Sejak Bayangmu Sudah Diiris Habis Oleh Fajar dan Rembulan

img_20180512_181810356376255.jpg

Pagi ini aku menanti datangnya bayangmu untuk sekedar menyapa pagiku. Menantimu memang bukan hal mudah, sebab kukhianati diri dan waktu yang kadang dibuat lelah menanti. Menantimu menyapa, menantimu mengawali cerita bahkan menutup cerita. Setiap penantian memang tak menjanjikan keberhasilan, tapi sudah jelas melahirkan sejumlah ketekunan. Ketekunan itu menimbulkan sensasi dengki dan keji, namun terbayar jika namamu muncul di sejumlah pemberitahuan pesan. Entah ini hanya karna rindu atau hanya karna menginginkan hadirmu. Kadang aku pun akan membalasnya dengan berhari-hari tak meresponi kedatanganmu berhari-hari lamanya, hingga kau kewalahan menerka-nerka apa salahmu. Kadang kau meminta maaf hanya karna aku lama membalas pesanmu walaupun kau sendiri tahu tak ada apapun kesalahan yang dilakukan olehmu.

Soal menanti memang hal paling menjijikan untuk dilaksanakan. Bayangkan saja, ada berapa banyak kenyataan yang dilewati karna menanti? Pada awalnya, aku pikir bahwa itu adalah hal wajib dimana sikap saling terjalin. Tapi belakangan, ada semacam kebencian dan kengerian yang terlahir karna menanti. Ya, aku bukan gadis spontan yang mengelu-elukan dimana keberadaanmu, ataupun menangisi kenyataan bahwa hari ini kau tak mengingatku. Aku bukan orang seperti itu, terlalu dramatis jadinya. Karnanya, aku selalu menolak memulai percakapan. Tapi aku pernah memulai percakapan karna ada sesuatu yang sifatnya sangat dibutuhkan dan segera.

Setelah beberapa hari yang lalu berkunjung ke sebuah tempat, di sana kujumpai genangan kursi kosong di ruang makan. Aku jumpai bagaimana mereka rindu hangatnya tubuh manusia menyentuh badan mereka. Di sana, mereka basah karna tak berbaju. Berbaju kain, bukan maksudku. Maksudku, mereka kesepian. Kucoba menerka-nerka diri untuk berdialog, namun tak ada mulut yang terbuka. Yang tersisa hanyalah tetap genangan kursi yang kosong dilengkapi suasana sunyi yang mencekam. Rasanya seperti suasana horror namun tak ada hantu yang menyapa, yang ada hanya angin karna tak ada jendela di ruang itu. Ruangan itu menantap hamparan lapangan hijau pepohonan yang terpantul birunya langit pagi. Sungguh suasana indah, yang hanya dilengkapi kesunyian. Pikiran ini berlari pada sebuah pikiran yang sebenarnya sudah tenggelam seiring waktu, namun terlahir kembali ketika melihat genangan kursi kosong itu. Ya, pikiran ini terbayang akan bagaimana menyedihkannya menantimu. Bukan karna kau tak pernah tinggal, kau selalu tinggal. Namun alasanmu tinggal adalah yang tak bertujuan. Kau kembali hanya dengan sejuta ceritamu, tak perlu lagi saling mendengarkan. Padahal sedari dan sejak awal sudah kita sepakati untuk terus saling menegur bila sudah merasa tak berdinamika dan tidak bertujuan arah kita. Aku yang selalu merasakannya lebih dulu, entah karna aku yang lebih muda ataupun aku yang terlalu banyak menggunakan hati.

Belakangan sudah tak ada lagi yang bisa kukatakan, sebab semua rasa yang hendak menegur sudah tenggelam bersama hamparan pasir yang aku injak di tanah. Seluruh rasa itu  sudah beranjak jauh ke tanah yang sebenarnya sudah tak layak lagi untuk dipandang kembali. Melihat namamu hadir di percakapan pribadi maupun dering, sudah tak ada senyum lagi yang tercipta. Sudah tak ada lagi tawa yang menggema di langit, yang tertinggal hanya wajah tak berekspresi yang berujung dengan hanya saling menatap. Aku hanya ingin memperbaiki segalanya, namun kau terlalu lengah akan segalanya. Lengah terhadapku, lengah terhadap segalanya. Sudahlah, semakin sering aku berdialog dengan diri sendiri, semakin kuat dorongan untuk melepasmu pergi walau sebenarnya ada dorongan yang lebih kuat untuk membiarkanmu tinggal. Sudah tak ada lagi hasrat untuk menyebut namamu dalam suara maupun dalam gumam, angin mungkin telah melarikannya. Aku tak menyalahkanmu, hanya saja kau tak menciptakan suasana nyaman supaya aku betah berlama di sisimu. Aku memang ingin berlama, namun suasana kisah kita seperti longgar hingga ada jurang. Kau tak pernah menjaga kisah ini dengan baik, kau hanya menyimpan dengan rapat ataupun berpidato soalnya pada kawanmu. Soal menjaga, tak kau pelihara dengan baik. Itulah sebabnya, aku lelah. Sekarang yang sedang aku lakukan adalah meninggalkan semuanya di ruang yang tercipta untukmu dan melahirkan ribuan ruang baru untuk menyimpan yang baru yang sudah pasti bukan tentangmu di dalamnya.

Setelah aku bertamu di ruang makan, sembari menanti datangnya fajar aku sadari hanya aku sendirian di tengah ruang seluas ini dengan banyaknya kursi yang menatapku sekarang. Fajar lahir dan menangisi kehadiranku yang sekarang telah menyadari bahwa bayangmu sudah diiris habis oleh cahaya fajar di pagi ini. Entahlah soal semalam, mungkin pula bayangmu datang namun telah diiris habis oleh cahaya rembulan. Sudahlah, sudah tak jelas kau datang atau kau utus bayangmu. Karna fajar maupun rembulan sudah mengiris bayangmu hingga tak tersisa lagi.

Untukmu, bila kau ingin tinggal: ada tujuan yang akan datang dengan banyaknya alasanmu untuk tinggal. Bila memang sudah tak ada alasan dan tujuan untukmu tinggal, jangan berpaling ke arahku. Sebab sudah tak ada alasan untuk tatapanmu mengarah padaku.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s