Rumputmu di Kisahku

img_20181009_090416191717050.jpg

Aku pandang seluruh rumput yang rasanya terus menyapa. Aku ingat, ada satu jenis rumput yang sudah aku lupa namanya. Dahulu, kau selalu mengiriminya padaku; sampai sang rumput itu terus hadir di linamasa media sosialku. Aku seringkali, mengingatmu melaui hal-hal yang receh seperti itu. Kau mampu menerjang segala yang besar untuk membuatku, ingat tentangmu. Kau memang jagoan, sebab kau buat aku ingat tentangmu melalui hal-hal yang hampit tiap hari bertamu di hariku.

Rasanya, ingin sekali menulis tentangmu berkali-kali. Kini, seonggok rasa yang namanya rindu itu menyapaku. Menyapaku untuk berkisah atau menarasikanmu di sini, di tulisan harian yang menumpuk di laptopku. Seonggok rasa itu, terus mendesakku untuk secepatnya menulis tentangmu walau baru tadi pagi, insiden menyedihkan menghampiri pagiku. Rasanya, ingin secepatnya mengabarimu bahwa sesuatu yang buruk bertamu di pagiku, namun selurh tentangmu sudah hilang tak membekas di ponselku. Yang tersisa tentangmu, hanyalah sesak dalam ingatan. Kadang aku ingin melarikan diri, namun tak ada cara lain selain mengunci diri di kamar. Karnanya, tak ada yang bisa aku lakukan lagi selain bercerita soalmu yang terus hadir dan bertamu dalam ingatan.

Seonggok rasa itu membuatku kembali merasakan hadirmu. Hadirmu yang sudah sangat jarang, tapi tak benar hilang. Sesekali kau masih menyapa, sesekali itu tak banyak percakapan kita selain saling bertanya keadaan masing-masing, sambil menyematkan harapan-harapan baik bagi masing-masing. Ah, masih romantis juga ya? semua hal yang kau lakukan, adalah hal termanis. Rasanya aku susah melupakan semua tentangmu, soal rumput yang kau ceritakan bahkan soal cerita yang kita skenariokan. Kak, aku rindu!. Tiba-tiba jemariku, menulis pernyataan pendek yang terdiri dari tiga kata. Kau membuatku berkali-kali berteriak dalam diam, aku metertawai diriku. Apa kau tahu? Tentu saja kau tak tahu, dan syukurlah seluruh narasiku tak kau paham, karna tak punya banyak waktu mampir untuk membaca. Aku tak pernah memintamu tinggal, namun rasanya seluruh ingin itu lahir ketika ketulusanmu merobohkan egoku. Ketulusanmu telah dengan gampang memperdayaiku, memperdayai seluruh egoku yang membuatku tak ingin kehilanganmu. Sayangnya, aku sudah merasakan kehilanganmu. Aku sudah rasa, bagaimana kau hilang dan begitu membekas hingga sekarang.

img_20181009_090329412668931.jpg

Kemarin rasanya, kau menyapaku kembali lewat rumput musiman yang aku jug tahu darimu. Tak ingin aku petik tubuhnya, namun rasanya melihatnya membuatku mengingat segala tentangmu. Apa kau ingat, bagaimana kau menyuruhku menepi dari panasnya terik dan kau turun ke selokan untuk meraih sekecil bunga yang kau peroleh dari tubuh rumput? Kak, bagaimana bisa aku lupa?

Kenyataan telah menyadarakanku, ketika gerimis menyentuh kepalaku. Kau telah tak ada, bahkan hanya sekedar pesan singkat di ponsel. Siapa yang bersalah? Aku, akulah yang bersalah. Aku yang menolak asamu, menolak hadirmu hingga kau pergi. Tapi bukankah, kita berdua yang memilih pergi? Ah, mengapa lagi aku banyak bertanya di sini?

Seonggok rasa rindu yang berdenyut kencang dalam diriku ini, kembali mengingatkanku bahwa kau adalah seseorang berharga yang terus terpelihara dalam ingatan. Kau telah merumputi tanah memoriku, kak. Tak tahu bagaimana bisa kau datang dan subur dalam ingatan. Mungkin pupuknya, adalah ketulusanmu. Ketulusan yang berkali-kali membuatku merindukannya tanpa terkendali.

img_20181009_091427234386278.jpg

Kak, aku sangat berterima kasih untuk setiap kisah kita. Nyata yang kita skenariokan, nyatanya bukanlah kita yang menjadi pemainnya. Mungkin pemainnya adalah kau dengan orang lain, atau aku dengan orang lain. “Orang lain” itulah, yang semesta rahasiakan dari kita. Iya kan?. Aku masih ingat, bagaimana tawamu menerjang amarahku, bagaimana kita meniup badai yang menyakiti kisah kita. Masih segar di pikiranku, lembutnya teguranmu yang kadang menyebalkan. Sesungguhnya, aku hanya rindu pada seoongok kecil kisah yang berdempatan di ruang ingatan. Tak apa kan, bila kau kuhidupkan dalam tulisan ini?

di Pagi kemarin, semua tentangmu datang kembali. Rasanya, jika kau datang aku ingin memintamu tinggal. Tapi itu bukanlah solusinya kan? solusinya, adalah seperti katamu Tetaplah Berbaik Sangka pada Kendali Tuhan!. Kini, sedang aku pelihara kalimat ini supaya aku terus berbaik sangka padaNya.

 

terakhir: terima kasih untuk setiap rumput yang kau rumputi dalam kisah kita, rumput yang terus mekar dalam ingatan dan nyataku, rumput yang terus berotasi pada dirimu dan rumput yang membuatku sulit melupakanmu. Entah aku tergolong dalam orang yang terluka karna kisah ini, ataukah yang telah bisa menerima hingga terbiasa menuliskan cerita tentangmu. Aku tak bisa menilai diriku sendiri, kak. Tak ada pagi dan malam kita, tapi setidaknya rumput kisah kita terus menjalar dalam ingatanku. Sampai jumpa di masa depan, bila kita saling menyapa!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s