Sang Rindu dan Kau, Kak.

img_20181011_2008272064972033.jpg

Aku kemas rindu yang sudah aku buang dari ingatan. Rindu yang sudah tergadaikan itu aku bungkus dalam kemasan yang takkan bisa membuat rindu itu berlarian terbang bilamana angin datang menjemput. Aku lupa bahwa rindu itu masih bernyawa. Rindu itu masih tahu jalan pulang, hingga dia menerjang penutup kemasan yang sudah aku jepit sekuat tenaga. Rasanya sang rindu dan kemasan yang aku pakai untuk menampungnya berkelahi sedemikian hebat, hingga sang rindulah yang menjadi pemenangnya.

Kali ini sang rindu datang padaku, si penjahat yang membunuh rindu. Akulah penjahat yang membunuh nyawa sang rindu, akulah yang membuat sang rindu tak bisa bernapas. Sayangnya, aku sudah tertangkap oleh sang rindu yang terus mengejarku. Sang rindu datang padaku, sebab katanya akulah rumahnya. Aku adalah tempatnya bersemayam, sebab aku yang menanamnya, memupukinya hingga sudah menjadi dewasa lalu tahu bahwa dia telah bernyawa dan tak pantas untuk mati. Aku keliru, soal itu.

Baiklah, ini murni adalah salahku. Aku yang menjumpainya, aku yang mencari-cari dirinya hingga sang rindu tumbuh dengan lebat dalam ingatan. Rindu yang dulu selalu datang tanpa kupinta, rindu yang selalu menenangkan pula rindu yang membebatku habis-habisan. Kadang aku benci padanya, pada sang rindu manakala dia menuntutku untuk menghubungi kau yang aku rindukan. Nyatanya, aku dibuat tak berdaya oleh sang rindu hingga menjumpaimu sebagai penenang rindu.

Sang rindu itu telah bertumbuh dengan lebat dalam ingatanku, ketika kita bersama. Sekarang kisah kita sudah berbeda, sebab kita tak lagi bersama. Kita sudah saling berpunggungan, kita sudah saling menyerah bahkan tak ada lagi kita yang dahulu selalu membuatku rindu. Kisah kita sudah mati. Iya kan?. Aku tak ingin membangunkan kisah yang sudah mati itu, sebab rasanya mengenangnya saja membuatku sulit meredam sang rindu yang telah tumbuh bersamaan dengan kisah ini.

img_20181007_0736391814805255.jpg

Kisah ini sudah berakhir bertepatan dengan banyaknya narasi yang aku tulis tentangmu, sejak kita memutuskan untuk berpisah. Narasi-narasi sedih, hingga narasi yang sudah tak ber-rasa pun sudah aku luapkan di sini, di linimasa blogku. Sejak aku menuliskan tentangmu, sejak aku pilih bersembunyi hingga sudah tak ada lagi persembunyianku tentangmu. Semua tentangmu telah memenuhi linimasa blogku, hanya untuk membuatku segera melupakanmu.

Sang rindu yang aku bilang sejak awal ketika tanganku menari di atas papan keyboard juga sudah biasa saja. Aku hanya tertarik menuliskan bagaimana aku bunuh sang rindu yang hidup untukmu. Sang rindu itu tumbuh bersama kisah kita, karna memang kita terbiasa untuk segalanya. Terbiasa bercerita, terbiasa saling berbagi hingga terbiasa menemukan solusi yang menyenangkan. Obrolan kita pun bukan soal masa depan, sejenak kita berpikir bahwa siapa yang bisa memprediksi masa depan hubungan ini? yang kita katakan adalah terus berbaik sangka pada kendali Tuhan, ketika sudah tak lagi bersama!.

Aku sudah berbaik sangka dengan menemukan solusi terbaik adalah melupakanmu. Memang tak semudah itu melupakanmu, yang memang punya daya pikat yang membuatku terpikat begitu dalam. Caramu berbicara, caramu menaklukanku adalah caramu menjemput masa laluku yang dahulu telah aku buang. Kau bangunkan lagi dengan caramu hingga membuatku mengasihi segalanya. Kau mengingatkanku untuk tak boleh tersakiti oleh kata-kata sakit, kau membuatku bangkit berkali-kali hingga mantap menatap cermin lalu tertawa mengapa aku bisa sebodoh itu. Kau memang bagian terindah yang dititipkan Tuhan ketika aku merayakan hari ulang tahunku, setahun yang lalu. Kau buat aku terpana, hanya dengan hal-hal sederhana yang kau lakukan. Aku tak butuh apapun untuk membuktikan ketulusanmu, sejak awal aku menetapkan pilihan padamu aku tersadar bahwa ada seseorang yang penuh dengan ketulusan telah melengkapiku selama ini. Sejak itu, sang rindu bertumbuh untukmu dalam diriku. Kau yang hingga sekarang masih terus tersebut dalam ingatan sudah bisa aku tepis posisimu, posisimu sudah tak sama seperti dahulu lagi. Kau tahu kan, bagaimana kita berdua berjuang menolak rindu masing-masing? kau juga tahu bahwa setelah kita tolak rindu itu, hingga akhirnya kita saling mengakui telah rindu, serindu-rindunya walau kau yang mengakuinya lebih dulu, hingga aku susul pengakuan itu.

