Arlojiku dan Kau.

Di tengah Januari yang hampir habis, tekadku adalah berhenti menengok bahkan menjenguk semua yang tertinggal dahulu, yang sempat membuatku tersenyum jutaan kali.

Ingin rasanya aku putar waktu, ketika berkali-kali aku jarum jam terus berputar di pergelangan tanganku. Ingin rasanya aku buka satu per satu semua yang sekarang sudah aku jepit hingga hancur itu, lalu menggabungkannya menjadi satu yang utuh kembali. Semuanya hanya adalah ingin dan ingin yang banyak aku temui dalam memoriku.

Setelah aku putuskan memotong pendek rambut, hingga tampilan baru menjadi hariku sekarang. Kau tahu kan, ini bukan pertama kalinya aku berbuat demikian. Ini adalah kali kesekian aku lakukan, dengan harapan memangkas habis semua tentang kita dahulu. Tak tahu, sihir apa yang kau punya hingga aku begitu terpaut menginginkanmu sedemikian rupa. Ini adalah tahun yang benar-benar baru, namun tak tahu mengapa semua tentangmu rasanya masih terus yang lama. Telah aku nodai banyaknya harapan untuk segera menghapusmu, namun mengingat bayangmu yang terus menghantuiku membuatku terus menjadikanmu hidup disana, di dalam ingatanku.

Aku tonton berkali-kali jarum detik pada arloji milikku. Rasanya, masih sama. Tak ada yang berubah selain jarum detik yang terus berputar pada lingkaran kecil yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Aku bukan orang yang suka terlambat, namun menggunakan arloji di tangan kiriku adalah setahun belakangan ini baru aku kenakan. Itu pun karna usulmu, yang katanya menutup kecilnya ukuran pergelangan tanganku. Rasanya saat itu, itu adalah penghinaan. Namun dengan lembut kau jelaskan bahwa melihat jarum jam lebih baik dari melihat angka jam di ponsel. Saat itu, banyak kali aku mengernyitkan kening dengan alasan bodoh yang kau tawarkan dengan tujuan meyakinkanku. Saat itu aku tolak, karna aku memang tak suka menggunakan arloji di tangan kiriku. Kau rupanya, menawarkan arloji sebagai hadiah darimu, namun segera aku tolak. Bagiku, hadiah tak harus diukur dengan pemberianmu. Ketika kau meluangkan waktu menatap mataku, melihat bibirku bercerita dan membantuku menemukan solusi atas masalahku; adalah hadiah paling berharga yang selama ini tertancap dalam ingatanku.  

Beberapa waktu kemudian, aku dihadiahi arloji oleh saudariku. Teringat sudah tentangmu yang dahulu sempat merekomendasikan agar arloji melingkat di tangan kiriku. Mampir sudah ingatanku dengan alasanmu meyakinkanku melakukan hal demikian. Alasan yang masih saja membeku dalam ingatan, tanpa pernah ingin aku mencoba memahaminya. Baru aku sadari, betapa menyenangkannya menonton jarum jam berputar. Baru aku sadari, bahwa menatapnya lebih membahagiakan daripada melihat angka pada ponsel. Masih inginkah kau dengar tanggapanku mengenai alasanmu itu?.

Telah aku sadari, bahwa sejak lama kita masih saling menggenggam dengan begitu hati-hati. Telah aku pahami maksudmu, bahwa kenangan itu memperkuat kan? maksudmu, menguatkanmu juga denganku. Mengapa kau bungkus hal semenarik itu, dengan alasan konyol yang tak bisa aku tebak sekalipun?. Baiklah, aku akui; sudah berbulan-bulan yang lalu aku telah kalah darimu. Bahkan tak pernah aku sadari, bahwa kau sedang berkata untuk merawat semua yang dahulu kita lalui. Intuisiku sekarang baru membuatku sadar akan hal ini. Baiklah, kau telah mempersiapkan diri dan juga mempersiapkanku untuk sewaktu-waktu genggaman kita lepas dan menjauh. Sekarang, sudah nyata kan?. Setelah aku paham semua maksud yang kau lontarkan dahulu itu, ingin sekali aku bertanya: will you call me to tell me you’re alright?. Tapi tenang saja, tak aku lakukan. Sebab sekarang, sudah pasti kau sedang sangat bak-baik saja.

Kepada seorang yang cinta arloji: terima kasih telah membuatku terbiasa dengan semua yang dahulu, terima kasih kepada semua waktu yang berputar juga yang terekam pada jarum detik pada arloji yang melingkar di tangan kananmu, terima kasih karna di banyak kesempatan kau anjurkan hal yang menarik bagiku!. Kau adalah jarum panjang dan jarum pendekku. Aku adalah angkamu. Terima kasih, karna begitu banyak hal yang kau tujukan untukku; bahkan dengan seluruh waktumu telah kau jadikan aku TUJUAN.  Bukan di masa sekarang, namun di masa lalu. Tenanglah, ini bukan tangisan sakit hati yang berteriak sejak lama. Ini adalah murni suara hati yang ingin sekali menjelaskan tentang caraku mengerti apa yang kau katakan padaku. Kode-kode yang kau lemparkan, harus aku akui memang hebat. Harus aku analisa satu demi satu, dan analisa itu baru terwujud belakangan. Tak mengapa kan, agak terlambat?. Ahhhh, bukan agak terlambat; tapi sudah begitu terlambat. Lantas aku bertanya dalam ingatan, bagaimana jika sejak  lama (dahulu) aku paham maksudmu? Mungkin saja aku akan mengira, ini adalah permintaan terhalus darimu untuk mengakhiri kisah terburuk kita saat itu. Iya kan?. Untung saja, baru aku sadari sekarang. Bila saat itu, sudah pasti akan aku lahirkan banyaknya pidato gila tentangmu! (haha).

Terakhir; kepada seorang pria yang cinta arloji: halo kak!. Bagaimana kabar arloji usangmu yang selalu kau tatap ketika kedatanganmu membuatku jengkel? Bagaimana kabar arloji yang katanya, telah menemani senyum dan tangismu bertahun-tahun itu? sungguhkah dia rekam perjalanan kisah kita? benarkah dia merekam rintihanmu? Benarkah dia merekam isakmu dalam diam? Benarkah dan benarkah masih sama kau dengan sekarang?. Ini adalah pertanyaan terbanyak tentangmu dan arlojimu!. Banyak waktu aku berziarah pada setumpuk kenangan termanis yang memahitkan pikiranku, meracuni pandanganku untuk suatu hal yang baru dan merekayasa kebahagiaan tersingkat di sepersekian detik mengenangmu!. Mengapakah harus kau yang terus mengabari? Aku rasa kau mengejarku seperti jarum detik, yang  terus saja berusaha menggapai banyaknya angka dalam lingkaran arloji kita. Terima kasih, telah terus memelihara aku dengan sebukit keangkuhanku dalam hidupmu!. Aku tak tersanjung, sedikit pun. Pun aku tak merasa tercekik ataupun tersandung kisah kita yang dahulu dan kekerabatan kita yang sekatang. Satu hal: aku terpana dengan kesungguhan dan ketulusanmu! Aku terpukau dengan cinta dan kasih terbaikmu, untuk semua orang termasuk aku! Terima kasih karna kau pernah menjadi jarum panjang dan jarum pendekku, pula kau jadikan aku tujuanmu di waktu yang lama dan sudah berlalu!. Kak, Tuan Irit Kata-ku, terima kasih begitu banyak untukmu!.


