Surat Terima Kasih, Untukmu.

Sajak kemarin yang kau bisikan lembut di lapang terluas, rasanya begitu teduh diiringi angin yang memeluk waktu serta melodi laut yang mengiringi. Sajak sederhana yang sesungguhnya tak mudah aku pahami. Di balik tegasnya dikau, ada sajak yang diam-diam kau bisikan. Di lapang terluas yang ramai itu, kau berbisik hingga aku tertawa. Bukan soal sajak termanis itu, tapi soal bagaimana kau berbisik. Ya aku tahu, selama ini ketika kita berbicang kau selalu menegurku karna cara bicaraku yang selalu kelepasan hingga membuatmu malu. Katamu, itu memalukan. Kadang aku pun merasa, caraku memalukan juga. Tapi tenang, kemarin aku tak memalukan kan?

Sajak termanis yang kemarin kau senandungkan tipis di kuping ini, sudah aku lupa. Soal kesastraan yang membuatku menatap tajam wajahmu, hingga kau tertawa. Sejak kapan kau bisa begitu? Sudah berapa kali aku mengulang pertanyan yang sejak kemarin aku tanyakan padamu di nyata kita bertemu, maupun nyata dalam percakapan di ponsel? Haruskah aku reka-ulang kejadian kemarin? Sepertinya harus, namun terkandaskan karna minus sajak yang kau lantunkan tipis di kupingku. Tak mengapa kan?

img_20180623_1403201320780602.jpg

Kemarin, dengan tiba-tiba kau mengajak bertemu. Kisah kita yang sudah berlalu di waktu yang berlalu sekian jauh, kini hidup lagi dengan nuansa berbeda. Kisah yang dulu lebih dibumbui pertengkaran sekarang lebih minim bahkan sekalipun tak ada. Lantas aku tak mengatakan ini kisah kita, lebih tepatnya pertemuan kita. Sejak kita menghidupkan pertemuan yang dulu mati itu, sekarang kita lebih banyak bercerita soal bagaimana menjadi orang yang lebih baik. Entah itu terbalut jenaka maupun ratap. Harus aku katakan, kau adalah pria tergila yang sekarang sudah menapaki jenjang dewasa yang membuatku keheranan mendengar setiap kata yang melompat dari bibirmu juga melihatmu memperlakukan orang lain dengan sangat santun. Sepertinya kau banyak berbenah ketika kita memilih jalan masing-masing. Iya kan?

Aku dibuat terkejut dengan ajakan bertemu yang tak seperti biasanya. Kau tahu bahwa aku tak suka berlama-lama, hingga kau menentukan tempat kita bertemu yang lebih mudah dijangkau dan tentunya lebih ramai. Kau tahu, aku tak suka kesunyian. Di sana, kau banyak bercerita soal duniamu yang baru, pilihanmu yang baru, aktivitasmu yang lebih baru bahkan segala yang baru termasuk kapan kau mencukur habis hingga kembali memelihara seluruh janggut dan kumis tipis yang membuatmu kelihatan berbeda, ditambah pula kacamata minus yang sudah kau kenakan sejak enam bulan yang lalu. Untung saja, suaramu tak berubah hingga membuatku mengenalmu lebih cepat. Sedang aku? tak ada yang berubah. Sekarang lebih sehat cara berpikirnya, lebih sehat cara bicaranya namun tetap masih menertawai segala yang terjadi padamu.

Pada kesempatan inilah, kau menyempatkan sajak termanis yang aku lupa bagaimana menarasikannya di sini. Sejak kau putuskan untuk membisikannya padaku, aku terkejut hingga menatapmu tajam. Agak berlebihan kan? iya, banyak berlebihannya. Mengingat kau yang dulu selalu irit bicara, namun berbicara sebanyak waktu itu tentu saja tak biasa!. Kau tertawa sejadi-jadinya hingga mengatakan bahwa aku selalu terkesima denganmu (haha). Melihatku tertawa hingga melahirkan ribuan tanya padamu, selalu kau tanggapi dengan mengatakan itu memalukan!. Itu artinya kemarin aku mempermalukanmu?

Kau tertawa sejadi-jadinya. Di balik tawamu yang bahagia, ada rasa haru yang aku rasakan. Kapan kita tertawa sekeras ini? kapan kita berani berjalan bersama? setelah semuanya terkandaskan oleh nyata kita yang dahulu. Sepertinya pikiran kita selaras, kau juga bertanya mengenai pertanyaan yang sama. Rasanya tak perlu lagi kita bersembunyi pada nyata, karna sekarang kita telah bebas dari kisah kita yang sakit kala itu. Soal sajak yang kau bilang, katamu kau membacanya di perpustakaan lalu segera membeli bukunya di toko buku. Walaupun aku dibuat jengkel, karna kau merahasiakan judul bukunya. Dan ternyata kau juga sudah punya banyak post di IG (hhaha) dengan panjangnya keterangan soal patah hati dan menemukan cinta. Siapakah yang mampu merobohkan tembok “persembunyianmu”?

