Berakhirnya Kisah Kita yang Sesungguhnya

img_20180515_140502_9901868100632.jpg

Baru beberapa hari yang lalu, kita merayakan puluhan bulan usia kita. Kita masih baik-baik saja dengan segala yang kita lalui bersama. Sudah saling menguatkan, sudah saling mengingatkan, sudah saling menyayangi tanpa pamrih hanya saja kita lupa untuk menciptakan hal menarik yang membuat kisah kita berkualitas. Kisah kita seperti kisah pada umumnya, namun berakhir juga seperti pada umumnya. Hanya dengan saling mengucapkan selamat tinggal, ketika yang satu kewalahan dan yang satu tinggal menerima kenyataan. Aku sertakan banyak tuntutan, sedang kau menyesal membuat kesalahan yang sama. Soal penyebabnya, memang tak pernah berubah. Penyebabnya masih jalan di tempat, masih tak ada perkembangan dan semakin hari semakin tinggal lebih lama di kisah kita. Kau menyesali sikapmu, sedang aku terlalu banyak memintamu berubah. Aku terlalu banyak menegur dan mengharapkan beribu banyak kebaikan lahir setelah kita sudah saling meninggalkan.

img_20180515_140824_514943691855.jpg

Semalam seperti pertanda bahwa memang sudah sangat-sangat berakhir. Tak ada lagi banyaknya kata yang terlahir untukmu, tak ada lagi banyaknya pujian untukku. Sudah tak ada lagi sejak semalam, yang ada hanyalah menyimpan dengan rapi semua yang tertinggal ketika dulu masih ada kita. Sekarang aku dengan duniaku sendiri, pula kau. Kau sudah bebas terbang kemana pun, tanpa perlu bersinggah lagi padaku. Aku juga sudah tak membebanimu dengan merasa berhutang untuk berbagi cerita denganmu. Setidaknya yang dulu kita rasa sebagai beban sudah hilang dan tak bernyawa lagi. Sudah tak bernadi, berdenyut bahkan muncul lagi. Yang tertinggal hanyalah membludaknya genangan kenangan yang sesekali lahir kembali di ingatan dan memunculkan ribuan senyuman tapi berakhir penyesalan. Masih belum mampu aku kendalikan mengingat dulu, cukup banyak andilmu untuk menciptakan suasana menyenangkan di setia hari bahkan cerita kita, mimpi kita maupun segalanya yang sekarang sudah benar-benar kandas.

Aku sempat berpikir untuk sesegera mungkin mengkaratkan semuanya yang sudah kandas itu, tapi ya aku sekarang berada di masa untuk menyesali segalanya lebih dulu lalu kemudian berpikir dengan jernih terkait segalanya. Tak ada yang perlu di sesali, mengingat semuanya sudah terjadi karna ada jutaan hal indah yang aku temui bersama denganmu. Ada jutaan pintu untuk bertamu ke hal-hal menakjubkan ketika bersamamu, ada jutaan jendela yang membuatku melihat mendung serta terik dari sisi yang berbeda juga ada jutaan bunga yang kita dialogkan. Ya, jutaan makna lahir ketika waktuku masih menjadi milikmu. Ketika kita sama-sama saling memiliki waktu yang telah kita raih dan taklukan. Tapi sekali lagi, kita telah kalah padanya. Pada waktu yang mengalahkan kita dan membuatku kita rela untuk saling melepaskan.

Bolehkah aku kisahkan soal dirimu, sebelum aku benar-benar membulatkan asa untuk melupakanmu?

Setiap hari selama masih ada kita, pagi dan malamku adalah milikmu. Pagi dibuka dengan kekonyolanmu, sedang malamku ditutup dengan keseriusanmu. Pagi kita selalu termuat ejekan, sedang malam kita melahirkan sejumlah harap yang kita inginkan bersama, sambil terus meminta restu Tuhan. Bukankah itu indah? kau mengurutkan semua ingin kita sambil tetap berprasangka baik pada kendali Tuhan. Katamu, putra dan putri Tuhan takkan pernah menangis karana kecewa yang berlama-lama. Kau memang handal soal berkhotbah, melebihi diriku yang lebih sering mengomelimu.

Setiap hari selama masih ada kita kau tanggalkan seluruh atribut yang kau kenakan seperti, jarang tersenyum, jarang jujur, agak kampungan dan dunia tersempitmu. Semuanya ditanggalkan olehmu, dan membuatnya setara denganku, walaupun terkesan agak riskan karna aku akan tak paham dengan  maksudmu. Setelahnya, kita akan menertawai lucunya dirimu yang selalu berpura-pura tahu segalanya. Kau punya kesenangan tersendiri untuk dipelihara namun begitu menyenangkan ketika kau menjelaskannya padaku. Walau kau tahu, aku tak pernah paham ketika mendengarkan penjelasanmu. Setelah saling mengenal, belakangan kau sangat jujur padaku. Lebih sering kau berjanji padaku untuk menata diri, namun aku tolak janji itu dan mengatakan bahwa harus kau janjikan itu dalam sembahyangmu pada Tuhan.

Setiap hari selama masih ada kita, selalu ada cerita baru lahir setiap hari. Entah soal masa kanak-kanak masing-masing, maupun soal keluarga. Selalu saja ada cerita yang patut ditertawakan maupun dihakimi olehku. Kau ahu, bahwa aku sangat handal dalam hal menghakimimu walau semuanya hanya berakhir dengan tawa bersama. Ada kepura-puraan yang aku ciptakan, dan berakhir dengan khawatirnya dirimu akan berapa lama waktu bertahanku dengan kepura-puraanku. Kau adalah orang yang paling banyak terhubung denganku untuk berbagai topic yang tak pernah lelah dibahas, walau kau tahu ada batasan-batasan yang sudah aku ciptakan dan telah legal dalam setiap percakapan kita.

Setiap hari selama masih ada kita, ada jutaan nasihat untukku darimu soal sikapku yang kekanak-kanakan. Soal caramu membiarkanku bertumbuh dengan diriku tanpa pernah memintaku berubah. Soal caramu membuatku mengerti bagaimana tulusnya seseorang, terlihat dari bagaimana dia memperlakukan orang lain. Soal bagaimana seorang akan beriman, ketika dia dengan bijaknya mengerti bahwa perlu diremukkan oleh Tuhan lebih dulu, untuk mengundang seseorang yang lebih berkelas. Soal bagaimana, kau menghormati setiap keputusanku bahkan ketika keputusanku akan menyakitimu berkali-kali. Yang aku lihat darimu adalah, kau korbankan seluruh egomu hanya untuk anak kecil ini yang selalu ingin menang sendiri.  Katamu, menyaksikan matahari tenggelam adalah kegemaranmu. Aku juga sama, walau tak sebanyak dirimu yang lebih banyak menyisakan waktu untuk menyaksikannya. Kau sertakan semua potret dirimu ketika sunset menghampiri, yang membuatku terkagum-kagum dengan apa adanya dirimu. Kau juga bukan pujangga paling romantis di dunia, namun sudah aku pastikan bahwa hal-hal kecil yang kau lakukan membuatku terkesima. Perhatian kecil yang selalu membungkam amarahku, membuatku begitu menyukai sikapmu. Merayakan usia kisah kita dengan cara berbeda pun, aku temukan hanya pada dirimu.