Dengan arloji hitam berlingkar kecil, di pergelangan tangan kiri ini; aku mengunjungimu!

Iklan

2019 dan Kau.

Hari ini adalah hari kedua di tahun yang baru. Resolusi andalanku adalah berhenti mengenangmu, namun apa daya jemariku berontak dan memaksaku untuk menulis tentangmu di linimasa IG milikku. Ini adalah perintah kedua yang dikehendaki oleh jemari ini, untuk seketika menulis tentangmu ketika kantukku dipenuhi oleh peluh yang menerjang dan menumbangkan rasa lelapku siang tadi. Setelah sehari yang lalu aku puas mematahkan keinginan jemariku, sekarang aku pasrah untuk bertindak sesuai keinginannya sebelum aku lelah dibutakan olehnya.

Di tahun baruku, masih ada kau yang tetap menjadi orang pertama mengirimkan sejumlah harapan bagiku di tahun 2019 ini. Aku masih saja tersenyum tipis dengan rasa tertulus walau sebenarnya tak ada lagi penantian tentangmu untuk memulai tahun 2019 ini. Sepertinya kau pula demikian, mengirimkan sejumlah hal itu dengan perasaan lega terlarut pemandangan kawan di setiap pesan singkatmu. Tak ada panggilan suara, yang ada hanyalah saling membaca tanpa saling meresponi. Tahun baru milik kita berdua, rasanya sepi tak bahagia. Iya kan?

Membuka hari kedua di 2019 punyaku, tak ada lagi kau. Bahkan mengandaskan pikiran yang melayang ke arahmu, sudah tak lagi aku lakukan; sebab rasanya tak ada lagi daya untuk mengingat atau berkunjung pada kenangan kita. Walau sesungguhnya, sepi menyiksa ketika tak ada lagi seseorang yang bisa aku hujat dengan leluasa untuk hanya membangkitkan mood-ku. Aku begitu egois kan?. Terakhir kali kita saling bertegur sapa adalah ketika menutup 2018 milik kita. Di sana, masih ada kita yang saling mengucapkan maaf (walau aku yang mendahuluinya) ketika menutup tahun kemarin dengan sejumlah hal buruk yang mengandaskan impian bersama. Sejak itu, tak ada lagi nyanyian-nyanyian baru di awal tahun baru ini. Hujan kemarin, membuat hariku kelabu dengan harapan segera melepaskanmu dari ingatan. Baiklah, harus aku katakan bahwa aku baru saja mematahkan impianku untuk berhenti menulis soal patah hati terkelamku ini. Namun baiklah, harus aku tuliskan ini semua tentangmu hanya dengan harapan terus mengenangmu yang begitu tulus dan baik hati. Bolehkah ku tulis tentangmu yang sejak kemarin menghadirkan rindu di awal tahun?

Tenang saja, rindu ini bukan rindu yang terpasang seperti dulu. Rindu ini pula bukan terpasang dengan otomatis, sebab sebenarnya mengendarainya adalah hal yang paling menjijikan bagiku. Terang saja, merindumu yang tak lagi mengakrabi hariku adalah hal terkeji yang menelan keberanianku. Rasanya ingin sekali mempermalukan diri namun menahan semuanya, hanya saja menyajikan segumpal kengerian yang mengaga. Bukankah harus segera aku bereskan, bukan?. Rindu ini hanyalah tentang mengenangmu, yang terus saja hidup dan dewasa dalam benakku. Sebenarnya, aku ingin meremajakan kenangan tentangmu, namun dia tumbuh dengan pesat dan membuatku kewalahan. Kau tahu kan, bagaimana sulitnya mengatur orang dewasa? Dia punya pilihannya sendiri!. Itulah yang aku rasa ketika kenangan tentangmu tumbuh dewasa dalam tubuh pikiranku.

Kemarin aku ditemani sebuah minuman hangat, yang mengibaratkan kisah kita kemarin. Sang minuman hangat adalah penghilang dahaga yang aku rasa, yang sejak kemarin terus menyakitiku. Setelah aku hirup, tak ada lagi aroma pertemanan setelah perpisahan kita di penghujung tahun 2018. Kita berdua sudah mengaduk begitu banyak akal sehat dalam adonan percakapan kita, sehingga aroma wangi tak menggema di udara maupun apapun yang terlarut di udara. Rasanya adalah rasa tertawar yang membangkitkan peluhku bergerilya menghantam dahi dan seluruh kulitku. Kita berdua bahkan saling memutuskan untuk mengakhiri segala jalur yang mengakibatkan kita masih bisa kembali. Kau tahu apa yang aku rasa? Rasanya ada kelegaan yang selama ini tertahan. Sebenarnya keputusan itu sudah sejak lama aku idamkan, hanya saja itu menjadi dambaan pribadi yang menggoresi hati. Luka yang tadinya lahir dari kisah terbaikku denganmu, bertambah dengan sayatan panjang dan takkan kering ketika dambaan itu menggema dalam pikiranku. Setelah kita saling memutuskan untuk mengakhiri segalanya, sayatan itu rasanya mengering seketika. Dambaanku untuk mengakhirinya denganmu sudah bisa bernapas dengan sehat, tanpa ada rasa sakit yang menghalangi.

Aku tuliskan ini dengan banyaknya senyum yang lahir ketika dambaanku telah menjadi dambaan kita. Nyatanya kita berdua sudah saling mendamba untuk benar-benar saling melepaskan. Kita berdua berhak bahagia dengan banyaknya pelajaran yang kita tonton dari kisah yang telah berlalu. Aku dengan kengerian yang menyengatmu, dan kau dengan seluruh kebaikan dan kesabaran yang membuatku gemas. Rasa saling melengkapi yang kita punya dahulu sudah karam dan berkarat. Mencungkilnya pun, takkan mengembalikan pada bentuknya yang semula kan?

