang aku tangkap melalui pendengaranku. Kata demi kata yang menunjukan ada upaya untuk kembali, namun aku tak menjawab segala upaya dan juang itu. Kau telah tahu bagaimana aku akan menolak keputusanmu, dan kau telah punya sejuta senjata untuk menembak habis banyaknya alasanku, hingga aku tak punya kekuatan untuk menolak semuanya. Untungnya aku memilih menepi secepat mungkin hingga aku tak kewalahan menjawab sejumlah penawaranmu. Apa kau tahu, aku telah muak menjawabnya berkali-kali?

Setiap kali kau datang, aku akan segera pergi. Kita telah berpunggungan sejak lama. Sejak aku yang memulainya lebih dahulu. Kau seringkali lupa dan mengira aku sedang bercanda, padahal mana mungkin aku bercanda? Aku suka tawa kita, tapi tak bisa aku sangkali aku benci tawa sedih yang memotong-motong kebahagiaan kita. Aku suka kejujuran, tapi tak bisa aku sangkali aku lebih sayang pada keadaan yang menyingkap kejujuran dari pada kejujuran yang direkayasa. Kau tahu kan?

Kita sudah tak bisa lagi saling berjuang, sejak kita sudah menghentikan langkah. Sejak kita telah tersesat dan akhirnya memilih berhenti dan pergi dari kehidupan kita masing-masing. Aku tahu tak satupun diantara kita yang akan menolak keinginan ini, namun apa daya dengan kenyataan ini, sayang?. Kenyataan memang perih. Ia telah menyayat sejumlah kebahagiaan yang sudah bernyawa dan subur. Namun sekali lagi, kita hanyalah seuntai kecil dari kisah nyata yang akhirnya harus berakhir dengan melupakan perjuangan yang dahulu telah kita menangi.

Tak satupun darimu yang dengan mudah mampu aku lupakan, tak satupun. Semua tentangmu begitu membekas dalam ingatan. Satu-satunya cara adalah menjauh hingga melupakanmu, namun sirna sudah ingin itu. Kau masih saja datang dalam ingatan bahkan datang dalam kenyataan. Makin ke sini, makin nyata dirimu yang utuh dan tak mendua. Namun bagaimana mungkin? bagaimana mungkin kita menyatukan semua yang telah tersayat itu menjadi utuh kembali?

Kita sudah kalah sejak lama, sayang. Kita sudah tak bisa lagi berlari dari kenyataan, karna mereka mengejar kita. kita tak punya banyak jawaban ketika pertanyaan menghakimi kita. Kita akan diadili dan kita akan sakit karna kata-kata. Kau pernah tersakiti oleh kata-kataku pula sebaliknya, bukan?

Bagaimana pun juga kita harus berhenti, melihat banyaknya alasan yang telah menghentikan perjuangan kita. Aku harap, kau akan bahagia di manapun kau berada. Tuhan menyertaimu, senantiasa!.

Teruntuk Lindaku, yang sedang Berbahagia.

img_20180630_1745471316297630.jpg

Selamat Ulang Tahun, Lindakuu (Linda kami para Umiss) haha. Aku setuju dengan yang dikatakan Aca bahwa tak hadiah yang baik selain doa, sejujurnya baru aku lihat Aca seromantis dan sedewasa ini (haha). Doaku mungkin sama dengan sejuta umat yang mengirimkan doa bagimu di hari bahagia ini pada umumnya, karnanya aku katakan demikian. Sesungguhnya aku juga tak pandai menunjukan daftar doa yang harus aku haturkan pada Allah, Sang Pemberi Hidup ini (haha).

