LANGIT SUBUH

Langit subuh memang menakjubkan dengan segala kemisteriusannya. Segala yang tersimpan selalu sukses menakjubkanku. Aku terpana dengan segala kemegahannya yang seketika membuat batinku membisik; ternyata kegelapan tidak sepenuhnya misterius, sebaliknya ia sedang mempersiapkan sesuatu mengagumkan yang tak bisa kita prediksikan sejak awal. Sesuatu mengagumkan itulah yang membuatku berlari mencari sebongkah kenangan yang telah menjadi es di ruang terdingin dalam hatiku. Ahh, aku tak mampu membekukannya dalam waktu yang lama!

Anggap saja bahwa langit sedang memberitakan kabarmu yang sejak lama aku senyapkan. Anggap saja langit subuh sedang membangunkanku dari panjangnya pikiranku yang menidurkanmu dalam peti yang sudah aku kubur dalam kedalaman hatiku. Aku memang salah langkah menentukan pilihan untuk menguburkanmu dalam kedalaman hatiku, letak kesalahannya adalah membiarkanmu terkubur di sana. Kesalahanku berikutnya yakni membekukanmu di ruang terdingin dalam hatiku, aku lupa bahwa sesuatu yang dingin bisa meleleh karna hangat telah menyengatnya. Baiklah, kali ini aku akui memang aku telah salah. Lantas, mengapakah harus langit subuh yang menghangatkan dinginnya ruang hatiku yang menjadi tempatmu tinggal?

Sederhana: kau orang yang selalu bercerita tentang langit pagi di subuhmu di tanah berbeda. Kau berujar tentang menyapa langit subuh untuk menantikan emosi positif yang melengkapi harimu. Kau pula yang merekomendasikan hal itu menjadi hal yang harus aku lakoni, walau aku selalu menyela dengan menyatakan bahwa aku gemar begadang dan jika aku bangun hanya untuk menyaksikan langit pagi tentu saja akan memotong waktu tidurku. Alasanku cukup logis kan?

Pagi ini aku paham bahwa emosi positif memang tertransfer dalam hariku ketika aku menyapa langit pagi hanya dengan tatapan kosong karna pikiran yang sibuk menyeleksi kenangan kita. Kenangan tentang cerita-cerita gila yang kita sajikan dan lahap bersama. Cerita yang tertulis penuh di lembar-lembar kenangan yang menggunung di ingatan. Aku memang belum sepenuhnya pulih dari derita patah hati karenamu yang mengajarkan tentang arti mengasihi yang sebenarnya. Aku memang belum benar-benar mampu mengoreksi sifat diri yang selalu keliru, yang selalu paling kekanak-kanakan. Aku akui bahwa semua yang mampu membuatku menyeleksi dan mampu menanggalkan segala atributku secara sadar tanpa kepalsuan adalah kau yang memang selalu berhasil. Adalah kau yang memang selalu berhasil menertawakan ejekanku dan menepis kesalahanku dengan pujian. Tahukah kau bahwa seketika jemariku dengan begitu lancar mampu menuliskan semua ini tanpa terbeban?

Perkenalan kita memang misterius (haha), layaknya langit subuh yang tanpa pernah bertamu jejak bintang-bintang. Nanti dulu, langit subuh memperkenalkan langit pagi yang mulai ramai dengan padatnya aktifitas yang bertamu padanya. Perkenalan kita demikian, tanpa pernah kita berpikir bahwa akan menyisakkan jejak sedalam ini. Aku selalu gemar menuliskan apa yang aku ingini dengan berbagai aksara dan narasi, termasuk kau yang selalu hidup di sana; di dalam dunia kata-kata punyaku. Sekali lagi, jangan salah sangka bahwa aku menuliskan ini karna jantung yang berdetak keras karna mengingatmu. Sejujurnya aku teringat akan ceritamu tentang langit subuh yang aku temui ketika tanpa sengaja aku terbangun di subuh tergelap kala itu. Jangan-jangan kau kirimkan rindumu pada langit ya? (haha).

Baiklah, aku memang terkejut dengan semesta yang masih saja membuatku mengenang berulang-ulang tentangmu. Rasanya semua tentangmu masih terus berputar di kepalaku dan seketika membungkam banyaknya pertanyaan yang menggema di ruang hati. Lisan yang selama ini enggan bernada memang selalu sukses dicairkan oleh tulisan, namun selalu saja semesta menampilkanmu berkali-kali. Bila memang langit belum merestui kepergianmu, mengapa dia bentangkan jarak sejauh ini pada kita? mengapa pula dia merestui perpisahan yang sudah terjadi di waktu yang lama? Mengapa pula harus dia menyaksikanmu menemuiku, lagi?

Kita memang selalu bercerita tentang semesta karna aku gemar menarasikannya dalam hariku untuk membuat waktuku tak mati karna hampa. Belakangan itu telah menjadi rutinitas dan objek kita membangun suatu ke’erat’an yang merekatkan kita. Ahh, lagi-lagi jemariku mencegahku menamatkan kisah yang baru aku tulis ini. Katamu, langit pagi selalu lebih menarik berkali-kali dari senja, sedang aku sebaliknya. Kita selalu bertemu di ufuk senja ketika ingin menamatkan riwayatnya dalam hari, sedang kita masing-masing menikmati permulaan langit subuh dengan berita perpisahan.  Jadi bagaimanakah kesannya? Mengerikan? Never. Bolehkah aku tulis tentangmu di akhir tulisan ini?

Kepada sang langit subuh dan pria subuh di senjaku, dahulu: langit subuh sudah aku temui! Pagi ini aku bisa menahan amarah dari amukan langit yang menyengat pagiku. Pagi ini aku berdandan dan merapikan rambutku karna harus bertamu. Bagaimana denganmu?