Itulah yang membuat kita memantaskan keputusan itu, setelah sudah begitu lama saling bersembunyi dan menolak sedih. Kita telah lama meringkuk dalam persembunyian dan pura-pura baik-baik saja, lewat narasi yang kita ciptakan. Sekarang dengan hati yang lapang dan bersedia melupakan, telah aku kandaskan seluruh rasa yang dahulu kala selalu bersarang padamu. Sudah aku korek dengan habis hingga semuanya telah bersih tentangmu!. Bukannya aku mengelak dan pura-pura baik-baik saja, setelah menyetujui perjanjian dan keputusan kita di tahun baru ini, melainkan sesungguhnya aku sungguh-sungguh ingin melepaskan banyak hal tentangmu. Aku tak ingin mendekapmu dalam ingatanku, bahkan memaksa ragamu beriringan denganku. Sebab sesungguhnya, aku tak ingin kita saling tercekik dan tak bisa bertumbuh dengan saling meyakinkan. Bukankah saling meyakinkan adalah hal paling mendasar untuk mendorong lebih banyak keyakinan yang lain untuk bersama?

Aku rasa kita harus menemukan keyakinan yang lebih dalam pada orang lain, bukan aku padamu dan kau padaku. Kita pernah saling mengisi ruang kosong di hati masing-masing, hingga begitu terpenuhi; sayangnya banyak hal dengan kadar lebih tidak akan berlangsung kekal. Kisah kita hanyalah sebentar, dengan seberkas rasa yang menggumam dalam canda, tawa dan keseriusan. Begitu pula dengan akhir kisah kita yang menyisahkan kenangan yang terkenang. Jangan khawatir, mengharapkanmu kembali padaku saja tak pernah terlintas dalam angan. Melepaskanmu dengan segala keistimewaanmu adalah hal tertulus yang sudah aku pelihara dan sudah aku lakukan!. Takkan aku gugat siapapun, seperti diri sendiri dan kau. Sudah cukup kita saling menderita dan sudah saatnya kita harus berhenti!

Ujung 2018-ku (3).

Ambon, 31 Desember 2018 .

tapak 2018-ku.

Masih soal kejutan dan hadiah, tahun ini adalah tahun istimewa yang sukses menyesatkanku. Aku telah terjebak dalam hubungan singkat, dengan sejumlah kenangan yang sama sekali tak singkat. Singkatnya hubungan itu hanya karna dalam sekejap mata, perpisahan mendulang. Kenangan yang tak singkat pun adalah sejumlah cerita baku yang terus membaku dalam ingatan. Tahun ini telah melatihku memutuskan keputusan yang tak bisa lagi aku tarik kembali. Keputusan yang sesungguhnya lahir dari bibirku, atas diskusi dengan diri sendiri. Keputusan yang ringan di bibir namun begitu berat dijalani. Apalagi kalau soal kebiasaan yang sudah melekat, namun harus dibiarkan meleleh dan pergi tanpa perlu lebih dahulu dihancurkan. Aku sadar bahwa sekian banyak hal, adalah soal memberi dan menerima; dan sesungguhnya itulah yang sedang aku alami sepanjang tahun 2018 ini.

Tahun 2018, aku akui kau melarutkanku di dalammu. Kau larutkan aku hingga terputar bersama pusaranmu, pusaran yang sebenarnya selalu aku hindari. Kau menunjukan bagaimana aku harus memulihkan diri sendiri, akibat keputusan sepihak yang aku pilih. Kau tunjukan pula padaku bahwa bagaimana sepak terjang belajar menjadi setia dan tulus, juga kau tunjukan padaku bagaimana menjadi orang baik yang akan mengundang seorang berkelas untuk terus mendampingi. Orang berkelas yang aku maksudkan sekarang bukanlah sosok yang rupawan, namun satu yang pasti segala sesuatu yang ada dalam pribadinya adalah sangat rupawan. Sikapnya yang begitu rupawan membuatku tenggelam dalam sosoknya, tenggelam dalam seluruh caranya memperlakukanku, bahkan membuatku menatap sesuatu yang baru adalah sebagai perubahan. Soal Kelurga dan kawan-kawanku, aku paham bahwa ada banyak hal tak berguna yang sempat kita benci bersama. Namun aku tersadar bahwa, sesuatu yang sempat aku pikirkan tak berguna itu, telah menjadikanku menjadi orang yang terus mencintai perubahan. Perubahan yang baik-baik pula yang akan mendatangkan sesuatu yang positive guna keberlangusngan hidup yang berkualitas. Dan ya, semua adalah lembaran kisahku di sepanjang tahun 2018 ini.

Menikmati momen Natal bersama keluarga, menikmati setiap perubahan dan mengendarai setiap penyesalan yang terus mengenyangkan, membuatku terus mencintai tahun ini. Tahun yang membuatku memaafkan segala kesalahan yang aku lakukan sejak tahun lalu, sejak aku menangis bersedih untuk waktu-waktu buruk yang aku alami. Di peghujung Desember ini, aku hanya ingin melepaskan apa yang seharusnya aku lepaskan. Melepaskan segala kegagalan yang sempat memelukku, melepaskan seluruh dendam yang membara dalam diri dan ingatan, melepaskan seluruh cinta dalam romansaku yang masih terus menempel, melepaskan segala sesuatu yang buruk yang telah melemak dalam ingatan, dan melepaskan segala sesuatu yang membuatku merasa kerdil berkai-kali dalam menjalani hari.

Besok, pagiku adalah pagi baru di awal 2019. Ada banyak rahasia yang belum bisa aku singkap, ada banyak kisah yang belum terkisahkan, ada banyak berkat dan berkat lainnya yang sedang menuju alamatnya padaku. Tak tahu, seperti apa nantinya tahun baruku nanti. Tak tahu seperti apa nanti, tahun 2019-ku. Pastinya, aku hanya ingin terus mensyukurinya; terlebih lagi untuk semakin belajar berbaik sangka pada kendali Tuhan.

Akhirnya, 2018; aku pamit!

Terima kasih, telah kau kirimkan sejumlah nasihat baik melalui setiap orang terdekatku. Terima kasih telah kau hapus segala yang meragu dalam ingatanku, terima kasih telah kau buang seluruh energi negative yang bersarang dalam kepalaku, dan terima kasih karna kisah sebentarku telah aku tamatkan hari ini. Menutup tahun ini dengan melepaskan segalanya yang sudah semestinya aku lepaskan, adalah keinginanku yang juga telah direstui olehmu. Tahun ini aku temui banyak kisah menarik, ketika aku terkulai tak berdaya oleh patah hati hingga mengkaryakan patah hati itu lewat tulisan pendek yang sudah menjamur. Tahun ini aku belajar memiliki kemajuan pada diri sendiri, dengan menatap apapun yang direnggut oleh semesta adalah seijin Tuhan. tahun ini sudah aku temukan sejumlah Kasih yang tertanam dan dipupuki oleh cinta yang tak pernah habis dalam hidupku. Dan yang begitu akhir: 2018 telah mengantarkanku untuk belajar mencintai dan melepaskan orang tercinta dengan sepenuh hati!