Secarik tulisan yang sengaja aku tulis adalah tulus dari hati untuk orang tertulus (after my family yaaa). Bagiku, Lindaku adalah bentuk terindah dari ciptaan Tuhan. bentuk teristiwa dari setiap inchi dalam dirinya, terlebih pribadinya. Pribadi tertulus (seperti yang aku katakan sebelumnya).

img_20180630_175057430117010.jpg

Harapanku, semoga apapun yang menjadi pergumulanmu adalah menjadi yang semestinya dilukiskan oleh Tuhan. Karna terkadang lukisan yang kita buat hanya menggunakan tinta kefanaan bukan tinta percaya, karnanya ada rasa kecewa bila tinta-tinta itu tercemar oleh patah hati.

img_20180630_175109548555281.jpgTeruntuk Lindaku, semoga setumpuk pergumulan dalam hati dan pikirmu menjadi adalah hadiah-hadiah yang dihadiahkan Tuhan. Aku tak berpesan untuk menginginkan hal lebih, bukan yaaa Lindakuu. Aku hanya ingin bilang tetaplah menjadi orang tertulus diantara yang paling tulus, tetaplah menjadi kawan diskusi yang paling handal mengemas pendapatku dan apapun yang kau inginkan adalah yang digenggam dalam tangan Tuhan. Semoga segunung inginmu adalah digenggam oleh Tuhan, diseleksi olehNya bahkan diwujudnyatakan olehNya, pada waktuNya. (ahhh terlalu didramatisir rupanya, olehku).

img_20180630_175025191927926.jpgSelamat memasuki usia 24 tahun, semoga lembar hidup dalam buku kisahmu adalah yang paling baru, sebaru-barunya Lindakuuu!. Tak ada hadiah berharga dariku, selain mengabadikan rasa bahagiaku merayakan hari ulang tahunmu di hari ini (walau ragamu di bilik yang berbeda, hihi).

Terakhir, seperti yang dihadiahkan oleh seseorang dihari ulang tahunku setahun yang lalu. Tetaplah berbaik sangka pada kendali Tuhan, Lindaaakuuuuuuu!. Bukankah semestinya kita harus demikian? Itulah yang menjadi alasanku untuk menulis pada secarik kertas lusuh di linimasa blog cintaku (haha) untuk orang tercinta yang berbahagia di hari ini, dan itu adalah kau Lindakuuuu!. Semoga semestinya apapun yang ada padamu, Tuhan Yesus sayang.

Oh ya, aku lupa; turut serta aku hadiahkan foto terbaikku untukmu (hahhah).

img_20180911_0059591717445355.jpg

Dengan sebuah kecupan tak mesra, Ella.

Sang Rindu dan Kau, Kak.

img_20181011_2008272064972033.jpg

Aku kemas rindu yang sudah aku buang dari ingatan. Rindu yang sudah tergadaikan itu aku bungkus dalam kemasan yang takkan bisa membuat rindu itu berlarian terbang bilamana angin datang menjemput. Aku lupa bahwa rindu itu masih bernyawa. Rindu itu masih tahu jalan pulang, hingga dia menerjang penutup kemasan yang sudah aku jepit sekuat tenaga. Rasanya sang rindu dan kemasan yang aku pakai untuk menampungnya berkelahi sedemikian hebat, hingga sang rindulah yang menjadi pemenangnya.

Kali ini sang rindu datang padaku, si penjahat yang membunuh rindu. Akulah penjahat yang membunuh nyawa sang rindu, akulah yang membuat sang rindu tak bisa bernapas. Sayangnya, aku sudah tertangkap oleh sang rindu yang terus mengejarku. Sang rindu datang padaku, sebab katanya akulah rumahnya. Aku adalah tempatnya bersemayam, sebab aku yang menanamnya, memupukinya hingga sudah menjadi dewasa lalu tahu bahwa dia telah bernyawa dan tak pantas untuk mati. Aku keliru, soal itu.

Baiklah, ini murni adalah salahku. Aku yang menjumpainya, aku yang mencari-cari dirinya hingga sang rindu tumbuh dengan lebat dalam ingatan. Rindu yang dulu selalu datang tanpa kupinta, rindu yang selalu menenangkan pula rindu yang membebatku habis-habisan. Kadang aku benci padanya, pada sang rindu manakala dia menuntutku untuk menghubungi kau yang aku rindukan. Nyatanya, aku dibuat tak berdaya oleh sang rindu hingga menjumpaimu sebagai penenang rindu.

