Menetapkan Sangka yang Baik pada Kendali Tuhan

img_20180930_1506272105252616.jpg

Perangkap yang terpasang dalam diri, pada awalnya keliahatn indah. Perangkap yang selama ini terpasang, hanya ada dalam diri. Perangkap yang mencirikan suatu khas yang istimewa dalam diri. Hari ini tak ingin aku bercerita soal orang lain, selain hanya soal diri sendiri. Soal perangkap yang tercipta karna pengalaman pribadi, soal perangkap yang terperangkap dalam diri dan tak bisa dipatahkan, soal perangkap yang mematahkan hati yang tadi-tadinya penuh dengan keyakinan.

Perangkap, ya soal perangkap. Soal apalagi yang bisa mengalahkan diri? aku setuju dengan semua yang selalu dikatakan banyak orang bahwa musuh terbesarku, adalah diriku sendiri. Sepintas, aku dibuat cekikikan karna merasa lucu ketika mendengarnya. Mendengarnya saja membuatku geli karna tak mampu menerima pernyataan ini, pada awalnya. Belakangan, setelah perangkap itu menjebakku hingga aku terjebak, jatuh, terluka hingga sulit menyembuhkan diri, baru aku sadar bahwa sesungguhnya pedih yang dirasa bila tak mampu melawan musuh yang mendaging yaitu diri sendiri.

Perangkap paling utama adalah keinginan daging untuk menolak mengasihi seluruh nyata paling baru, atas setiap kisah yang sudah berlalu. Apa jadinya bila tidur yang nyenyak, tanpa kualitas tidur yang sehat? Tak ada, selain merugikan diri sendiri. Selanjutnya siapa yang bersalah? Aku. Aku yang bersalah karna memonitori diriku untuk tak jemu-jemu berbaik sangka dan menolak setiap kenyataan sedih yang tertulis oleh semesta. Sejenak sudah aku desain, beberapa nyata yang sepertinya ada dalam kendaliku. Nyata yang sempurna tanpa cela, tanpa tanjakan, tanpa kerikil dan nyata yang paling aku idam-idamkan. Nyatanya, nyata itu membelok. Nyata itu serong, bahkan tak nyaris sempurna melainkan sungguh berantakan. Berantakan karna nyata yang membuat rusuh atas keinginan diri sendiri. Nyata yang nyatanya penuh dengan tanjakan, penuh dengan kerikil, penuh dengan banyak ketidakistimewaan. Selanjutnya hanya tersisa, nyata yang buruk. Nyata itu membuatku jatuh, tak ingin bangun, tak ingin merawat diri, tak ingin menyembuhkan diri hingga sakit berlama-lama. Nyata itu membungkam aku, hingga nyata itu mengalahkanku. Tak ada hasrat ingin menang, selain menyerah.

Perangkap itu merenggut utuhnya hatiku yang dulu selalu baik-baik saja. Hatiku akan berdenyut kencang bila bahagia setinggi mungkin, namun akan tak berfungsi bila tak bahagia. Apa jadinya hati itu?, sepertiya utuhnya hati itu sudah patah. Tak berbentuk seperti semula, seperti yang rupanya masih baik-baik saja. Perangkap itu adalah segunung keraguan yang menghitamkan putihnya keyakinan. Keyakinan yang tadi-tadinya putih dan bercahaya, seketika menjadi gelap yang terlihat. Akhirnya, terpental hingga kedalaman yang lebih menghitam. Kemana seluruh keyakinan itu? Seketika lenyap. Lenyap tak berampas, lenyap terhempas. Keyakinan itu hilang bersama gelap dan terkubur dalam gelap.

Perangkap memang kejam, berkuasa seenaknya. Menghitamkan seluruh putih yang bercahaya, menenggelamkan segunung keyakinan dan memburukkan seluruh kenyataan. Mengapa semua terjadi?

