Cerita Awet Kita, Sepanjang Hari

Selamat Sore, teruntuk kawan bercerita. Apa yang terjadi di harimu? akankah ada jutaan cerita yang mengisahkanmu? Aku yakin, pasti tak ada. Hari ini, aku bersama kaum gadisku bertemu. Kami menyaksikan hari bahagia seorang kawanku, yang sudah menyandang gelar baru semenjak hari ini di pukul 01.20pm siang tadi. Bagaimana denganmu? Aku tahu, pasti kau sibuk mendeskripsikan tempat-tempat wisata baru. Wisata indah, wisata yang menyimpan sejuta pesona alam bahkan siapapun yang ada bersamanya. Aku tahu, setiap hari kau akan mendeskripsikan hal yang sama berulang kali padaku.

Hari ini aku tak sempat membalas rentetan pesanmu yang menanyakan keberadaanku, aku hanya memberikan keterangan bahwa aku sedang berkumpul dengan teman-temanku. Kau juga sibuk bertanya apakah aku tiba di kampus dengan selamat? Apakah aku sudah bertemu dengan mereka? apakah aku menyiapkan kejutan seperti apa? Setelah ini pasti akan ada banyak foto yang termuat di whatsappku. Begitulah yang menjadi pertanyaanmu yang membuatku senyum sendiri menerima banyaknya pertanyaan yang belum sempat terjawab. Apalagi ketika aku salah mengirimkan voice note karna aku tak fokus membalas pesan temanku, kau hanya membalas dengan rekaman suara tawamu yang khas sambil menunjukan potret dirimu yang menunjukan wajah kebingungan yang terlalu dipaksakan. Karna aku kewalahan menunggu temanku hingga menyebabkan bad mood berkepanjangan, aku tak sempat membalas pesanmu. Kau lalu bertanya apakah aku sibuk? Sebenarnya bukan sibuk, hanya tak ingin menjawab pertanyaan dari siapapun. Aku memang orang yang moody-an sehingga pasti kau pula akan terkena imbasnya.

Setelah aku mampu meredakan bad mood dengan menumpahkan seluruh amarah dan kekesalan pada tujuannya, aku menjawab satu persatu pertanyaanmu. Kau masih tetap disana, menantikan jawabanku dan sudah tentu kau tahu bahwa aku sedang tidak dalam emosi yang stabil, hingga kau biarkan saja dan tak ingin bertanya. Kau hanya bertanya, kapan pulang?. Aku sudah tak mampu membalasnya lagi, sebab kesibukan berfoto hari ini yang memang adalah momen langka untuk berkumpul. Sekalian berpotret bersama, untuk mengabadikan momen menyenangkan ketika berkumpul hingga sesaat melupakanmu. Kau juga masih menanti, setelah aku kembali lalu pergi lagi. Aku kembali hanya dengan menyatakan, aku akan kembali, maaf ya. Sedang mengobrol di sini. Nanti aku kabari, kalo sudah selesai ya!. Kamu hati-hati, Tuhan Berkati. Kau merayuku untuk mengobrol di video pendek berdurasi dua menit sebelum aku menutup obrolan kita, tapi aku tolak karna kesibukan ini lalu segera menutup obrolan kita karna tak ingin melewatkan cerita bersama kaum gadisku. Kau membalas dengan mengirimiku sebuah seruan seperti sebuah lagu. Isinya, take ur time, I’m waiting. Kau tahu bahwa aku akan kembali dalam waktu yang lama dan obrolan yang mungkin akan singkat, tapi aku punya banyak cerita. Setelah aku kembali, kau juga masih menunggu aku kembali. Jika harus menuturkan seberapa sabar kau menunggu, bukan baru hari ini kau buktikan seluruh perkataanmu. Caramu memperlakukanku yang semena-mena pergi lalu kembali, membuatku merasa bahwa mengenalmu adalah suatu keuntungan ketika berkali-kali kau menunjukan kepedulianmu. Aku bahkan selalu bertanya-tanya bahwa kau sudah tentu sibuk dengan duniamu, tapi kau bilang bahwa kau handal dalam manajemen waktu. Baiklah, kali ini kau benar.