Sang rindu itu telah bertumbuh dengan lebat dalam ingatanku, ketika kita bersama. Sekarang kisah kita sudah berbeda, sebab kita tak lagi bersama. Kita sudah saling berpunggungan, kita sudah saling menyerah bahkan tak ada lagi kita yang dahulu selalu membuatku rindu. Kisah kita sudah mati. Iya kan?. Aku tak ingin membangunkan kisah yang sudah mati itu, sebab rasanya mengenangnya saja membuatku sulit meredam sang rindu yang telah tumbuh bersamaan dengan kisah ini.

img_20181007_0736391814805255.jpg

Kisah ini sudah berakhir bertepatan dengan banyaknya narasi yang aku tulis tentangmu, sejak kita memutuskan untuk berpisah. Narasi-narasi sedih, hingga narasi yang sudah tak ber-rasa pun sudah aku luapkan di sini, di linimasa blogku. Sejak aku menuliskan tentangmu, sejak aku pilih bersembunyi hingga sudah tak ada lagi persembunyianku tentangmu. Semua tentangmu telah memenuhi linimasa blogku, hanya untuk membuatku segera melupakanmu.

Sang rindu yang aku bilang sejak awal ketika tanganku menari di atas papan keyboard juga sudah biasa saja. Aku hanya tertarik menuliskan bagaimana aku bunuh sang rindu yang hidup untukmu. Sang rindu itu tumbuh bersama kisah kita, karna memang kita terbiasa untuk segalanya. Terbiasa bercerita, terbiasa saling berbagi hingga terbiasa menemukan solusi yang menyenangkan. Obrolan kita pun bukan soal masa depan, sejenak kita berpikir bahwa siapa yang bisa memprediksi masa depan hubungan ini? yang kita katakan adalah terus berbaik sangka pada kendali Tuhan, ketika sudah tak lagi bersama!.

Aku sudah berbaik sangka dengan menemukan solusi terbaik adalah melupakanmu. Memang tak semudah itu melupakanmu, yang memang punya daya pikat yang membuatku terpikat begitu dalam. Caramu berbicara, caramu menaklukanku adalah caramu menjemput masa laluku yang dahulu telah aku buang. Kau bangunkan lagi dengan caramu hingga membuatku mengasihi segalanya. Kau mengingatkanku untuk tak boleh tersakiti oleh kata-kata sakit, kau membuatku bangkit berkali-kali hingga mantap menatap cermin lalu tertawa mengapa aku bisa sebodoh itu. Kau memang bagian terindah yang dititipkan Tuhan ketika aku merayakan hari ulang tahunku, setahun yang lalu. Kau buat aku terpana, hanya dengan hal-hal sederhana yang kau lakukan. Aku tak butuh apapun untuk membuktikan ketulusanmu, sejak awal aku menetapkan pilihan padamu aku tersadar bahwa ada seseorang yang penuh dengan ketulusan telah melengkapiku selama ini. Sejak itu, sang rindu bertumbuh untukmu dalam diriku. Kau yang hingga sekarang masih terus tersebut dalam ingatan sudah bisa aku tepis posisimu, posisimu sudah tak sama seperti dahulu lagi. Kau tahu kan, bagaimana kita berdua berjuang menolak rindu masing-masing? kau juga tahu bahwa setelah kita tolak rindu itu, hingga akhirnya kita saling mengakui telah rindu, serindu-rindunya walau kau yang mengakuinya lebih dulu, hingga aku susul pengakuan itu.

Setelah aku ungkapkan hal itu, bagaimana bisa sang rindu ini tak tertuju padamu?

Kau dan sang rindu sudah menyatu dalam ingatan. Rasanya aku ingin memberontak, aku ingin membunuh semua tentangmu yang bernyawa dalam ingatanku, namun kekuatan soal dirimu terlalu kuat dan rumit dibumi-hanguskan. Aku sudah terlanjur tumbuh bersama sang rindu yang nyatanya hanya tertuju untukmu.

