Surat Terima Kasih, Untukmu.

Sajak kemarin yang kau bisikan lembut di lapang terluas, rasanya begitu teduh diiringi angin yang memeluk waktu serta melodi laut yang mengiringi. Sajak sederhana yang sesungguhnya tak mudah aku pahami. Di balik tegasnya dikau, ada sajak yang diam-diam kau bisikan. Di lapang terluas yang ramai itu, kau berbisik hingga aku tertawa. Bukan soal sajak termanis itu, tapi soal bagaimana kau berbisik. Ya aku tahu, selama ini ketika kita berbicang kau selalu menegurku karna cara bicaraku yang selalu kelepasan hingga membuatmu malu. Katamu, itu memalukan. Kadang aku pun merasa, caraku memalukan juga. Tapi tenang, kemarin aku tak memalukan kan?

Sajak termanis yang kemarin kau senandungkan tipis di kuping ini, sudah aku lupa. Soal kesastraan yang membuatku menatap tajam wajahmu, hingga kau tertawa. Sejak kapan kau bisa begitu? Sudah berapa kali aku mengulang pertanyan yang sejak kemarin aku tanyakan padamu di nyata kita bertemu, maupun nyata dalam percakapan di ponsel? Haruskah aku reka-ulang kejadian kemarin? Sepertinya harus, namun terkandaskan karna minus sajak yang kau lantunkan tipis di kupingku. Tak mengapa kan?

img_20180623_1403201320780602.jpg

Kemarin, dengan tiba-tiba kau mengajak bertemu. Kisah kita yang sudah berlalu di waktu yang berlalu sekian jauh, kini hidup lagi dengan nuansa berbeda. Kisah yang dulu lebih dibumbui pertengkaran sekarang lebih minim bahkan sekalipun tak ada. Lantas aku tak mengatakan ini kisah kita, lebih tepatnya pertemuan kita. Sejak kita menghidupkan pertemuan yang dulu mati itu, sekarang kita lebih banyak bercerita soal bagaimana menjadi orang yang lebih baik. Entah itu terbalut jenaka maupun ratap. Harus aku katakan, kau adalah pria tergila yang sekarang sudah menapaki jenjang dewasa yang membuatku keheranan mendengar setiap kata yang melompat dari bibirmu juga melihatmu memperlakukan orang lain dengan sangat santun. Sepertinya kau banyak berbenah ketika kita memilih jalan masing-masing. Iya kan?

Aku dibuat terkejut dengan ajakan bertemu yang tak seperti biasanya. Kau tahu bahwa aku tak suka berlama-lama, hingga kau menentukan tempat kita bertemu yang lebih mudah dijangkau dan tentunya lebih ramai. Kau tahu, aku tak suka kesunyian. Di sana, kau banyak bercerita soal duniamu yang baru, pilihanmu yang baru, aktivitasmu yang lebih baru bahkan segala yang baru termasuk kapan kau mencukur habis hingga kembali memelihara seluruh janggut dan kumis tipis yang membuatmu kelihatan berbeda, ditambah pula kacamata minus yang sudah kau kenakan sejak enam bulan yang lalu. Untung saja, suaramu tak berubah hingga membuatku mengenalmu lebih cepat. Sedang aku? tak ada yang berubah. Sekarang lebih sehat cara berpikirnya, lebih sehat cara bicaranya namun tetap masih menertawai segala yang terjadi padamu.

Pada kesempatan inilah, kau menyempatkan sajak termanis yang aku lupa bagaimana menarasikannya di sini. Sejak kau putuskan untuk membisikannya padaku, aku terkejut hingga menatapmu tajam. Agak berlebihan kan? iya, banyak berlebihannya. Mengingat kau yang dulu selalu irit bicara, namun berbicara sebanyak waktu itu tentu saja tak biasa!. Kau tertawa sejadi-jadinya hingga mengatakan bahwa aku selalu terkesima denganmu (haha). Melihatku tertawa hingga melahirkan ribuan tanya padamu, selalu kau tanggapi dengan mengatakan itu memalukan!. Itu artinya kemarin aku mempermalukanmu?