Tak kau jawab. Tatapanmu lurus pada lautan yang ada di hadapan kita. Baiklah, biarlah itu menjadi rahasia terdalammu, sebab aku pun tak ingin mencangkul rahasiamu yang tak tahu kau tanam di mana. Namun lewat tulisan ini, harus aku sampaikan bahwa sejak dulu hingga sekarang kau selalu menakjubkan. Setiap persembunyian bahkan hal yang tak tersembunyi lagi sekarang, selalu berhasil membuatku mengagumimu. Entah ketika kau irit bicara, irit tertawa bahkan lebih banyak bersembunyi. Sekarang kau dengan “sampul” paling baru bahkan punya senjata menaklukan hati lawan jenis, membuatmu kelihatan lebih baik!. Sajak termanis itu membuatku mengerti, betapa sederhananya dirimu dengan seluruh yang tersembunyi padamu. Soal kau yang tenang namun tak setenang kelihatannya, soal kau yang selalu menjadi tempat ternyaman bercerita soal masalah pribadiku dan soal kau yang punya cara pandang paling baru dan ter-anti mainstream yang membuatku ingin segera enyah dari percakapan kita. Entah sejak kapan kau bisa se-menakjubkan sekarang.

Aku tahu, kau selalu menyelipkan waktu tersibukmu untuk membaca lembar demi lembar tulisan di linimasa blog milikku. Kau juga tahu bahwa aku sudah banyak bercerita tentangmu, bahkan mulai menunjukan ketertarikanku pada bunga yang katamu, begitu indah. Entah bagaimana, kemarin bunga itu mendatangi kita berdua. Kau menjemput bunga itu, lalu mengenggamnya hingga menciptakan sajak terkonyolmu hingga aku tertawa kewalahan melihat tingkahmu yang sekarang semakin menunjukan perbedaan tiada tara. Entah berapa banyak sajak yang terlempar dari bibirmu, jika salah satu batu-batu di dekat lautan bisa bercerita pasti dia bisa mengingat dengan lengkap setiap kata termasuk tanda baca yang kau katakan maupun yang kau bisikkan padaku.

Kau memintaku menggenggamnya, lalu memotretnya menggunakan jemariku.

img_20180901_0751511656644487.jpg

Baiklah, kali ini biarkan aku mengatakan sajak yang dari sisiku untukmu, untuk menggambarkan waktu itu:

img_20180901_075112589955623.jpg

Teruntuk, pria berkacamata yang sekarang lebih banyak melawak. Melihat raut wajahmu yang sejak dulu tak berubah, terang saja membuatku kelepasan tertawa. Tertawa melihat bagaimana kau berpura-pura angkuh namun tak bisa angkuh dengan sempurna. Ingin rasanya kuucapkan terima kasih, namun rasanya sudah terlalu usang karna berabu. Kau paham kan maksudku? Itulah sebabnya, aku urung mengucapkan terima kasih padamu, sejak kemarin. Kau sudah berubah begitu banyak, akankah kau pelajari setiap masukan bernada kritikan dariku di kisah kita yang lalu?

Kini, rasanya aku melihat sesuatu yang baru padamu. Matamu yang tak pernah bersembunyi lagi, kisahmu yang bukan menjadi rahasiamu lagi dan sekarang kau lebih yakin dan mantap berbagi seluruh ceritamu padaku. Bukan maksudku membandingkanmu dengan dirimu yang dulu, namun sekarang rasanya kau begitu baru, sebaru-barunya. Memangnya aku kertas ya? katamu menimpali ketika aku sedang berusaha jujur menyatakannya secara langsung kemarin.

Melihatmu yang melibatkanku dalam scenario sastra yang lahir dari bibirmu membuatku tertawa sejadi-jadinya ketika kau dengan tampang terjujur mulai beretorika. Ada apa denganmu? Lagi-lagi aku kembali bertanya. Aku tahu, kau sudah kewalahan dengan pertanyaan yang selalu saja lahir dari diriku.

Soal bunga yang kemarin aku pegang dan sama-sama kita abadikan di ponsel masing-masing, rasanya bunga itu terus mewarnai keberadaan kita. Kemarin pun, kita sama-sama bungkam jika harus terpaksa mengigat bagaimana kita bercakap tentang bunga itu di waktu yang lalu. Yang jelas, bunga itu memang indah pada dasarnya. Tak perlu kita katakan pun, sepertinya ia telah paham bahwa ia menghidupkan pertemuan kita kala itu.

Teruntuk, kau yang kini bersamaku di lapang terluas dengan pribadi terbaru. Tahukah kau, bahwa itu mengagumkan?. Terima kasih, telah mendengar seluruh yang dulu selalu aku katakan padamu. Terima kasih telah menumbangkan egoisnya dirimu. Sejak kemarin, kau terus kutatap karna rasanya kau yang sekarang telah menjawab seluruh permintaanku yang sejak dulu menjadi bianglala perdebatan kita. Terima kasih untuk setiap waktu yang kau sisihkan untuk mendengarkan aku berkata dan terima kasih untuk setiap ucapanku yang tertinggal di ingatanmu.

Kemarin pun tanpa sengaja atau disengajakan (tak tahu juga), kau mengatakan bahwa setelah merasa kehilangan akan lebih mudah belajar bagaimana seseorang yang peduli akan terus menghakimi dengan tujuan positif. Kau kembali berbisik, terima kasih padaku. Walau aku tahu bahwa kau memenuhi ucapan terima kasih padaku, dengan seluruh hal yang dulu aku hakimi tentangmu. (maafkan aku, yang terlalu banyak menuntut 😀 ).