Aku pilih untuk melenyapkanmu dalam ingatan, melalui tulisan yang perlahan-lahan membuatku melupa. Dibandingkan dahulu ketika aku menyembuhkan diri, jerawatku tumbuh subur di wajah. Sawah jerawat yang menempati wajahku telah sesak, hingga aku menolak bercermin. Aku pun tak dapat tidur nyenyak, sebab sesekali aku menjerit ketika kau datang menghampiri lelapku. Itu adalah hal terlucu dan tersadis ketika aku diserang patah hati. Aku terserang hingga sakit, sesakit-sakitnya!. Perlahan-lahan aku berani menulis semua tentangmu, mengkritisi kelemahanmu yang aku cintai serta menyatakan kekagumanku. Semuanya itu aku tulis ketika semua tentangmu masih sangat ber-rasa. Tak tahu sudah berapa banyak tulisan yang lahir soal dan untukmu, namun aku sudah dengan lapang dada menulis dengan tak ber-rasa lagi tentangmu. Aku telah berhasil!

Aku keluarkan semua tentangmu dari ingatan, aku kumpulkan semuanya tanpa tersisa. Aku taruh menjadi satu dalam kemasan, lalu aku kemas dengan rapi. Aku jepit penutupnya supaya tak beterbangan ditiup angin, karna hal yang paling aku benci adalah angin. Dia datang dengan jahatnya lalu menerbangkannya bahkan menjemputnya kembali padaku. Angin memang kurang ajar!. Aku jepit sekuat tenaga hingga peluhku menjadi sungai kecil di atas meja. Aku pikir untuk membuangnya ke dalam selokan, hanya menciptakan sampah baru yang menambah menimbunnya sampah pada selokan tak berdosa. Kala itu gerimis bertamu di rumahku, syukurlah. Gerimis kecil menjadi sungai dengan arus deras di selokan, hingga lebih mudah menenggelamkan rindu itu di lautan. Aku buang saja sang rindu yang sudah aku bungkus dengan rapi itu. Aku buang ke sungai berarus deras di depanku, tanpa rasa berdosa sekalipun. Nyatanya memang sudah tak ber-rasa soalmu, hingga membuangnya saja aku merasa lega.

Setelah aku buang aku tutup pintu rumah. Aku tutup dengan gembok. Malamnya aku tidur, namun sang rindu menghampiri. Kemasan itu aku temukan sudah terbuka, ah sungguh keji sang rindu yang datang kembali terus menerus. Tapi sudahlah, aku panggil sang rindu untuk datang lagi. Aku bilang padanya, aku ingin bebas darinya. Kau tahu apa yang dikatakan sang rindu padaku?

“Aku tak pernah meremas napasmu. Aku tak pernah membuatmu terbeban. Kau tahu mengapa aku terus menghampirimu? Tak sadarkah kau bahwa aku yang tumbuh dalam kisahmu bukan hanya untuk dirimu sendiri, ada dia di sana yang sungguh dengan deras merindukanmu. Aku tahu kau pandai mengendalikan diri dan rasa hingga sekarang aku (sang rindu) sudah tak sesubur sejak awal menumbuhi dirimu. Dia di sana sedang merindukanmu habis-habisan. Dia di sana sedang melukis indah parasmu yang terus terbenam dalam ingatannya. Aku (sang rindu) yang hidup dalam ingatannya pun terus menghajarnya tentangmu. Tak ada sedikitpun yang bisa aku hapus tentangmu darinya. Dia menolakku (Sang rindu) untuk pergi. Dia bahkan membiarkanku semakin dewasa bersamanya. Sedang kau? Kau bunuh aku, kau meremas leherku, kau buang aku dan kau campakkan aku hanya untuk melupakannya. Semua tentangnya sudah meluap dari ingatanmu, dan ya kau sudah berhasil!. Aku (sang rindu) hanya ingin tinggal dalam dirimu, ingin membantumu melupakannya dengan caraku. Tolong, terimalah aku (sang rindu) kembali.”

