Kekagumanku, Pada Caramu Mempertahankan

Sempat terpikir untuk berlari meninggalkanmu, namun pelarian ini tak tentu arah. Semakin berlari aku tak merasa ada peluh yang terurai di kening, tak ada lelah yang tinggal. Pelarian ini rasanya tak menyenangkan, pelarian ini rasanya malah menyakitkan sebab menyangkal seluruh candu yang bersarang dan telah mendaging. Sudah aku congkel candu yang mendaging, namun semakin aku congkel yang aku temukan bukan daging candu yang bisa diangkat. Yang terlihat hanyalah darah segar yang melahirkan rasa sakit yang berkepanjangan. Akibatnya hanya luka yang tersisa ketika aku congkel seluruh rasa candu ini. Rasa candu ini ibarat kejujuran untuk saling membutuhkan, namun terkhianati oleh rasa ingin menyerah saja. Mengapa rasa ingin menyerah ini harus mampir di kepalaku? Mengapa tak enyah saja, supaya aku tak akan menyangkal candu-candu yang menetap lalu menjadi daging itu?

Tak aku temukan jawaban. Bagaimana mungkin aku menemukan jawaban, sedang aku tak berusaha melerainya? Berbaik sangka pada rasa ingin menyerah pun tak mempan. Rasa ingin menyerah membuatku kebal akan rasa saling membutuhkan, membuatku merasa bahwa akan baik-baik saja bila menyerah dan semuanya akan kembali seperti semula sebelum bersama. Ya, memang sederhana kelihatannya seperti pemikiranku. Tapi ketika aku ingin melaksanakannya, nuraniku berontak. Nuraniku menghakimi keputusanitu, nuraniku bilang untuk lanjut saja, sudah menjadi daging. Bila bukan jalannya, aku akan bersyukur candu yang mendaging itu sudah menetap. Nuraniku terus memperlihatkan bagaimana baiknya kau ketika bersamaku, baiknya kau ketika kau juga lelah tapi tak pernah berpikir untuk menyerah, baiknya kau ketika terus berjuang untuk mengakrabi seluruh kebobrokan milikku, serta baiknya kau untuk terus meyakinkaku di sisimu. Nuraniku terus menampilkan dirimu, sedang aku kewalahan menjadi penonton ketika terjadinya perselisihan antara nurani dan pikiranku. Sejujurnya selama ini nurani telah menuntunku untuk bersamamu, nurani menuntunku untuk juga mengakrabi dirimu serta nurani menuntunku melihat kebahagiaan di matamu. Sejujurnya pikiranku juga menuntunku bahwa kau terus berjuang, tapi juga lelah. Pikiran memimpinku untuk menyerah karna jarak yang membatasi bertumbuhnya kisah ini dan pikiran mengandaskan seluruh rencana untuk terus bersama. Lalu bagaimana aku bisa melerai semuanya, selain menerimanya?

Aku bincangkan baik-baik dengan pikiranku, ketika aku sudah sehat secara jasmani. Aku pikir kisah kita sakit-sakitan hingga butuh istirahat yang cukup. Aku menepi jauh, tapi kau berlari mengejarku. Aku bersembunyi, namun tetap kau temukan aku. Aku irit hingga enggan bicara, kau terus menantiku bicara. Sungguh sedikitpun kau tak lelah?. Aku menepi sangat jauh, menepi darimu, menepi dari nurani dan pikiranku. Aku butuh berdialog dengan kenangan tentangmu, dengan kenyataan bahwa kau berusaha terlalu keras untuk mempertahanku. Aku menghibur diri dengan seluruh ringkasan kebersamaan kita yang menyenangkan sambil menyisipkan ketidaknyamanan ketika bersamamu. Kau tahu apa yang aku temukan? Ada Sembilan kebahagiaan ketika bersamamu, dan hanya satu ketidaknyamanan bersamamu. Dan ketidaknyamanan itu masih bisa kau ubah, dan sudah kau ubah. Lalu apakah aku harus terus melanjutkan ini?