Ujung 2018-ku (2).

Ambon, 31 Desember 2018.

(2), 2018-ku.

Aku telah berada di garis akhir tahun 2018, tahun istimewa yang isinya penuh dengan hal-hal yang tak bisa aku duga sebelumnya. Ada banyak fantasi yang aku gumamkan dalam lelap, namun nyatanya setiap kenyataan lebih berharga dibandingkan dengan fantas-fantasi yang tak mungkin tergenapi itu. Tahun ini ada banyak kejutan dan hadiah yang semesta tampilkan atas seijin Tuhan. Salah satunya, adalah aku dengan leluasa mencurahkan seluruh beban pikiranku pada tulisan-tulisan ini. Tahun ini, aku dengan bebas mengekspresikan rasa sedih, amarah hingga bahagiaku di sini, tanpa ada yang menghadang, tanpa ada yang membuatku ragu. Sesungguhnya keraguan hanyalah seputar hal-hal diluar kuasaku, yang menyebabkan seteru dalam hati lahir berkali-kali. ya, tahun ini aku belajar begitu banyak hal tentang diriku sendiri.

Sudah mampu aku kendalikan logika dan hati yang dahulu seringkali tak sejalan. Tak sejalannya mereka membuat air mata merembes keluar mengairi pipi hingga aku terisak dalam gelap malam di sudut ruang ganti. Logika dan hati yang berputar soal hal-hal yang aku pikir terus bahagia, tanpa perlu mempersiapkan diri bilamana perpisahan yang berujung derita menghampiri dan tinggal di dalamnya. Aku tak kuat, iya kan?

Setiap kejutan yang semesta kejutkan pada diriku, mampu membuatku berpikir jutaan kali. Kali ini aku telah mampu berpikir tentang untung dan rugi pada diri sendiri, kali ini aku merasa bahwa telah dengan tegas menolak hal-hal yang menyakitiku nanti. Walaupun banyak kali, aku mengalah untuk urusan sepele yang kelihatannya tak sepele. Aku hanya sedang melatih diri untuk belajar siap bersedia dalam segala kondisi bilamana semesta dengan tiba-tiba menunjukan kejutannya. Bukankah ini adalah yang paling istimewa? Setiap hal membuatku belajar banyak, tentu saja soal hal-hal menarik seputar belajar. Belajar tak mudah marah, belajar rendah hati dan belajar ikhlas untuk setiap kenyataan yang memahitkan hari. Pula dengan hadiah yang dihadiahkan semesta atas ijin Tuhan, hadiah yang berkali-kali membuatku melihat dunia baru dari sisi yang berbeda. Aku telah dengan sendirinya menemukan defenisi melayani yang sesungguhnya. Kaitannya erat dengan rendah hati, namun dari sini aku belajar untuk bertanggung jawab dan siap menerima kritikan.

Aku yakin sejak aku ditenun dalam kandungan ibuku, telah Tuhan titipkan sejumlah kebaikan larut dalam diriku. Walau sesungguhnya aku tak sebaik yang aku inginkan. Aku seringkali masih punya sungutan-sungutan kecil yang menggelisahkanku. Belum lagi rasa khawatir yang menyakiti mental beraniku, pokoknya banyak hal yang menghambat diriku sendiri. Namun di akhir 2018 ini, rasanya telah banyak sekali hal yang membuatku belajar. Seperti yang aku sebutkan diatas, bahwa kejutan dan hadiah yang semesta tunjukkan padaku telah membuatku belajar mengasihi diri sendiri. Aku telah mampu dengan tegas mengasihani diriku sendiri, bahkan belajar untuk mencintai setiap hal buruk yang ada pada diriku.

Soal hal yang tertangkap oleh mata pun, seringkali aku tertawai. Apa gunanya menyesali waktu? tak ada. Itulah mengapa aku memilih untuk enggan memikirkan hal-hal kecil seperti itu. Setiap hari aku bernapas dengan udara yang istimewa yang membuatku menikmati hari. Karnanya, aku siap menerima kejutan dan hadiah berikut-berikut dan berikutnya lagi dari semesta!.

Ujung 2018-ku.

Ambon, 31 Desember 2018.

–I am eccentric, your hopeless romantic–, adalah penggalan lirik kesukaanku sepanjang tahun ini. Lagu lama yang cukup menghentakkan langkahku sepanjang tahun ini. Lagu yang menguatkan seluruh keanehan dan keputusaanku selama ini, selama aku dipenuhi oleh hal yang demikian. Aku dan kau, ya tentu saja kita. Kita yang punya banyak cerita sepanjang tahun ini.


Ini adalah cerita terakhir kita, bersama mentari paling akhir di 2018. Segeralah kita akhiri segala yg sesak dan keraguan yang membukit. 
Ayo ratakan segala sedih supaya bahagia berkuasa atas hari! 
Untukmu, terima kasih telah menghiasi 2018-ku. 
Aku berjanji akan terus mengenangmu, bagaimana denganmu? 
Aku harap demikian ❤ .

Sejak pagi tadi aku pandang cahaya mentari yang bersembunyi di balik pohon kelapa, samar-samar mataku masih pedih menantikan sinarnya. Aku ingat pada kisah-kisah yang lalu, ketika sejumlah mentari di hari-hari berikut menyingkap rahasia yang selama ini aku sembunyikan. Aku adalah orang yang setiap hari selalu menutup rapat kisah romansaku, selain memilih untuk hanya bercerita pada linimasa blog. Dan akhirnya aku pikir, bahwa bercerita pada secarik kertas elektronik itu telah membuatku merasa bisa berbagi apa yang tengah aku rasakan. Aku paham bahwa kau yang hopeless romantic, pun menatap mentari yang sama. Sebab kita punya kegemaran yang sama, yaitu bercerita tentang ukuran sinar mentari di balik pohon kelapa. Sebuah kegemaran yang tak berguna, bukan?. Namun kegemaran yang tak berguna itu, telah mengantarkan kisah kita yang tadinya sedikit dan minim itu menjadi semakin tebal dan banyak.

Pikiranku melayang pada sekian banyak kisah yang mengisahkan kita berdua. Kita yang sudah semakin aneh menentukan pilihan dan kita yang sudah kelihatan bergairah untuk menghadirkan romansa-romansa yang menyehatkan. Sepertinya, kita kesakitan cukup lama. Bukan hanya pikirku saja, melainkan ini pikiran kita bersama. Kita telah berembuk dan berupaya menemukan penyembuhnya. Sudahlah, bercerita tentang ini bukanlah tujuan utama, tujuan utamaku adalah menghayati setiap kejadian besar dan kecil di sepanjang tahun 2018 milikku. Well, kita mulai saja.