Selama masih ada kita, kau tak pandai menjaga. Ada banyak sekali kalimat yang aku ciptakan, ketika aku kewalahan untuk menegurmu. Kau tak hanya pandai untuk menjaga, kau juga terlalu lengah. Berulang kali aku mengancammu pergi, namun kau berhasil meluluhkanku dengan berkata jangan. Aku kembali padamu, sambil berharap kau bisa berubah. Setidaknya, ciptakanlah suasana menyenangkan dan berkualitas supaya aku punya kekuatan untuk mempertahankanmu. Sebab sesungguhnya, aku sudah goyah ketika menyadari kelemahanmu yang ini. Aku sudah goyah, sejak kau tuturkan sikapmu yang membuatku jengkel walau aku tak berkata terus terang. Aku sudah goyah, ketika melihatmu berkali-kali pasif ketika aku sedang tak baik menghadapi kenyataan. Aku terlalu menunjukan bahwa aku suka tertawa, tapi mengapa tak kau pahami bahwa aku sulit menghadapi kenyataan pahitku? Aku sulit berdiri tegap, karna sejujurnya aku tak mampu meyakinkan diri. Sudah aku minta Tuhan turut campur tangan, tapi Tuhan mengatakan tatap sekelilingmu. Kaulah orang yang aku tatap, selain keluargaku. Aku butuh lebih dari mereka saja, karnanya aku sertakan kau di dalamnya. Tapi kau terlalu lengah untuk menjaga kepercayaanku, hingga aku pun tak punya kekuatan untuk mempertahankanmu bahkan untuk meyakinkan diri dengan sejumlah kenyataan yang sudah kau tunjukan padaku. Kenyataan-kenyataan itulah yang membuatku berkali-kali ingin beranjak. Karna sejujurnya, aku sudah goyah. Kakiku sudah sempoyongan untuk melangkah, aku merasa ingin berlari namun kau meraih kakiku dan membuatku duduk. Ketika aku telah berpeluh barulah kau sadari bagaimana melelahkannya aku menghadapimu, sudah terlambat kak. Adik kecilmu ini, sudah tak sanggup lagi mempertahankan diri. Semua tentangmu sudah patah tak beraturan bukan hanya terbelah, semua tentangmu sudah terkikis habis dan lebih lagi semua tentangmu sudah tak sehat dan sudah membuat sakit-sakitan terus menerus. Bukankah lebih baik diakhiri saja?

Kisah kita seperti melahirkan lubang yang banyak, yang sudah tak bisa ditutupi lagi. Setiap kali kau datang, melahirkan lubang baru hingga bentuk kisah kita tak seperti semula yang utuh. Sudah tak beraturan karna kita tak pandai saling menjaga. Lubang itu membuat kita akhirnya dengan waktu yang sebenarnya dulu telah kita taklukan dan menyerah pada kegigihan kita. Sekarang, kita sudah kalah sayang. Adik kecilmu ini sadar, bahwa terlalu banyak menuntutmu. Namun adik kecilmu ini, hanya sedang kalut menghadapi kenyataan yang menggoreskan luka yang sebenarnya sangat dibutuhkannya adalah kau, kak. Kau terlalu lupa untuk berpikir bahwa sekarang adik kecilmu ini sedang gusar, bahkan ketika adik kecilmu ini sangat membutuhkan dukunganmu. Kau masih terlalu sibuk dengan duniamu, kak.

Bagaimana perasaanmu ketika membaca ini? jangan tanya padaku, bagaimana aku mengisahkannya. Seakan dunia berputar kembali, ketika dulu kita saling tak mengenal dan memutuskan mengenal lebih dalam. Seakan dulu, aku masih tetap menjadi adik kecilmu yang selalu kau minta pendapat. Ada ribuan rasa bahagia ketika mengisahkan satu per satu sikapmu dulu, ada rasa mendebarkan ketika menjelaskan bagaimana sikap menjengkelkanmu, ada rasa sebenarnya tak tega melepaskan namun aku diingatkan bahwa hey, ini sudah berakhir!. Aku sudah lelah kak, ketika kenyataan-kenyataan di atas membungkam memori tentangmu. Ketika kau juga sudah menyerah dan juga mengucapkan selamat tinggal, hingga kita saling mengucapkan selamat tinggal. Padahal dulu, kita saling menghindari untuk mengucapkannya. Aku bukan lagi “Gadis Banyak Kata, milikmu”, “Adik Kecilmu”. Sudah tak ada lagi, jabatan itu yang sama-sama kita sematkan. Kau juga bukan lagi “Tuan Irit Kata, milikku”, “Kakakku”.

Rasanya sejak semalam, seperti ingin menolak matahari dan ingin terus berada di malam sambil terus membaringkan kepala di bantal, lalu nyenyak sambil terus melupa, bahwa semalam adalah hari akhir antara kita. Ingin rasanya bertemu dengan laut lalu bercerita padanya. Tapi semua urung, ketika hujan bertamu. Ingin rasanya menghapus semua hadiah berupa potret yang dulu dengan perjuangan kau hasilkan potret terbaik melalui ponselmu, tapi urung karna tak tega membiarkannya berlalu terlalu cepat. Ingin rasanya menghapus satu per satu jutaan kalimat yang lahir karnamu, tapi urung karna di sanalah ruangku menyimpan sejuta kenangan bersamamu.

Pagi ini aku bongkar isi ponsel untuk menyurutkan kesedihan yang sedang aku tolak, lalu menemukan potret yang dulu dipuji olehmu. Potret yang katanya akan kau pakai sebagai gambar layar kunci di ponselmu, yang kau bilang sebagai ancaman. Ingin sekali aku menghapusnya, namun tertahan ketika melihat bagaimana matahari terbit ataupun tenggelam dengan indahnya lautan yang seakan melengkapi semuanya tentangmu di sana.

img_20180515_140050_668576198463.jpg

Aku tuliskan ini bukan sebagai penyesalanku. Sebab pada awalnya, aku katakan mengisahkanmu sebelum membulatkan asa untuk melupakanmu. Aku akan merindukanmu, sebab semua tentangmu masih di ruang khusus untuk menyimpanmu. Kadang aku berpikir, mengapa harus kau yang datang lalu membekas seperti ini? ah, aku tak berbaik sangka pada kendali Tuhan rupanya. Baiklah, kau sudah menempati tempat terbaik lengkap dengan segala keburukanmu.

Last: I’m going back to the start! Aku kembali, seperti dulu kita tak saling mengenal, tak saling menyapa. Terima kasih karna telah mengajarkanku untuk terus berbaik sangka pada kendali Tuhan.

 

Iklan

Sejak Bayangmu Sudah Diiris Habis Oleh Fajar dan Rembulan

img_20180512_181810356376255.jpg

Pagi ini aku menanti datangnya bayangmu untuk sekedar menyapa pagiku. Menantimu memang bukan hal mudah, sebab kukhianati diri dan waktu yang kadang dibuat lelah menanti. Menantimu menyapa, menantimu mengawali cerita bahkan menutup cerita. Setiap penantian memang tak menjanjikan keberhasilan, tapi sudah jelas melahirkan sejumlah ketekunan. Ketekunan itu menimbulkan sensasi dengki dan keji, namun terbayar jika namamu muncul di sejumlah pemberitahuan pesan. Entah ini hanya karna rindu atau hanya karna menginginkan hadirmu. Kadang aku pun akan membalasnya dengan berhari-hari tak meresponi kedatanganmu berhari-hari lamanya, hingga kau kewalahan menerka-nerka apa salahmu. Kadang kau meminta maaf hanya karna aku lama membalas pesanmu walaupun kau sendiri tahu tak ada apapun kesalahan yang dilakukan olehmu.

Soal menanti memang hal paling menjijikan untuk dilaksanakan. Bayangkan saja, ada berapa banyak kenyataan yang dilewati karna menanti? Pada awalnya, aku pikir bahwa itu adalah hal wajib dimana sikap saling terjalin. Tapi belakangan, ada semacam kebencian dan kengerian yang terlahir karna menanti. Ya, aku bukan gadis spontan yang mengelu-elukan dimana keberadaanmu, ataupun menangisi kenyataan bahwa hari ini kau tak mengingatku. Aku bukan orang seperti itu, terlalu dramatis jadinya. Karnanya, aku selalu menolak memulai percakapan. Tapi aku pernah memulai percakapan karna ada sesuatu yang sifatnya sangat dibutuhkan dan segera.

