Menyudahimu serta Kisah Kita.

Menyudahi kisah ini, sepertinya tak mudah. Sempat terlintas, namun hanya sepintas. Seluruh dialog sudah dilakukan, namun buntu karna tak menemukan arah yang jelas untuk dibawa ke mana. Menatap bayangmu, membuat hati ini tak tega meninggalkan namun sudah tak mampu dipertahankan. Sebenarnya ada apa? Jawabannya, terdengar ringkas namun sulit dijelaskan. Jenuh, ya telah tiba di sini, di kejenuhan ini. Sulit aku deskripsikan bagaimana rasanya, yang jelas aku sudah letih bersama. Sepertinya sudah tak ada lagi kesamaan, sudah tak ada lagi sikap “saling”, sudah tak ada lagi kenyamanan. Semuanya hanya ada di titik yang sama yaitu bertahan. Aku mempertahankanmu dan kau juga demikian. Mungkin akar-akar di kisah kita telah kering karna sudah tak berdenyut seperti awal kita memutuskan bersama. Aku rasa akarnya sudah tak mempan disinari matahari maupun disirami air. Akarnya sudah tak mau mengeluarkan tunas di setiap batangnya kisah kita. Lalu jika pada akarnya sudah demikian, bagaimana dengan aku?

Kau di sana, bertahan untuk segalanya. Untuk jarak yang tak mau mengalah, untuk langit yang terus berubah, untuk setiap kata yang tak lelah berkomentar, untuk mulut yang sudah tak mampu bersuara, untuk tangan yang sudah letih mengetik, untuk hati yang sudah menolak namamu tinggal dan mendapat ruang di sana. Kau masih tetap bertahan. Kau berkata ini hanya ujian kecil untuk memperkuat hubungan kita, kau berkata bahwa aku harus mengerti bahwa kau sedang membangun hubungan kita dengan caramu, katamu kau akan berjuang melawan segalanya. Ya, kau tak pernah mengingkari semua janji yang kau lontarkan dari bibirmu, aku terlalu yakin bahwa di puluhan bulan usia kisah kita kau tak pernah berbeda. Masih tetap sama, masih tetap berada di sikap mengalahmu, masih tetap berada di sikap perhatian kecilmu, masih tetap berada di cerita-ceritamu tentang maupun terhadapku. Masih dan masih, kau masih begitu. Aku sudah terpukau, terpesona, rindu dan segalanya. Sudah, aku sudah tiba di masa-masa itu dan membawaku bersama denganmu untuk sama-sama berjuang atas jarak, atas langit yang terus berubah dan sikap acuhmu yang dikarenakan segelintir kesibukanmu yang licin namun tak pernah membuatmu terpeleset. Aku mengerti itu baik bagimu, tapi di sini aku yang berkali-kali terpeleset, berkali-kali terjatuh, berkali-kali tak mampu mengalah karna dirimu.

Namun sekarang tak tahu mengapa, aku tiba di kejenuhan tak berujung. Aku sudah berusaha berhenti untuk jenuh menyapa, namun jenuh ini tetap tinggal dan telah mengeringkan akar kisah kita di hidupku. Aku tak tahu harus bagaimana, namun yang jelas aku sudah lelah. Menatap seluruh percakapan kita yang dulu berselera dan beraroma wangi, sekarang dengan cepat membuatku mengantuk. Percakapan itu sudah tak berdenyut bahkan bernadi seperti awalnya, seperti sudah dibunuh oleh kejenuhan. Aku sudah lelah mendengar kau mengatakan menunggu, aku sudah lelah mendengar kau bercerita kau sibuk, aku sudah lelah mendengar kau menunjukan bangunan-bangunan indah, aku sudah lelah menanti kau mengirimkan bunga-bunga tradisional dari seluruh dunia, aku sudah sangat lelah terhadap semuanya. Terlebih tentangmu, mendengar seluruh penjelasanmu yang terus-menerus meminta untuk bertahan disisimu. Aku merasa tercekik namun aku masih bisa bernapas, aku merasa kakiku lelah namun harus terus melangkah, aku merasa semua tentangmu membuatku tak ingin tahu lagi. Aku sudah lelah, mencacimu pun sudah tak mempan lagi. Dahulu bila aku mencacimu, ada sejuta rasa senang karna kau berubah tapi sekarang kau tak mau mendengarkan lagi. Bukan karna aku tak ingin mendengarmu, bukan. Aku sudah belajar memahamimu, tak pernah menyertakan inginku dan sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadikan versimu menjadi versiku. Tapi sama saja, tak ada kemajuan. Sudah aku pikirkan berkali-kali untuk membenarkan bahwa menerima seluruh apa adanya dirimu, ya tapi tak mudah. Sebenarnya sudah, menerima kau yang acuh, menerima kau yang kadang berlebihan, semuanya sudah. Tapi tak tahu mengapa, sekarang sudah lelah. Bila aku sedang ingin mendengar ceritamu, kantu membuatku tak ingin menyapamu lagi. Bila kau menyapaku di malammu, aku sudah tak ingin meresponinya. Aku tak tahu bagaimana lagi, aku rasa ini memang sudah saling menyakiti kita karnanya aku memutuskan menyudahi segalanya. Jangan kau pikir bahwa ini mudah bagiku, karna untuk mengatakan ini aku sudah menguras seluruh keberanian dan tenaga untuk menyatakan segalanya. Keluh kesahku, kesakitanku, amarahku yang bercampur menjadi tanda bahwa kisah ini sakit dan cara untuk menyembuhkannya adalah menyudahi segalanya agar kita tak saling menyakiti. Ini sama sekali tak mudah, karna menghilangkan keakraban tentangmu di memoriku butuh waktu yang sangat lama, butuh waktu tak sepintas untuk menidurkannya dan butuh usaha untuk berjuang paling keras untuk semuanya.