Tahun 2018 adalah tahun pertama, aku menikmati rutinitas sebagai pengangguran. Mengelilingi kota bilamana diriku dibutuhkan oleh orangtua dan menghabiskan waktu di rumah untuk menyediakan makanan bagi keluarga. Sedikit demi sedikit, hal yang tak pernah aku lakukan telah menjadi biasa dan merasa bahwa itu adalah hal mudah, karna tak ada yang sulit bila sudah menjadi biasa. Aku pun semakin belajar menjadi irit dan meminimalisir hal-hal yang sesungguhnya tak bermanfaat untuk aku lakukan. Setelah setahun menjadi pengangguran hingga mengalami banyaknya kejadian baru yang semakin hari semakin baik. Aku jadi belajar bahwa menjadi sehat adalah tiket hidup yang berkualitas di masa depan. Walaupun untuk menjadi sehat, aku menemukan banyak kendala. Salah satunya yaitu aku kawalahan melelapkan tidur di malam hari, akibatnya aku terjaga sampai pagi dan berat badanku menjadi meningkat. Berkali-kali aku menyembuhkan diri, dan akhirnya menemukan defenisi sehat menurut diriku sendiri yaitu berpikir positif dan segala sesuatu yang baik akan beruntun hadir.

Tahun 2018 pun adalah tahun pertama aku belajar memahami diri sendiri sebelum memahami orang lain. Setelah aku yang dahulu berulangkali mengalami masalah pada diri sendiri soal ingin melakukan segala sesuatu dengan cepat, sekarang pun aku sedang belajar untuk tak memiliki khawatir yang menjadi-jadi. Aku memilih untuk memikirkan sesuatu jauh-jauh hari dan menikmatinya dengan berdiskusi dengan diri sendiri lalu menemukan solusi dua arah. Dari sinilah aku belajar mengenai, sesuatu yang merugikan pun menguntungkan diri sendiri. Aku sudah bersyukur bahwa aku dihadiahi kekhawatiran yang sejak mulanya membuatku terjebak, namun menuntunku menemukan jalan keluar. Inilah suatu hal baik yang lahir dari hal yang buruk.

Tahun ini pun, aku belajar untuk menyadari bahwa apapun yang dibuat oleh Tuhan adalah sangat baik. Aku jadi percaya bahwa tak ada berkat yang datang terlambat maupun cepat. Segala berkat akan datang sesuai waktuNya dan aku sedang menantikan berkat itu sambil memantaskan diri dengan melakukan segala hal yang bagiku adalah baik adanya. Aku sedang belajar untuk menjadi orang yang sangat pasrah, pasrah pada nyata dan kisahku, namun tak lantas mudah menyerah. Aku belajar untuk tak jatuh di tempat yang sama, dan tak ingin menyakiti orang lain di luka yang sama. —Sebab membalut luka sendiri pun rasanya menyakitkan, apalagi harus membalut luka orang lain serta melihat luka yang di depan mata ?. tentunya, membalut luka orang lain adalah suatu ketulusan yang harusnya lebih dulu dilaksanakan pada diri sendiri. Karnanya, aku belajar untuk mengevaluasi diri–. Aku belajar untuk tak boleh berkaca pada orang lain. Aku harus bercermin pada diri sendiri, sehingga melihat apa yang salah dengan diriku sendiri.

Tahun ini pun, aku belajar menjadi terbuka bagi orang lain. Aku telah kalah karna rasa malu yang tak bisa aku bendung, namun aku rasa bahwa rasa malu itu pun menjadi suatu yang merugi. Lewat cara menjadi lebih terbuka bagi orang lain, aku bisa menolak apa yang tak ingin aku lakukan. Aku merasa bahwa menjadi diri sendiri tanpa bertopeng kebaikan, adalah suatu hal yang selama ini ingin aku lakukan. Selama ini aku terhalang oleh rasa budi pada orang lain, hingga demikian jadinya. Namun bila menolak sesuatu yang buruk, akan lebih menjadi hal yang baik.

Tahun ini pun, aku belajar untuk mendalami kegemaranku seusai menamatkan studi, setahun yang lalu. Ya, aku cinta menulis. Mengutarakan seluruh rasa yang bersarang dalam diri melalui sebuah tulisan, adalah kegemaran tersendiri yang sedang aku tekuni. Banyak yang pincang dalam tulisan-tulisan tak berharga ini bila dilihat berdasarkan aturan menulis, namun bagiku ini adalah dunia terbaruku mengingat waktuku semakin banyak dan semakin berharga bila dihabiskan untuk melakukan hal demikian. Walau aku telah dieliminasi sejak awal dari sebuah kompetisi menulis, namun aku tak patah arang untuk terus belajar mengasah diri. Aku memang tak bergabung dalam sebuah komunitas, karna terkendala diri sendiri. Namun belajar secara otodidak dengan membaca dan terus membaca adalah suatu tantangan tersendiri yang sedang aku lakoni. Hal-hal terbaru telah aku temukan disana. Aku telah belajar sendiri untuk menemukan apa yang salah di setiap tulisanku, dan apa yang mengugah perasaan orang lain ketika membacanya. Aku pun punya pembaca yang sudah sejak lama aku percayai untuk membaca karyaku ini, mereka adalah orang terdekatku. Ada banyak pujian maupun kritikan yang aku terima, namun akan sangat baik untuk menjaga pujian dan kritikan itu menjadi semangat untuk terus belajar menjadi lebih baik. Nyatanya aku bukanlah seorang penulis, sebab aku tak layak. Aku hanyalah seorang yang mencintai untuk mengutarakan seluruh perasaanku lewat kertas elektronik yang terpajang di linimasa blogku.

Tahun 2018 ini telah menggiring diriku untuk belajar memanfaatkan diri sendiri. Tak ada penghasilan berupa materi yang bisa aku dapatkan, namun sesuatu yang membahagiakan adalah ketika banyak orang meluangkan waktunya untuk sekedar membaca tulisan dari seorang pemula yang pemalu sepertiku. Tahun ini banyak perasaan yang telah aku ungkapkan disini, pedih ketika suatu harapan ditolak oleh semesta. Dada yang sesak menerima kenyataan hingga isak tangis dan peluh yang beriringan menghujani wajah bahkan kaki yang telah gontai dan gemetar menghadapi tapak-tapak baru yang memilukan, dan banyaknya wajah-wajah yang harus aku temui dan belajar mengerti topeng apa yang telah mereka gunakan. Tahun ini, rasanya telah menjebakku habis-habisan. Sesungguhnya, ada banyak kesejukan yang telah dia tampilkan padaku. Kesejukan-kesejukan baik yang dengan sendirinya, ia jadikan sebagai penenang rasa pilu dan pengobat rasa patah hati; sebab ada banyak rasa patah hati yang memenangkanku, hingga aku telah patah tak berbentuk. Namun kesejukan yang ditawarkan di tahun ini, telah mengobatinya secara perlahan dengan berbagai rutinitas yang melelahkan namun setiap hari melahirkan banyaknya pelajaran. Aku yang telah patah tak berbentuk, kini telah berbentuk walau dengan bentuk yang berbeda. Ini adalah harga dari sebuah kenyataan, karna setiap kenyataan menawarkan hal baru yang menuntutku untuk terus berubah.