Setelah beberapa hari yang lalu berkunjung ke sebuah tempat, di sana kujumpai genangan kursi kosong di ruang makan. Aku jumpai bagaimana mereka rindu hangatnya tubuh manusia menyentuh badan mereka. Di sana, mereka basah karna tak berbaju. Berbaju kain, bukan maksudku. Maksudku, mereka kesepian. Kucoba menerka-nerka diri untuk berdialog, namun tak ada mulut yang terbuka. Yang tersisa hanyalah tetap genangan kursi yang kosong dilengkapi suasana sunyi yang mencekam. Rasanya seperti suasana horror namun tak ada hantu yang menyapa, yang ada hanya angin karna tak ada jendela di ruang itu. Ruangan itu menantap hamparan lapangan hijau pepohonan yang terpantul birunya langit pagi. Sungguh suasana indah, yang hanya dilengkapi kesunyian. Pikiran ini berlari pada sebuah pikiran yang sebenarnya sudah tenggelam seiring waktu, namun terlahir kembali ketika melihat genangan kursi kosong itu. Ya, pikiran ini terbayang akan bagaimana menyedihkannya menantimu. Bukan karna kau tak pernah tinggal, kau selalu tinggal. Namun alasanmu tinggal adalah yang tak bertujuan. Kau kembali hanya dengan sejuta ceritamu, tak perlu lagi saling mendengarkan. Padahal sedari dan sejak awal sudah kita sepakati untuk terus saling menegur bila sudah merasa tak berdinamika dan tidak bertujuan arah kita. Aku yang selalu merasakannya lebih dulu, entah karna aku yang lebih muda ataupun aku yang terlalu banyak menggunakan hati.

Belakangan sudah tak ada lagi yang bisa kukatakan, sebab semua rasa yang hendak menegur sudah tenggelam bersama hamparan pasir yang aku injak di tanah. Seluruh rasa itu  sudah beranjak jauh ke tanah yang sebenarnya sudah tak layak lagi untuk dipandang kembali. Melihat namamu hadir di percakapan pribadi maupun dering, sudah tak ada senyum lagi yang tercipta. Sudah tak ada lagi tawa yang menggema di langit, yang tertinggal hanya wajah tak berekspresi yang berujung dengan hanya saling menatap. Aku hanya ingin memperbaiki segalanya, namun kau terlalu lengah akan segalanya. Lengah terhadapku, lengah terhadap segalanya. Sudahlah, semakin sering aku berdialog dengan diri sendiri, semakin kuat dorongan untuk melepasmu pergi walau sebenarnya ada dorongan yang lebih kuat untuk membiarkanmu tinggal. Sudah tak ada lagi hasrat untuk menyebut namamu dalam suara maupun dalam gumam, angin mungkin telah melarikannya. Aku tak menyalahkanmu, hanya saja kau tak menciptakan suasana nyaman supaya aku betah berlama di sisimu. Aku memang ingin berlama, namun suasana kisah kita seperti longgar hingga ada jurang. Kau tak pernah menjaga kisah ini dengan baik, kau hanya menyimpan dengan rapat ataupun berpidato soalnya pada kawanmu. Soal menjaga, tak kau pelihara dengan baik. Itulah sebabnya, aku lelah. Sekarang yang sedang aku lakukan adalah meninggalkan semuanya di ruang yang tercipta untukmu dan melahirkan ribuan ruang baru untuk menyimpan yang baru yang sudah pasti bukan tentangmu di dalamnya.

Setelah aku bertamu di ruang makan, sembari menanti datangnya fajar aku sadari hanya aku sendirian di tengah ruang seluas ini dengan banyaknya kursi yang menatapku sekarang. Fajar lahir dan menangisi kehadiranku yang sekarang telah menyadari bahwa bayangmu sudah diiris habis oleh cahaya fajar di pagi ini. Entahlah soal semalam, mungkin pula bayangmu datang namun telah diiris habis oleh cahaya rembulan. Sudahlah, sudah tak jelas kau datang atau kau utus bayangmu. Karna fajar maupun rembulan sudah mengiris bayangmu hingga tak tersisa lagi.

Untukmu, bila kau ingin tinggal: ada tujuan yang akan datang dengan banyaknya alasanmu untuk tinggal. Bila memang sudah tak ada alasan dan tujuan untukmu tinggal, jangan berpaling ke arahku. Sebab sudah tak ada alasan untuk tatapanmu mengarah padaku.

 

Memutuskan Menguruskan Segala Tentangmu

img_20180512_1205522112911361.jpg

Hari ini aku putuskan menguruskan seluruh kenangan yang menggemuk di ingatan. Aku putuskan menyusutkan satu per satu ingatan indah yang terekam jelas di benak ini. Perasaan lelah yang sudah singgah kali ini bertahan sangat lama. Bertahan dalam durasi yang sudah tak ingin lagi berusaha. Kemarin aku putuskan untuk berhenti. Berhenti menantimu, berhenti berpikir bahwa kau orang baik-baik, lalu satu per satu memunculkan kesalahanmu untuk menjadikannya dialog dengan kawanku. Semalam secara jujur kutumpahkan seluruh kekesalan akan sikapmu yang selama ini aku acuhkan. Pada awalnya, aku dibuat terkejut dengan pengakuan-pengakuan di luar akal sehat mengingat caramu memperlakukanku sangat berbeda dengan sikap yang bisa kau kisahkan padaku. Satu per satu kekagumanku terkikis, pada awalnya. Namun terkejut juga aku, sebab kau berkata dengan terus terang bahwa bagaimana dirimu. Poin lebihmu bahwa kau sungguh percaya padaku, namun lucunya kau tumbuhkan sejumlah ketakutan yang berakar keraguan dalam diriku. Bukan hanya kau tumbuhkan, semuanya sudah tertanam dalam diriku, untuk takut dan meragu cukup dalam terhadapmu. Kawanku berkata, berhentilah karna itu sudah kelewatan. Dalam keadaan seperti itu, aku tak ingin membenarkan diri atau menyalahkanmu. Aku hanya mengatakan, bahwa hubungan ini dibangun karna rasa saling percaya pula ini hanyalah hubungan yang tidak pasti akan beruntung atau berpisah. Aku hanya mengikutsertakan segala kemungkinan yang terjadi. Kawanku berkata, semuanya kembali padaku. Aku punya ketakutan terbesar terkait besarnya kesabaranmu yang perlahan-lahan merusak kerasnya keinginanku untuk menguruskan semua tentangmu yang tadinya gendut itu. Masih aku pelajari lebih dalam untuk menguruskan semuanya, bila perlu untuk membuatnya sakit lalu mati.

Kau pasti bingung kan, mengapa aku tiba-tiba seperti ini? padahal dua malam yang lalu, kita sedang saling memuji lalu menuturkan bagaimana kita bisa saling menyakiti. Kau bilang caraku sangat mudah, yaitu berhenti berkabar padamu. Sedang aku bilang, aku benci keterlambatanmu. Setelah aku pikir, ternyata cara kita untuk saling menyakiti memang sama-sama ringan dan sangat mudah. Kita tersakiti, hanya karna hal-hal sepele. Kau selalu bilang, aku butuh istirahat karna kurang tidur. Benar, mungkin itu juga menjadi penyebab lain hingga emosiku tak stabil lalu lelah secara fisik juga secara pikiran. Kau hanya mengatakan bahwa aku butuh istirahat yang cukup dan kau di sana akan tetap berprasangka baik untuk setiap kata yang aku ucapkan, karna aku sedang menanggung beban pikiran yang sangat besar. Sikapmu yang begini yang seketika membungkam inginku untuk menguruskan ingatan tentangmu. Jangankan menjadikannya kurus, aku malah menjadikannya semakin gemuk karna terus-terusan mengkonsumsi kesabaran milikmu.

