Merayakan Puluhan Bulan Usia Kisah Kita

Ambon, 06 Mey 2018

Memasuki usia puluhan bulan kisah kita, kita bersepakat melupakan hal romantis sebab kita memang terpisah jarak serta luasnya lautan dan menerapkan satu hari untuk berbagi sikap saling seperti yang biasanya kita lakukan. Katamu, terserah padaku. Aku berpikir berulang kali, namun tak menemukan apapun yang bisa kita lakukan sebagai cara untuk merayakan ulang bulan kisah kita. Aku lalu berkata bahwa kali ini, terserah padamu. Karna biasanya aku terlalu banyak menerapkan segala sesuatu sesuka hatiku, kali ini kita harus saling mendengarkan. Tiba-tiba kau bilang bahwa hari ini akan menjadi hari saling mencaci sebagai sikap saling mendengarkan, katamu akan lebih baik mendengar bagaimana aku dan kau dari masing-masing. Supaya bisa dijadikan sebagai evaluasi untuk masing-masing agar semakin lebih baik lagi. Klise memang bila kita saling berkata demikian, sebab aku sangat yakin bahwa aku akan mengeluarkan semua yang tersimpan selama ini dan lebih gilanya lagi katamu kita harus saling mencaci menggunakan bahasa inggris supaya tak terlalu berbekas (haha). Kau memang pria paling aneh namun selalu menyenangkan bila bersamamu. Pada akhirnya, di tanggal 6 Mey 2018 terciptalah Scolding Day of Us”. Baiklah kita sama-sama tak mau menjadi yang pertama. Kau bilang bahwa perempuan harus lebih dulu, namun aku bilang karna kau lebih tua dariku jadi kau harus lebih mengalah dan pengalaman hidupmu lebih banyak dariku, karna sejak kita memutuskan bersama ketika aku sedang dalam puncaknya emosi, kau akan berkilah bahwa di usiaku ini memang lebih banyak menjadi pemarah daripada pendengar. Karna memori itu terlintas cepat di pikiran, makanya alasanku menjadi jelas. Cukup lama kita saling tak mengalah, hingga akhirnya aku memutuskan untuk mencacimu lebih dulu.

Setelah sibuk mencari kata-kata cacian di kamus bahasa inggris, aku urutkan seluruh sikapmu yang sangat menjengkelkan dan selalu membuatku berkali-kali berteriak keras namun selalu kau jawab dengan senyum dan wajah memelasmu. Aku urutkan semuanya dan selalu menyematkan kata-kata pedas seperti kau membosankan, aku lelah! (dalam bhs inggris tentunya). Itu adalah kata wajib jika aku mengancam untuk marah berhari-hari, walau kau tahu itu sudah pasti hanya menjadi lelucon yang aku buat. Setelah aku katakan satu per satu beserta penjelasannya, kau berkata bahwa aku memang menyakitimu dan kau menjawab dengan aku juga lelah, aku benci caramu!. Kau bilang itu bukan cacianmu terhadapku, itu adalah pembelaanmu atas seluruh cacianku terhadapmu namun aku bilang bahwa aku anggap itu sebagai cacianmu di urutan pertama. Kau tak menjawab dan mematikan komentar sekitar satu jam, hingga aku mengira bahwa kau marah. Ternyata sejam kemudian kau bilang, ibumu memanggilmu. Aku lalu mempersilahkanmu mengurutkan seluruh cacianmu terhadapku, dengan harapan aku hanya ingin kau menjelaskan bagaimana selama ini aku memperlakukanmu. Aku tahu bahwa pasti sangat banyak cacian darimu, mengingat aku terus mencacimu berkali-kali. Namun kau hanya menjawab aku cinta kau!. Aku kebingungan, cacianmu kali ini sama sekali membuatku tertawa sejadi-jadinya hingga kau benar-benar marah lalu bilang bahwa aku tak pernah bicara serius bahkan ketika kau sedang serius. Aku lalu menjelaskan bahwa cacianmu itu bukan cacian, itulah yang membuatku terbahak-bahak. Tiba-tiba kau bilang bahwa kau sama sekali tak bisa mencaciku dan kau tak tahu caranya mencaci dalam bahasa inggris. Aku semakin jengkel padamu, hingga aku bilang terserah saja.