Aku tak pernah mengatakan bahwa kisah ini tak indah, sangat indah. Mengingat ini kali pertama kita memutuskan untuk sangat berani berhubungan di jarak yang tak dekat, di langit yang berubah warna di waktu yang berbeda dan logat yang kadang membuat kita saling tak paham. Kisah paling berani namun tak bisa kita taklukan. Aku tahu bahwa kau sangat berjuang, kau selalu berjanji untuk menyapa serta berkunjung, namun tak semudah mengatakannya. Ada harga yang harus kau bayar jika melakukannya, tak perlu aku ungkapkan di sini. Namun aku sungguh letih dengan semuanya, jauh di dalam pikiranku mash ada baying serta namamu. Ruangmu di pikiranku juga masih ada, belum aku kosongkan hingga sesekali pikiran untuk kembali padamu masih sangat berkuasa dan berkehendak sesuka hati. Tapi mengingat kejenuhan ini sudah mengakhiri dan membunuh seluruh rasa yang dulu membuatku berjuang bersamamu, membuatku harus sudah menyudahi kisah kita.

Panjang sekali narasi kali ini yang aku tuliskan tentangmu, aku takkan menghapus apapun yang dulu tercipta tentangmu karna terlalu berharga untuk menghapus segalanya. Kau paling ternyaman, namun sudah tak bisa lagi diperjuangkan karna aku telah menyerah. Aku tahu, bahwa setelah aku menyudahi aku menghukum diri untuk tak peduli soalmu, walau aku sangat peduli. Aku sangat tahu bahwa di sana, kau menantikan responku atas seluruh pernyataanmu namun hingga narasi ini tercipta aku memutuskan untuk tak menjawabmu. Terlihatnya sungguh kejam kan? iya, sangat kejam. Menyakiti kita, tapi ini adalah harga yang harus dibayar atas keputusan yang kita pilih.

Hingga akhirnya, kau adalah orang berhati paling baik dalam memperlakukanku. Aku yakin, ada ratusan kebaikan yang mengarah padamu setelah kau dengan lapang melepaskan kisah kita menjadi kenangan. Maafkan aku yang mengandaskan seluruh mimpi kita untuk bersama melihat birunya laut sebelum matahari tenggelam lalu menatap bulan penuh bertabur kilau di gelap langit malam ketika kau menyapa serta berkunjung. Kau adalah pria keibuan paling mempesona, kelak akan menemukan gadis berhati mulia yang akan kau genggam jemarinya. Aku yakin itu.

Lewat narasi ini, ijinkanlah aku mengakhiri segalanya. Kisah, romansa, jenaka, kenyamanan dan kau. Sudah berlalu persinggahanmu di hidupku, karnanya kau harus mulai berlayar untuk bersinggah di pelabuhan-pelabuhan baik yang baru. Sekali lagi maafkanlah aku, bila aku terlalu jahat untuk keputusanku. Aku sangat mengasihimu, namun kau berhak bahagia. Terima kasih untuk seluruh cinta yang kau tabur untukku, yang terlalu indah untuk aku lupakan. Cintamu yang penuh akan ketulusan sulit aku hilangkan, namun lewat cintamu yang kau taburkan untukku membuatku merasa bahwa kau layak menemukan paling baik untukmu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s