Semua yang dikatakan sang rindu padaku dalam percakapan kita sama adalah sama denganmu. Pada awalnya aku terbeban, namun sekarang aku sudah tak ingin membunuh sang rindu lagi. Baiklah, aku ijinkan sang rindu tinggal dan dewasa dalam diriku. Soal kau yang tumbuh bersama rindu, terima kasih untuk terus memeliharaku dalam ingatan. Kau yang terindah dan yang paling ber-rasa tanpa dibumbui apapun. Bolehkah kukirimkan sesuatu padamu melalui sang rindu dalam ingatanmu?

img_20181011_2008361969522371.jpg

Teruntuk yang dahulu menjadi satu-satunya: ketika aku menuliskan ini, aku undang segala rasa yang dahulu aku buang bersama sang rindu. Mereka datang kembali, hingga aku menulis sepanjang ini padamu. Sejak lama aku sudah menghapusmu hanya dengan tak peduli soalmu, walau aku sangat peduli. Aku menolak pesanmu, walau sesekali aku akan senyum kegirangan melihat pesan-pesan pendek terlucu darimu. Kau masih terus sama sejak dahulu hingga sekarang. Sedikitpun kau tak berubah, kau tak berubah bahkan ketika kebersamaan kita sudah berubah. Kau mengunjungiku berkali-kali, hanya untuk mengingatkanku beberapa hal yang membuatku terluka. Segitukah aku, kau kenal?. Aku mengasihimu sebanyak apapun yang bisa aku deskripsikan. Seseorang yang merobohkan tembok yang aku bangun bertahun-tahun, seseorang yang membuatku suka apapun yang ada pada dirinya dan  seseorang yang membuatku belajar memelihara seseorang sebaik mungkin dalam ingatan. Kaulah seseorang yang membuatku terus berkata jujur, tanpa pernah bersembunyi. Bahumu yang masih kuat menampung peluhku, bahumu yang masih kuat menampung kekesalanku. Bahumu yang selalu kau berikan, ketika aku tak pernah pinta.

Tanganmu yang masih hangat menuntunku, bahkan tanganmu yang masih dengan hangatnya menenangkan amarahku. Senyummu masih kau lukis di hadapanku, walau aku masih membuang senyumku ketika menatapmu. Kakimu yang selalu membuatku tak ingin mundur, kakimu yang membuatku paham apa arti beriringan. Kakimu membuatku paham bagaimana bekerja sama untuk menemukan jalan keluar. Kakimu yang menuntunku tak terantuk bantu hingga terluka dan sakit. Kau sudah sebegitu berharga dalam ingatanku, kau sudah mendaging dalam hati dan ingatanku. Kau yang selama ini selalu aku tolak kehadirannya, justru yang paling ter-rindukan diantara yang sudah-sudah.

Kak, sang rindu membuatku menulis sepanjang ini tentangmu. Maafkan aku yang berkali-kali tak mampu melupa tentangmu. Aku hanya ingin menenangkan pikiran tentangmu, namun cara menenangkan pikiran tentangmu adalah menulis ini padamu. Kau masih terbutuhkan, kau masih paling terbutuhkan. Namun apa dayaku? Kita sudah terjarak oleh pilihan, kita sudah terjarak oleh waktu dan kita sudah terjarak oleh apapun yang sudah menjadi dunia kita. Kita sudah berbeda sejak beberapa bulan yang lalu. Aku tahu bahwa kisah kita masih melekat pada pikiran kita masing-masing, namun kita sudah menjadi diri sendiri dan telah terbiasa. Tak mengapa, sang rindu menghajarku habis-habisan. Tak mengapa, kak. Sesekali mengingatmu menjadikanku merasa bahwa kenangan memang hal sulit untuk terkelupas dalam ingatan. Kenangan kita sepertinya menjadi luka yang tak mengering. Aku tak ingin menyembuhkannya, aku juga tak menganggap perpisahan kita sebagai luka yang menyakitiku. Sebenarnya pada awalnya, aku mengira bahwa kau adalah luka ketika kita membicarakan perpisahan ini baik-baik. Dan ya, aku dibuat takluk oleh prasangka luka tentangmu. Ternyata sudah aku sadari bahwa, kau bukanlah luka. Kau mendaging dalam ingatanku, kau mendaging dengan sikap nyata yang membuatku terpikat ratusan kali.