Kepada sang langit subuh dan pria subuh di senjaku, dahulu: aku masih saja bingung, mengapa semesta menghadirkan mimpi buruk sepagi ini dan membuatku mengingatmu? Apakah semesta belum mengakhiri kisah kita? ataukah masih saja dia hadirkan masing-masing kita dalam kegemaran kita yang tersembunyi? Dan kau, terima kasih sudah mengempiskan mimpi-mimpi besar yang penuh dengan uap yang sebentar saja yang hilang dan basah lalu mengecil seiring waktu. Terima kasih telah berhasil terpenjara dalam ingatanku, tapi tenang saja kau tak terpenjara dalam hatiku. Tak ada jeruji besi yang besar dan kokoh untuk menahanmu, sejak kita sepakat mengakhiri ini; aku sudah menerbangkanmu dari hati namun tak tahu mengapa sikapmu terpenjara dalam ingatan. Aku hanya sedang belajar punya jiwa bebas dan hati hangat darimu.

Kepada sang pria subuh di senjaku, di masa lalu: terima kasih telah memperkenalkan berbagai hal tentang semesta, telah sibuk membantuku mencintai kegemaranku, telah berhasil berkali-kali mendorongku lebih percaya diri dan telah berjasa di setiap jasa yang menempel dalam ingatanku! Pagi ini aku anggap langit subuh hanya sedang kesepian, makanya dia datang menjengukmu dalam ingatanku. Semesta merestuinya dan mengerjaiku menulis di lembar kedua tulisan ini.

Dari hatiku yang terdalam, di tempat dimana aku menguburkanmu; aku sudah mengerti betapa misteriusnya langit subuh yang gelap megah namun mengusir kehitaman dengan cahaya yang sulit aku gambarkan berwarna apa. Terima kasih banyak, telah membuatku mengenalnya!

Iklan

MENYENANGKAN.

Sekarang hidupku rasanya begitu menyenangkan. Aku sudah bisa merasakan patah hati yang sejak lama aku hindari, namun tetap saja terlaksana dengan mudah. Aku sudah bisa mempertipis usahaku untuk menang sendiri dan belajar menghormati keputusan. Aku pun telah belajar mencintai kekurangan diri sendiri dan menghormati kekurangan pada orang lain. Aku telah menemukan defenisi mengisi kekurangan dan menyelaraskan perbedaan. Aku pun sudah merasa bagaimana letihnya terjebak dalam situasi rumit, namun aku lega bahwa semesta atas campur tangan Tuhan memang tak pernah menyengsarakan. Aku telah banyak belajar untuk dikritik bercampur kecaman, namun itu bukanlah ancaman untuk meruntuhkan duniaku; sebaliknya aku terkejut ada yang benar-benar memperhatikanku sedemikian rupa, hingga aku benar-benar merasa selalu dipedulikan. Aku telah belajar bermusyawarah dan bermufakat, belajar bertanggung jawab dari tanggung jawab berupa serpihan dan butiran debu. Semuanya begitu menyenangkan! rasanya begitu mempesona melihat tampang kebingunganku yang sedang bercermin dan menatap paku sang peluh yang mengairi wajah, rasanya begitu terintimidasi ketika semua mata melotot namun begitu bahagia melihat aksi-aksi melotot adalah berisi teguran, rasanya begitu bersyukur menyadari ada banyak orang yang menginginkan bantuanku dan rasanya aku telah hidup dengan diriku yang sekarang setelah sebelumnya rasanya aku ingin mati karna terbeban!

Setiap hari besarnya tanggung jawab membangunkanku dari lelapnya kantuk. Setiap hari aku berusaha mampu semampu-mampunya. Setiap hari aku menderita dengan semuanya. Namun dibalik semuanya ada kelegaan bercampur rasa haru ketika aku mampu menyelesaikannya satu per satu, ketika aku pun mengintimidasi diri sendiri dengan menyatakan bahwa aku tak mampu. Aku tolak semua tanggung jawab menggiurkan yang secara tak langsung merangsangku untuk memberdayakan diri sendiri, serta percaya pada kemampuan diri!. Aku kewalahan memikirkannya dan enggan bangkit dari kewalahanku. Sekarang, semuanya terasa mudah dan sederhana ketika kudapati diri untuk membiarkannya bekerja semampunya dan sisanya adalah campur tangan Tuhan. Aku telah menemukan bagaimana rasanya, ketidakberdayaanku mendorongku berusaha semampunya dan berjalan sebaik-baiknya. Baiklah, ini bukanlah perasaan yang direkayasa; melainkan perasaan lega ketika berkali-kali menyembunyikan diri namun terus saja tertangkap dan tertawan, namun tak pernah membuatku menderita. Aku telah paham bahwa kadangkala berjalan lurus maju ke depan, dengan tatapan tak kosong dan optimis; ada banyak cara menemukan makna perjalanan tak berarah yang sebenarnya! aku mungkin sudah tersesat, tapi aku menemukan jalan berbeda yang begitu menyenangkan!

Aku merasa terpenjara dengan semuanya, pada awalnya. Sejak lama aku memaki diri dan waktu yang terus saja menangkapku untuk bertanggung jawab atas semuanya. Rasanya segalanya datang beruntun dan terturut-turut. Aku menyerah pada satu titik, namun rasa menyerah itu tak peranh dianggap. Bagaimana selanjutnya? Aku harus maju dan bergerak semampunya. Aku harus berjalan sekuatnya dan belajar menerima segalanya sebagai hadiah yang dihadiahkan semesta.

Tak tahu sejak kapan aku telah menikmati pergerakan ini. Menikmati setiap jalan yang aku tapaki, setiap aksara maupun diksi yang aku narasikan dan setiap keputusan yang aku tempuh. Satu lagi, aku menikmati bagaimana belajar berani, terampil dan bertanggung jawab. Aku juga belajar percaya pada kemampuan diri. Memang benar kata saudariku, jika Tuhan sudah membawamu sejauh ini, sedikitpun kau takkan tertinggal maupun ditinggalkan. Kau takkan dilupakan, Dia sedang menenun rajutan terbaik yang akan kau kenakan setelah ini!. Ahh, biasanya aku akan mengangguk-angguk tanda setuju tanpa sebuah harapan. Hari ini aku telah menemukan arti bahwa percaya pada Tuhan dan percaya pada diri sendiri adalah modal utama menaklukkan dunia!. Aku mungkin agak tertinggal dengan belum memenuhi kemauan ibuku untuk menemukan pekerjaan idaman, namun aku meyakinkan diri dengan terus berkata dalam diri sendiri; aku sedang bekerja dengan Tuhan, aku sedang menjadi karyawannya, aku sedang direnda oleh Dia, aku sedang belajar percaya penuh padaNya dan aku sedang belajar untuk percaya pada kemampuan diri. Itulah caranya mempersiapkanku untuk memasuki dunia yang penuh tantangan!. Aku memang agak bodoh bercerita gila seperti ini, namun rasanya aku tak mampu menahan diri bila menghitung satu per satu berkat yang dihadiahkannya, menghitung satu per satu caranya mendidikku dan menghitung seluruh beban yang tak membebaniku. Semuanya rasanya menyenangkan!