Membekasnya bayangmu, telah menumbuhkan bekas terdalam di 2018-ku.

Sayangnya, tahun 2018 telah mengutarkan isyarat selamat tinggal. Mentarinya telah berangsur-angsur tenggelam, dan pesannya yaitu menghapus segala yang buruk di masa yang lalu. Mentarinya pun hari ini telah bersinar dengan sangat benderang hingga cemerlang tak bercela. Akulah penikmat sang cahaya mentari, yang tak pernah menikmatinya seorang diri. Sedih rasanya harus berpisah dengan tahun 2018, tahun ter-istimewa yang aku punya. Aku tak mau menahanmu pergi, karnanya telah aku simpan semua yang baik yang sejak lama kau kisahkan bersamaku sepanjang tahun ini.

Selamat tinggal yang sesungguhnya, tahun 2018. Terima kasih begitu banyak, telah menghadirkan sejumlah kebaikan berbalut keburukan.

Selamat Natal, Kawanan Gadisku.

Ambon, 25 Desember 2018.

Setelah langit di Malam Natal dini hari dipenuhi dengan kembang api, dari rumah masing-masing kita pun menonton ramainya kembang api yang bertamu di langit ibukota. Mungkin sang semesta merasakan batuk berdahak, hingga memuntahkan air hujan ke wajah kota Ambon, yang hampir saja mengandaskan rencana kami untuk bertemu. Sadarkah kalian bahwa setiap kali pertemuan kita, akan saja dihiasi oleh rintik maupun lebatnya hujan?. Masing-masing kita mengisi payung pada tas yang bergelantung pada pundak masing-masing. Baiklah, ini pertemuan kesekian kali yang dengan susah payah terwujud ketika semuanya sedang dipayungi oleh kota yang sama (terutama Linda kami, haha).

Setelah beberapa bulan kita sibuk mengemas dunia masing-masing, kali ini kita putuskan bertemu dan menikmati Natal versi kita. Natal sederhana yang isinya bukan berupa nyanyian Kidung Jemaat, melainkan menata diri layaknya perempuan masa kini. Sibuk memotret dengan tema yang didesain seindah mungkin, bahkan mengakrabkan diri dengan lensa kamera mirrorless maupun ponsel. Memutuskan menggunakan atribut yang sama memang awalnya aku kira itu agak memalukan, bertambah dengan ejekkan dari Lediku. Setelah aku sibuk menonton setiap potret, ternyata tak ada yang salah. Walaupun semenjak aku keluar dari rumah, hingga menumpang tranportasi umum untuk menggapai tempat kami bertemu, ada saja orang yang mengenakan baju putih. Hingga seorang disampingku, mengira seseorang yang juga mengenakan pakaian putih itu adalah keluargaku (haha). Saat itu ingin rasanya merutuk hari, namun apa daya? –tak berguna jadinya–.

Banyak kali ada tawa yang menggema entah soal saling mengisi topic yang tak diketahui, ataupun mengisi waktu hanya dengan menikmati makanan yang disuguhkan di depan kami. Banyak hal yang kita cakapkan, ya walaupun rasanya waktu terus saja mengejar perjumpaan kita. Perjumpaan yang rasanya ingin sekali membahas banyak hal, namun seketika kandas ketika banyaknya topik itu sudah tertidur dalam ingatan dan akhirnya kita hanya mampu merekam peristiwa lewat setiap potret yang sudah menghiasi linimasa IG maupun FB masing-masing. Belum lagi dengan banyaknya gosip yang mencemari perayaan Natal sederhana milik kita, ya walaupun ketika bergosip ada rasa bahagia yang sedikit sekali tercampur dalam kebersamaan kita (haha). Ingat, hanya sedikit bukan banyak. Jika memang banyak, aku rasa hanya tertaut dalam diri Aca, si biang gossip (haha).

Baiklah, karna ini pertemuan yang notabene adalah merayakan hari Natal, pilihan kita adalah mengenakan pakaian senada dengan pilihan warna putih. Tak ada arti apapun selain hanya mengira bahwa ini hanyalah perayaan white Christmas. Aku kira pilihan ini menjadi pilhan kita, karna memutihkan dan mencerahkan segala hal yang gelap diantara kita. Skenario kehidupan kita adalah berbeda, aku punya banyak hal yang masih saja aku pilih untuk aku rantai dalam hatiku. Tak tahu dengan kalian berempat yang mungkin juga akan sama. Sebaliknya, menurutku pilihan warna putih di pertemuan ini adalah atas restu sang semesta yang menerangkan bahwa masing-masing kita telah mematahkan rantai yang kita ikat pada diri masing-masing. Aku tak pandai bahkan tak bisa menjelaskan dengan pasti, rantai apa yang kalian punya; namun dalam diriku ada satu yang sudah bisa aku lepaskan, yaitu: belajar melemaskan keegoisan. I mean, aku telah mengerti bahwa kebersamaan itu penting. Entah dengan keluarga maupun kawanan gadisku. Statusku yang hanya menghabiskan waktu di rumah, menjadikanku sebagai pribadi yang seringkali menolak keadaan sekitar. Aku tolak beberapa ajakan, yang menurutku tak begitu penting. Aku paham bahwa keadaan seperti itu membuatku kelihatan telah ditelan oleh keegoisanku sendiri, karnanya telah aku pelajari bahwa melemaskan keegoisan adalah penting. Setelah melemaskannya, meremas dan membunuhnya adalah pilihan terbaik. Itulah yang seketika membuat pikiranku melayang sejak aku mengenakan baju berwarna putih dan menatap kalian satu per satu. Bisakah kalian jelaskan padaku, bagaimana warna putih di pertemuan kita itu mempengaruhi kalian?