Terakhir, sudah aku kendalikan rasa berbaik sangka pada kendali Tuhan. Kak, terima kasih telah mencintaiku dengan caramu yang sederhana. Terima kasih telah mencintai segala kurangku yang katamu tak pernah mematikan dirimu. Terima kasih telah menjadikanku sebagai orang yang terus berpikir untuk berbaik sangka pada kendali Tuhan. Semoga kau berbahagia dengan semestinya, dan semoga kau terus berbuat baik pada setiap orang. Akan banyak orang yang terpikat dengan ketulusanmu, kak!.

Mentari Pagi yang Membongkar Persembunyian Kita

img201604260907552123707834.jpg

Pagi ini, mentari dengan sengat tertajamnya menusukku. Menusuk kita, yang sejak malam bersembunyi darinya. Kita bukan takut disinari olehnya, hanya saja kita takut tertangkap olehnya yang selama ini mencari persembunyian kita. Sangka kita bahwa segalanya akan tertutup dengan sangat rapat adalah sungguh-sungguh salah. Nyatanya yang tadi tertutup itu telah terbuka dengan lebar.

Ini bukan soal masalah memalukan yang membuat kita bersembunyi, ini adalah soal kita yang tak suka mengumbar kisah ini. Akan lebih baik kita menikmatinya saja, daripada tertonton oleh orang lain. Sebenarnya itu adalah gagasanku, yang tanpa sengaja pun dibenarkan olehmu. Katamu, benar juga. Makanya kita memilih selama ini bersembunyi di persembunyian kita, tanpa membuat banyak orang bertanya-tanya. Rasanya ternyata begitu menyenangkan, merasa tak ada yang melihat, tak ada yang menyaksikan sampai tak ada yang bertanya bagaimana posisi kita di hidup masing-masing.

Itu adalah tempat ternyaman, ketika menjalaninya tanpa banyak yang mengumbar. Biarlah kode-kode asmara yang kita buat di catatan kecil pada sosial media masing-masing, menjadi tanggung jawab kita yang akan kita pertanggungjawabkan bila hanya kita berdua yang sedang bercerita. Kita senang bersembunyi di tengah keramaian, tanpa saling bergandengan tangan. Kita suka berbisik ketika banyak orang sedang berteriak, kita suka tersenyum ketika orang lain sedang tertawa bahagia dan kita senang bercerita ketika orang-orang sedang tak bersama. Bagiku, ini adalah hal yang sangat mudah ketika urusan pribadi benar-benar menjadi urusan pribadi. Namun bagimu, ada beberapa hal pribadi yang menjadi konsumsi keluargamu. Sedang aku, memang selalu menutup rapat kisahku dengan siapapun. Kau suka beradaptasi dengan duniaku yang memang benar-benar tertutup, pada awalnya. Kau tak tahu bahwa aku suka bersenandung ketika yang lain sedang marah, kau tak tahu bahwa aku sangat suka bercanda di tengah kesukaanku untuk bersembunyi. Katamu, akan mudah untuk aku adaptasikan.

Pagi ini, kita tak pandai saling bersembunyi. Mentari menangkap kita dengan perangkapnya. Perangkap yang selama ini kita hindari, namun akhirnya kita terperangkap di dalamnya. Lalu bagaimana sesudah ini?

Kita telah menyiapkan kisi-kisi jawaban, bilamana ada ratusan pertanyaan mengenai kisah ini. Kita akan menghadapi ujian-ujian yang akan diadakan oleh orang lain terkait pelajaran yang selama ini kita pelajari bersama. ya, pelajaran soal bagaimana kita dengan tangguh bersembunyi. Bagaimana persembunyian ini tersusun dengan rapi, hingga sama sekali tak tersadar meski selama ini kita kelihatan bersama. Pada awalnya aku kira ini akan berhasil, nyatanya aku salah; sebab seberapa lamapun kita bersembunyi tetap saja kita akan ditemukan. Dan Pagi ini, atas restu semesta kita ditemukan.