Terakhir, maafkan aku yang rupanya masih menyisakkan kengerian di setiap percakapan kita, entah yang bersifat jenaka maupun yang menghakimi. Terima kasih telah membangun kediaman pertemanan kita. Jika kau berkata setelah merasa kehilangan, akan lebih mudah belajar bagaimana seseorang yang peduli akan terus menghakimi dengan tujuan positif: sedang aku berpikir bahwa setelah kebersamaan yang telah berhenti, lahirlah babak baru yang sesungguhnya. Babak untuk menghentikan harap dan babak menatap nyata-nyata paling baru. Masing-masing kita terluka dan sembuh dengan cara masing-masing. Itulah mengapa, kita bisa saling tertawa ketika melihat perubahan-perubahan pada kita. Terima kasih untukmu, yang tak pernah menghentikan kebersamaan kita.

*Jika kau membaca tulisan ini: terima kasih banyak telah meluangkan waktumu membacanya. Jangan besar kepala jika aku mengatakan banyak terima kasih di sini (haha)*
Iklan

Sajian Asing Dalam Diri.

img_20180909_1844332057445412.jpg

Sejak langit sore kemarin bercahaya lampu jalan, semua tentang yang dulu kembali bersinggah. Jangankan bersinggah, sepertinya semua tentang yang dulu itu telah tinggal. Ah apalagi kali ini yang ingin membuatku bercerita banyak? Kali ini, soal kegelisahan tiada tara. Bukan soal kisah yang tak kunjung selesai, melainkan soal risalah hati yang menggelikan. Soal gelisah yang menyerang percaya diri, soal gelisah yang menjangkiti seluruh rasa kagum pada diri sendiri. Entah ini soal melupakan seluruh rasa yakin pada diri sendiri ataupun soal menghapus rasa kagum pada diri sendiri. Entah bagaimana kupingku terlalu terjangkit oleh omongan orang yang menipiskan perkataan yang layaknya didengar oleh diri sendiri. Entah bagaimana narasi dari orang lain terdengar lebih meyakinkan daripada narasi yang dilahirkan dari diri sendiri. Apakah aku kurang berdialog dengan diri sendiri?

img_20180910_232944395464208.jpg

Aku terasing pada diri sendiri, terasing pada hati sendiri dan terasing pada kemampuan diri. lantas memilih, menapaki terjal yang menikam sendirian, dan semakin terasiing pada diri sendiri. Berulang kali aku berujar ingin mengasihi semuanya, namun terlupakan ketika narasi dari orang lain lebih meyakinkan, setelah aku kalah meyakinkan diri sendiri. Ataukah aku terlalu lengah pada diri sendiri? ataukah aku yang sulit mengendalikan diri sendiri hingga lebih dipermudah dikendalikan oleh orang lain?

Sejak beberapa waktu yang lalu, rasanya aku ingin menjawabnya seorang diri. Aku coba bertanya pada diri sendiri, namun seringkali terabaikan untuk menemukan jawaban. Malah aku lebih asyik menemukan solusi pada orang lain, daripada bagi diriku sendiri. Ya, sejak awal aku paham bahwa aku adalah mahkluk sosial yang bisa saja menemukan solusi dari cara berpikir yang bukan dari sudut pandangku, namun tak seberapa sering ada benarnya. Lebih banyak aku membutuhkan pendapat dari diriku sendiri untuk menempuh pilihan. Sulit juga ya? iya, sungguh sulit di kesempatan yang begitu sederhana. Memergoki diri sendiri yang kadang dibuat sedih atas pilihannya tak lantas mampu menyalahkan diri sendiri. Tak jarang memaki diri, memaki waktu, menyalahkan keadaan. Itulah yang berulang kali terlaksana. Kadang menggelikan, namun lebih banyak mendebarkan. Mendebarkan jiwa, mendebarkan raga bahkan mendebarkan asa yang sejak dulu sulit bergetar. Inilah yang aku katakan di narasi sebelumnya, bahwa tertawa adalah pilihan paling terbaik.

Menertawai omongan orang yang menurutku lebih berharga dari omongan diri sendiri, mendengar yang lain lebih baik daripada mendengarkan diri sendiri bahkan membantu orang lain lebih mudah dari membantu diri sendiri. Akibatnya sakit sendiri, lelah hati sendiri dan menderita sendiri terlampir kekuatan menjalani hari.

img_20180809_23011828916007.jpg

Rasanya ini adalah tulisan ter-lucu di sepanjang aku bercerita. Entah mengapa di Pagi yang mendung berasa kelabu, aku ingin menulis tentang ini. Belakangan, mencekoki diri dengan menulis refleksi diri rasanya ada segerombol awan pekat yang tiba-tiba terlepas di udara hingga menyebabkan hujan (haha). Sejak kemarin, rasanya hujan telah menemaniku menulis tentang refleksi diri. Terima kasih, sudah membantuku menyatakan kesalahan atas diri sendiri.