Setiap lakumu yang selalu memenangkan keraguanku terus kau tunjukan. Kesabaran, pelannya caramu menjelaskan juga setiap raut wajahmu yang melahirkan milyaran tawa di setiap pertemuan. Aku menyertakan seluruh alasanku untuk menguruskan ingatan tentangmu, namun aku pikir masih sama saja. Setiap pengakuanmu yang membuatku akan mangkir beberapa waktu, selalu membuatmu khawatir. Kau akan tak jemu-jemu bertanya, bahkan setelah aku memutuskan untuk memblokir semua kontakmu. Aku lupa bahwa di dunia nyata aku sudah menolakmu, namun di situs fb dan IG masih ada namamu yang menjadi kawanku di sana. Kau masih terus memantauku di setiap kiriman bahkan linimasa milikku. Kau tahu bahwa aku tak mungkin memblokirmu, karna kita punya perjanjian bahwa jika kita saling memblokir berarti sama-sama tak bisa melupakan. Di sana, di setiap kiriman ada namamu yang hanya menyukai, sebab kau tahu bahwa aku benci jika kau mengomentari. Kau lebih banyak mengomentari di pesan pribadi, hingga di sana kau mengungkapkan bahwa aku tak bisa melupakanmu. Aku sebenarnya ingat akan hal itu, namun aku mengabaikannya. Namun kau terus mengejekku dengan intensitas yang berlebih. Baiklah, aku batal memblokirmu. Masih terus pesanmu dihiasi dengan ucapan-ucapan sepele untuk menguatkan hari dan hati, sebab kau tahu bahwa aku akan tersakiti lebih dalam hanya dengan ucapan maupun kata. Di sana, kita berdiskusi untuk membatasi hal-hal pribadi yang seharusnya tak kita bincangkan. Aku berusaha keras untuk mewujudkannya dan telah berhasil karna dicekoki dengan akal sehat. Sedang kau, terlalu banyak mengumbar banyaknya sikap burukmu yang terbungkus dalam manisnya caramu memperlakukan. Sejujurnya, aku tahu bahwa sangat wajar yang kau lakukan. Karnanya, aku selalu mengingatkan diri sendiri untuk tak mengharapkan lebih pada dirimu.

Selebihnya sekarang, aku sudah lebih banyak menggunakan akal sehat untuk membersihkan pikiranku terhadap sampah yang menumpuk lalu menggunung di pikiranku tentang bagaimana dirimu. Dahulu aku mengagumi caramu memperlakukan, lalu mengherani caramu mengatakan kebenaran dan dengan sekejap bisa melupakan ketakutan terhadapmu ketika dengan kedewasaanmu menjelaskan setiap gumpalan yang katamu tak ingin menjadikannya keras. Aku begitu kagum dengan sikapmu yang begitu, namun sepertinya sudah menjadi tawar setelah berulang kali tertangkap dan tersimpan dalam ingatanku. Sekarang lebih banyak aku menjelaskan pada diri sendiri untuk menghormati setiap batasan-batasan yang tadinya telah aku buat untuk tak dilanggar. Sekarang pun aku lebih banyak mencekoki mata dan ingatan tentang semua hal buruk tentangmu, yang kadang memicu pertengkaran yang selalu diakhiri dengan permintaan maaf darimu. Sekarang pun aku lebih banyak memunculkan memori jelek soalmu supaya jika perpisahan terjadi, penyesalanku tak begitu larut dan menggelapkan pandanganku.

Aku hanya menuruti permintaan diri sendiri, bukankah aku harus mengasihi semua yang lahir dari kepalaku? Soal mulutku yang seringkali menghujanimu dengan cacian adalah caraku melupakan keburukanmu. Tapi setelah kejadian dua malam yang lalu, aku tak mau lagi menodai lidahku untuk mengeluarkan cacian. Aku lebih memilih mangkir dari percakapan kita. Kau pun sudah pasti tahu bahwa jika aku tak membalas, berarti ada yang salah dalam obrolan kita. Bahkan ketika aku tak sudi lagi mencacimu, kau bilang ada yang berbeda dariku. Tapi sudahlah, aku hanya sedang berjuang menguruskan segala memori tentangmu. Semoga ini berhasil, supaya kita tak lagi saling melukai.

Merayakan Puluhan Bulan Usia Kisah Kita

Ambon, 06 Mey 2018

Memasuki usia puluhan bulan kisah kita, kita bersepakat melupakan hal romantis sebab kita memang terpisah jarak serta luasnya lautan dan menerapkan satu hari untuk berbagi sikap saling seperti yang biasanya kita lakukan. Katamu, terserah padaku. Aku berpikir berulang kali, namun tak menemukan apapun yang bisa kita lakukan sebagai cara untuk merayakan ulang bulan kisah kita. Aku lalu berkata bahwa kali ini, terserah padamu. Karna biasanya aku terlalu banyak menerapkan segala sesuatu sesuka hatiku, kali ini kita harus saling mendengarkan. Tiba-tiba kau bilang bahwa hari ini akan menjadi hari saling mencaci sebagai sikap saling mendengarkan, katamu akan lebih baik mendengar bagaimana aku dan kau dari masing-masing. Supaya bisa dijadikan sebagai evaluasi untuk masing-masing agar semakin lebih baik lagi. Klise memang bila kita saling berkata demikian, sebab aku sangat yakin bahwa aku akan mengeluarkan semua yang tersimpan selama ini dan lebih gilanya lagi katamu kita harus saling mencaci menggunakan bahasa inggris supaya tak terlalu berbekas (haha). Kau memang pria paling aneh namun selalu menyenangkan bila bersamamu. Pada akhirnya, di tanggal 6 Mey 2018 terciptalah Scolding Day of Us”. Baiklah kita sama-sama tak mau menjadi yang pertama. Kau bilang bahwa perempuan harus lebih dulu, namun aku bilang karna kau lebih tua dariku jadi kau harus lebih mengalah dan pengalaman hidupmu lebih banyak dariku, karna sejak kita memutuskan bersama ketika aku sedang dalam puncaknya emosi, kau akan berkilah bahwa di usiaku ini memang lebih banyak menjadi pemarah daripada pendengar. Karna memori itu terlintas cepat di pikiran, makanya alasanku menjadi jelas. Cukup lama kita saling tak mengalah, hingga akhirnya aku memutuskan untuk mencacimu lebih dulu.

Setelah sibuk mencari kata-kata cacian di kamus bahasa inggris, aku urutkan seluruh sikapmu yang sangat menjengkelkan dan selalu membuatku berkali-kali berteriak keras namun selalu kau jawab dengan senyum dan wajah memelasmu. Aku urutkan semuanya dan selalu menyematkan kata-kata pedas seperti kau membosankan, aku lelah! (dalam bhs inggris tentunya). Itu adalah kata wajib jika aku mengancam untuk marah berhari-hari, walau kau tahu itu sudah pasti hanya menjadi lelucon yang aku buat. Setelah aku katakan satu per satu beserta penjelasannya, kau berkata bahwa aku memang menyakitimu dan kau menjawab dengan aku juga lelah, aku benci caramu!. Kau bilang itu bukan cacianmu terhadapku, itu adalah pembelaanmu atas seluruh cacianku terhadapmu namun aku bilang bahwa aku anggap itu sebagai cacianmu di urutan pertama. Kau tak menjawab dan mematikan komentar sekitar satu jam, hingga aku mengira bahwa kau marah. Ternyata sejam kemudian kau bilang, ibumu memanggilmu. Aku lalu mempersilahkanmu mengurutkan seluruh cacianmu terhadapku, dengan harapan aku hanya ingin kau menjelaskan bagaimana selama ini aku memperlakukanmu. Aku tahu bahwa pasti sangat banyak cacian darimu, mengingat aku terus mencacimu berkali-kali. Namun kau hanya menjawab aku cinta kau!. Aku kebingungan, cacianmu kali ini sama sekali membuatku tertawa sejadi-jadinya hingga kau benar-benar marah lalu bilang bahwa aku tak pernah bicara serius bahkan ketika kau sedang serius. Aku lalu menjelaskan bahwa cacianmu itu bukan cacian, itulah yang membuatku terbahak-bahak. Tiba-tiba kau bilang bahwa kau sama sekali tak bisa mencaciku dan kau tak tahu caranya mencaci dalam bahasa inggris. Aku semakin jengkel padamu, hingga aku bilang terserah saja.