Jejak pertemuan kita mungkin tak sesering biasanya (saat masih kuliah), karna pertemuan yang harus terpisahkan ketika jarum jam telah mengirimkan pesan hari yang telah gelap. Jejak pertemuan kita mungkin tak sesering hujan yang menyapa atap rumah maupun jalanan, ketika musim hujan sedang memenangi semesta. Jejak pertemuan kita seringkali hanyalah pertemuan yang berlangsung selama tiga hingga empat jam, namun begitu membekas dalam ingatan. Setiap potret kita punya kisah dibaliknya, yang kita simpan erat-erat disetiap galeri ponsel. Dari bilik kediaman masing-masing pun, kita terus bercakap tanpa henti. Entah hanya sekedar saling menyapa, bergurau yang tentu saja minim pertengkaran. Bilik-bilik kediaman kita telah memperhatikan kita yang terus saja saling berkabar dengan dunia yang membingkai masing-masing kita.

Rantai-rantai yang melingkar dalam hati masing-masing kita rasanya memang takkan mudah terkelupas, rasanya memang tak mudah. Tapi aku yakin, rantai itu telah kita tinggalkan ketika percakapan memulai pertemuan diantara kita mulai terancang. Pertemuan kita di hari Natal ini meninggalkan bekas bahwa keseragaman dalam pertemanan adalah mengagumkan. Maksudku keseragaman untuk saling mempengaruhi dan dipengaruhi. Entah soal tawa yang menggema di atap tempat perjumpaan kita, maupun cerita yang tertinggal di kursi bahkan meja yang menjadi penonton kita kala itu. Ingin sekali rasanya aku menuliskan pesan Natal untuk kalin (haha):

Kepada kawanan gadisku: selamat merayakan Natal. Terima kasih telah menelurkan ide mengenakan baju berwarna putih yang telah membuatku paham bahwa menerangkan pada dunia bahwa kegelapanku yang berupa keegoisanku harus segera menghilang. Aku putuskan takkan membiarkan keegoisanku mendekam berlama-lama dalam hatiku. Memenjarakannya adalah skenario terburuk yang aku buat dengan tujuan merugikan diri sendiri, yang nyatanya telah aku sadari bahwa itu menyakitkan.

Kepada kawanan gadisku: adakah skenario terburuk yang tengah kalian alami? Aku tahu, pasti rantai-rantai buruk yang terkalung di palung hati masing-masing kan?. Ayoo, kita pecahkan itu bersama-sama!. Jangan biarkan ia meretakan hatimu, sebaliknya jadikanlah ia sebagai perekat pertemanan kita. Pertemanan yang takkan hanya terlaksana berupa perjumpaan, sebab pertemuan hanyalah sebuah pertunjukan yang memang sedang kita prakarsai secara bertahap. Walau aku setuju, saling bertemu pun turut menentukan intensitas kedekatan yang hakiki.

Kepada kawanan gadisku: terima kasih telah membekaskan setiap cerita kita pada angin yang terus saja datang menyapa. Bukan sejumlah rindu yang terus menggema di langit malam, sejak hati kita telah patah tak berbentuk dengan romansa milik kita masing-masing. Sejak aku belajar percaya pada orang lain, aku sudah belajar menyembuhkan diri dengan mendengarkan berita-berita segar terkait bagaimana menata hati semenjak perpisahan menjadi nyanyian merdu terkelam yang aku alami. Itulah mengapa aku takkan pernah jemu menuliskan kisahku bersama kalian sepanjang pertemuan maupun hanya berupa percakapan sebatas ponsel. Memilih bercerita pada kalian, awalnya adalah pilihan tersulit karna tentu saja aku akan ditertawai, nyatanya menertawakan diri sendiri bersama dengan orang lain adalah pilihan terbaik untuk segera melupa. Sejatinya aku jadi paham bahwa punya teman-teman adalah hal paling menarik yang aku alami. Satu lagi, ini kali pertama dalam hidupku mengenakan atribut natal berupa bando yang menurutku takkan pernah lucu. Untung saja kita berfoto secara berkelompok, jika aku seorang diri (haha) tentu saja itu adalah mimpi buruk.

Kepada kawanan gadisku: terima kasih telah membantuku menuliskan perasaanku pada setiap lembar di sini. Setiap lembar yang aku tulis dengan perasaan yang berkecamuk dalam diri. Gelora rasa yang aku abadikan lewat tulisan ini adalah perasaanku yang sesungguhnya, yang memang penuh dengan keangkuhan jika aku ungkapkan lewat suara maupun tatap muka. Selebihnya, terima kasih telah menjadikanku percaya diri untuk terus menulis walaupun Iti terus saja bertanya kapan tulisan ini akan lahir (haha). Ini adalah jawaban atas setiap pertanyaan kapan dan kapan tulisan ini akan lahir. Tak tahu lagi apa yang ingin aku tulis, jadi jika kalian membaca ini aku harapkan akan ada banyak tawa yang melebarkan bibir manis milik kalian dengan hal yang sesungguhnya aku tulis dalam kantukku yang terus saja menghantuiku ini.

Terakhir: Selamat Merayakan Natal, Kawanan Gadisku!. Tuhan Yesus Memberkati setiap pergerakan kita di setiap episode kehidupan kita yang baru. Nantikanlah cuplikan-cuplikan dalam scenario Tuhan yang tentu saja menjadikan pengalaman hidup kita menjadi sangat RUPAWAN.

NATAL-KU.

Ambon, 25 Desember 2018.

Pertemuan kita hari ini sama sekali tak terjadi. Jika dibandingkan dengan tahun yang lalu, momen Natalku menjadi ajang bercerita padamu. Bercerita tentang langit yang dipenuhi kembang api, bercerita tentang warna senada yang aku kenakan bersama dengan keluargaku, bercerita tentang menu makanan yang mengenyangkanku di hari Natal dan masih banyak lagi hal yang aku lakukan. Salah satu yang paling mengagumkan adalah ucapan sederhana darimu. Katamu, selamat merayakan Natal. Tetaplah pancarkan cinta dan kasihmu yang membuatku terus jatuh cinta. Terima kasih telah mencurahkan seluruh cinta dan kasih yang membuatku jatuh kepadanya.

Natal kali ini aku isi dengan mengenangmu. Mengenang seorang yang setahun lalu mengandaskan rasa bersalahku pada diri sendiri, seorang yang membuatku melihat jerawatku sebagai hadiah dari Tuhan dan seorang yang membuatku berkali-kali menjenguk diri sendiri yang mulai tersadar bahwa aku sakit karna tak merawat diri ini. Baiklah, kau yang orang teristimewa ketiga setelah keluarga dan kawanan gadisku. Sejak lama kau tak mati dalam hariku. Nomor ponselmu sudah tak terdaftar dalam kontak di ponselku, namun aku tak kuasa memblokir nomor ponselmu. Kau masih terus menyapa melalui pesan singkat. Sesekali aku responi, namun banyak kali aku abaikan. Banyak hal klise diantara kita selama setahun terakhir, dan tepat di momen Natal ini adalah puncak bahwa kau masih ter-rindukan. Sejak dini hari, kau masih saja mengucapkan selamat Natal dengan nada candaan. Katamu, selamat merayakan Natal. Tetaplah di sisiku, selamanya.