Tengoklah Aku Jika Kau Sedih dan Putus Asa

Tertumpah sudah rasa bahagia yang sejak dulu bersemayam dalam ingatan. Rasa bahagia yang dulu dengan leluasa hadir, kini lebih hati-hati untuk tinggal. Sepertinya ia sudah tahu, bagaimana rasa bahagia itu dalam sekejap membahagiakan, namun dalam sekejap pula menumbangkan. Baiklah, ini bukan soal pengalaman pribadi melainkan soal berbaik sangka pada segalanya. Menapaki lembar demi lembar kehidupan, membawaku pada dua puluh tiga tahun belajar mengerti maksud Tuhan. Tak mudah memang untuk belajar ikhlas, maupun belajar berbaik sangka seperti yang selalu aku katakan di sini, di lembar-lembar yang lalu dalam tulisan ini.

img_20180911_0100511616752390.jpg

Lembar demi lembar kehidupan itu mengantarkanku pada satu pengertian bahwa berserah pada Tuhan adalah cara paling positif mengakrabi nyata yang sekarang sudah tak berdrama lagi. Bila dulu, rasanya ingin menangis jika kecewa, kini rasanya aku hanya ingin menertawakan segalanya sambil berpikir bahwa baiklah ini adalah hal yang biasa yang tak melebihi kemampuan, karnanya simpan air matamu untuk hal lebih manusiawi.  Bukan maksudku mengatakan bahwa nyata yang sekarang tak manusiawi, namun semakin banyak aku mengerti soal berbaik sangka, entah mengapa air mata ini lebih irit jatuh membasahi pipi. Kalaupun ia jatuh, pada saat yang benar-benar dibutuhkan. Harus aku ucapkan terima kasih padanya, yang sekarang sudah tidak mempermainkanku lagi. terima kasih!

Soal seluruh nyata yang dulu aku angkuhi, nyatanya telah memelukku dengan erat. Telah menekanku dengan kuat. Telah menembakku dengan seksama. Soal nyata yang memelukku, sebelumnya aku minta maaf sebab berlari terbirit-birit ketika engkau dekati, namun apa daya bila kau dan atas izin semesta menyatakan adalah milikku? Aku tak bisa berbuat banyak, selain berbalik memeluknya hingga kita saling berpelukan. Nyata-nyata itu jika aku ingat kembali, kadang menggoresi kepercayaan diri ini. Menggoresi bahkan melahirkan kelam demi kelam baru yang mengaga. Kadang aku bisa lepas kendali karna nyata terlalu bertindak lebih jauh dalam semestaku.

img_20180911_010029712457896.jpg

Semestaku dibantu nyata-nyata itu melahirkan ribuan lembar-demi lembar di sini. Hanya di sini, aku bisa menumpahkan segala nyata yang sudah tak berdrama itu. Soal nyata yang menyebabkan terluka, nyata yang kadang sangat cepat menutup luka, nyata yang menyembuhkan, serta pula nyata yang kembali memeluk masa lalu. Bagaimana mungkin semua nyata itu bisa subur? Pikirku, aku yang mengendalikan diriku atas ijin Tuhan dengan rohNya yang diam dalam hatiku dan membantuku bertindak. Nyatanya, rohNya itu masih aku angkuhi. Masih aku jauhi, tak aku akrabkan dengan nyataku yang kadang membelok di jalan lurus. Setelah semua nyata itu telah menunjukan taringnya yang telah melukai diriku berjuta-juta kali, barulah aku mengerti bahwa segalanya adalah baik!

img_20180911_0101011814952156.jpg

Bila aku tenggelam bersama nyata-nyata yang menyatakan kesakitkan itu, tak mungkin aku bisa menulis sebanyak sekarang. Bila aku menangisi nyata itu, tak mungkin aku bisa berbicara dengan leluasa sambil bercerita bagaimana dulu aku kesakitan dibuatnya. Kini, berbenah sambil mengasihi segala nyata yang menyakiti itu adalah pilihan terbaik. Sembari menertawai segala responku yang dahulu, sembari menghitung banyak kali aku merutuk hati dan hari, sembari tersedu-sedu kewalahan bahkan sesunggukan serta sembab karna hilang harap.

img_20180911_0101321341844069.jpg

Kini, tak tersisa lagi nyata yang sudah kesekian kali menyatakan skenarionya. Kini, dengan penuh rasa percaya atas diri sendiri, lebih berani melangkah sambil merapal doa disertai dentuman ayat suci yang lebih menguatkan. Kini, tak mau lagi meregang bahagia karna masa yang lalu. Kini, menjadikan semuanya sebagai kawan terkarib adalah pilihan untuk terus berbaik sangka pada kendali Tuhan.

Terakhir, untuk diriku yang kadang kewalahan dan memilih mengorbankan dirinya sendiri: ingatlah, bahwa tak ada yang lebih berharga selain mengasihi semua yang terjadi padamu. Aku ingatkan, menangislah bila kau perlu. Tertawalah sebanyak mungkin dalam waktumu, serta kendalikanlah rasamu agar bahagia terus menanti dan bahagia adalah bagianmu. Tenang saja, Tuhan Yesus tetap menyertai tanpa kau sadari. Jangan angkuh pada rohNya, melainkan mintalah untuk terus tinggal dan terus tinggal. Untuk segala kisahmu yang tak beres, tenanglah. Ada penawar yang akan kau dapati, asal jangan menyuramkan diri sendiri.

—darimu, yang kadang bisa sebijak ini—-

Melukiskan serta Menarasikan Terik Langit, Petang Kemarin.

img_20180127_232845457698760.jpg

Ketika terik menikam hingga kedalaman atap rumah, aku telah pasrah menerima serangan kuatnya sengat matahari yang tak kunjung reda. Setelah semakin lelah dan tak berdaya menerima bertubi-tubi serangan yang datang menghajar, rasanya aku ingin mendamaikan diri dengan sang pelaku yang tak bukan adalah terik. “Halo terik, tak bisakah kita berdamai?” Kataku pelan dalam hati.