JAWABAN.

Aku sempat ditegur oleh temanku yang menyatakan bahwa aku terlalu lama berbaring pada kenangan yang membuatku terjaga di sana. Sepertinya memang benar, namun aku membela diri dengan berkata bahwa itulah caraku memperbaiki diri serta menyembuhkan diri dari sakitnya patah hati. Katanya lagi, bukankah melepasnya dari ingatan akan lebih mudah melepaskannya dari sisi? Baiklah, ini adalah pertanyaan yang membuatku kalah telak!. Sesungguhnya bagiku, melepaskannya dari sisi adalah pilihan terbaik. Sebab pikiranku sudah cukup lelah menyaksikannya terluka, bahkan menonton kita berdua terluka bersama. Rasa sayangku padanya adalah tulus dan ketulusan itu telah menolak melihatnya bahkan melihatku terluka. Aku sadar bahwa perpisahan itu adalah keputusan bersama bukan atas pilihanku, melainkan pilihan kita. Kita pun telah saling siap merasakan terluka yang cukup parah, menyaksikan kita yang lamban dan enggan bangkit pun membuatku ingin enyah segera dari segalanya. Tapi sebaiknya harus aku jelaskan, alasanku terus membenamkannya dalam ingatan yakni, karna dia adalah orang yang paling bersejarah dalam ingatanku. Bukankah segala sesuatu yang bersejarah sangat sulit terhapus?

Aku gemar menceritakan berkali-kali caranya membuatku paham setiap retorika konyol namun realistis, aku gemar mengulang dengan intensitas berlebihan mengenai dia yang kerapkali mengumbar banyak pendapat pribadinya dan aku gemar mengisahkan perkenalan hingga bagaimana menata perasaanku hingga pulih seperti sekarang. Aku pikir tak ada yang salah dengan terus menyimpannya dalam ingatan, sebab dia sudah aku anggap sebagai kakakku; bahkan terus menyaraninya menemukan pengganti. Aku tahu itu adalah tindakan bodoh, namun menutup diri adalah tindakan lebih bodoh.

Aku tak bilang bahwa yang paling terluka adalah aku, mungkin rasa terluka kita adalah sama dan seimbang. Sebab perihal membangun perasaan, menyelaraskan perbedaan dan menghilangkan kata berjuang lalu menemukan makna sebenarnya bersama adalah hal langka dan begitu mengagumkan. Aku tak begitu terbuka menerima pendapat orang lain, namun rasanya menemukan seorang yang rendah hati membuatku jatuh terkapar dalam dalamnya kehangatan caranya menaklukanku. Aku rasa aku telah menemukan bagaimana caranya menyelaraskan perbedaan besar, melemaskan keegoisanku dan mencabik-cabik rasa cemasku yang berkali-kali hampir membunuhku. Dia turut berperang melawannya, caranya berperan hanya bermodalkan kata-kata yang sangat menguatkanku. Kata-katanya seketika menikam dan memotong habis semua yang sedang mencekik leherku, semua yang mengikatku hingga kesulitan bernapas serta semua yang membuatku bungkam dengan keengganan. Bukankah alasan ini cukup jelas untuk membuatku ingin saja terus berziarah?

Alasanku untuk terus pula berziarah adalah caraku untuk mengoreksi diri bagaimana dahulu aku bertindak. Bagaimana harusnya aku bertindak di masa depan untuk memperlakukan orang lain dengan baik. Aku harus memperlakukan dengan selayaknya sebelum aku menuntut diperlakukan dengan layak. Ini bukanlah tindakan egois, melainkan suatu tindakan sadar diri dan berhenti berharap untuk ketidakpastian. Menanti sebuah kepastian yang tertunda memang mengerikan dan rasanya jejakku berdarah dan keningku berpeluh bercucuran menyentuh jejakku tadi. Akibat penantian tak berbuah hasil, aku berjalan hingga berlari berkilo-kilometer. Sungguh tindakan gila kan?. Itulah sebabnya aku belajar darinya, yang melakukan segala sesuatu dengan ketulusan serta bermodalkan sikap rendah hati dan menerima kritikan. Kini aku sedang belajar menyayangi kekuranganku dan terus ingin berakrab dengannya. Aku harus menyayangi diriku, sebelum menyayangi orang lain!, Karnanya aku harus lebih dahulu melakukan tanpa mengharapkan apapun. Sesuatu yang dilakukan dengan tak terbeban takkan membuat aku tertawan. Aku hanya sedang belajar dari seorang yang membuatku melihat banyak ketidakberdayaan yang membuatnya terlihat menawan, seorang yang terus berkata jujur, seorang yang tak pernah gemar menopengi dirinya dan seorang yang terus saja ingin beradaptasi dengan sikap kekanak-kanakan punyaku!. Aku bahkan telah semakin mengenal diriku, ketika dia terus saja berterus terang tentang sikapku yang menggelikannya hingga sikap yang membuat puncak amarahnya tersentuh dan membara (haha).

Jangan bilang bahwa aku menulis ini karna aku masih menyayanginya sebagai pria yang sudah membangun kediaman di hatiku, sebaliknya aku menulis ini untuk mengutarakan kekaguman yang tak pernah ingin aku hapus padanya. Dia memang pantas menerimanya sejak lama, sejak membuatku menemukan alasan menetapkannya sebagai yang paling bersejarah dalam ingatanku. Ini juga bukanlah suatu pembuktian bahwa aku masih menyayanginya, aku ingin terus mengutarakan ingatan berharga tentangnya. Ingatan yang berharga tentangnya, bukan rasa yang masih tertinggal. Semua tentang dia sudah tawar, namun ingatan tentangnya masih terus manis sampai waktu yang tak bisa aku tebak sampai kapan.

