Mengisahkanmu,.

Memasuki minggu terakhir bulan April, kembali lagi kukenang caramu memperlakukanku. Di setiap kepura-puraanmu tersimpan sejumlah kejujuran yang sedang kau tampilkan. Di setiap candaanmu ada ungkapan sayang yang bertubi-tubi kau katakan. Di setiap ungkapan kekesalanmu, ada rasa kepedulian yang sangat membara. Di setiap ceritamu ada rasa ingin berbagi yang kau tunjukan padaku. Di setiap keseriusanmu terselip berbagai rasa yang bercampur aduk yang sedang ingin kau perlihatkan padaku. Bermula dari perkawanan yang tak disengajakan, kau datangkan sejumlah kenyamanan yang sudah aku raih darimu. Kau memasuki hariku yang tak menentu suasananya dan memiliki segudang penawar untuk setiap rasa buruk maupun baik di hariku. Kita berdua sama-sama orang yang paling kaku untuk berbagi, namun sepertinya waktu telah mengesahkannya hingga kita terbiasa. Kau mulai berbagi soal ceritamu yang dulu, begitu pula aku. Letak kenyamanan itulah yang membuat kita berdua membuka segala rahasia yang pernah kita simpan rapat-rapat. Letak kenyamanan itu pula yang membuat kita berakrab berlama-lama mengalahkan malam walau kantuk sudah menyapa.

Mengulang bahkan mengingat segalanya ke belakang, ada banyak pelajaran yang kau bagikan dan kuraih darimu. Katamu, tak baik bila kemarahan bersarang di pikiran. Kemarahan itu candu, hingga mengkhianati setiap kejujuran yang ada. Katamu, jika marah katakan saja. Cacilah objek kemarahanmu hingga kau puas tapi dengarlah pembelaannya. Jangan kau pergi setelah cacimu terealisasi lalu tak menginginkan penjelasan. Itu tak baik. Darimulah, aku belajar untuk lebih banyak mendengar. Mendengar untuk lebih banyak berpikir bahwa tak ada sekalipun yang salah mengenai pendapat. Katamu pula, jika aku sedang marah aku boleh dengan leluasa mencaci dirimu namun jangan sedikitpun untuk melaksanakan jurus diam seribu bahasa, itu sama saja membunuh kepercayaan dirimu. Baiklah, sudah aku biasakan hal itu. Kau seringkali mendapatkan perlakuan tak menyenangkan dariku yang dengan leluasa mencacimu, namun sekarang aku sudah mengerti bahwa itu sungguh melukaimu. Makanya sekarang kita lebih sering membuka diri untuk menerima setiap kritikan mengenai sikap kita yang kadang menjadi penyebab merenggangnya cerita kita.

Jika suasana buruk sedang menghinggapi diri kita masing-masing tak jarang masing-masing kita saling melemparkan kekesalan hingga kita menciptakan jarak yang bisa saja ditempati oleh berbagai penyebab. Sisanya, kita akan terlarut berlama-lama di jarak itu. Namun sampai sekarang, sudah kita temukan cara untuk menghindari penyebab jarak itu tercipta. Kau tahu kan? kita akan berdiskusi soal masalah yang sedang kita hadapi lalu sama-sama mencari solusi untuk menghindari penyebab itu menciptakan jarak yang bersifat semakin. Itulah mengapa aku bilang bahwa semakin ke sini, kau semakin menunjukan sikap terbaik versimu yang juga telah menjadi versiku. Kau telah menjadi terbaik versimu, ketika setiap ketulusan selalu kau titipkan diantara kepura-puraanmu, kesedihanmu, kejujuranmu, kebahagiaanmu dan kepribadianmu. Kau merelakan dirimu yang kaku untuk melebur bersama duniaku, hingga kau gadai kegengsianmu menjadi setara denganku. Menjadi seperti diriku tak mudah. Aku punya banyak keinginan yang cukup melibatkanmu dan kau sempat kewalahan karnanya. Namun sekarang, kau bahkan memintaku untuk tak bersembunyi untuk tak melibatkanmu. Sudah, kau memang sudah menjadi paling terbaik versimu yang menjadi versiku juga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s