Aku dituntun oleh terik untuk melihat bagaimana megahnya langit di petang yang telah memasuki pukul 4. Baiklah harus aku katakan bahwa langit kota Ambon rasanya lebih dekat dengan matahari hingga aku merasakan panas yang tiada taranya (haha). Setelah aku dituntun keluar ruangan untuk menyaksikan megahnya matahari, kepalaku rasanya memikul sebuah batu besar yang membuatku tak lantas berjalan selain hanya meneduhkan kepala pada tiris-tiris gedung. Tak lama terik menyengatku hingga aku melihat megahnya langit yang sebenarnya. Baiklah, langit petang ini tengah begitu terik namun tak sedikitpun menghilangkan kesan eksotisnya langit yang sebiru ceriaku!.

img_20180826_1622301641123655.jpg

Aku baru sadar bahwa terik kali ini telah memastikan bahwa aku tak boleh bersedih hati untuk terik yang terus menghantam. Ralat, maksudku bukan menghantam. Maksudku, terik sedang melaksanakan tugasnya untuk mengejarku yang belum mampu menyadari caranya bekerja untuk memegahkan langit yang sejak dahulu selalu aku kagumi.

img_20180826_162147376041791.jpg

Warna gedung gereja yang sudah kecoklatan menambah kesan mendalam. Gedung gereja yang ramai tiap hari minggu memperindah langit petang ini. Ya, sedari tadi aku sedang berada di gereja namun karna tak kuat menahan panasnya ruangan aku menepi pada halaman kosong di samping gereja. Sekitar sejam aku berdiri sendiri sambil sesekali mengecek ponsel berharap ada sebuah pesan yang masuk untuk memecahkan keheningan petang itu dalam sendiriku. Aku semakin lupa bahwa sejak tadi aku tak sendiri, ada angin yang memelukku, ada suara pohon yang bergesekan bahkan ada suara merdunya ombak laut yang sedang beraktifitas di seberang jalan. Aku menengok langit lalu berusaha mengabadikan suasana sore tadi yang menyenangkan.

img_20180826_162206665324483.jpg

Teringatku akan sosok seorang yang dulu selalu bersenandung soal langit. Kita sama-sama menggemari langit malam, bahkan tak jarang aku pernah menulis mengenai langit malam ketika aku bahagia karnanya. Sekarang telah aku putuskan mencintai segala sesuatu yang aku dapati dari dirinya. Sesungguhnya, tak ada seorang pun yang benci terhadap langit. Semua insan di dunia ini begitu mengaguminya. Dulu, aku pun begitu. Mengagumi langit entah di siang ataupun malam. Namun, tak ada narasi apapun yang aku ciptakan untuk menunjukan kekagumanku kepadanya. Hingga akhirnya, aku belajar untuk mencurahkan segala kekaguman, keluh kesahku, suara hatiku yang tak sempat terucap di bibir.

Aku belajar mengangumi langit dengan begitu luasnya, karna aku sadar langit telah memayungiku selama ini hingga memuluskan segala pertemuanku dengannya, di waktu yang lalu.

img_20180811_181544583620632.jpg

Kaki yang dulu selalu beriringan dengannya pun, kini juga muncul dalam setiap cerita yang aku ciptakan. Kaki yang dahulu selalu lelah diajaknya mengintari setiap sudut kota, kini sudah kembali pada mulanya yaitu terasa lelah untuk berjalan. Yang diinginkan kaki ini, hanya memeluk bantal bahkan mendarat di kursi sambil membantu mata merilekskan tubuh untuk membaca maupun sekedar mendengar musik.

img_20180131_1718501186640426.jpg

Bahkan sesekali kaki yang sudah berdebu seringkali merindukan perjalanan yang dulu terus dikutuki namun terindukan.
img_20180809_225829384388972.jpg

Ah, apalagi selanjutnya mengenai dia yang mengajariku banyak hal?. Sesungguhnya jika aku sedang bosan menanggapi waktu, aku akan membaca satu demi satu dari puluhan narasi yang aku buat. Di sana, aku rasa bahwa ada berjuta-juta hingga bermilyar kalimatku untuknya. Entah soal mengaguminya, soal memarahinya maupun soal mendeskripsikan siapa dirinya. Jika aku baca kembali, mengapa setiap ceritaku hanya bermuara padanya? apakah aku tak bisa melupakannya?

Bukan tak bisa melupakannya, tapi telah banyak cerita yang dikisahkannya untukku hingga aku ikut terbawa pada setiap kisah yang kita dirikan bahkan ciptakan bersama. Sekarang dia telah bahagia, dan aku pun telah bahagia. Karnanya, setiap tulisan bahkan narasi yang melibatkannya adalah ungkapan terima kasih yang tak terucap dengan kata terima kasih!.

Kala itu, aku (kita)…

Di malam yang pekat, tak ada yang menerangi. Di bawah sinar rembulan, terpayunglah pantai di malam hari. Memutuskan untuk memutuskan pikiran disana, membuatku tak banyak lagi bertanya-tanya bagaimana keadaan pantai di malam hari, selain hanya berpikir bahwa akan ada kegelapan pekat yang terekam. Suasana pantai tadi malam, dipadati dengan aktifitas nelayan yang senyap akan suaranya. Yang terdengar hanyalah jejak kaki manusia diiringi dengan hempasan ombak yang memukul karang. Aku pun merasakan bagaimana aura air laut menempel pada kulit yang membuatku sudah betah karnanya. Belum lagi angin malam yang memelukku erat, semalam. Kedinginan akan angin malam yang terus saja memelukku sejak aku tiba di sana, hingga aku beranjak di sana.

img_20180822_213659705781723.jpg

Semalam, bulan memayungi langit dengan indahnya. Tak sedikitpun ia melukai malam yang gelap dengan sengatnya kegelapan. Malah sebaliknya, ia terangi kegelapan dari kejauhan. Mana lagi yang tak indah soalnya?