Aku sudah melepaskannya sejak lama, sejak kita bersepakat tempo hari.

AKSARA SENJAMU.

Senja telah menyiapkan palungan, tempatmu berbaring. Katamu, aku akan berbaring bersama senja, menghilang bersama rinduku dan tertelan bersama kegelapan. Palungan yang terpaku entah di bagian mana, katamu; aku, senjaku dan rinduku adalah paket lengkap yang memenuhi tipisnya soremu, yang menahan seluruh amukanmu dan yang berusaha mendekapmu erat. Pembaringanmu tak pernah usai kala senja telah memudarkan cahaya langit yang berubah menjadi jingga keemasan. Pembaringanmu tepat di sana, di tempat kau titipkan sejumlah rasa yang bertumbuh bersama sang waktu.

Aksaramu adalah hal paling rumit yang bisa aku tafsirkan. Aksaramu menjenakakan seluruh keseriusanku menjelang malam. Aksaramu sukses membuang kerut yang sebentar saja akan tercipta serta tinggal pada keningku. Aksaramu mampu menepis seluruh keengganan yang membukit hingga bertumpuk-tumpuk tingginya melampaui arogansiku. Aksaramu adalah aksara terjujur yang pernah terbang dan menghinggapiku. Aksaramu adalah aksara konyol namun bernada kejujuran yang membekas dan memenuhi lubang yang menganga dalam ingatan. Aksaramu adalah air yang menyejukkan dan aksaramu adalah penantian atas banyaknya persinggahan yang bersinggah. You are, what you do: adalah gambaran singkat tentang kau, sang aksara yang singgah di hariku. Aksaramu adalah aksara memukau yang tentu saja membius banyak orang. Aksaramu adalah aksara yang menularkan virus terbuai pada siapapun, termasuk aku. Aku sudah terbuai banyak kali, namun senyumku tipis menepis kekaguman yang sudah berdegup kencang dalam dada. Aku jatuh hati pada aksaramu, aksara yang seketika mencuri hatiku!.

Aksara pengantar perkenalan yang kau buat terkulai tak berdaya menawan daya pikat punyamu. Daya pikat yang rasanya dengan mudah menyimpulkan dirimu sebagai pembual termahir. Nyatanya si pembual mahir ini sudah sukses menyabet perhatianku, hingga aku terus saja menatapnya. Menatikannya adalah hal berikut!. Aksaramu tak seberapa jika dibandingkan dengan penyair ternama bahkan tak seindah kitab Mazmur, tapi aksaramu yang jujur selalu tepat terpaku dalam hati. Mungkin benar kata banyak orang: apapun yang dibuat oleh hati akan tersampaikan ke hati.

Ketulusanmu adalah hal tersulit untuk aku abaikan. Ketulusanmu adalah hal tersulit untuk dijadikan alasan berhenti. Sebaliknya, ketulusanmu adalah magnet tangguh yang menarikku sedemikian dalam menjadikanmu berarti dalam hidup. Aksara yang mengantarkan kejujuranmu adalah yang selalu dengan berhasil terkalung dalam hatiku, terpakaikan dalam hatiku dan tertransfer dalam seluruh sikapku. Tak ada jejak yang datang beruntun, semuanya datang berkawanan menyertai penantian yang selama ini sudah sukses berkali-kali melubangi ruang hati. Ruang yang semakin sempit karna menyusun luka, seketika berubah menjadi ruang besar yang dipenuhi dengan aksara ketulusan bukan perjanjian mengenai janji. Aksara sesingkat pesanmu di awal tulisanku.

Aku paham senja adalah waktu kau datang, berbaring dalam pesan singkat maupun pertemuan kita; lalu kita tenggelam dalam arus diskusi yang keras dan menyenangkan. Aku jadi paham bahwa kau ingin terus ada di sampingku, apapun keadaannya. Mendekapku erat bukanlah suatu kontak fisik yang kau tahu bahwa aku anti dalam hal itu (haha), melainkan mendekapku dengan kejujuran-kejujuran beruntun yang kau haturkan. Aksara jenaka dan keseriusan yang memenuhi kepalamu, mudah saja menargetkan seluruh keresahanku. Kau cukup hebat, tuan!. Kau telanjangi seluruh kebohonganku dan arogansiku, hingga kau pakaikan aku dengan hal-hal sederhana seperti kenyamanan. Setiap aksaramu mendatangkan sukacita yang mengiris habis dukacita.

Sayangnya kita adalah insan yang sudah saling terbelah. Kita pikir bagian yang terbelah adalah saling menemukan, nyatanya kita ciptakan belahan-belahan baru yang tak bisa direkatkan. Kita saling terikat namun merekatkannya adalah pilihan tersulit. Bila ada banyak hal yang kita hujati bersama, nyatanya perkara melupakan tak seindah perkara mencari. Perkara melupakan tak seindah perkara mencari; yang diselumuti prakarya indah yang membius dan terbius. Perkara melupakan adalah keja keras. Antara menolak dan memunggungi adalah perbedaan tipis yang tak mampu terjelaskan. Kuasa menolak selalu saja didahului oleh memunggungi, yang terang saja tertolak oleh hal menolak. sulit juga ya?

Sederhana: Bagaimana dengan senjamu, sekarang? Masihkah ada palungan untuk kau baringkan rindu untukku di sana?

KAWANAN GADISKUU.