Aku berdialog dengan nurani dan pikiran tanpa pernah menyuruh mereka berbantah-bantahan. Aku biarkan mereka bicara masing-masing tanpa saling mengomentari. Mereka setuju, dan mengarahkanku untuk tak menyakiti diri sendiri, sebab merekalah yang sangat paham akan diriku ketika aku sudah hilang arah. Mereka sepakat menyuruhku pulang, pulang padamu. Kembali bersamamu, sebab yang aku lakukan adalah menyakiti kita, bukan hanya aku sendiri. Kata nurani dan pikiranku, luka yang aku ciptakan untuk diri sendiri telah menangisi keputusan yang sudah aku anggap paling benar. Nuraniku berkata, aku hanya menciptakan luka-luka baru yang siap mengaga dan memedihkan kulit-kulitnya. Pikiranku menimpali, aku hanya merugikan diri sendiri sebab kisah ini sedang dan sudah menguatkan kita. Mereka berkata untuk kembali saja sampai kita bersepakat untuk mengakhirinya bersama, bukankah bila perpisahan terjadi karna kesepakatan akan lebih cepat untuk mengudang yang lebih berkelas dan lebih baik lagi? baiklah, kali ini mereka bekerja sama untuk meyakinkan diriku bahwa saat ini aku jangan salah memutuskan keputusan.

Aku telah menepi cukup lama, aku kembali. Di kisah kita, ada kau yang masih menanti. Kau bertanya mengapa aku begitu? Aku tenang tanpa berkata. Kau meyakinkan bahwa jangan berlari sendiri, berlari hanya merugikan. Jika aku ingin pergi, ajaklah kau untuk melangkah bersama. Lagi, jangan menyangkali kenyataan, semakin aku sangkal semakin banyak kenyataan yang menghinggapi. Katamu, jangan menangis sendiri, ajaklah kau juga untuk tangisan kita yang lebih ringan. Katamu lagi, jangan menepi terlalu jauh hingga kedinginan. Sebab kau tak bisa terus mencariku, ada hal yang menjadi tugasmu. Katamu, jika aku ingin menepi, menepilah bersamamu agar kita saling menghangatkan. Katamu, sudah sejauh ini kita melangkah bersama, karnanya jika aku ingin berlari, menyangkal bahkan menepi ajaklah kau untuk turut serta. Aku terharu melihatmu menyatakan segalanya, lalu bagaimana mungkin aku bisa lelah bila kau seperti ini? bagaimana mungkin aku bisa mengikis semua rasa ini padamu bila kau seperti ini? bagaimana mungkin aku bisa berlari ketika kau terus berusaha menangkapku dan memintaku untuk kau turut serta?. Kau terlalu baik untuk ditinggalkan, kau terlalu berharga untuk dicampakkan dan kau terlalu nyata untuk dilepaskan.

Semua permintaanmu tak bisa aku penuhi. Setiap janjimu pun selalu kau tepati satu per satu, walau tak jarang selalu tak tepat waktu. Tak mengapa, yang penting kau menepati seluruh janji yang terlempar dari mulutmu. Kau selalu menggenggamku dengan erat, kau selalu menutup ruang diantara jemariku bila aku kedinginan, kau selalu merapatkan langkahmu bila aku tersesat dan kau selalu memintaku berjalan bersamamu tanpa mendahului atau membelakangi supaya pandangan kita sama. Lantas masihkah jarak menjadi penghalang? Iya, masih. Tapi sudahlah, semakin banyak aku bicara soal itu semakin sering aku gagal paham akan jarak kita. Jarak kita memang terbentang luas, tapi katamu jarak hubungan kita tak menciptakan sejumlah keraguan darimu. Aku juga demikian, sama sekali tak ada keraguan namun kelelahan yang menjamur. Tapi sudahlah, harus aku sesuaikan suasana hati untuk tak bergantung pada kelelahan yang jadi jamuan hidangan nikmat tapi merepotkan di hubungan kita.

DSC08921

Aku sama sekali tak bisa berjanji seperti dirimu, karna aku tak bisa menjamin raga yang terus digenggam olehmu, bahkan mata, jemari dan kaki yang terus kau jaga. Tapi janjiku hanyalah untuk terus berbaik sangka pada kisah ini, pada dirimu tentunya, pada setiap lakumu dan terus berusaha bersamamu sekalipun kelelahan menghampiri. Kita serahkan dan percayakan kisah ini, pada yang Maha Kuasa yang sudah melibatkan kita menjadi pemeran penting dalam skenario kisah kita. Bilakah hanya menjadi yang terkenang, kau tetaplah menjadi pengingat akan kebaikan dan ketulusan yang sudah aku rasa dan nikmati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s