Diri sendiri. Diri ini kadang menjadi tak terkendali ketika keyakinannya yang sudah segunung itu goyah. Seperti gempa bumi hingga menyebabkan tsunami, keyakinan itu porak-poranda. Keyakinan itu menyebabkan diri sendiri merusak dirinya hingga akhirnya, terjadi bencana yang disebabkan oleh diri sendiri pula. Alih-alih ingin segera memperbaiki diri, yang tersisa hanyalah trauma berkepanjangan menyebabkan kebaperan tiada ujung hingga hati yang semakin patah melebihi patah sebelumnya. Kekuatiran itu menjangkiti seluruh keyakinan untuk pulih, kekuatiran itu adalah sesungguhnya perangkap yang sedari tadi aku maksud. Kekuatiran yang setiap hari semakin panjang melebihi tinggi badanku, yang setiap hari tumbuh subur hingga berlipat-lipat ganda. Mengapa kekuatiran bisa mengintervensi segalanya? Karna aku yang memberi ruang. Karna aku yang dengan leluasa membiarkannya bertumbuh. Bahkan aku sendiri pula yang menanam bibit itu bahkan menyuburkannya hingga tumbuh sehat di dalamku. Tak ingin lagi aku bilang diri ini, karna sejumlah kejanggalan yang nyatanya masih aku tolak untuk menyalahkan diri sendiri.

Setelah beribu nyata yang atas perangkap itu memburukkan nyataku, aku tersadar bahwa benar adanya diri sendiri adalah musuh terbesar. Kadang kala, aku sudah berbaik sangka namun nyatanya berbaik sangka itu berubah menjadi umpatan kecil yang berteriak keras dalam hati. Umpatan yang sesering mungkin ingin sekali aku taklukan, namun aku tak kuasa karna kekuatan itu yang membuat aku letih seketika. Akhirnya, aku kalah karna diri sendiri.

Aku menghibur diri sendiri dengan merapalkan narasi doa singkat yang mampu mengusir sedikit kuatir itu, walau sesungguhnya tak bertahan. Berdosa sekali aku, melemahkan kekuatan doa hanya pada kekuatan kekuatiran yang kurang ajar itu. Hingga aku membaca lembar demi lembar ayat dalam kitab suci, lalu menemukan bahwa kuatir itu terlalu kecil dan masih mampu dikendalikan. Tuhan membantuku lewat semesta untuk bertemu dengan orang-orang kecil yang berpengalaman besar dengan kekuatirannya lalu terus mendorongku untuk mampu mengalahkannya. Tapi aku belum sepenuhnya mampu untuk mengendalikannya. Masih terlalu kecil diriku untuk mengendalikannya, namun sekarang aku sedang berusaha membiasakan diri untuk menolak segunung kuatir yang datang bersarang. Hingga aku sadar, bahwa nyatanya kuatir pun memiliki tempat indah yang bahkan bisa menolak sejumlah yang buruk, tapi tak selalu. Maksudku kuatir pada umumnya adalah perangkap bagi diri sendiri, namun juga sebagai penunjuk untuk menolak yang buruk.

img_20180930_15061163760487.jpg

Sesungguhnya aku yakin, bahwa Tuhan terus berkarya lewat setiap kuatir itu yang kadang terus mendekatkanku denganNya. Walau aku berdosa karna tak percaya padaNya. Sekarang, aku hanya ingin percaya pada Tuhan. Percaya pada seluruh karyaNya yang dinyatakan dalam hidup, bahkan sampai kuatir yang membuatku terus berdialog denganNya.

Lewat tulisan tipis ini, aku ingin bilang bahwa jangan pernah berikan ruang pada kekuatiran yang menyakiti setiap keyakinan. Namun kuatir itu juga mengajarkanku untuk terus mendekatkan diri padaNya, sambil belajar percaya pada apapun yang dibuatNya adalah baik adanya. Tak tahu mengapa aku menulis ini di pagi yang mendung, tapi aku hanya ingin berefleksi atas seluruh kejadian yang selama ini aku alami.

Terakhir, tetaplah berbaik sangka pada kendali Tuhan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s