Hari ini kau memaksaku bercerita tentang hari ini, namun aku terlalu letih karna semua momen adalah berharga di hari ini hingga tak mampu aku ungkapkan semuanya. Kau hanya tertawa lalu berkata, aku hanya ingin menatap wajahmu yang bercerita tiada henti. Entah bagaimana, setiap pernyataanmu selalu menjadi lelucon bagiku. Karnanya tawa selalu menemani percakapan kita yang tak jelas durasinya. Kau bercerita hari ini soal keterlambatanmu memberi kabar padaku, hingga aku marah. Sebenarnya aku tak marah, aku hanya kelelahan secara fisik hingga memilih beristirahat. Dan jika aku lama membalas pesanmu, sudah tentu pertanyaan paling wajib darimu yaitu apa kau marah?. Sebenarnya semakin aku mengenalmu, banyak hal yang aku pelajari darimu. Katamu, apapun yang kita ceritakan akan menunjukan setiap perasaan kita. Di situlah kita bisa menilai seseorang yang begitu peduli atau tak peduli atas segala peristiwa. Karnanya, aku tak ingin berlelah menjelaskan padamu. Biarlah kau menerka sendiri. Aku juga demikian, tak ingin bertanya atau berusaha menemukan penjelasan darimu. Bagiku, jika sudah waktunya kau pasti akan memberikan panjangnya penjelasan mengenai perubahan sikapmu. Hari ini adalah untuk kesekian kalinya sejak perkenalan dan kedekatan kita terjalin, kau mampu menantikan aku di tengah kesibukanmu yang meroket. Kesibukanmu sudah menjadi kembang api yang melayang diudara, namun ampasnya tak menghilang karna meninggalkan jejak di tempat tak terduga. Ketika kau begitu sibuk, kau menghilang beberapa saat lalu kembali di jam yang tak menentu.

Aku tuliskan semua ini, hanya karna permintaanmu. Kau meminta untuk aku tak pernah berhenti menanggapimu, kau meminta aku tak pernah berhenti mengabarimu, kau memintaku tak pernah berhenti berkata jujur soalmu, kau memintaku untuk ketika marah boleh mencacimu asalkan jangan pergi apalagi ketika kau sedang menungguku (adalah permintaan terkonyol darimu!), kau memintaku untuk terus bersahabat denganmu jika (……….. kau isi sendiri saja) dan kau memintaku untuk saling membuka kejadian paling memalukan diantara kita. Apa kau tahu bahwa aku tertawa ketika menuliskan ini mengingat semua ekspresi wajahmu yang terekam di mataku. Menemukanmu ketika suasana asing menyelimuti cerita kita, tak pernah terpikir bahwa kedekatan kita bisa awet seperti sekarang. Katamu sekarang, kita berdua sudah menunjukan sikap paling sebenarnya. Aku yang cepat kesal walaupun itu hanya candaan dan kau si perasa yang sangat tinggi kadarnya. Setiap permintaan-permintaanmu yang sejatinya belum mampu aku sanggupi, selalu menjadi perbincangan yang serius darimu. Aku tak pernah bisa berjanji tuan, aku hanya takut semuanya tak tertepati.

Aku hanya bisa berjanji terus di sisimu, untuk bersamamu mengalahkan waktu yang selama ini kita kejar dan aku berjanji akan terus mengelilingi dunia bersamamu di setiap percakapan kita. Lewat tulisan ini aku kirimkan terima kasih padamu, yang sejauh ini selalu membuatku memiliki alasan untuk berbenah, yang sejauh ini selalu menyisipkan keseriusan di setiap candaanmu, yang sejauh ini menjadi teman paling nyama bercerita tentang apapun. Terima kasih banyak!.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s