Kau bilang bahwa cacianmu yang isinya tiga kata wajib dalam sebuah kisah cinta adalah juga bersifat cacian. Artinya kau cinta segala yang ada pada diriku, tak peduli bagaimana aku membuatmu marah. Apakah sungguh itu adalah cacian? Katamu, aku tak pantas dicaci, sebab caraku memperlakukanmu adalah yang sangat kau butuhkan. Aku katakan, baiklah itu pertanda bahwa aku akan semakin sering mencacimu. Tapi kau tahu bahwa itu adalah lelucon dariku, karna aku bukan pemarah yang mampu meredakan angin maupun menenangkan badai (hahah). Selama ini belum pernah aku menyaksikanmu marah, bahkan ketika kau marah pun kau yang meminta maaf padaku. Kau bilang bahwa seluruh sikapku tak ada yang salah dan semua yang aku katakan tentangmu adalah sikap paling wajar karna kau paham bahwa aku tak suka sikapmu yang begitu. Kau bilang semua cacianku padamu adalah caraku menunjukan sikap kepedulianku yang sangat besar padamu. Katamu, semuanya hanya terbungkus dalam ucapan-ucapan pedas namun itu tak membuatku merasa kepanasan, itu membuatmu melihat ungkapan ketulusan yang termuat di dalamnya. Itulah keahlianmu bila ingin meredakan tawa bahkan amarahku dengan penjelasanmu yang kelihatan sangat logis itu. Kau lalu melancarkan aksimu yang membagi-bagikan pengalamanmu di saat aku tak ingin mendengarkan. Katamu, di usiaku yang sekarang sangat wajar jika amarahku meluap-luap. Kau juga dulu begitu, hingga  tak banyak yang mendekatimu. Kau bilang apalagi perempuan selalu memikirkan sesuatu dengan perasaannya hingga lebih cepat merasakan ada yang berubah maupun ada yang tak berselera. Ya, tak sedikitpun ada yang salah dari yang baru saja kau katakan. Tapi selama ini, seringkali aku melupakan apa yang baru saja kita janjikan namun kau dengan lembut menegurku lalu mengingatkanku kembali. Aku sekarang mengerti, bagaimana kau bersabar untuk seluruh sikapku padamu. Katamu lagi, tak pernah selama ini kau temukan ada yang salah dariku sebab aku tak pernah tak peduli padamu. Padahal, seingatku aku selalu menyuruhmu untuk menghindar saja ataupun mengatakan bahwa semuanya tergantung padamu. Aku ingat, jawabanku hanya berputar di kata-kata seperti itu. Katamu, begitulah hal-hal sederhana yang menunjukan bahwa sikapku yang memperlakukanmu adalah benar-benar percaya pada segala kemampuan dirimu dalam menghadapi masalah tanpa memaksakan kehendakku. Ya, sudah pasti aku memang begitu. Sejujurnya, aku hanya bisa memberikan tanggapanku yang sudah pasti akan kau tolak dengan penuh panjangnya penjelasanmu.

Bagiku, semalam kau benar-benar membuatku tahu bahwa kau memang orang berhati paling bijak. Mungkin yang biasanya dibilang bahwa idaman semua orang adalah sikap bijaksana dan dewasa, itulah yang selama ini kau tunjukan di puluhan bulan usia kisah kita. Sejak awal kita memutuskan bersama, kau tak pernah menghilangkan sikapmu yang seperti ini. Sedikitpun tak pernah terkikis caramu yang masih sama sejak awal, sedangkan aku? ah tak tahu lagi. Semakin hari kegemaranku adalah mengejekmu, mengolok-olokmu bahkan mencacimu. Tiap hari semakin banyak, walau aku tahu urutannya masih sama. Sama juga katamu, katamu cacianku semakin hari semakin sama. Baiklah, iya semuanya masih sama. Sebenarnya kemajuannya banyak, namun aku lupa tapi lebih sering mengingat semua keterlaluanmu yang menjengkelkan. Semalam kau sendiri yang mengajak untuk saling mencaci, namun kau tolak ketika aku sudah mengungkapkan. Kalau aku tahu kan, pasti akan aku tolak juga dari awal.

