Berakhirnya Kisah Kita yang Sesungguhnya

img_20180515_140502_9901868100632.jpg

Baru beberapa hari yang lalu, kita merayakan puluhan bulan usia kita. Kita masih baik-baik saja dengan segala yang kita lalui bersama. Sudah saling menguatkan, sudah saling mengingatkan, sudah saling menyayangi tanpa pamrih hanya saja kita lupa untuk menciptakan hal menarik yang membuat kisah kita berkualitas. Kisah kita seperti kisah pada umumnya, namun berakhir juga seperti pada umumnya. Hanya dengan saling mengucapkan selamat tinggal, ketika yang satu kewalahan dan yang satu tinggal menerima kenyataan. Aku sertakan banyak tuntutan, sedang kau menyesal membuat kesalahan yang sama. Soal penyebabnya, memang tak pernah berubah. Penyebabnya masih jalan di tempat, masih tak ada perkembangan dan semakin hari semakin tinggal lebih lama di kisah kita. Kau menyesali sikapmu, sedang aku terlalu banyak memintamu berubah. Aku terlalu banyak menegur dan mengharapkan beribu banyak kebaikan lahir setelah kita sudah saling meninggalkan.

img_20180515_140824_514943691855.jpg

Semalam seperti pertanda bahwa memang sudah sangat-sangat berakhir. Tak ada lagi banyaknya kata yang terlahir untukmu, tak ada lagi banyaknya pujian untukku. Sudah tak ada lagi sejak semalam, yang ada hanyalah menyimpan dengan rapi semua yang tertinggal ketika dulu masih ada kita. Sekarang aku dengan duniaku sendiri, pula kau. Kau sudah bebas terbang kemana pun, tanpa perlu bersinggah lagi padaku. Aku juga sudah tak membebanimu dengan merasa berhutang untuk berbagi cerita denganmu. Setidaknya yang dulu kita rasa sebagai beban sudah hilang dan tak bernyawa lagi. Sudah tak bernadi, berdenyut bahkan muncul lagi. Yang tertinggal hanyalah membludaknya genangan kenangan yang sesekali lahir kembali di ingatan dan memunculkan ribuan senyuman tapi berakhir penyesalan. Masih belum mampu aku kendalikan mengingat dulu, cukup banyak andilmu untuk menciptakan suasana menyenangkan di setia hari bahkan cerita kita, mimpi kita maupun segalanya yang sekarang sudah benar-benar kandas.

Aku sempat berpikir untuk sesegera mungkin mengkaratkan semuanya yang sudah kandas itu, tapi ya aku sekarang berada di masa untuk menyesali segalanya lebih dulu lalu kemudian berpikir dengan jernih terkait segalanya. Tak ada yang perlu di sesali, mengingat semuanya sudah terjadi karna ada jutaan hal indah yang aku temui bersama denganmu. Ada jutaan pintu untuk bertamu ke hal-hal menakjubkan ketika bersamamu, ada jutaan jendela yang membuatku melihat mendung serta terik dari sisi yang berbeda juga ada jutaan bunga yang kita dialogkan. Ya, jutaan makna lahir ketika waktuku masih menjadi milikmu. Ketika kita sama-sama saling memiliki waktu yang telah kita raih dan taklukan. Tapi sekali lagi, kita telah kalah padanya. Pada waktu yang mengalahkan kita dan membuatku kita rela untuk saling melepaskan.

Bolehkah aku kisahkan soal dirimu, sebelum aku benar-benar membulatkan asa untuk melupakanmu?

Setiap hari selama masih ada kita, pagi dan malamku adalah milikmu. Pagi dibuka dengan kekonyolanmu, sedang malamku ditutup dengan keseriusanmu. Pagi kita selalu termuat ejekan, sedang malam kita melahirkan sejumlah harap yang kita inginkan bersama, sambil terus meminta restu Tuhan. Bukankah itu indah? kau mengurutkan semua ingin kita sambil tetap berprasangka baik pada kendali Tuhan. Katamu, putra dan putri Tuhan takkan pernah menangis karana kecewa yang berlama-lama. Kau memang handal soal berkhotbah, melebihi diriku yang lebih sering mengomelimu.

Setiap hari selama masih ada kita kau tanggalkan seluruh atribut yang kau kenakan seperti, jarang tersenyum, jarang jujur, agak kampungan dan dunia tersempitmu. Semuanya ditanggalkan olehmu, dan membuatnya setara denganku, walaupun terkesan agak riskan karna aku akan tak paham dengan  maksudmu. Setelahnya, kita akan menertawai lucunya dirimu yang selalu berpura-pura tahu segalanya. Kau punya kesenangan tersendiri untuk dipelihara namun begitu menyenangkan ketika kau menjelaskannya padaku. Walau kau tahu, aku tak pernah paham ketika mendengarkan penjelasanmu. Setelah saling mengenal, belakangan kau sangat jujur padaku. Lebih sering kau berjanji padaku untuk menata diri, namun aku tolak janji itu dan mengatakan bahwa harus kau janjikan itu dalam sembahyangmu pada Tuhan.