Selamat hari kasih sayang Umis a.k.a KAWANAN GADISKUUUU!. Apa yang istimewa di hari ini? yang istimewa hari ini adalah hujan yang menyapa pagi kita hingga mencekal keringat berhamburan beruntun tergantung pada kening. Iya kan?. Terima kasih untuk tanggapan-tanggapan unik yang Lindaku dan Itiku berikan, sebab Acaku dan Lediku masih belum ambil bagian dalam menerangkan makna kasih sayang menurut mereka. tapi biar saja……,

Mengulas makna kasih sayang menurut Lindaku dan Itiku, ternyata punya kesamaan. Kesamaannya terletak dalam ciri kesederhanaan yang berupa tak perlu sesumbar me’label’i kasih sayang bisa dijangkau, melainkan melakukan sesuatu yang kelihatannya tidak kelihatan. Bingung? (haha). Maksudku adalah melakukan semua orang dengan seimbang, ketika ingin disayangi ya harus lebih dahulu menyayangi orang lain. Yang paling penting adalah mempertahankan dan menjaga rasa sayang dan kasih tak menjadi pudar seiring terkupas oleh zaman. Baru saja aku baca beberapa pesan menyentuh yang Itiku kirim di grup kita, sederhana: mari kita lepaskan segala topeng yang menopengi kita selama ini. Mari kita belajar percaya lisan bernada masing-masing. Mari kita bisukan lisan yang menularkan penyakit dengki dan kesal. Ayoooo!

Banyak hal bisa tertelan hilang terambat massa, hingga kadang kala kita menjadi semakin menjauh lalu berubah menjadi asing. Itu adalah hal wajar kan, umis? Tapi aku yakin bahwa semua yang terambat hilang tertelan massa adalah urusan nanti. Urusan nanti itu bisa kita rekayasa dari sekarang dengan segera melakukan apa yang Itiku telah anjurkan dan katakan tadi. Bila Itiku beretorika soal menghitung momen kita bersama, pikirku jangan dihitung. Sebab kekuatan takkan pernah habis bila dihitung. Bukankah itu hanya membuang-buang waktu?. Aku kira dunia kita sudah terlalu kelabu bila menghabisi waktu dengan menghitung perjumpaan. Aku kira perjumpaan yang terabadikan dalam potret mesra kita, terlalu fana bila dikondisikan sebagai rasa bahagia. Bukankah bahagia tidak terbatas pada ruang dan waktu? eeeeeeeaaaaaaaaaa.

Kasih sayang menurutku adalah cara sederhana menolak kebencian, menolak seluruh keraguan dan menjangkiti kehidupan dengan romansa-romansa pada semua orang. Aku ingat ketika aku, Lindaku dan Lediku berkunjung ke pantai dan angin besar meniup dengan kasar rambut keritingku yang sudah sebahu (haha). Aku terus menghabiskan waktu dengan mencemaskan rupa rambutku yang akan megar, se-megar batu karang tempat kita berpijak kala itu (haha). Terang saja, mereka menepis seluruh keraguanku dengan berkata bahwa rambutku masih terus dan akan terus baik-baik saja!. Ternyata hal-hal positif bisa datang dari hal sesederhana itu ya?

Kita memang punya dunia masing-masing yang kadang telah menenggelamkan kita. Tapi tenang saja, kita masih bisa terapung dengan cara saling menyadari kadar kasih sayang yang kita punya!. Arus deras dalam dunia kita, kadang membentuk kita menjadi terasing. Tapi jangan sampai kita mengasingkan diri, sebab itu adalah hal buruk. Iya kan?. Jadi mari kita abadikan terus kasih sayang yang kita punyaa, bagaimana pun caranya!

Hari ini adalah hari kasih sayang. Pagi kita sudah terhiaskan dengan gambar menawan yang Lindaku buat dan kirimi untuk kita (merci, Lindakuu!). Kita pula telah membiangkainya pada timeline whatsapp masing-masing. Mari kita lestarikan kasih sayang diantara kita, kawanan gadisku.

Last: I like me better when i am with you, Kawanan Gadisku!

Membedah Kasih Sayang Versiku.

Bagaimana dengan perayaan Hari Kasih Sayang punyamu nanti?

Pertanyaan yang paling banyak tersorot ke arahku. Terang saja, perayaan ini tidak pernah aku rayakan dengan selebrasi tahunan, jangankan selebrasi tahunan; menggenggam sosok gandengan pun, tidak (haha). Jangan salah, ada genggaman yang selama ini paling erat; tentu saja handphone, laptop dan lagu-lagu kawan setiaku!.

Setiap hariku adalah kasih sayang. Sesayang matahari dengan bulan yang selalu bergantian menyapa langit. Sesayang pagi dan sore yang selalu setia berganti dengan porsi yang sama dan seimbang. Sesayang langit dan lautan yang selalu biru dan terindah membentuk hari dan waktu. Sesayang langit dan awan yang saling melengkapi dan menegur hujan yang datang bertamu tanpa pernah diprediksi. Begitulah, hari kasih sayangku sehari-hari. Bagaimana denganmu?

Jawaban pamungkas yang aku jawab dengan lugas dan tegas, sekaligus membungkam jernih dan kencangnya pertanyaan yang mendarat pada telingaku. Pertanyaan yang sejak dua tahun terakhir selalu menghiasi februariku. Februari kering yang selalu dipenuhi dengan derasnya gelombang panas yang menciptakan atmosfer kepanasan dam gelombang yang menyebabkan dedaunan hijau berubah menjadi kuning melayu lalu mati syahid diuraikan tanah. Itu juga adalah keistimewaan februari ter-kering yang menjumpai dan menyengat hariku. Bagaimana denganmu?

Kita terlibat diskusi mengenai kasih sayang, yang katamu abstrak dan tak terdefenisi. Sekilas memang benar juga yang kau bilang, karna sebagian besar orang di dunia ini sulit sekali menjelaskan dan mendefenisikan kasih sayang versi mereka. Kau pun terang-terangan tak ingin mendefenisikannya padaku, tak tahu apakah itu benar-benar tak terdefenisikan menurutmu atau hanya bualan belaka yang kau ciptakan supaya kau makin kelihatan sok menderita perkara patah hatimu kemarin (haha). Pagi tadi aku sibuk menyusun gelas seusai memasak dan mendapati diri mengingat tingkah konyolmu dalam obrolan kita kemarin. Bukankah lebih menarik bila aku mengabadikannya melalui tulisanku dan menjelaskan secemerlang mungkin (haha) kasih sayang versiku?.