Bagiku, sejak semalam aku meyakinkan diri bahwa kau memang handal dalam menanggapiku. Caramu mengurai cacianku, caramu melemaskan keegoisanku, caramu menghancurkan sikap acuhku hanya dengan cara bicaramu yang pelan. Sesekali kau taburkan jenaka di setiap obrolan kita, yang bagiku tak lucu sama sekali. Namun sesekali jenakamu mencekik keseriusanku, hingga kita menanggapi masalah kita dengan tawa bersama. Berdialog apapun denganmu terasa begitu segar, sebab tak melulu kita bicara soal cinta yang kadang terlalu membosankan jika didiskusikan. Berdialog denganmu selalu membuatku betah berlama-lama, walau kita tahu bahwa durasi panjang obrolan kita hanya sebatas dua puluh menit bila bertemu di obrolan video dan kurang lebih lima jam bila kau tak sibuk dengan menutupnya dengan saling mengucapkan selamat tidur. Berdialog denganmu membuatku melihat dunia dengan sudut pandang baru, melihat kau meleburkan duniamu bersama dengan diriku, melihat bagaimana kau menjawab setiap teguranku yang seketika memukul kepribadianmu hingga kau memar, melihat bagaimana kau menanggalkan seluruh amarahmu lalu menjelaskan dengan menyurutkan emosimu dan aku melihat bagaimana kau mempertahankanku ketika aku sudah lelah.

Soal kata selamat tinggal seperti sudah menjadi ancamanku. Aku tahu, itu keliru namun aku bisa tiba di masa aku sudah letih. Ketika aku letih, kau bilang bahwa di kisah ini bukan hanya aku yang berjalan, ada kau juga. Bukan hanya peluhku yang tergerai, peluhmu juga. Benar, aku sangat egois memikirkan diri sendiri. Tapi kau biarkan aku menunjukan bagaimana sikapku yang urak-urakan dengan sendirinya, lalu kau tanggapi aku dengan caramu yang sederhana. Kau bukan orang yang memproklamirkan cintamu dengan semestinya, namun setiap sikapmu yang sederhana menyatakan ada ketulusan di sana. Sejak kau berhasil mempertahankanku, aku sadar bahwa aku begitu beruntung mengenalmu. Mengenal setiap kesederhanaan yang kaya dalam dirimu, mengenal setiap masa lalumu, mengenal setiap rencanamu yang selalu kau bagikan dan memintaku untuk turut mendoakan.

Hari saling mencaci yang terjadi semalam, menjadi pengalaman paling baru bagiku. Katamu, itu juga kali pertama dalam sebuah hubungan yang kau jalani. Namun cara kita merayakan usia puluhan bulan kisah kita menunjukan padaku bahwa kau memang layak dicintai dengan seluruh kesungguhanmu. Kesibukanmu, kebosananmu, kerendahan kepekaanmu adalah hal yang selama ini aku hindari. Tapi entah mengapa, sikap-sikap ini yang kau tunjukan di awal hubungan kita. Aku sempat menepi, tapi sekarang sudah aku pahami dan mengagumi seluruhnya. Mengagumi keterbatasanmu yang sekarang menunjukan padaku, bahwa keterbatasanmu adalah hal yang paling kaya darimu. Melihat bagaimana kau bercerita soal keterbatasanmu, menjadikanku candu untuk mengerti dirimu sebab telah kau libatkan aku di dalam seluruh keterbatasanmu.

DSC09170

Sejak kita sudah beriringan menapaki hubungan ini, aku lupa mana yang menjadi kelebihanmu. Sebab kelebihanmu adalah sepaket dengan keterbatasanmu. Terima kasih kak, telah menunjukan keterbatasanmu pada mulanya, namun keterbatasanmu memperkaya kisah kita. Terima kasih telah menjadi mataku di sisi yang berbeda, kakiku di sisi yang tak tentu arahnya, tanganku yang selalu menenangkan dan mulutmu yang selalu meredakan amarah.

Terima Kasih telah bersamaku, di puluhan bulan kisah kita!.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s