Kau tertawa sejadi-jadinya. Di balik tawamu yang bahagia, ada rasa haru yang aku rasakan. Kapan kita tertawa sekeras ini? kapan kita berani berjalan bersama? setelah semuanya terkandaskan oleh nyata kita yang dahulu. Sepertinya pikiran kita selaras, kau juga bertanya mengenai pertanyaan yang sama. Rasanya tak perlu lagi kita bersembunyi pada nyata, karna sekarang kita telah bebas dari kisah kita yang sakit kala itu. Soal sajak yang kau bilang, katamu kau membacanya di perpustakaan lalu segera membeli bukunya di toko buku. Walaupun aku dibuat jengkel, karna kau merahasiakan judul bukunya. Dan ternyata kau juga sudah punya banyak post di IG (hhaha) dengan panjangnya keterangan soal patah hati dan menemukan cinta. Siapakah yang mampu merobohkan tembok “persembunyianmu”?

Tak kau jawab. Tatapanmu lurus pada lautan yang ada di hadapan kita. Baiklah, biarlah itu menjadi rahasia terdalammu, sebab aku pun tak ingin mencangkul rahasiamu yang tak tahu kau tanam di mana. Namun lewat tulisan ini, harus aku sampaikan bahwa sejak dulu hingga sekarang kau selalu menakjubkan. Setiap persembunyian bahkan hal yang tak tersembunyi lagi sekarang, selalu berhasil membuatku mengagumimu. Entah ketika kau irit bicara, irit tertawa bahkan lebih banyak bersembunyi. Sekarang kau dengan “sampul” paling baru bahkan punya senjata menaklukan hati lawan jenis, membuatmu kelihatan lebih baik!. Sajak termanis itu membuatku mengerti, betapa sederhananya dirimu dengan seluruh yang tersembunyi padamu. Soal kau yang tenang namun tak setenang kelihatannya, soal kau yang selalu menjadi tempat ternyaman bercerita soal masalah pribadiku dan soal kau yang punya cara pandang paling baru dan ter-anti mainstream yang membuatku ingin segera enyah dari percakapan kita. Entah sejak kapan kau bisa se-menakjubkan sekarang.

Aku tahu, kau selalu menyelipkan waktu tersibukmu untuk membaca lembar demi lembar tulisan di linimasa blog milikku. Kau juga tahu bahwa aku sudah banyak bercerita tentangmu, bahkan mulai menunjukan ketertarikanku pada bunga yang katamu, begitu indah. Entah bagaimana, kemarin bunga itu mendatangi kita berdua. Kau menjemput bunga itu, lalu mengenggamnya hingga menciptakan sajak terkonyolmu hingga aku tertawa kewalahan melihat tingkahmu yang sekarang semakin menunjukan perbedaan tiada tara. Entah berapa banyak sajak yang terlempar dari bibirmu, jika salah satu batu-batu di dekat lautan bisa bercerita pasti dia bisa mengingat dengan lengkap setiap kata termasuk tanda baca yang kau katakan maupun yang kau bisikkan padaku.

Kau memintaku menggenggamnya, lalu memotretnya menggunakan jemariku.

img_20180901_0751511656644487.jpg

Baiklah, kali ini biarkan aku mengatakan sajak yang dari sisiku untukmu, untuk menggambarkan waktu itu:

img_20180901_075112589955623.jpg

Teruntuk, pria berkacamata yang sekarang lebih banyak melawak. Melihat raut wajahmu yang sejak dulu tak berubah, terang saja membuatku kelepasan tertawa. Tertawa melihat bagaimana kau berpura-pura angkuh namun tak bisa angkuh dengan sempurna. Ingin rasanya kuucapkan terima kasih, namun rasanya sudah terlalu usang karna berabu. Kau paham kan maksudku? Itulah sebabnya, aku urung mengucapkan terima kasih padamu, sejak kemarin. Kau sudah berubah begitu banyak, akankah kau pelajari setiap masukan bernada kritikan dariku di kisah kita yang lalu?