Kasih sayang itu ibarat piring keramik. Dia sudah terbentuk, tersedia, hanya saja sulit terjamah. Tahukan mengapa sulit terjamah? Yaa karna dia itu keramat!. Kasih sayang memang begitu, dia keramat. Sekali kau tertaut kepadanya, dia akan terus bersejarah dalam ingatan. Singkatnya, kasih sayang bisa jadi story of your life!. Kalau di awal aku bilang kasih sayang itu seperti alam yang tak pernah saling meninggalkan, itu tercipta dari pikiranku atas penglihatan dan terpengaruh kegemaranku. Tahu kan?

Kasih sayang itu kata dasar yang terbentuk dari dua rasa yang disebabkan, hingga terasa dalam perasaan. Mau aku sebutkan apa saja? rasa rindu. Tahu kan bagaimana rindu bertakhta? Coba saja kau baca ungkapan-ungkapan rindu yang menjamur dan membengkak selama ini. Bukankah rindu adalah yang paling bergejolak dalam kasih sayang?. Memang benar adanya, mengingat sepak terjang rindu yang bergelombang berturut-turut menyapa hingga semakin terkulai tak berdaya. Selanjutnya yang tercipta adalah ketulusan. Ketulusan mungkin adalah hal paling final dari kasih sayang. Terdengarnya agak riskan, namun sesungguhnya ketulusan pun adalah sesuatu yang paling berharga yang dimiliki oleh kasih sayang. Rindu dan ketulusan akan bergantian berproses hingga kasih sayang semakin matang, mereka berkeliling berputar dan berorientasi pada satu hal yang mendatangkan kebaikan!

Aku tak bilang ini terkait hubungan cinta antara dua orang muda, melainkan ini aku pelajari dari semua orang yang mengasihiku dan juga sebaliknya. Melihat kedua orangtuaku menceritakan perjuangan mereka membesarkanku, ahh aku terharu. Mendengar kedua kakakku bercerita tentang masa kecil kita bersama, ahh aku bahagia. Melihat saudari kembarku tumbuh menjadi pribadi cemberut namun penyayang, ahh aku semakin bahagia. Melihat adikku yang tumbuh menjadi pribadi yang egois, membuatku kadang berpikir untuk mengutamakan diri sendiri lebih baik adanya. Cinta sesederhana ini mampu membius dan membungkamku memahami serta menciptakan kasih sayang versiku. Bukankah ini sudah aku sebutkan kemarin? Ahh, aku terus saja mengulang (haha).

Semalam kau bertanya mengenai kasih sayang yang pernah aku tujukan bagi seseorang yang pernah aku putuskan untuk memberikan hatiku, kan?. ahh, mengapa lagi kau tanyakan soal itu? Kau seakan membuka gerbang kelam yang selama ini sudah aku kunci! Kau paham kan, bagaimana usahaku meniadakannya lalu berubah semakin baik? Bukan karna aku tak rela melepaskannya, aku sudah sangat rela dengan sepenuh hati melepaskannya!. Sebaliknya, aku tak ingin tinggal dan larut bersama puluhan romansa indah yang dahulu aku raih bersamanya. Aku malah ingin dia bahagia, tapi bukan denganku. Sebab selama ini aku sudah berusaha sekeras mungkin menolak kehadirannya, tanpa pernah merasa ingin bersalah atas keputusan yang aku simpan rapat-rapat ini. Jadi sekarang aku sedang menikmati usahaku ini dan usaha yang lain dalam mengembangkan potensi diri untuk mencinta (eeeeeaaaaa). Baiklah, akan aku jelaskan padamu!

Kasih sayang bagi lawan jenis yang pernah menjerat hatiku adalah hal terindah namun berbeban berat. Karna setelah aku jatuh hati, aku lupa berpikir untuk membangkitkan hati bila nanti akan sakit dan terkulai lemas. Kasih sayang aku punya mungkin sama besar dengan caraku mengasihi diriku. Aku takut dia terluka, aku takut dia sedih dan takut terhadap apapun yang membuat dia menderita. Semakin kasih sayangku bertambah-tambah, semakin aku melihat cerminan diriku didalam dirinya. Bertambah-tambah kasih sayangku padanya, membuatku semakin takut kehilangannya. Aku lupa bahwa hubungan percintaan bukanlah sesuatu yang mudah dikendalikan. Aku lupa bahwa hubungan percintaan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan sesuatu yang memang harus dijalani saja tanpa harus punya rasa takut. Semakin hari aku telah sadar bahwa semakin aku takut kehilangannya, peluang besar kehilangan akan lebih dekat menjemput. Menjemput dan menggiring hubungan cinta itu berada di tapal batas kekuatannya untuk berdua. Itulah yang memang (dahulu) aku alami. Ketakutan itu menjadi nyata, kita melepaskan ikatan yang dahulu mengikat. Berusaha terlihat baik-baik saja, dan tak memberi ruang untuk saling kelihatan terluka. Setelah saling terbuka untuk saling menyembuhkan, yang kita temukan adalah saling bercerita setiap hari hingga mentawarkan kasih sayang yang dahulu pernah berdenyut di dalam dada kita masing-masing. Hingga akhirnya aku paham bahwa kasih sayang yang sejati adalah melepaskannya. Membiarkannya terbang se-bebas mungkin, melihatnya jatuh se-terkapar mungkin dan melihatnya menemukan tujuannya sebaik mungkin.