Semalam aku tatap hingga memutuskan untuk berjalan mengelilingi pesisir pantai, berharap ada apapun yang bisa diajak bercerita. Perlahan air laut menyapa kakiku karna dihantarkan ombak. Dingin, ya hanya dingin yang aku rasakan.

img_20180822_2129152053110188.jpg     img_20180822_2129301203456556.jpg

Aku putuskan untuk menepi jauh dari pesisir pantai hingga mengambil ponsel untuk memulai obrolan di sana dengan seorang kawan. Tak banyak yang kami ceritakan di sana, di obrolan via ponsel selain hanya mengirim potret apa yang sedang kami lakukan dan apa yang menyibukkan malam kami yang berbeda. Aku sibuk dengan bepergian bersama teman-temanku, sedang dia yang tengah sibuk menyiapkan masa depannya di suasana yang berbeda.

Bergetarnya ponsel mengantarkanku pada sebuah kisah lama yang sudah aku putuskan untuk mematikannya. Kawanku, tahu persis bagaimana aku menyembuhkan diri sendiri hingga akhrinya terbuka soal itu kepadanya. Aku tersentak seketika ketika dia mengirim sebuah tangkapan layar akan kirimanku di linimasa IG.

screenshot_20180823_1715262117666750.jpg

Itu kutipan yang aku ciptakan sendiri ketika aku sedang berbahagia di kisah yang lalu itu. Kawanku itu memastikan untuk tak boleh aku pajang kiriman itu pada linimasa IGku. Aku setuju ketika membaca pesannya di detik pertama, dengan anggukan kecil pada diri sendiri. Namun entah bagaimana, rasanya aku begitu kaku untuk menghapusnya. Bukan soal potret matahari terbenam, melainkan waktu serta rangkaian kata yang tercipta ketika aku bersamanya, dahulu.

Aku putuskan untuk tak menghapus sedikitpun tentang apapun yang terekam soalnya, walau kontaknya sudah aku hapus sejak beberapa bulan yang lalu dan menepi dari obrolan bahkan dering darinya. Hanya itu caraku untuk menepi darinya, tapi segala sesuatu yang dulu selalu didukungnya akan segala kegemaranku masih terbaring sehat di ponsel bahkan di linimasa IG. Segala yang dikorbankannya dahulu ketika kita masih bersama membuatku enggan menghapus jejaknya hanya di ponsel juga linimasa IG. Bukan dia satu-satunya, tapi dia yang mendorongku hingga seperti sekarang ketika aku sudah terkalahkan oleh diri sendiri. Maksudku, ketika aku ingin menyerah ada seseorang yang akan berbicara lembut namun terbalut narasi yang menikam kalbu yang membuatku urung menghentikan langkah. Dia juga adalah orang yang terus mendorongku menciptakan ratusan kalimat tentang apapun yang aku rasakan. Itulah mengapa, aku tak ingin menghapus apapun yang sudah tercipta serta yang teralamatkan kepadanya. Ah, aku kembali bernostalgia kembali padahal sebelumnya aku sudah berjanji untuk berhenti menulis tentangnya. Baiklah, biarkan aku membereskan segalanya sekarang. Tulisan ini bukan untuk bernostalgia tentangnya, namun tulisan ini hanyalah mengungkapkan kebaikannya yang berjasa membangkitkan rasa percaya terhadap diriku sendiri dan apapun yang telah aku ciptakan ketika bersama maupun tak bersama dengannya.

Aku duduk sambil meremas sebuah kerikil kecil yang sejak tadi aku pegang ketika aku berdialog dengan pikiranku sendiri.

img_20180822_230213365702945.jpg         img_20180822_2302281319599430.jpg

Bagaimana mungkin segala yang aku cintai ini bisa menghapus seluruh yang dulu tentangnya? Sedang dia adalah orang yang hingga sekarang adalah pembaca setia dari segala yang tercipta dari kedua tanganku. Soal yang ini, semoga dia sibuk sesibuk-sibuknya hingga terlupakan.

Entah ini kerikil ataupun batu kecil yang terus aku pegang ketika api unggun menerangi gelapku dan menghangatkan tubuh yang terus dipeluk oleh angin malam yang mendinginkan,

img_20180822_2138021008898547.jpgsegala yang berbau lautan akan mengingatkanku padanya. Walau dengan berani aku katakan, segala tentangnya sudah mati. Dia yang dulu selalu menyematkan laut di setiap percakapan kami serta potret laut yang senantiasa disertakannya.  Aku kembali membuka kiriman gambar dari kawanku yang sejak tadi tak aku balas. Dia bertanya, ada apa? Sama sekali tak aku balas lagi.

Aku baca dengan teliti tulisan kala itu, Ketika lautan mengirim sejumlah rasa yang terbawa bersama ombak. Waktu itu kau semakin gelisah, sedang aku berbahagia menerima titipan rasamu pada ombak. Percayalah, sudah aku terima. Tulisan ini kembali mengingatkanku akan nyanyian rindu kita terdahulu.