Setiap hari selama masih ada kita, selalu ada cerita baru lahir setiap hari. Entah soal masa kanak-kanak masing-masing, maupun soal keluarga. Selalu saja ada cerita yang patut ditertawakan maupun dihakimi olehku. Kau ahu, bahwa aku sangat handal dalam hal menghakimimu walau semuanya hanya berakhir dengan tawa bersama. Ada kepura-puraan yang aku ciptakan, dan berakhir dengan khawatirnya dirimu akan berapa lama waktu bertahanku dengan kepura-puraanku. Kau adalah orang yang paling banyak terhubung denganku untuk berbagai topic yang tak pernah lelah dibahas, walau kau tahu ada batasan-batasan yang sudah aku ciptakan dan telah legal dalam setiap percakapan kita.

Setiap hari selama masih ada kita, ada jutaan nasihat untukku darimu soal sikapku yang kekanak-kanakan. Soal caramu membiarkanku bertumbuh dengan diriku tanpa pernah memintaku berubah. Soal caramu membuatku mengerti bagaimana tulusnya seseorang, terlihat dari bagaimana dia memperlakukan orang lain. Soal bagaimana seorang akan beriman, ketika dia dengan bijaknya mengerti bahwa perlu diremukkan oleh Tuhan lebih dulu, untuk mengundang seseorang yang lebih berkelas. Soal bagaimana, kau menghormati setiap keputusanku bahkan ketika keputusanku akan menyakitimu berkali-kali. Yang aku lihat darimu adalah, kau korbankan seluruh egomu hanya untuk anak kecil ini yang selalu ingin menang sendiri.  Katamu, menyaksikan matahari tenggelam adalah kegemaranmu. Aku juga sama, walau tak sebanyak dirimu yang lebih banyak menyisakan waktu untuk menyaksikannya. Kau sertakan semua potret dirimu ketika sunset menghampiri, yang membuatku terkagum-kagum dengan apa adanya dirimu. Kau juga bukan pujangga paling romantis di dunia, namun sudah aku pastikan bahwa hal-hal kecil yang kau lakukan membuatku terkesima. Perhatian kecil yang selalu membungkam amarahku, membuatku begitu menyukai sikapmu. Merayakan usia kisah kita dengan cara berbeda pun, aku temukan hanya pada dirimu.

Selama masih ada kita, kau tak pandai menjaga. Ada banyak sekali kalimat yang aku ciptakan, ketika aku kewalahan untuk menegurmu. Kau tak hanya pandai untuk menjaga, kau juga terlalu lengah. Berulang kali aku mengancammu pergi, namun kau berhasil meluluhkanku dengan berkata jangan. Aku kembali padamu, sambil berharap kau bisa berubah. Setidaknya, ciptakanlah suasana menyenangkan dan berkualitas supaya aku punya kekuatan untuk mempertahankanmu. Sebab sesungguhnya, aku sudah goyah ketika menyadari kelemahanmu yang ini. Aku sudah goyah, sejak kau tuturkan sikapmu yang membuatku jengkel walau aku tak berkata terus terang. Aku sudah goyah, ketika melihatmu berkali-kali pasif ketika aku sedang tak baik menghadapi kenyataan. Aku terlalu menunjukan bahwa aku suka tertawa, tapi mengapa tak kau pahami bahwa aku sulit menghadapi kenyataan pahitku? Aku sulit berdiri tegap, karna sejujurnya aku tak mampu meyakinkan diri. Sudah aku minta Tuhan turut campur tangan, tapi Tuhan mengatakan tatap sekelilingmu. Kaulah orang yang aku tatap, selain keluargaku. Aku butuh lebih dari mereka saja, karnanya aku sertakan kau di dalamnya. Tapi kau terlalu lengah untuk menjaga kepercayaanku, hingga aku pun tak punya kekuatan untuk mempertahankanmu bahkan untuk meyakinkan diri dengan sejumlah kenyataan yang sudah kau tunjukan padaku. Kenyataan-kenyataan itulah yang membuatku berkali-kali ingin beranjak. Karna sejujurnya, aku sudah goyah. Kakiku sudah sempoyongan untuk melangkah, aku merasa ingin berlari namun kau meraih kakiku dan membuatku duduk. Ketika aku telah berpeluh barulah kau sadari bagaimana melelahkannya aku menghadapimu, sudah terlambat kak. Adik kecilmu ini, sudah tak sanggup lagi mempertahankan diri. Semua tentangmu sudah patah tak beraturan bukan hanya terbelah, semua tentangmu sudah terkikis habis dan lebih lagi semua tentangmu sudah tak sehat dan sudah membuat sakit-sakitan terus menerus. Bukankah lebih baik diakhiri saja?