Kau bilang bahwa cacianmu yang isinya tiga kata wajib dalam sebuah kisah cinta adalah juga bersifat cacian. Artinya kau cinta segala yang ada pada diriku, tak peduli bagaimana aku membuatmu marah. Apakah sungguh itu adalah cacian? Katamu, aku tak pantas dicaci, sebab caraku memperlakukanmu adalah yang sangat kau butuhkan. Aku katakan, baiklah itu pertanda bahwa aku akan semakin sering mencacimu. Tapi kau tahu bahwa itu adalah lelucon dariku, karna aku bukan pemarah yang mampu meredakan angin maupun menenangkan badai (hahah). Selama ini belum pernah aku menyaksikanmu marah, bahkan ketika kau marah pun kau yang meminta maaf padaku. Kau bilang bahwa seluruh sikapku tak ada yang salah dan semua yang aku katakan tentangmu adalah sikap paling wajar karna kau paham bahwa aku tak suka sikapmu yang begitu. Kau bilang semua cacianku padamu adalah caraku menunjukan sikap kepedulianku yang sangat besar padamu. Katamu, semuanya hanya terbungkus dalam ucapan-ucapan pedas namun itu tak membuatku merasa kepanasan, itu membuatmu melihat ungkapan ketulusan yang termuat di dalamnya. Itulah keahlianmu bila ingin meredakan tawa bahkan amarahku dengan penjelasanmu yang kelihatan sangat logis itu. Kau lalu melancarkan aksimu yang membagi-bagikan pengalamanmu di saat aku tak ingin mendengarkan. Katamu, di usiaku yang sekarang sangat wajar jika amarahku meluap-luap. Kau juga dulu begitu, hingga  tak banyak yang mendekatimu. Kau bilang apalagi perempuan selalu memikirkan sesuatu dengan perasaannya hingga lebih cepat merasakan ada yang berubah maupun ada yang tak berselera. Ya, tak sedikitpun ada yang salah dari yang baru saja kau katakan. Tapi selama ini, seringkali aku melupakan apa yang baru saja kita janjikan namun kau dengan lembut menegurku lalu mengingatkanku kembali. Aku sekarang mengerti, bagaimana kau bersabar untuk seluruh sikapku padamu. Katamu lagi, tak pernah selama ini kau temukan ada yang salah dariku sebab aku tak pernah tak peduli padamu. Padahal, seingatku aku selalu menyuruhmu untuk menghindar saja ataupun mengatakan bahwa semuanya tergantung padamu. Aku ingat, jawabanku hanya berputar di kata-kata seperti itu. Katamu, begitulah hal-hal sederhana yang menunjukan bahwa sikapku yang memperlakukanmu adalah benar-benar percaya pada segala kemampuan dirimu dalam menghadapi masalah tanpa memaksakan kehendakku. Ya, sudah pasti aku memang begitu. Sejujurnya, aku hanya bisa memberikan tanggapanku yang sudah pasti akan kau tolak dengan penuh panjangnya penjelasanmu.

Bagiku, semalam kau benar-benar membuatku tahu bahwa kau memang orang berhati paling bijak. Mungkin yang biasanya dibilang bahwa idaman semua orang adalah sikap bijaksana dan dewasa, itulah yang selama ini kau tunjukan di puluhan bulan usia kisah kita. Sejak awal kita memutuskan bersama, kau tak pernah menghilangkan sikapmu yang seperti ini. Sedikitpun tak pernah terkikis caramu yang masih sama sejak awal, sedangkan aku? ah tak tahu lagi. Semakin hari kegemaranku adalah mengejekmu, mengolok-olokmu bahkan mencacimu. Tiap hari semakin banyak, walau aku tahu urutannya masih sama. Sama juga katamu, katamu cacianku semakin hari semakin sama. Baiklah, iya semuanya masih sama. Sebenarnya kemajuannya banyak, namun aku lupa tapi lebih sering mengingat semua keterlaluanmu yang menjengkelkan. Semalam kau sendiri yang mengajak untuk saling mencaci, namun kau tolak ketika aku sudah mengungkapkan. Kalau aku tahu kan, pasti akan aku tolak juga dari awal.

Bagiku, sejak semalam aku meyakinkan diri bahwa kau memang handal dalam menanggapiku. Caramu mengurai cacianku, caramu melemaskan keegoisanku, caramu menghancurkan sikap acuhku hanya dengan cara bicaramu yang pelan. Sesekali kau taburkan jenaka di setiap obrolan kita, yang bagiku tak lucu sama sekali. Namun sesekali jenakamu mencekik keseriusanku, hingga kita menanggapi masalah kita dengan tawa bersama. Berdialog apapun denganmu terasa begitu segar, sebab tak melulu kita bicara soal cinta yang kadang terlalu membosankan jika didiskusikan. Berdialog denganmu selalu membuatku betah berlama-lama, walau kita tahu bahwa durasi panjang obrolan kita hanya sebatas dua puluh menit bila bertemu di obrolan video dan kurang lebih lima jam bila kau tak sibuk dengan menutupnya dengan saling mengucapkan selamat tidur. Berdialog denganmu membuatku melihat dunia dengan sudut pandang baru, melihat kau meleburkan duniamu bersama dengan diriku, melihat bagaimana kau menjawab setiap teguranku yang seketika memukul kepribadianmu hingga kau memar, melihat bagaimana kau menanggalkan seluruh amarahmu lalu menjelaskan dengan menyurutkan emosimu dan aku melihat bagaimana kau mempertahankanku ketika aku sudah lelah.

Soal kata selamat tinggal seperti sudah menjadi ancamanku. Aku tahu, itu keliru namun aku bisa tiba di masa aku sudah letih. Ketika aku letih, kau bilang bahwa di kisah ini bukan hanya aku yang berjalan, ada kau juga. Bukan hanya peluhku yang tergerai, peluhmu juga. Benar, aku sangat egois memikirkan diri sendiri. Tapi kau biarkan aku menunjukan bagaimana sikapku yang urak-urakan dengan sendirinya, lalu kau tanggapi aku dengan caramu yang sederhana. Kau bukan orang yang memproklamirkan cintamu dengan semestinya, namun setiap sikapmu yang sederhana menyatakan ada ketulusan di sana. Sejak kau berhasil mempertahankanku, aku sadar bahwa aku begitu beruntung mengenalmu. Mengenal setiap kesederhanaan yang kaya dalam dirimu, mengenal setiap masa lalumu, mengenal setiap rencanamu yang selalu kau bagikan dan memintaku untuk turut mendoakan.

Hari saling mencaci yang terjadi semalam, menjadi pengalaman paling baru bagiku. Katamu, itu juga kali pertama dalam sebuah hubungan yang kau jalani. Namun cara kita merayakan usia puluhan bulan kisah kita menunjukan padaku bahwa kau memang layak dicintai dengan seluruh kesungguhanmu. Kesibukanmu, kebosananmu, kerendahan kepekaanmu adalah hal yang selama ini aku hindari. Tapi entah mengapa, sikap-sikap ini yang kau tunjukan di awal hubungan kita. Aku sempat menepi, tapi sekarang sudah aku pahami dan mengagumi seluruhnya. Mengagumi keterbatasanmu yang sekarang menunjukan padaku, bahwa keterbatasanmu adalah hal yang paling kaya darimu. Melihat bagaimana kau bercerita soal keterbatasanmu, menjadikanku candu untuk mengerti dirimu sebab telah kau libatkan aku di dalam seluruh keterbatasanmu.

DSC09170

Sejak kita sudah beriringan menapaki hubungan ini, aku lupa mana yang menjadi kelebihanmu. Sebab kelebihanmu adalah sepaket dengan keterbatasanmu. Terima kasih kak, telah menunjukan keterbatasanmu pada mulanya, namun keterbatasanmu memperkaya kisah kita. Terima kasih telah menjadi mataku di sisi yang berbeda, kakiku di sisi yang tak tentu arahnya, tanganku yang selalu menenangkan dan mulutmu yang selalu meredakan amarah.