Kepada yang terasing dan tak bernama

Pagi ini aku susuri jalanan sempit di tempat terasing. Tak ada rumah warga, yang ada hanyalah bekas tempat tinggal para biarawati beserta sebuah Gereja Katholik yang aku pun tak tahu namanya. Kira-kira pukul enam pagi, orang berdatangan sembari lonceng gereja berbunyi tanda memanggil umat. Lorong kecil di depan pagar, dipenuhi tanaman hijau menawan. Tak hanya tanaman indah, ada juga rerumputan yang menambah kesan ke”asri”an tempat yang kami tempati kurang lebih dua hari itu. Bertambah dengan sebuah selokan yang kedalamannya kurang lebih dua meter, menggenangi air yang sejak semalam mengiring malam kami. Entah darimana air itu datang, namun melihatnya beserta arusnya ada rasa kagum yang lahir dari benakku.

img_20180812_0652461676902105.jpg

Kupetik sebuah tanaman rumput yang sejak kecil sudah aku kagumi. Sesungguhnya, tak banyak aku mengaguminya selain selalu mencabut atau mengenyahkannya karna ditugaskan oleh ibu. Namun tugas mengenyahkannya mengantarkanku pada suatu rasa kagum akan sederhanya rumput itu. Setelah beranjak dewasa, aku lupa akan kekagumanku padanya sebab tak pernah lagi berjumpa dengannya.

Entah bagaimana, aku bertemu kembali dengan rumput itu karna perkenalanku dengan seseorang. Aku bukan pengagum rumput itu ketika aku bertemu dan sempat saling mengisi waktu. Dia tahu bahwa aku menyukai sesuatu yang sederhana, tanpa tahu bahwa bunga yang begitu disukainya adalah juga rumput yang dulu aku kagumi.  Kami sempat bercerita soal kekaguman masing-masing hingga akhirnya aku tahu bagaimana dia bisa menyukai rumput tak bernama itu.

Sekarang kami telah menatap dan menghirup angin yang berbeda dengan suasana yang berbeda. Segala cara yang kita tempuh untuk saling melupakan, telah meluap-luap dalam ingatan. Tak ada lagi obrolan panjang, selain hanya mengucapkan selamat ulang tahun pada beberapa hari yang lalu. Sudah bisa menepi rasa sedih masing-masing dengan saling mendoakan untuk saling bahagia dengan jalan ceritanya masing-masing.

img_20180812_065123565789864.jpg

Ketika aku ingin menyapa pagiku, rumput itu tergeletak dan subur di tepi jalan. Aku petik lalu menatapnya lama. Tak banyak kata yang bisa aku katakan pada kedua orang yang bersamaku saat itu, selain hanya menatap rumput yang saat ini ada dalam genggamanku. Rumput yang dulu selalu mengiringi cerita lucu maupun tragis, di waktu yang lalu. Tentu saja, aku teringat padanya. teringat akan sosok yang menghidupkan kembali memori masa kecil yang tanpa sengaja lenyap, lalu kembali hidup dan mungkin akan abadi. Rasanya ingin aku potret lalu segera mengirim padanya, namun terhalang ketika namaku diteriaku. Syukurlah, kali ini semesta campur tangan untuk mengutuki rencanaku tadi.

img_20180812_0651312100240634.jpg

 Teruntuk rumput “tak bernama” yang dulu menghiasi percakapan (kami).

Selamat Pagi, kepadamu. Semoga kau terus bertumbuh dengan subur serta kuat terhadap ancaman. Semoga kau merumput ke benua seberang lalu menjalari keindahan yang memang sudah istimewa di sana. Maafkan aku yang melukai dirimu pagi ini, dengan memetik bungamu yang artinya melepaskan kepalamu dari tubuhmu. Bukan maksudku melukaimu, tapi kau adalah bagian dari kisah lamaku yang usianya belum menahun. Kau tahu kan, bagaimana rasanya?.

Kedua kali; teruntuk rumput “tak bernama”. Sampaikan pada keluargamu yang sudah tumbuh subur dan menyebar di benua berbeda, sapalah paginya. Dia yang begitu mencintaimu. Aku tak tahu, apakah kau telah menampakkan dirimu padanya sama sepertiku pagi ini atau tidak?

Sapalah paginya, hanya untuk membuatnya merasa dikenal olehmu. Maafkan aku karna menyuruhmu di pagi yang masih buta ini. Sebab aku rasa, pagi ini kau telah menyapaku lebih dulu. Terima kasih, teruntuk yang asing dan rumput yang “tak bernama”.

Ceritaku pada Subuh.

