Kenangan dan Kau di Penghujung Oktober.

img_20181007_0747261062216898.jpg

Aku suka berulang kali menunggangi kenangan yang masih membekas dalam ingatanku. Kenangan yang sudah mendaging dalam ingatan yang sekarang telah tumbuh sehat. Berulang kali menolak memberinya nutrisi namun dia kuat untuk hidup tanpa secuil nutrisi pun. Ya begitulah jika harus aku katakan, bahwa kenangan telah menjadi bagian yang mendaging dan tumbuh bersama hariku bahkan hari siapapun. Aku lupa, juga hatinya yang memang dari sanalah kenangan lahir karna tak berhati-hati mengontrol rasa.

Beberapa bulan yang lalu kita merayakan ulang tahunmu, tanpa bertemu. Hanya saling mengucapkan selamat ulang tahun dan terima kasih dari sebuah pesan singkat. Tak ada lagi harapan panjang yang mampu aku katakan, selain kata yang selalu aku sematkan pada siapapun yaitu, Tuhan memberkatimu!. Tak ada apapun yang terlintas dalam pikiranku untuk mampu mengatakan harapanku, selain apapun yang ada di pikiranmu adalah yang selalu diberkati oleh Sang Pemilik Hidup ini.

Aku terkejut bahwa kau masih menantikan bahkan menagih hadiah yang dahulu aku janjikan ketika kita masih bersama. Hadiah yang selalu aku berikan ketika kau buat aku merasakan bahagia berkali-kali hnaya dengan trik murahanmu. Kau paham kan maksudku?

Suaramu yang berat bahkan salam perpisahan kita pun tak ada yang berubah hingga berbulan-bulan kisah kita sudah kandas. Aku ingin mengubahnya, karnanya aku selalu menepi jauh dari kisah kita yang rasanya terus bertumbuh sehat walau sesungguhnya sudah sangat sekarat. Tak ada lagi oksigen sehat yang bisa kita hirup, tak ada lagi kehangatan yang meremas kedinginan kita, dan tak ada lagi yang lain seterusnya. Kita telah sakit sejak lamanya, namun mengurungkan rasa sakit itu dengan kebahagiaan yang semu. Kau paham kembali kan?

img201604260907552123707834.jpg

Hari ini adalah penghujung bulan Oktober, bulan yang istimewa bagi kita. Kau paham lagi kan?. Hari ini di Pagiku yang sibuk, mentari datang menyinari. Dia telah menyingkap semua persembunyianku, yang selama ini telah menepi bahkna lari darimu. Mentari membawa kabar tentangmu, yang sejak lama selalu aku hindari. Aku sudah berulang kali menolak dirimu yang datang, namun kali ini mentari datang membawa semua pesan darimu. Kau menjadi yang ter-rumit diantara segala kerumitan yang pernah menimpaku. Kau membuatku marah serta bahagia disaat yang bersamaan. Kau telah kembali bertamu dengan tujuan yang sama seperti setahun yang lalu. Apa maumu sebenarnya?

Kau menjelaskan tak ada maksud apapun selain dengan maksud memperbaiki dan mempertahankan. Memperbaiki seluruh salahmu yang tak mendaging padaku, dan mempertahankan kisah yang memperindah harimu. Penjelasanmu cukup singkat namun tepat sasaran. Aku paham, apa tujuanmu. Tak ingin aku jelaskan bagaimana aku meresponinya, selain hanya tersenyum dan menutup percakapan kita. Bukan perkara aku tak siap, aku hanya sedang mencerna kata demi kata yang aku tangkap melalui pendengaranku. Kata demi kata yang menunjukan ada upaya untuk kembali, namun aku tak menjawab segala upaya dan juang itu. Kau telah tahu bagaimana aku akan menolak keputusanmu, dan kau telah punya sejuta senjata untuk menembak habis banyaknya alasanku, hingga aku tak punya kekuatan untuk menolak semuanya. Untungnya aku memilih menepi secepat mungkin hingga aku tak kewalahan menjawab sejumlah penawaranmu. Apa kau tahu, aku telah muak menjawabnya berkali-kali?

Setiap kali kau datang, aku akan segera pergi. Kita telah berpunggungan sejak lama. Sejak aku yang memulainya lebih dahulu. Kau seringkali lupa dan mengira aku sedang bercanda, padahal mana mungkin aku bercanda? Aku suka tawa kita, tapi tak bisa aku sangkali aku benci tawa sedih yang memotong-motong kebahagiaan kita. Aku suka kejujuran, tapi tak bisa aku sangkali aku lebih sayang pada keadaan yang menyingkap kejujuran dari pada kejujuran yang direkayasa. Kau tahu kan?

Kita sudah tak bisa lagi saling berjuang, sejak kita sudah menghentikan langkah. Sejak kita telah tersesat dan akhirnya memilih berhenti dan pergi dari kehidupan kita masing-masing. Aku tahu tak satupun diantara kita yang akan menolak keinginan ini, namun apa daya dengan kenyataan ini, sayang?. Kenyataan memang perih. Ia telah menyayat sejumlah kebahagiaan yang sudah bernyawa dan subur. Namun sekali lagi, kita hanyalah seuntai kecil dari kisah nyata yang akhirnya harus berakhir dengan melupakan perjuangan yang dahulu telah kita menangi.

Tak satupun darimu yang dengan mudah mampu aku lupakan, tak satupun. Semua tentangmu begitu membekas dalam ingatan. Satu-satunya cara adalah menjauh hingga melupakanmu, namun sirna sudah ingin itu. Kau masih saja datang dalam ingatan bahkan datang dalam kenyataan. Makin ke sini, makin nyata dirimu yang utuh dan tak mendua. Namun bagaimana mungkin? bagaimana mungkin kita menyatukan semua yang telah tersayat itu menjadi utuh kembali?

Kita sudah kalah sejak lama, sayang. Kita sudah tak bisa lagi berlari dari kenyataan, karna mereka mengejar kita. kita tak punya banyak jawaban ketika pertanyaan menghakimi kita. Kita akan diadili dan kita akan sakit karna kata-kata. Kau pernah tersakiti oleh kata-kataku pula sebaliknya, bukan?

Bagaimana pun juga kita harus berhenti, melihat banyaknya alasan yang telah menghentikan perjuangan kita. Aku harap, kau akan bahagia di manapun kau berada. Tuhan menyertaimu, senantiasa!.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s