Terima Kasih telah bersamaku, di puluhan bulan kisah kita!.

Kekagumanku, Pada Caramu Mempertahankan

Sempat terpikir untuk berlari meninggalkanmu, namun pelarian ini tak tentu arah. Semakin berlari aku tak merasa ada peluh yang terurai di kening, tak ada lelah yang tinggal. Pelarian ini rasanya tak menyenangkan, pelarian ini rasanya malah menyakitkan sebab menyangkal seluruh candu yang bersarang dan telah mendaging. Sudah aku congkel candu yang mendaging, namun semakin aku congkel yang aku temukan bukan daging candu yang bisa diangkat. Yang terlihat hanyalah darah segar yang melahirkan rasa sakit yang berkepanjangan. Akibatnya hanya luka yang tersisa ketika aku congkel seluruh rasa candu ini. Rasa candu ini ibarat kejujuran untuk saling membutuhkan, namun terkhianati oleh rasa ingin menyerah saja. Mengapa rasa ingin menyerah ini harus mampir di kepalaku? Mengapa tak enyah saja, supaya aku tak akan menyangkal candu-candu yang menetap lalu menjadi daging itu?

Tak aku temukan jawaban. Bagaimana mungkin aku menemukan jawaban, sedang aku tak berusaha melerainya? Berbaik sangka pada rasa ingin menyerah pun tak mempan. Rasa ingin menyerah membuatku kebal akan rasa saling membutuhkan, membuatku merasa bahwa akan baik-baik saja bila menyerah dan semuanya akan kembali seperti semula sebelum bersama. Ya, memang sederhana kelihatannya seperti pemikiranku. Tapi ketika aku ingin melaksanakannya, nuraniku berontak. Nuraniku menghakimi keputusanitu, nuraniku bilang untuk lanjut saja, sudah menjadi daging. Bila bukan jalannya, aku akan bersyukur candu yang mendaging itu sudah menetap. Nuraniku terus memperlihatkan bagaimana baiknya kau ketika bersamaku, baiknya kau ketika kau juga lelah tapi tak pernah berpikir untuk menyerah, baiknya kau ketika terus berjuang untuk mengakrabi seluruh kebobrokan milikku, serta baiknya kau untuk terus meyakinkaku di sisimu. Nuraniku terus menampilkan dirimu, sedang aku kewalahan menjadi penonton ketika terjadinya perselisihan antara nurani dan pikiranku. Sejujurnya selama ini nurani telah menuntunku untuk bersamamu, nurani menuntunku untuk juga mengakrabi dirimu serta nurani menuntunku melihat kebahagiaan di matamu. Sejujurnya pikiranku juga menuntunku bahwa kau terus berjuang, tapi juga lelah. Pikiran memimpinku untuk menyerah karna jarak yang membatasi bertumbuhnya kisah ini dan pikiran mengandaskan seluruh rencana untuk terus bersama. Lalu bagaimana aku bisa melerai semuanya, selain menerimanya?

Aku bincangkan baik-baik dengan pikiranku, ketika aku sudah sehat secara jasmani. Aku pikir kisah kita sakit-sakitan hingga butuh istirahat yang cukup. Aku menepi jauh, tapi kau berlari mengejarku. Aku bersembunyi, namun tetap kau temukan aku. Aku irit hingga enggan bicara, kau terus menantiku bicara. Sungguh sedikitpun kau tak lelah?. Aku menepi sangat jauh, menepi darimu, menepi dari nurani dan pikiranku. Aku butuh berdialog dengan kenangan tentangmu, dengan kenyataan bahwa kau berusaha terlalu keras untuk mempertahanku. Aku menghibur diri dengan seluruh ringkasan kebersamaan kita yang menyenangkan sambil menyisipkan ketidaknyamanan ketika bersamamu. Kau tahu apa yang aku temukan? Ada Sembilan kebahagiaan ketika bersamamu, dan hanya satu ketidaknyamanan bersamamu. Dan ketidaknyamanan itu masih bisa kau ubah, dan sudah kau ubah. Lalu apakah aku harus terus melanjutkan ini?

Aku berdialog dengan nurani dan pikiran tanpa pernah menyuruh mereka berbantah-bantahan. Aku biarkan mereka bicara masing-masing tanpa saling mengomentari. Mereka setuju, dan mengarahkanku untuk tak menyakiti diri sendiri, sebab merekalah yang sangat paham akan diriku ketika aku sudah hilang arah. Mereka sepakat menyuruhku pulang, pulang padamu. Kembali bersamamu, sebab yang aku lakukan adalah menyakiti kita, bukan hanya aku sendiri. Kata nurani dan pikiranku, luka yang aku ciptakan untuk diri sendiri telah menangisi keputusan yang sudah aku anggap paling benar. Nuraniku berkata, aku hanya menciptakan luka-luka baru yang siap mengaga dan memedihkan kulit-kulitnya. Pikiranku menimpali, aku hanya merugikan diri sendiri sebab kisah ini sedang dan sudah menguatkan kita. Mereka berkata untuk kembali saja sampai kita bersepakat untuk mengakhirinya bersama, bukankah bila perpisahan terjadi karna kesepakatan akan lebih cepat untuk mengudang yang lebih berkelas dan lebih baik lagi? baiklah, kali ini mereka bekerja sama untuk meyakinkan diriku bahwa saat ini aku jangan salah memutuskan keputusan.

Aku telah menepi cukup lama, aku kembali. Di kisah kita, ada kau yang masih menanti. Kau bertanya mengapa aku begitu? Aku tenang tanpa berkata. Kau meyakinkan bahwa jangan berlari sendiri, berlari hanya merugikan. Jika aku ingin pergi, ajaklah kau untuk melangkah bersama. Lagi, jangan menyangkali kenyataan, semakin aku sangkal semakin banyak kenyataan yang menghinggapi. Katamu, jangan menangis sendiri, ajaklah kau juga untuk tangisan kita yang lebih ringan. Katamu lagi, jangan menepi terlalu jauh hingga kedinginan. Sebab kau tak bisa terus mencariku, ada hal yang menjadi tugasmu. Katamu, jika aku ingin menepi, menepilah bersamamu agar kita saling menghangatkan. Katamu, sudah sejauh ini kita melangkah bersama, karnanya jika aku ingin berlari, menyangkal bahkan menepi ajaklah kau untuk turut serta. Aku terharu melihatmu menyatakan segalanya, lalu bagaimana mungkin aku bisa lelah bila kau seperti ini? bagaimana mungkin aku bisa mengikis semua rasa ini padamu bila kau seperti ini? bagaimana mungkin aku bisa berlari ketika kau terus berusaha menangkapku dan memintaku untuk kau turut serta?. Kau terlalu baik untuk ditinggalkan, kau terlalu berharga untuk dicampakkan dan kau terlalu nyata untuk dilepaskan.

Semua permintaanmu tak bisa aku penuhi. Setiap janjimu pun selalu kau tepati satu per satu, walau tak jarang selalu tak tepat waktu. Tak mengapa, yang penting kau menepati seluruh janji yang terlempar dari mulutmu. Kau selalu menggenggamku dengan erat, kau selalu menutup ruang diantara jemariku bila aku kedinginan, kau selalu merapatkan langkahmu bila aku tersesat dan kau selalu memintaku berjalan bersamamu tanpa mendahului atau membelakangi supaya pandangan kita sama. Lantas masihkah jarak menjadi penghalang? Iya, masih. Tapi sudahlah, semakin banyak aku bicara soal itu semakin sering aku gagal paham akan jarak kita. Jarak kita memang terbentang luas, tapi katamu jarak hubungan kita tak menciptakan sejumlah keraguan darimu. Aku juga demikian, sama sekali tak ada keraguan namun kelelahan yang menjamur. Tapi sudahlah, harus aku sesuaikan suasana hati untuk tak bergantung pada kelelahan yang jadi jamuan hidangan nikmat tapi merepotkan di hubungan kita.

