Menaklukan, Gunungmu.

B612-2016-06-07-17-46-18

Hingga hari ini, aku percaya bahwa mengenal siapapun dalam hidupku adalah terjadi karna kehendak Tuhan. Di balik semua sikap baik maupun buruk, semuanya punya keadaan yang bisa membuatku belajar. Mengenalmu, bukan suatu keterpaksaan juga bukan suatu kesengajaan. Kau menikmati waktu berkenalan denganku dan aku juga demikian. Itulah yang menjadikan kita saling memahami masing-masing dalam waktu yang tak singkat. Kau dengan segala yang tersusun rapih di gunung hatimu, bahkan aku. Kita seperti pendaki yang saling mendaki untuk melihat keindahan yang tersaji di puncak gunung itu. Kau dengan gagahnya melengkapi diri dengan segala perlengkapan mendaki, sedang aku berjalan hanya dengan berbekal rasa percaya tanpa peduli arah. Baiklah, arah memang penting untuk mempercepatkan aku ditibakan di puncak. Tapi jika aku dengan cepat tiba di puncak, sama saja. Aku takkan menikmati perjalanan karna tergesa-gesa ingin melihat keindahan. Apalah arti sebuah keindahan jika ingin menikmatinya dengan cepat dan berlalu saja? tak menyenangkan pastinya, aku kira begitu.

Aku mendaki gunung itu tanpa arah, hanya berbekal rasa percaya. Percaya pada keadaan yang takkan mengkhianati dan takkan meninggalkan. Aku berjalan dengan bekal seadanya dan tiba di tempat asing yang sama sekali terjal dan kelihatannya asing. Aku mencoba mengakrabkan diri dengannya lalu saling berakrab. Ternyata tempat yang tak sengaja aku kunjungi adalah tempat bernaungnya segala hal pahit dari hidupmu. Kesedihanmu, kelemahanmu dan kepahitan yang sengaja engkau buramkan selama ini. Di sana aku lihat dengan jelas, bagaimana kau terkatung-katung di makan waktu karna mengiba lalu terpuruk untuk waktu yang lama. Kau berjalan dengan senyuman, namun senyum paling palsu yang tak menampakan aura bahagia. Kepalsuan itu telah menempel di hidupmu lalu dengan segera kau jadikan penguat dirimu. Kelam memang, kesakitan jiwa yang kau rasa. Aku tersesat di arah itu, lalu menemukan fakta bahwa kau pernah sesakit ini padahal setauku kau adalah orang yang sangat kuat menghadapi masalahmu mengingat seluruh sikap yang kau sikapi kepadaku. Setelah aku tersesat di tempat itu, aku kembali mendaki gunungmu berharap menemukan jalan untuk tiba di puncak tanpa waktu yang tergesa-gesa. Masih juga tanpa kompas atau arah untuk tiba dengan cepat dan sesuai jalannya. Aku hanya mengikuti kemana kakiku melangkah, aku tiba di tanjakan yang arahnya ke sebelah timur yang di dalamnya angin begitu kuat berhembus hingga membuat kebisingan di pendengaranku. Di sana, aku melihat bagaimana kau berusaha untuk menghilangkan semua pikiran buruk atas pengalamanmu dan mengusirnya. Ternyata di gunungmu, tergambar jelas bagaimana kau kewalahan mengalahkan dirimu sendiri dan berusaha menyangkali setiap kesalahan yang baru saja engkau alami. Di sana aku lihat kau berusaha tegar untuk menyimpan air matamu ketika kau sudah lelah berjuang namun gagal, aku juga melihat kau dengan bujuk rayumu menolak seluruh kenyataan yang telah berubah itu.

Aku pergi karna angin mengusirku lalu berjalan lurus mengikuti arah matahari. Tak lama, gunungmu yang tak seluas gunung- gunung terkenal di Indonesia yang memakan waktu berhari-hari untuk menaklukannya, hingga dengan mengikuti sinar matahari sudah cukup membuatku menemukan arah. Arah yang baik dan penuntun yang tak membuatku sibuk berpikir soal arah timur-barat-utara-selatan-tenggara maupun manapun. Aku sudah menemukannya, menemukan puncak gunungmu itu. Ada banyak hal yang membuatku melihat puncak indah gunungmu itu. Di sana aku lihat, bagaimana kau bisa menghasilkan senyum di balik semua lukamu dan bertahan atas lukamu yang sudah tak mampu disembunyikan lalu dengan leluasa menertawai dirimu yang tak mampu melawannya. Di puncak itu tergambar jelas bahwa kau menangis seorang diri. Hebat juga melihatmu menangis karna kenyataan yang diluar kuasamu telah terbetang di hadapanmu. Aku pikir, aku saja yang demikian ternyata kau pun bisa. Menangisi segalanya yang sudah berdebu. Itulah mengapa aku sebut puncak gunungmu menunjukan keindahan. Aku sama sekali tak mengejekmu untuk bilang bahwa menatap kau menangis adalah keindahan, namun menatap kau menangis adalah sebuah kejujuran yang paling indah atas duniamu. Menatap kau yang penuh dengan ketegaran menjadikanmu pribadi yang sangat baik di mataku, dan aku tatap semua kejujuran yang tak pernah bersembunyi. Kau tak pernah menyembunyikan kejujuranmu, seluruhnya kau katakan.

Itulah mengapa aku katakan bahwa, mengenal siapapun bukan suatu kesalahan. Mengenal siapapun adalah mengenai proses mendewasakan diri sendiri. Mengenal orang lain, belajar mendengar dan menjadikan diri mawas untuk setiap kejadian yang pernah didiskusikan. Seluruh keegoisan itu akan terurai habis di tanah, lalu hilang bersama debu ke arah yang mungkin akan segera ditenggelamkan. Itulah yang menyenangkan dari setiap perkenalan. Akan mengajarkan bahwa mengenal seseorang seperti mendaki gunung, tersesat, menemukan arah, menemukan keindahan yang sebenarnya, kembali pulang dan berefleksi atas segala sesuatu yang terjadi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s