Tak ada nada memelas di setiap ucapanmu melalui panggilan suara, bahkan banyak kali aku abaikan dering darimu hanya karna sedang sibuk menonton taburan kembang api yang mewarnai langit kota Ambon. Kau tahu mengapa aku sibuk menatapnya? aku hanya sedang terbawa pada kisah indah kita, di setahun yang lalu. Satu tahun di waktu yang sama, saat kita tengah sibuk; disamping menonton pertunjukan kembang api dari teras rumah masing-masing. Dering kesekian kali darimu, aku terima. Dari seberang, kau menghela napas panjang. Bisa aku rasakan bagaimana kau berusaha membuang waktumu untuk meneponku. Dini hari, kita bercakap dan berjanji bersua. Apa daya?, kita terbeban dengan mengelilingi keluarga masing-masing juga bersilaturahmi dengan para sahabat dan kerabat.

Harapan bersua kita, kandas. Tawa bersama hanya terbaca dari pesan singkat, yang durasinya begitu lama. Semenjak aku sampai di rumah saudariku, ketika mengunjungi banyaknya keluargaku yang bermukim di kota ini. Kita berdua sejak lama memang masih saling menjaga, namun saling melepaskan karna luka yang mengaga ini. Kau paham kan?

Aku tiba di rumah, membersihkan diri lalu sibuk mengenang obrolan kita melalui pesan singkat tadi. Ada beberapa yang terlewati karna kantuk dan kaki yang telah gontai sepanjang hari ini. Setelah selesai membersihkan diri, aku mengambil ponsel yang sejak tadi aku taruh di ranjang. Aku buka pesan kita yang panjang hari ini. Tanpa aku sadari, kau mengucapkan ucapan selamat natal dua kali, dengan muatan yang sama. Ada yang salah denganmu?

Ternyata pesan paling baru masih juga darimu. Katamu, apa harapanmu di Natal tahun ini?. Dengan tegas aku jawab belajar berbaik sangka pada kendali Tuhan. Apapun yang aku alami, ingin sekali aku kasihi segalanya. Pertanyaan yang sama aku tujukan padanya. Jawabnya, aku ingin kau disisiku, selamanya!. Jawaban yang cukup tegas dan singkat dari segala harapan. Kita tertawa akan harapan masing-masing, sebab sesungguhnya kita belum bisa demikian. Aku masih terus belajar untuk berbaik sangka pada kendali Tuhan, pula aku masih terus berlari ketika kau berusaha menangkapku. Lantas bagaimana harapan kita, bisa sebegitu liar?. Tahukah kau, bahwa kita hanya sedang terjebak dalam dunia yang kita kisahkan? Harapanku, masih bisa dan sedang terus aku usahakan. Bagaimana dengan harapanmu?. Kau tahu bahwa harapanmu terlalu sulit, aku masih terus di sisimu. Sayangnya, dengan atau tidaknya aku di sisimu, segala yang kita inginkan dalam hati tenggelam. Aku bukan lagi aku di kisah kita yang dulu. Perbedaan yang begitu nyata sudah menghinggapi kita. Sejak aku di gereja, banyak kali aku melihat orang tersenyum. Aku tahu bahwa senyummu di sana juga sedang merekah, ketika berjabat tangan dengan orang-orang di sekelilingmu ketika di gereja. Iya kan?

Bila Natal adalah jalan awal mengenai pembebasan yang sesungguhnya bagi orang percaya, Natal kali ini pula aku ingin membebaskan diri dari segala jenis keterpaksaan yang membuatku terjebak di sana. Jebakan itu sungguh menyiksa, menyiksa dengan keji dan menghadirkan luka-luka baru yang terus saja menganga. Aku telah berupaya menjadikan segalanya dengan baik, namun berulang kali masih saja sedih dan jebakan itu menghampiri. Sejak tadi malam, ketika aku merenung dan beberapa kali mengaku salah dalam doa; masih saja ada penyangkalan kecil yang aku lakukan. Aku masih menolak mengaku bersalah di hadapan Tuhan. Aku tertawa mendapati diriku segila ini, menolak kejujuran yang sudah sepatutnya aku junjung tinggi ketika mengaku di hadapan Tuhan. Setahun ini, di banyak waktu aku sudah main gila dengan kenyataan-kenyataan yang aku pilih. Banyak kali aku lari ketika tanggung jawab besar harus aku pikul. Aku pukul keberanianku, hingga sang berani itu lebam. Ternyata dia butuh istirahat, lalu apa yang menjadi semangat untuk aku bangkit?. Ada banyak pertolongan yang semesta datangkan atas ijin Tuhan. Mungkin salah satunya adalah kau, ketika kita menolak mendekati hubungan yang dulu sempat dengan kuatnya kita junjung. Kau membuat intensitas diriku menguatkan diri sendiri semakin bertambah; dari situlah aku belajar mengerti bahwa mencintai diri sendiri adalah hal utama sebelum menyayangi dan mencintai orang lain. Sejatinya, aku hanya belum memberi ruang yang cukup untuk menjadikan hatiku sebagai rumah Tuhan. Hatiku masih dicemari kekahawatiran dan peluhku pula adalah kecemaran kekhawatiran. Semesta atas ijin Tuhan telah mengirimmu yang tentu saja dengan perlahan namun pasti, meyakinkanku untuk memberi ruang yang luas bukan hanya cukup, untuk  dijadikan sebagai Rumah Tuhan.

Kau dengan pasti melemaskan kerasnya egoku dan kau yang dengan pasti melemaskan segala yang keras pada tingkah laku-ku. Bahkan masih dengan lembut kau bimbing aku, untuk terus bergaul dengan Tuhan. Sesungguhnya aku memang akrab denganNya, namun aku akui bahwa rasa akrabku denganNya terasa ada sekat yang lebar. Ketika kau bimbing aku, hanya dengan kata-kata bahagiamu rasanya “keakraban”ku denganNya setiap hari semakin menjadi-jadi. Apakah ini yang namanya titipan Tuhan?. Kita masih terus saling menyapa sejak lama, bahkan ketika pilihan tersulit telah kita tempuh. Pilihan yang telah mengandaskan segala harap kita bersama. Namun, sebagai orang yang yakin bahwa apapun yang diskenariokan Tuhan adalah baik, menjadikanmu sebagai orang terdekat dengan posisi yang sudah berubah namun tak bergeser adalah pilihanku.

Ingin aku katakan bahwa baru aku sadari bahwa kau adalah hadiah Natal setiap hari yang Tuhan titipkan dalam hidupku. Terima kasih!