Setelah aku ungkapkan hal itu, bagaimana bisa sang rindu ini tak tertuju padamu?

Kau dan sang rindu sudah menyatu dalam ingatan. Rasanya aku ingin memberontak, aku ingin membunuh semua tentangmu yang bernyawa dalam ingatanku, namun kekuatan soal dirimu terlalu kuat dan rumit dibumi-hanguskan. Aku sudah terlanjur tumbuh bersama sang rindu yang nyatanya hanya tertuju untukmu.

Aku pilih untuk melenyapkanmu dalam ingatan, melalui tulisan yang perlahan-lahan membuatku melupa. Dibandingkan dahulu ketika aku menyembuhkan diri, jerawatku tumbuh subur di wajah. Sawah jerawat yang menempati wajahku telah sesak, hingga aku menolak bercermin. Aku pun tak dapat tidur nyenyak, sebab sesekali aku menjerit ketika kau datang menghampiri lelapku. Itu adalah hal terlucu dan tersadis ketika aku diserang patah hati. Aku terserang hingga sakit, sesakit-sakitnya!. Perlahan-lahan aku berani menulis semua tentangmu, mengkritisi kelemahanmu yang aku cintai serta menyatakan kekagumanku. Semuanya itu aku tulis ketika semua tentangmu masih sangat ber-rasa. Tak tahu sudah berapa banyak tulisan yang lahir soal dan untukmu, namun aku sudah dengan lapang dada menulis dengan tak ber-rasa lagi tentangmu. Aku telah berhasil!

Aku keluarkan semua tentangmu dari ingatan, aku kumpulkan semuanya tanpa tersisa. Aku taruh menjadi satu dalam kemasan, lalu aku kemas dengan rapi. Aku jepit penutupnya supaya tak beterbangan ditiup angin, karna hal yang paling aku benci adalah angin. Dia datang dengan jahatnya lalu menerbangkannya bahkan menjemputnya kembali padaku. Angin memang kurang ajar!. Aku jepit sekuat tenaga hingga peluhku menjadi sungai kecil di atas meja. Aku pikir untuk membuangnya ke dalam selokan, hanya menciptakan sampah baru yang menambah menimbunnya sampah pada selokan tak berdosa. Kala itu gerimis bertamu di rumahku, syukurlah. Gerimis kecil menjadi sungai dengan arus deras di selokan, hingga lebih mudah menenggelamkan rindu itu di lautan. Aku buang saja sang rindu yang sudah aku bungkus dengan rapi itu. Aku buang ke sungai berarus deras di depanku, tanpa rasa berdosa sekalipun. Nyatanya memang sudah tak ber-rasa soalmu, hingga membuangnya saja aku merasa lega.

Setelah aku buang aku tutup pintu rumah. Aku tutup dengan gembok. Malamnya aku tidur, namun sang rindu menghampiri. Kemasan itu aku temukan sudah terbuka, ah sungguh keji sang rindu yang datang kembali terus menerus. Tapi sudahlah, aku panggil sang rindu untuk datang lagi. Aku bilang padanya, aku ingin bebas darinya. Kau tahu apa yang dikatakan sang rindu padaku?

“Aku tak pernah meremas napasmu. Aku tak pernah membuatmu terbeban. Kau tahu mengapa aku terus menghampirimu? Tak sadarkah kau bahwa aku yang tumbuh dalam kisahmu bukan hanya untuk dirimu sendiri, ada dia di sana yang sungguh dengan deras merindukanmu. Aku tahu kau pandai mengendalikan diri dan rasa hingga sekarang aku (sang rindu) sudah tak sesubur sejak awal menumbuhi dirimu. Dia di sana sedang merindukanmu habis-habisan. Dia di sana sedang melukis indah parasmu yang terus terbenam dalam ingatannya. Aku (sang rindu) yang hidup dalam ingatannya pun terus menghajarnya tentangmu. Tak ada sedikitpun yang bisa aku hapus tentangmu darinya. Dia menolakku (Sang rindu) untuk pergi. Dia bahkan membiarkanku semakin dewasa bersamanya. Sedang kau? Kau bunuh aku, kau meremas leherku, kau buang aku dan kau campakkan aku hanya untuk melupakannya. Semua tentangnya sudah meluap dari ingatanmu, dan ya kau sudah berhasil!. Aku (sang rindu) hanya ingin tinggal dalam dirimu, ingin membantumu melupakannya dengan caraku. Tolong, terimalah aku (sang rindu) kembali.”

