Terapi Diri untuk Melupa Tentangmu

Petang lalu, kita bercakap soal senja yang menyempurnakan.

img_20180926_1942391653587744.jpg

Malam lalu, kita bercerita soal bulan yang menentramkan. Subuh lalu, kita pun berdialog soal suara jejak kaki yang mengagetkan beserta nyanyian burung yang merdu di setiap pagi. Pagi yang berlalu-lalu, sama-sama kita menyibukkan waktu dengan aktifitas pribadi tanpa saling berkabar bahkan tak saling menyapa, hingga waktu yang terasa perlu barulah kita mampu berkabar. Siang yang sudah berlalu lamanya, kita bercerita soal menu makan siang masing-masing dengan kandungan sehat yang menyehatkan masing-masing. Entah di setiap pagi, siang, petang, malam hingga subuh yang kembali menjadi pagi, selalu terdengar nyanyian-nyanyian percakapan dan dialog kita. Banyak hal yang sebelumnya tenggelam menjadi terapung bahkan terangkat ke langit, karna kita yang sama-sama berusaha memunculkannya. Banyak hal pula yang menjadikan kita menjadi semakin terbiasa. Setelah aku ingat-ingat, ternyata banyak kali kita berdebat hingga saling menolak. Setelah aku ingat-ingat kembali lagi, ternyata sudah banyak hal ya?

img_20180812_104700103984099.jpg

~September kita telah habis! Aku harap, September kita menjadi mendung namun mendung itu hanyalah milikku, tak tahu dengan punyamu. Halo mendung, masihkah kau betah di sisi?~

September kita memang sudah banyak habisnya! Sudah habis, sehabis-habisnya!. September kemarin banyak keputusan yang melibatkan kita, hingga kita merenggangkan jarak panjang. Jarak yang mencela setiap perhitungan matematis kita, jika menghitung sudah berapa banyak waktu yang kita habiskan dan taklukkan. Jarak itu sudah mencegah kita untuk kembali berdialog, walau hanya berupa greetings. Jarak itu sudah mencegah kita menjadi dua yang dulu saling melibatkan satu sama lain. Jarak yang menyangkali setiap kebaikan yang sudah sama-sama kita buat di kebersamaan yang dahulu, selalu menghangatkan. Jarak itu sudah memenangi kita.

Sudah aku putuskan menggugurkan semua kandungan tentangmu dalam memori, menghapusmu secara nyata, serta melumpuhkan setiap akses untuk bertemu bahkan hanya saling menyapa denganmu. I did it!. Namun rasanya, tak semudah menghapus kontakmu di ponsel, memblokir seluruh akun sosial mediamu yang terkadang menurutku, aku begitu tak dewasa. Aku batalkan segala cara menghapusmu hingga membiarkan diri terbiasa tak meresponimu, dimana pun. Aku kira cara itu begitu mudah, namun nyatanya menyiksa. Setelah terbiasa, ternyata cukup manjur dan menyehatkan pikiran untuk sementara. Aku kewalahan karna pikiran tetangmu ingin berlama-lama. Aku harus berdamai dengannya, supaya tak menyiksa bila waktu merenung menghampiri.

Aku sudah berusaha semaksimal mungkin menghilangkan setiap tempelan-tempelan tentangmu dalam ingatan, namun tetap saja rasanya sulit terkelupas. Bertambah dengan kesunyian pasca kita berhenti di September yang telah habis kemarin. Rasanya, ingin terus mengisahkanmu sampai aku dihampiri rasa bosan untuk menulisakn bagaimana dirimu di mataku. Itulah alasanku untuk terus menerus menulis tentangmu yang sudah jauh, sejauh-jauhnya. Tulisan ini bukan perkara memintamu kembali, namun untuk menumpahkan segala yang menempel tentangmu. Itu adalah terapi pikiranku, untuk melupakanmu secara perlahan namun pasti. Tenang saja, aku sudah baik-baik saja.

Menguraikan seluruh perbuatanmu di sini, adalah cara terbaik untuk menghapusmu sedikit demi sedikit. Sebenarnya aku tak yakin, namun bila aku kembali membaca lembar demi lembar tulisanku untukmu, aku malah tak ingat aku pernah diperlakukan demikian olehmu. Karna itulah, aku putuskan menulis setiap peristiwaku denganmu adalah langkah awal menghapusmu dari ingatan. Bila banyak yang menyangka bahwa aku tak bisa melupakanmu, aku pikir tak ada yang salah. Sebab semua yang baik darimu aku jadikan hal berharga untuk mengendalikan setiap perbuatan ataupun perlakuan yang aku terima. Bila ada yang tak percaya bahwa menulis adalah cara melupakan, aku rasa harus dipraktikan dulu untuk merasakannya. Karna aku sudah merasakannya, dan itu berhasil. Walaupun, tak berhasil dengan cepat. Tapi bukankah, membiasakannya akan berhasil dengan sempurna?

Melupakanmu dengan sempurna, bukan berarti menghapusmu secara menyeluruh. Aku terus bilang bahwa segala yang baik, sudah aku kalungkan dalam ingatan. Tak tahu denganmu, karna itu bukanlah urusanku. Urusan kita kan sudah selesai. Iya kan?

img_20180911_0059591717445355.jpg

Namun percayalah sedikit demi sedikit, kau bisa punah dari ingatan. Walau namamu dan umurmu, masih segar hingga sekarang. Ketika dahulu pasca kita menyatakan bahwa solusi terbaik untuk kita adalah berhenti; aku enggan membeberkannya pada siapa saja, termasuk menuliskan rasa patah hati itu. Aku masih tertawa bila mengingatnya, namun sekarang sebisa mungkin, aku akan bercerita di sini, si tiap lembar ini untuk mengisahkan apapun yang aku alami. Selain menyenangkan dan menjadi cara melupakanmu, aku juga bisa bercerita tanpa perlu didengarkan oleh siapapun. Ampuh kan?

Bila kau membaca tulisan ini, aku tak ingin kau salah sangka terhadapku. Aku juga tak ingin jadi benalu, di setiap kisah barumu. Karenanya aku katakan bila kau membaca ini, kau juga harus mencoba menuliskan apapun untuk melupakannya secara perlahan. Selamat mencoba, untukmu!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s