Persetan dengan genangan kenangan yang tak pernah mengering, sebab itu hanyalah urusan pribadi. Melepaskannya adalah satu-satunya jalan terbaik ketika kehilangan telah menjemput. Mempertahankannya hanyalah suatu tindakan bodoh yang mengupas habis harga diri dan menutup kemungkinan pulih setelah patah hati menyerang. Bukankah itu hanya merugikan diri sendiri?. Itulah mengapa aku selalu bilang, mencintai dengan dewasamenghasilkan kasih sayang yang berkelas. Merenggangkan otot-otot hati yang selama ini terjepit, memulihkan rasa tamak yang jadinya memalukan dan menyembukan segala rasa aniaya yang tercipta oleh kasih sayang yang tamak dan rakus. Bukankah aku kelihatan sedang mengguruimu? (haha). Aku sudah pernah merasa tamak dengan kasih sayang yang nyatanya mencekik seseorang, hingga aku sadar betapa aku bodoh mempertahankannya. Hingga di kisah yang lalu ini, kisah yang aku sebut termanis; membantuku menerapkan kasih sayang yang sejati adalah ketika aku mampu melepaskannya ketika hatiku berontak. Aku sudah dengan senang hati melepaskannya bahkan menganjurkannya untuk melakukan hal yang sama denganku. Karna aku tak ingin berlama-lama tinggal dalam kepedihan kasih sayang yang hanyalah milikku seorang. Menyayangi seseorang dengan kadar overdose hanya menyakiti diri sendiri, lalu dengan sengaja mencekiknya hingga tak bisa bernapas dengan teratur. Bukankah cinta yang tulus hingga menghasilkan rindu, harus membiarkannya bertumbuh dengan caranya tanpa punya intervensi yang berkelanjutan? Bukankah harus ada “ruang sendiri” dan membiarkannya menyatu “sepi” dengan dunianya?

Ahh, mengapa pula tulisan ini begitu panjang? Nyatanya aku sudah menjelaskan dengan cemerlang pengalamanku yang memang selalu irit aku lisankan. Lisanku memang hanya berupa rindu yang memuaskan hasrat hati, namun logikaku sudah dengan sepenuh hati menolak hadirnya. Bukankah caraku melampiaskannya hanya dengan menciptakan kata rindu, adalah caraku menolak hadirnya? Tolong bedakan mana rindu mempertahankan dan mana rindu yang melepaskan!. Selama ini aku hanya menyusun kata rindu tanpa pernah memintanya tinggal. Bayangnya serta kenangannya memang tinggal, namun meminta raganya terus menopangku disamping adalah suatu tindakan memalukan bila aku melakukannya!

Ahh, jawabanku telah membuka gerbang patah hati terbaikku yang dahulu. Tak mengapa, karna aku jarang bercerita padamu dengan nada; anggaplah lebih baik membagikannya dalam aksara. Kau tahu mengapa aku berani menuliskan ini? karna aku sudah melepaskannya, makanya aku mampu berterus terang menulis kisah sebentarku ini. Ini bukan menunjukan bahwa aku belum move on, melainkan aku menjelaskan kasih sayang versiku yang sudah aku terapkan sebelumnya. Aku harap ini berguna untukmu, dan jangan coba-coba mengejekku setelah membacanya! Oke?

HILANG.

Aku sudah berpakaikan sukacita untuk mengenalmu lebih jauh. Bercanda denganmu sekarang adalah suatu kegemaran yang membuatku terus beruntun menyapamu. Kadang aku begitu sebal bila kau tak menyapa, hingga aku pun turut berusaha melupakanmu begitu saja dari hariku. Sesungguhnya aku sudah tak berdaya menanti kabarmu, yang untuk kesekian kalinya menghilang terus menerus. Sekarang sedang apakah kau?

Memutuskan berteman dekat denganmu awalnya aku kira akan terasa biasa saja. Aku yang memang sedang sendu dan berduka atas kenyataanku terjawab dengan hadirmu yang membuat tawaku menggema di udara. Selalu di tiap malam kita bertemu dalam dering, bercerita sepuasnya dan dengan leluasa saling berbagi hal bodoh yang pernah kita lakukan. Kita buat satu peraturan untuk membatasi topic yang terus kita bincangkan dan tentu saja sampai saat ini batas itu tidak pernah dilanggar. Kita pernah berujar tentang kriteria masing-masing, sambil mengandaikan bagaimana jadinya bila kita berdua yang terpilih oleh semesta untuk dipasangkan. Bagaimana, apakah kau mampu?, seruku dalam hati yang berupa sebuah penantian. Rupanya aku menginginkan hal yang sama, namun nahas! Tak boleh terjadi, sebab selama ini aku tahu aku hanya dianggap seorang teman biasa, bukan teman special!. Setelah aku analisa dengan saksama, ternyata kau punya penantian untuk bersama sebagai pasangan namun bukan aku orangnya. Seseorang yang katamu, tak akan kau tahu rupanya namun sedang kau lukis parasnya di ruang imajinasimu. Ahh, bukankah itu adalah hal mengagumkan?

Tak tahu sejak kapan aku merasa bahwa aku terus saja suka semua tentangmu. Melihatmu membagikan kriteria gadis impianmu, melihatmu melukis parasnya yang tiada henti terus saja kau lakukan, melihatmu membuat sketsa dengan paras biasa saja, melihatmu menunduk dan melukis serta melihat gerak bibirmu yang menjelaskan bagaimana berkesannya menikahi seseorang yang terus saja mampir dalam ruang imajinasimu. Tahukah kamu, bahwa aku terus berdebar menyaksikan semuanya?. Kebiasaanmu ini memang sudah lama kau tekuni, hal yang awalnya aku buat jadi ejekkan; kini berubah menjadi sebuah alasan mengapa aku menambatkan pilihan padamu, yang selama ini menyebutku sebagai teman!. Kita tak pernah melakukan kontak fisik yang mungkin saja bisa membuatku jatuh hati seketika sejak awal, mungkin saja. Intensitas pertemuan dan obrolan kita pun adalah hal ringan yang sangat ringan dan segera usai ketika dibahas. Tak tahu sejak kapan, kesederhanaan itu sudah merembes pertahanan dalam hatiku, merembes mengairi keringnya pertahanan. Pertahanan yang sejak lama sudah berdiri kokoh. Aku terus saja dibuat kagum dengan sikapmu yang nyatanya bukanlah untukku. Mungkin benar, aku sudah terlanjur terhanyut dalam derasnya arus perasaan yang membuatku sudah tenggelam lama di sana. Harusnya sejak awal aku harus paham bagaimana perasaan mampu bertakhta dalam kerajaan hati, memberikan titah untuk terus melestarikannya. Harusnya aku paham sejak awal!