Kini, rasanya aku melihat sesuatu yang baru padamu. Matamu yang tak pernah bersembunyi lagi, kisahmu yang bukan menjadi rahasiamu lagi dan sekarang kau lebih yakin dan mantap berbagi seluruh ceritamu padaku. Bukan maksudku membandingkanmu dengan dirimu yang dulu, namun sekarang rasanya kau begitu baru, sebaru-barunya. Memangnya aku kertas ya? katamu menimpali ketika aku sedang berusaha jujur menyatakannya secara langsung kemarin.

Melihatmu yang melibatkanku dalam scenario sastra yang lahir dari bibirmu membuatku tertawa sejadi-jadinya ketika kau dengan tampang terjujur mulai beretorika. Ada apa denganmu? Lagi-lagi aku kembali bertanya. Aku tahu, kau sudah kewalahan dengan pertanyaan yang selalu saja lahir dari diriku.

Soal bunga yang kemarin aku pegang dan sama-sama kita abadikan di ponsel masing-masing, rasanya bunga itu terus mewarnai keberadaan kita. Kemarin pun, kita sama-sama bungkam jika harus terpaksa mengigat bagaimana kita bercakap tentang bunga itu di waktu yang lalu. Yang jelas, bunga itu memang indah pada dasarnya. Tak perlu kita katakan pun, sepertinya ia telah paham bahwa ia menghidupkan pertemuan kita kala itu.

Teruntuk, kau yang kini bersamaku di lapang terluas dengan pribadi terbaru. Tahukah kau, bahwa itu mengagumkan?. Terima kasih, telah mendengar seluruh yang dulu selalu aku katakan padamu. Terima kasih telah menumbangkan egoisnya dirimu. Sejak kemarin, kau terus kutatap karna rasanya kau yang sekarang telah menjawab seluruh permintaanku yang sejak dulu menjadi bianglala perdebatan kita. Terima kasih untuk setiap waktu yang kau sisihkan untuk mendengarkan aku berkata dan terima kasih untuk setiap ucapanku yang tertinggal di ingatanmu.

Kemarin pun tanpa sengaja atau disengajakan (tak tahu juga), kau mengatakan bahwa setelah merasa kehilangan akan lebih mudah belajar bagaimana seseorang yang peduli akan terus menghakimi dengan tujuan positif. Kau kembali berbisik, terima kasih padaku. Walau aku tahu bahwa kau memenuhi ucapan terima kasih padaku, dengan seluruh hal yang dulu aku hakimi tentangmu. (maafkan aku, yang terlalu banyak menuntut 😀 ).

Terakhir, maafkan aku yang rupanya masih menyisakkan kengerian di setiap percakapan kita, entah yang bersifat jenaka maupun yang menghakimi. Terima kasih telah membangun kediaman pertemanan kita. Jika kau berkata setelah merasa kehilangan, akan lebih mudah belajar bagaimana seseorang yang peduli akan terus menghakimi dengan tujuan positif: sedang aku berpikir bahwa setelah kebersamaan yang telah berhenti, lahirlah babak baru yang sesungguhnya. Babak untuk menghentikan harap dan babak menatap nyata-nyata paling baru. Masing-masing kita terluka dan sembuh dengan cara masing-masing. Itulah mengapa, kita bisa saling tertawa ketika melihat perubahan-perubahan pada kita. Terima kasih untukmu, yang tak pernah menghentikan kebersamaan kita.

*Jika kau membaca tulisan ini: terima kasih banyak telah meluangkan waktumu membacanya. Jangan besar kepala jika aku mengatakan banyak terima kasih di sini (haha)*
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s