Semua yang dikatakan sang rindu padaku dalam percakapan kita sama adalah sama denganmu. Pada awalnya aku terbeban, namun sekarang aku sudah tak ingin membunuh sang rindu lagi. Baiklah, aku ijinkan sang rindu tinggal dan dewasa dalam diriku. Soal kau yang tumbuh bersama rindu, terima kasih untuk terus memeliharaku dalam ingatan. Kau yang terindah dan yang paling ber-rasa tanpa dibumbui apapun. Bolehkah kukirimkan sesuatu padamu melalui sang rindu dalam ingatanmu?

img_20181011_2008361969522371.jpg

Teruntuk yang dahulu menjadi satu-satunya: ketika aku menuliskan ini, aku undang segala rasa yang dahulu aku buang bersama sang rindu. Mereka datang kembali, hingga aku menulis sepanjang ini padamu. Sejak lama aku sudah menghapusmu hanya dengan tak peduli soalmu, walau aku sangat peduli. Aku menolak pesanmu, walau sesekali aku akan senyum kegirangan melihat pesan-pesan pendek terlucu darimu. Kau masih terus sama sejak dahulu hingga sekarang. Sedikitpun kau tak berubah, kau tak berubah bahkan ketika kebersamaan kita sudah berubah. Kau mengunjungiku berkali-kali, hanya untuk mengingatkanku beberapa hal yang membuatku terluka. Segitukah aku, kau kenal?. Aku mengasihimu sebanyak apapun yang bisa aku deskripsikan. Seseorang yang merobohkan tembok yang aku bangun bertahun-tahun, seseorang yang membuatku suka apapun yang ada pada dirinya dan  seseorang yang membuatku belajar memelihara seseorang sebaik mungkin dalam ingatan. Kaulah seseorang yang membuatku terus berkata jujur, tanpa pernah bersembunyi. Bahumu yang masih kuat menampung peluhku, bahumu yang masih kuat menampung kekesalanku. Bahumu yang selalu kau berikan, ketika aku tak pernah pinta.

Tanganmu yang masih hangat menuntunku, bahkan tanganmu yang masih dengan hangatnya menenangkan amarahku. Senyummu masih kau lukis di hadapanku, walau aku masih membuang senyumku ketika menatapmu. Kakimu yang selalu membuatku tak ingin mundur, kakimu yang membuatku paham apa arti beriringan. Kakimu membuatku paham bagaimana bekerja sama untuk menemukan jalan keluar. Kakimu yang menuntunku tak terantuk bantu hingga terluka dan sakit. Kau sudah sebegitu berharga dalam ingatanku, kau sudah mendaging dalam hati dan ingatanku. Kau yang selama ini selalu aku tolak kehadirannya, justru yang paling ter-rindukan diantara yang sudah-sudah.

Kak, sang rindu membuatku menulis sepanjang ini tentangmu. Maafkan aku yang berkali-kali tak mampu melupa tentangmu. Aku hanya ingin menenangkan pikiran tentangmu, namun cara menenangkan pikiran tentangmu adalah menulis ini padamu. Kau masih terbutuhkan, kau masih paling terbutuhkan. Namun apa dayaku? Kita sudah terjarak oleh pilihan, kita sudah terjarak oleh waktu dan kita sudah terjarak oleh apapun yang sudah menjadi dunia kita. Kita sudah berbeda sejak beberapa bulan yang lalu. Aku tahu bahwa kisah kita masih melekat pada pikiran kita masing-masing, namun kita sudah menjadi diri sendiri dan telah terbiasa. Tak mengapa, sang rindu menghajarku habis-habisan. Tak mengapa, kak. Sesekali mengingatmu menjadikanku merasa bahwa kenangan memang hal sulit untuk terkelupas dalam ingatan. Kenangan kita sepertinya menjadi luka yang tak mengering. Aku tak ingin menyembuhkannya, aku juga tak menganggap perpisahan kita sebagai luka yang menyakitiku. Sebenarnya pada awalnya, aku mengira bahwa kau adalah luka ketika kita membicarakan perpisahan ini baik-baik. Dan ya, aku dibuat takluk oleh prasangka luka tentangmu. Ternyata sudah aku sadari bahwa, kau bukanlah luka. Kau mendaging dalam ingatanku, kau mendaging dengan sikap nyata yang membuatku terpikat ratusan kali.

Terakhir, sudah aku kendalikan rasa berbaik sangka pada kendali Tuhan. Kak, terima kasih telah mencintaiku dengan caramu yang sederhana. Terima kasih telah mencintai segala kurangku yang katamu tak pernah mematikan dirimu. Terima kasih telah menjadikanku sebagai orang yang terus berpikir untuk berbaik sangka pada kendali Tuhan. Semoga kau berbahagia dengan semestinya, dan semoga kau terus berbuat baik pada setiap orang. Akan banyak orang yang terpikat dengan ketulusanmu, kak!.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s