Sejak awal aku tak pernah hati-hati menyikapi dan menilai perbuatanmu. Aku tak pernah mengusir aura kekaguman berujung rasa suka padamu. Tapi aku tahu ini masih terus berputar di level awal yang masih bisa aku tangani dan kelola sekuat tenaga. Tak tahu sejak kapan aku begini, aku terus memaki diri, merutuk hati dan terus menyadarkan diri untuk menyadari bahwa aku tak boleh keluar batas dengan hal bodoh seperti ini.

Pertemuan kita layaknya pasang-surut air laut yang terus saja begitu. Kita pernah bertemu dan bercerita hampir setiap saat, tapi kita pernah membisu hampir pula setiap saat. Sepertinya itu sudah menjadi hal yang wajib, yang nyatanya bagiku sudah terasa biasa saja. Kita masih saling menonton pergerakan masing-masing dari IG Story, yang membuatku tersenyum tipis ketika mengetahui keadaanmu yang sepertinya terus saja bahagia.

Tanpa sadar, rindu sudah menggumpal dalam daging hatiku dan terus berdenyut cepat hingga membuatku terus terjaga terus-terusan. Tanpa sadar logika dan hati sudah bekerja sama membuat mata dan jemariku mengetik namamu dalam kontak, yang seketika itu menghubungimu. Dering pertama membuatku ketakutan dan segera memutuskan panggilan keluar, namun kau sudah lebih dulu melakukan panggilan lagi kepadaku. Harus kuapakan rasa malu yang membuatku sudah tak terdaya?. Seketika banyaknya alasan lahir dan tersebut dalam panjangnya pesan siingkatku, hingga kau tak merespon. Sejak saat itu, aku urung bertanya kabarmu. Aku urung mengetahui keberadaanmu dan urung mengetahui tentangmu. Segera aku hapus kontakmu (haha). Bukankah aku terlalu kekanak-kanakkan? Biar saja, setidaknya untuk mengikis habis rasa ingin tahu tentangmu.

Soal kau yang tak tahu ataupun tahu, aku pun tak punya kuasa untuk memberi tahu. Bukankah itu adalah satu hal yang (agaknya) memalukan?. Banyak yang bilang akulah yang harus pertama merengkuhmu dan berbicara terus terang. Bisakah semudah itu?. Sayangnya, tak pernah semudah itu. Terlalu berat dan aku terus saja terbebani rasa malu. Bukankah selama aku menyimpan rapat semuanya, takkan ada yang memalukan?. Bagaimana denganku? Aku hebat kan? mengingat pertemanan kita sudah cukup lama. Menghapusmu sejak awal adalah pilihan yang tepat. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali aku menyapamu. Dan kau pun kelihatannya juga sudah lupa, bagaimana dekatnya kita. Bolehkah aku menuliskan seluruh kesahku disini?

Kepada sang pria yang merobohkan pertahananku, bagaimana rasanya ketika melihatku beberapa kali salah tingkah, karna aku tak sanggup mengendalikan diriku? Bagaimana rasanya melihatku terus menatapmu tanpa perlu memilikimu? Bukankah selayaknya patut disanjung atas kerja kerasku meniadakan segalanya yang terus ‘ada’?

Kepada sang pria yang merobohkan pertahananku, aku tahu; di posisi ini agaknya aku yang kelewatan. Aku tak pernah ingin ada di posisi ini, namun setiap pergerakanmu selalu aku nikmati dari hari ke hari. Aku bergurau dalam hati bahwa aku terjebak dalam masa mengerikan yang aku ciptakan sendiri. Ini tak salah kan? tak salah kan, bila sebenarnya aku suka segalanya tentangmu?.

Kepada sang pria yang merobohkan pertahananku, kita layaknya dua yang tak asing namun satunya telah mengasingkan diri. Rupanya harus aku ralat; bila aku analisa, ternyata kita berdua yang telah mengasingkan diri. Aku terlalu ceroboh dan hilang kendali menyikapi rasa ini, hingga kau berhamburan pergi. Sepertinya kau mencium hal mengerikan, hingga kau memilih menghilang. Apakah kita harus berakhir seperti ini?. Sebenarnya ada hal yang tak bisa kita paksakan, kendalikan serta prediksikan. Hal yang tak bisa aku paksakan dan kendalikan adalah menolak seluruh kenyamanan yang kau berikan. Sedang hal yang tak bisa aku prediksikan adalah mencari-cari kesempatan untuk menghilang dan meniadakan semua sejak awal, alih-alih melakukannya. Aku sudah lebih dulu dihinggapi dan berselimutkaan menyukai padamu. Itulah yang tengah menimpaku. Rasanya begitu memalukan terjadi pada diriku, yang selalu kelihatannya begitu angkuh dan menjaraki diri.

Kepada sang pria yang melucuti “tembok pertemananku”, baiklah. Bila kau menghilang untuk alasan ini, mari kita bersepakat!. Sama-sama kita menghilang, sama-sama kita menjauh, sama-sama kita terasing dan sama-sama saling menjaraki. Tahukah kau, bahwa aku sudah dipenuhi dengan kendali? Sejak awal aku memang selalu penuh kendali. Bila aku menatap kau yang mengeringkan peluhmu saja, aku anggap itu biasa. Aku hanya senang melihatmu merancang seperti apa gadis impianmu, aku kira itu adalah hal paling mengagumkan. Sejak itulah, kau selalu terlihat mengagumkan dibalik mataku. Namun aku tak pernah mau terbudaki oleh rasa suka ini, hingga aku menepi beberapa kali. Mungkinkah itu yang menjadi penyebab kau juga turut hilang?. Tak mengapa, aku tahu perihal tabur-tuai. Aku akan terus mengingatmu yang bijaksana dan murah bercerita.

Terakhir, semoga kau menemukan sang paras yang kau lukis di ruang imajinasimu di bumi yang kau pijaki sekarang. Melihatmu tiba di sana, adalah rasa syukurku. Akhirnya, tujuanmu selama ini tercapai! Aku patut berbangga pernah menjadi saksi kau berjuang hingga kesakitan. Selamat menemukan sang paras sederhana itu!