Pukul Tiga Subuh.

img_20180811_202102578177129.jpg

Aku terbangun di subuh yang merekah. Kupejamkan kembali, mata yang sejak semalam sulit menyenyakkan tidur. Tubuh yang terbaring dan terkulai lemas tak berdaya sebab bersedih sejak kemarin, rasanya enggan bangkit dan mengakrabi hari baru, di hari Minggu. Sejak Sabtu abu-abu kemarin, segalanya masih haru. Haru yang sejak kemarin tertanam hingga berakar dalam ingatan. Cermin yang bisa aku gapai hanya dengan empat hingga enam langkah, rasanya begitu jauh untuk menggapainya. Rambut yang terurai di atas bantal, rasanya sudah tak ingin dirapikan ketika keringat yang mulai menghadiri kening. Keadaan tak berdaya ini, masih terus menghantui hingga rasanya aku ingin membeli racun untuk membunuh kesedihan. Sayangnya, racun itu tak terjual dimana pun. Aku putuskan menciptakan racun pembunuh kesedihan itu.

img_20180811_2021451922665767.jpg

Aku membuka mataku lebar-lebar, lalu beranjak dari ranjang. Di ranjang itu, aku tinggalkan segala keraguan, segala sedih yang aku upayakan dengan sepenuh hati di sana. Aku buka kain jendela yang kusebut gorden, sambil berharap matahari sudah terbit di pukul tiga subuh sebagai hadiah patah hati yang dihadiahkan Tuhan padaku, di Minggu pagi. Aku salah, sebab pukul tiga subuh masih diterangi dengan lampu jalan dan angin. Tak ada matahari, sebab saatnya matahari terbit masih di beberapa jam mendatang. Mengapa aku bisa berharap segila itu?

Aku duduk di kursi sambil menatap gelapnya subuh, yang sebentar lagi akan merdu dengan nyanyian ayam berkokok, suara ibadah dari masjid, maupun suara jejak kaki yang melintasi jalanan maupun suara bisikan kecil para penikmat jalan.

Aku salah, tak ada yang bisa aku tinggalkan apalagi kesedihan itu di ranjangku. Tak bisa, kesedihan itu menempel di ingatan hingga terbawa kemana saja aku pergi. Aku beranjak dari kursi dan melangkah enam langkah pelan menghadap cermin.

img_20180812_070830130792097.jpgAku jepit rambut yang sejak sejam lalu berantakan. Aku tatap wajah yang mulai tak berekspresi selain menatap diri di cermin. Aku hitung banyaknya jerawat yang hadir karna tidur yang tak sehat beberapa waktu terakhir. Aku tatap mataku dalam-dalam di cermin, sambil menyadari kesedihanku pun tak bisa aku sembunyikan untuk diri sendiri. Rasanya aku ingin menciptakan skenarioku sendiri dengan mengubur dalam-dalam sedih biadap ini, yang aku pun sendiri tak ingin bahkan tak akan mengenalinya. Sekali lagi aku salah, tak semudah itu nyatanya.

img_20180812_0705591246834434.jpg

Rambut yang aku ikat tak seperti biasanya meninggalkan jejak di tekstur rambutku. Langkah yang tadi pelan, kini lebih cepat. Aku kembali ke kursi sambil menatap gelapnya subuh yang sedang aku akrabi sekarang. Rasanya aku ingin bercerita kepadanya, kepada subuh namun urung. Aku ingin kembali berbaring sambil mengundang seluruh kantuk lalu tenggelam di dalamnya. Kesedihan ini rasanya seperti gurun yang gersang. Semakin aku bersedih maka semakin luas gurun yang sudah aku sematkan dalam ingatanku. Hingga aku putuskan untuk mengingat kembali nyata yang dulu dirancang indah namun kini telah berubah menjadi sedih.

Di waktu yang lalu, ada nyanyian merdu tentang kasih kita. Di waktu yang lalu nyata kita terancang dengan indah. Segala deskripsi indah tentang nyata kita sudah kita bincangkan hingga segalanya berirama. Ada harmoni terindah yang telah kita ciptakan hingga nyanyian itu begitu merdu, di setiap percakapan yang tak pernah putus walaupun pertemuan yang tak sesering mungkin. Kini, segalanya sudah begitu asing. Kita yang terasing. Nyata serta nyanyian kasih kita yang dulu itu, bukan lagi berubah menjadi sejarah maupun kenangan. Urung segalanya, bila kita sebutkan itu adalah sejarah maupun kenangan. Sebab kita sudah saling menyakiti dengan hanya menjadikannya kenangan maupun sejarah.

img_20180812_0709302094132715.jpg

Lebih tepat aku menyebutnya kisah tersedih tentang kita. Ada yang mengganjal dengan keberadaan kita. Setelah segalanya sudah asing diantara kita, persamaan kita adalah pasrah. Aku pasrah pada campur tangan Sang Semesta sambil terus membingkai kisah baruku nanti. Sedang kau, pasrah pada segala nyata yang katamu membuatmu terluka. Aku menutup percakapan paling terakhir diantara kita dengan berkata luka itu akan mengantarkanmu pada kenyataan terbaru yang membahagiakan. Kau pantas bahagia, dengan pasrahmu yang aku tahu begitu teduh. Pasrahmu yang membuatku mengenal bagaimana kita membelok pada nyata kita yang terdahulu.

Ah, aku kembali teringat akan caraku mengakhiri kisah ini. Jarum jam menunjuk pada pukul enam subuh ditandai dengan mampirnya matahari yang sama-samar sudah menerangi. Aku enggan membuka gorden itu. Sejak itu aku putuskan untuk meninggalkan segalanya pada subuh, termasuk kisah ini yang aku kisahkan sekarang.

img_20180812_0706562110761653.jpg

Subuh tadi, baru aku sadari segalanya sudah asing. Nyata kita yang tak seirama bahka kasih kita yang sudah tak bernyanyi lagi. Kini, nyata maupun nyanyian kasih kita sudah tak merdu semerdu kala itu. ~masih segar di ingatanku, nyata serta kasih kita yang merdu itu~. Teruntukmu, selamat berbahagia.