Ketika kita berdua memutuskan tak bergandeng tangan di tengah keramaian, kita malah dipaksa memberikan kejelasan untuk kisah ini, untuk kisah yang selama ini kita sembunyikan. Kita adalah orang kuat yang sama-sama menanggung beban pertanyaan ini. Katamu; ah, sungguh tak nyaman begini. Dengan ekspresi tak mempesona kali ini, yang aku iringi dengan tawa. Sayang, tak ada gunanya menyesal. Lebih baik, saling menyiapkan diri menghadapi pertanyaan itu.

Ujian Kemarin; tanpa sengaja kita tertangkap sedang berdua di taman baca. Kita diperhadapkan dengan tawa besar oleh kawanmu, yang langsung mengundang tawa bersama. Kita hanya saling tertawa dan saling setuju untuk menertawakan apa saja yang dibuat orang lain terhadap kita.

Tak ada yang salah kan bila bersembunyi di balik kisah ini? aku yakin tak ada yang salah. Ini hanya soal pilihan, soal kenyamanan bersama. Bila untuk kenyamanan, untuk apa peduli dengan yang sudah-sudah terjadi pada yang lain?. Dalam sebuah kisah, tak penting untuk diketahui orang lain. Seberapa besar aku tertular dan menularkan kebaikan dalam kisah ini adalah yang penting.

Karnanya sejak aku memilih bersama, sebisa mungkin akan aku sembunyikan pada siapapun. Terkai sensai dan rasa berdebar, memang tak bisa aku sembunyikan. Akan lebih nyaman untuk didiskusikan bersama, sebisa mungkin menjadikan kau sebagai teman terkasih adalah hal yang snagat-sangat wajar. Terkait posisimu yang tak bisa bergeser dari ingatan adalah mutlak. Karna berhari-hari menghabiskan cerita denganmu, menjadikanku sebagai pribadi yang suka berbagi. Rasanya ada yang menanggung sedih bahkan bahagiaku, dan itulah kau. Maafkan aku yang membiasakan kau bersembunyi, hingga kita tertangkap mentari di Pagi ini.

Sejak mentari melihat kita, bahkan meminta langit membantu memuluskan serta meluruskan pertemuan kita, kita sudah tertangkap olehnya. Hanya saja, tak kita sadari sejak awal kita memutuskan bersama. Tapi sudahlah, seburuk apapun kita bersembunyi dia sudah berhasil menerangkan pada dunia bahwa kita sedang membangun kisah ini. Untukmu, terima kasih telah menyelaraskan dunia besarmu dengan dunia terkecil milikku.

img201604260907552123707834.jpg

Teruntuk Mentari Pagi, rasanya aku tak ingin menulis apapun tentangmu sebab kau jahat untuk tak merestui persembunyianku. Namun sudahlah, sudah terlewat sekian jauh bagaimana kau merebut kita dari persembunyian kita dan menerangkan pada dunia bahwa kita sedang berjuang membangun kisah ini. Mentari Pagi, kau memang hebat membuatku tersipu ketika dihujani pertanyaan hingga kewalahan memberikan jawaban. Aku pikir bahwa yang ingin tahu hanya saudara-saudariku, nyatanya mereka tak banyak bertanya sebab menghormati keputusanku. Mentari Pagi, kau membuatku sadar bahwa ada banyak orang yang hanya penasaran mengapa aku menutup rapat cerita kisahku dengannya. Kau membuatku mengerti apa itu penjelasan, dan bagaimana menemukan bahagia yang hanya diri ini rasakan. Sekali lagi, aku tak marah karna kau tak merestui persembunyianku. Aku dibuat kagum, bagaimana kau membuatku menikmati persembunyian ini beberapa waktu lamanya, hingga kau siap mengakap aku dan dia. Terakhir, aku sudah berbaik sangka padamu. Terima kasih, Mentari Pagi yang membongkar rahasia kita!