Kisah kita seperti melahirkan lubang yang banyak, yang sudah tak bisa ditutupi lagi. Setiap kali kau datang, melahirkan lubang baru hingga bentuk kisah kita tak seperti semula yang utuh. Sudah tak beraturan karna kita tak pandai saling menjaga. Lubang itu membuat kita akhirnya dengan waktu yang sebenarnya dulu telah kita taklukan dan menyerah pada kegigihan kita. Sekarang, kita sudah kalah sayang. Adik kecilmu ini sadar, bahwa terlalu banyak menuntutmu. Namun adik kecilmu ini, hanya sedang kalut menghadapi kenyataan yang menggoreskan luka yang sebenarnya sangat dibutuhkannya adalah kau, kak. Kau terlalu lupa untuk berpikir bahwa sekarang adik kecilmu ini sedang gusar, bahkan ketika adik kecilmu ini sangat membutuhkan dukunganmu. Kau masih terlalu sibuk dengan duniamu, kak.

Bagaimana perasaanmu ketika membaca ini? jangan tanya padaku, bagaimana aku mengisahkannya. Seakan dunia berputar kembali, ketika dulu kita saling tak mengenal dan memutuskan mengenal lebih dalam. Seakan dulu, aku masih tetap menjadi adik kecilmu yang selalu kau minta pendapat. Ada ribuan rasa bahagia ketika mengisahkan satu per satu sikapmu dulu, ada rasa mendebarkan ketika menjelaskan bagaimana sikap menjengkelkanmu, ada rasa sebenarnya tak tega melepaskan namun aku diingatkan bahwa hey, ini sudah berakhir!. Aku sudah lelah kak, ketika kenyataan-kenyataan di atas membungkam memori tentangmu. Ketika kau juga sudah menyerah dan juga mengucapkan selamat tinggal, hingga kita saling mengucapkan selamat tinggal. Padahal dulu, kita saling menghindari untuk mengucapkannya. Aku bukan lagi “Gadis Banyak Kata, milikmu”, “Adik Kecilmu”. Sudah tak ada lagi, jabatan itu yang sama-sama kita sematkan. Kau juga bukan lagi “Tuan Irit Kata, milikku”, “Kakakku”.

Rasanya sejak semalam, seperti ingin menolak matahari dan ingin terus berada di malam sambil terus membaringkan kepala di bantal, lalu nyenyak sambil terus melupa, bahwa semalam adalah hari akhir antara kita. Ingin rasanya bertemu dengan laut lalu bercerita padanya. Tapi semua urung, ketika hujan bertamu. Ingin rasanya menghapus semua hadiah berupa potret yang dulu dengan perjuangan kau hasilkan potret terbaik melalui ponselmu, tapi urung karna tak tega membiarkannya berlalu terlalu cepat. Ingin rasanya menghapus satu per satu jutaan kalimat yang lahir karnamu, tapi urung karna di sanalah ruangku menyimpan sejuta kenangan bersamamu.

Pagi ini aku bongkar isi ponsel untuk menyurutkan kesedihan yang sedang aku tolak, lalu menemukan potret yang dulu dipuji olehmu. Potret yang katanya akan kau pakai sebagai gambar layar kunci di ponselmu, yang kau bilang sebagai ancaman. Ingin sekali aku menghapusnya, namun tertahan ketika melihat bagaimana matahari terbit ataupun tenggelam dengan indahnya lautan yang seakan melengkapi semuanya tentangmu di sana.

img_20180515_140050_668576198463.jpg

Aku tuliskan ini bukan sebagai penyesalanku. Sebab pada awalnya, aku katakan mengisahkanmu sebelum membulatkan asa untuk melupakanmu. Aku akan merindukanmu, sebab semua tentangmu masih di ruang khusus untuk menyimpanmu. Kadang aku berpikir, mengapa harus kau yang datang lalu membekas seperti ini? ah, aku tak berbaik sangka pada kendali Tuhan rupanya. Baiklah, kau sudah menempati tempat terbaik lengkap dengan segala keburukanmu.

Last: I’m going back to the start! Aku kembali, seperti dulu kita tak saling mengenal, tak saling menyapa. Terima kasih karna telah mengajarkanku untuk terus berbaik sangka pada kendali Tuhan.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s