DSC08921

Aku sama sekali tak bisa berjanji seperti dirimu, karna aku tak bisa menjamin raga yang terus digenggam olehmu, bahkan mata, jemari dan kaki yang terus kau jaga. Tapi janjiku hanyalah untuk terus berbaik sangka pada kisah ini, pada dirimu tentunya, pada setiap lakumu dan terus berusaha bersamamu sekalipun kelelahan menghampiri. Kita serahkan dan percayakan kisah ini, pada yang Maha Kuasa yang sudah melibatkan kita menjadi pemeran penting dalam skenario kisah kita. Bilakah hanya menjadi yang terkenang, kau tetaplah menjadi pengingat akan kebaikan dan ketulusan yang sudah aku rasa dan nikmati.

Menaklukan, Gunungmu.

B612-2016-06-07-17-46-18

Hingga hari ini, aku percaya bahwa mengenal siapapun dalam hidupku adalah terjadi karna kehendak Tuhan. Di balik semua sikap baik maupun buruk, semuanya punya keadaan yang bisa membuatku belajar. Mengenalmu, bukan suatu keterpaksaan juga bukan suatu kesengajaan. Kau menikmati waktu berkenalan denganku dan aku juga demikian. Itulah yang menjadikan kita saling memahami masing-masing dalam waktu yang tak singkat. Kau dengan segala yang tersusun rapih di gunung hatimu, bahkan aku. Kita seperti pendaki yang saling mendaki untuk melihat keindahan yang tersaji di puncak gunung itu. Kau dengan gagahnya melengkapi diri dengan segala perlengkapan mendaki, sedang aku berjalan hanya dengan berbekal rasa percaya tanpa peduli arah. Baiklah, arah memang penting untuk mempercepatkan aku ditibakan di puncak. Tapi jika aku dengan cepat tiba di puncak, sama saja. Aku takkan menikmati perjalanan karna tergesa-gesa ingin melihat keindahan. Apalah arti sebuah keindahan jika ingin menikmatinya dengan cepat dan berlalu saja? tak menyenangkan pastinya, aku kira begitu.

Aku mendaki gunung itu tanpa arah, hanya berbekal rasa percaya. Percaya pada keadaan yang takkan mengkhianati dan takkan meninggalkan. Aku berjalan dengan bekal seadanya dan tiba di tempat asing yang sama sekali terjal dan kelihatannya asing. Aku mencoba mengakrabkan diri dengannya lalu saling berakrab. Ternyata tempat yang tak sengaja aku kunjungi adalah tempat bernaungnya segala hal pahit dari hidupmu. Kesedihanmu, kelemahanmu dan kepahitan yang sengaja engkau buramkan selama ini. Di sana aku lihat dengan jelas, bagaimana kau terkatung-katung di makan waktu karna mengiba lalu terpuruk untuk waktu yang lama. Kau berjalan dengan senyuman, namun senyum paling palsu yang tak menampakan aura bahagia. Kepalsuan itu telah menempel di hidupmu lalu dengan segera kau jadikan penguat dirimu. Kelam memang, kesakitan jiwa yang kau rasa. Aku tersesat di arah itu, lalu menemukan fakta bahwa kau pernah sesakit ini padahal setauku kau adalah orang yang sangat kuat menghadapi masalahmu mengingat seluruh sikap yang kau sikapi kepadaku. Setelah aku tersesat di tempat itu, aku kembali mendaki gunungmu berharap menemukan jalan untuk tiba di puncak tanpa waktu yang tergesa-gesa. Masih juga tanpa kompas atau arah untuk tiba dengan cepat dan sesuai jalannya. Aku hanya mengikuti kemana kakiku melangkah, aku tiba di tanjakan yang arahnya ke sebelah timur yang di dalamnya angin begitu kuat berhembus hingga membuat kebisingan di pendengaranku. Di sana, aku melihat bagaimana kau berusaha untuk menghilangkan semua pikiran buruk atas pengalamanmu dan mengusirnya. Ternyata di gunungmu, tergambar jelas bagaimana kau kewalahan mengalahkan dirimu sendiri dan berusaha menyangkali setiap kesalahan yang baru saja engkau alami. Di sana aku lihat kau berusaha tegar untuk menyimpan air matamu ketika kau sudah lelah berjuang namun gagal, aku juga melihat kau dengan bujuk rayumu menolak seluruh kenyataan yang telah berubah itu.

Aku pergi karna angin mengusirku lalu berjalan lurus mengikuti arah matahari. Tak lama, gunungmu yang tak seluas gunung- gunung terkenal di Indonesia yang memakan waktu berhari-hari untuk menaklukannya, hingga dengan mengikuti sinar matahari sudah cukup membuatku menemukan arah. Arah yang baik dan penuntun yang tak membuatku sibuk berpikir soal arah timur-barat-utara-selatan-tenggara maupun manapun. Aku sudah menemukannya, menemukan puncak gunungmu itu. Ada banyak hal yang membuatku melihat puncak indah gunungmu itu. Di sana aku lihat, bagaimana kau bisa menghasilkan senyum di balik semua lukamu dan bertahan atas lukamu yang sudah tak mampu disembunyikan lalu dengan leluasa menertawai dirimu yang tak mampu melawannya. Di puncak itu tergambar jelas bahwa kau menangis seorang diri. Hebat juga melihatmu menangis karna kenyataan yang diluar kuasamu telah terbetang di hadapanmu. Aku pikir, aku saja yang demikian ternyata kau pun bisa. Menangisi segalanya yang sudah berdebu. Itulah mengapa aku sebut puncak gunungmu menunjukan keindahan. Aku sama sekali tak mengejekmu untuk bilang bahwa menatap kau menangis adalah keindahan, namun menatap kau menangis adalah sebuah kejujuran yang paling indah atas duniamu. Menatap kau yang penuh dengan ketegaran menjadikanmu pribadi yang sangat baik di mataku, dan aku tatap semua kejujuran yang tak pernah bersembunyi. Kau tak pernah menyembunyikan kejujuranmu, seluruhnya kau katakan.

Itulah mengapa aku katakan bahwa, mengenal siapapun bukan suatu kesalahan. Mengenal siapapun adalah mengenai proses mendewasakan diri sendiri. Mengenal orang lain, belajar mendengar dan menjadikan diri mawas untuk setiap kejadian yang pernah didiskusikan. Seluruh keegoisan itu akan terurai habis di tanah, lalu hilang bersama debu ke arah yang mungkin akan segera ditenggelamkan. Itulah yang menyenangkan dari setiap perkenalan. Akan mengajarkan bahwa mengenal seseorang seperti mendaki gunung, tersesat, menemukan arah, menemukan keindahan yang sebenarnya, kembali pulang dan berefleksi atas segala sesuatu yang terjadi.

Menyudahimu serta Kisah Kita.

Menyudahi kisah ini, sepertinya tak mudah. Sempat terlintas, namun hanya sepintas. Seluruh dialog sudah dilakukan, namun buntu karna tak menemukan arah yang jelas untuk dibawa ke mana. Menatap bayangmu, membuat hati ini tak tega meninggalkan namun sudah tak mampu dipertahankan. Sebenarnya ada apa? Jawabannya, terdengar ringkas namun sulit dijelaskan. Jenuh, ya telah tiba di sini, di kejenuhan ini. Sulit aku deskripsikan bagaimana rasanya, yang jelas aku sudah letih bersama. Sepertinya sudah tak ada lagi kesamaan, sudah tak ada lagi sikap “saling”, sudah tak ada lagi kenyamanan. Semuanya hanya ada di titik yang sama yaitu bertahan. Aku mempertahankanmu dan kau juga demikian. Mungkin akar-akar di kisah kita telah kering karna sudah tak berdenyut seperti awal kita memutuskan bersama. Aku rasa akarnya sudah tak mempan disinari matahari maupun disirami air. Akarnya sudah tak mau mengeluarkan tunas di setiap batangnya kisah kita. Lalu jika pada akarnya sudah demikian, bagaimana dengan aku?

Kau di sana, bertahan untuk segalanya. Untuk jarak yang tak mau mengalah, untuk langit yang terus berubah, untuk setiap kata yang tak lelah berkomentar, untuk mulut yang sudah tak mampu bersuara, untuk tangan yang sudah letih mengetik, untuk hati yang sudah menolak namamu tinggal dan mendapat ruang di sana. Kau masih tetap bertahan. Kau berkata ini hanya ujian kecil untuk memperkuat hubungan kita, kau berkata bahwa aku harus mengerti bahwa kau sedang membangun hubungan kita dengan caramu, katamu kau akan berjuang melawan segalanya. Ya, kau tak pernah mengingkari semua janji yang kau lontarkan dari bibirmu, aku terlalu yakin bahwa di puluhan bulan usia kisah kita kau tak pernah berbeda. Masih tetap sama, masih tetap berada di sikap mengalahmu, masih tetap berada di sikap perhatian kecilmu, masih tetap berada di cerita-ceritamu tentang maupun terhadapku. Masih dan masih, kau masih begitu. Aku sudah terpukau, terpesona, rindu dan segalanya. Sudah, aku sudah tiba di masa-masa itu dan membawaku bersama denganmu untuk sama-sama berjuang atas jarak, atas langit yang terus berubah dan sikap acuhmu yang dikarenakan segelintir kesibukanmu yang licin namun tak pernah membuatmu terpeleset. Aku mengerti itu baik bagimu, tapi di sini aku yang berkali-kali terpeleset, berkali-kali terjatuh, berkali-kali tak mampu mengalah karna dirimu.

Namun sekarang tak tahu mengapa, aku tiba di kejenuhan tak berujung. Aku sudah berusaha berhenti untuk jenuh menyapa, namun jenuh ini tetap tinggal dan telah mengeringkan akar kisah kita di hidupku. Aku tak tahu harus bagaimana, namun yang jelas aku sudah lelah. Menatap seluruh percakapan kita yang dulu berselera dan beraroma wangi, sekarang dengan cepat membuatku mengantuk. Percakapan itu sudah tak berdenyut bahkan bernadi seperti awalnya, seperti sudah dibunuh oleh kejenuhan. Aku sudah lelah mendengar kau mengatakan menunggu, aku sudah lelah mendengar kau bercerita kau sibuk, aku sudah lelah mendengar kau menunjukan bangunan-bangunan indah, aku sudah lelah menanti kau mengirimkan bunga-bunga tradisional dari seluruh dunia, aku sudah sangat lelah terhadap semuanya. Terlebih tentangmu, mendengar seluruh penjelasanmu yang terus-menerus meminta untuk bertahan disisimu. Aku merasa tercekik namun aku masih bisa bernapas, aku merasa kakiku lelah namun harus terus melangkah, aku merasa semua tentangmu membuatku tak ingin tahu lagi. Aku sudah lelah, mencacimu pun sudah tak mempan lagi. Dahulu bila aku mencacimu, ada sejuta rasa senang karna kau berubah tapi sekarang kau tak mau mendengarkan lagi. Bukan karna aku tak ingin mendengarmu, bukan. Aku sudah belajar memahamimu, tak pernah menyertakan inginku dan sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadikan versimu menjadi versiku. Tapi sama saja, tak ada kemajuan. Sudah aku pikirkan berkali-kali untuk membenarkan bahwa menerima seluruh apa adanya dirimu, ya tapi tak mudah. Sebenarnya sudah, menerima kau yang acuh, menerima kau yang kadang berlebihan, semuanya sudah. Tapi tak tahu mengapa, sekarang sudah lelah. Bila aku sedang ingin mendengar ceritamu, kantu membuatku tak ingin menyapamu lagi. Bila kau menyapaku di malammu, aku sudah tak ingin meresponinya. Aku tak tahu bagaimana lagi, aku rasa ini memang sudah saling menyakiti kita karnanya aku memutuskan menyudahi segalanya. Jangan kau pikir bahwa ini mudah bagiku, karna untuk mengatakan ini aku sudah menguras seluruh keberanian dan tenaga untuk menyatakan segalanya. Keluh kesahku, kesakitanku, amarahku yang bercampur menjadi tanda bahwa kisah ini sakit dan cara untuk menyembuhkannya adalah menyudahi segalanya agar kita tak saling menyakiti. Ini sama sekali tak mudah, karna menghilangkan keakraban tentangmu di memoriku butuh waktu yang sangat lama, butuh waktu tak sepintas untuk menidurkannya dan butuh usaha untuk berjuang paling keras untuk semuanya.

Aku tak pernah mengatakan bahwa kisah ini tak indah, sangat indah. Mengingat ini kali pertama kita memutuskan untuk sangat berani berhubungan di jarak yang tak dekat, di langit yang berubah warna di waktu yang berbeda dan logat yang kadang membuat kita saling tak paham. Kisah paling berani namun tak bisa kita taklukan. Aku tahu bahwa kau sangat berjuang, kau selalu berjanji untuk menyapa serta berkunjung, namun tak semudah mengatakannya. Ada harga yang harus kau bayar jika melakukannya, tak perlu aku ungkapkan di sini. Namun aku sungguh letih dengan semuanya, jauh di dalam pikiranku mash ada baying serta namamu. Ruangmu di pikiranku juga masih ada, belum aku kosongkan hingga sesekali pikiran untuk kembali padamu masih sangat berkuasa dan berkehendak sesuka hati. Tapi mengingat kejenuhan ini sudah mengakhiri dan membunuh seluruh rasa yang dulu membuatku berjuang bersamamu, membuatku harus sudah menyudahi kisah kita.

Panjang sekali narasi kali ini yang aku tuliskan tentangmu, aku takkan menghapus apapun yang dulu tercipta tentangmu karna terlalu berharga untuk menghapus segalanya. Kau paling ternyaman, namun sudah tak bisa lagi diperjuangkan karna aku telah menyerah. Aku tahu, bahwa setelah aku menyudahi aku menghukum diri untuk tak peduli soalmu, walau aku sangat peduli. Aku sangat tahu bahwa di sana, kau menantikan responku atas seluruh pernyataanmu namun hingga narasi ini tercipta aku memutuskan untuk tak menjawabmu. Terlihatnya sungguh kejam kan? iya, sangat kejam. Menyakiti kita, tapi ini adalah harga yang harus dibayar atas keputusan yang kita pilih.

Hingga akhirnya, kau adalah orang berhati paling baik dalam memperlakukanku. Aku yakin, ada ratusan kebaikan yang mengarah padamu setelah kau dengan lapang melepaskan kisah kita menjadi kenangan. Maafkan aku yang mengandaskan seluruh mimpi kita untuk bersama melihat birunya laut sebelum matahari tenggelam lalu menatap bulan penuh bertabur kilau di gelap langit malam ketika kau menyapa serta berkunjung. Kau adalah pria keibuan paling mempesona, kelak akan menemukan gadis berhati mulia yang akan kau genggam jemarinya. Aku yakin itu.

Lewat narasi ini, ijinkanlah aku mengakhiri segalanya. Kisah, romansa, jenaka, kenyamanan dan kau. Sudah berlalu persinggahanmu di hidupku, karnanya kau harus mulai berlayar untuk bersinggah di pelabuhan-pelabuhan baik yang baru. Sekali lagi maafkanlah aku, bila aku terlalu jahat untuk keputusanku. Aku sangat mengasihimu, namun kau berhak bahagia. Terima kasih untuk seluruh cinta yang kau tabur untukku, yang terlalu indah untuk aku lupakan. Cintamu yang penuh akan ketulusan sulit aku hilangkan, namun lewat cintamu yang kau taburkan untukku membuatku merasa bahwa kau layak menemukan paling baik untukmu.