Berkunjung di Kisah yang Mati.

Berkunjung kembali ke kisah yang dulu adalah pilihan yang tak mudah. Butuh banyak keberanian untuk memantapkan langkah memilihnya. Aku hanya sedang dihujani pertanyaan untuk berkunjung kembali ke sana, walau aku sudah menyiapkan langkah untuk segera berkunjung ke sana; sekalipun kisah itu telah tutup buku. Kisah itu telah terkikis habis oleh waktu. Yang tersisa hanyalah beberapa pengingat yang mengingatkan. Pengingat yang membuatku menetapkan langkah berkunjung ke kisah yang telah tamat itu.

img_20181104_165240982987515.jpg

Kakiku mengarahkanku untuk menjumpai kisah lalu itu. Bukan jalanan bagus seperti yang dahulu lagi. Sekarang jalanan itu telah gersang, sejak rerumputan menolak menumbuhi tanahnya kisah yang lalu itu. Sejak aku tiba di kisah lalu itu, aku mengalami batuk terus-terusan. Batuk yang seringkali menolak bersarang pada diriku. Batuk kali ini hanyalah karna kegersangan yang terjadi di kisah lalu ini.

Serangga sudah menjadi penghuni kisah ini, walau ketika aku melangkah lebih jauh ke tempat yang lebih jauh aku dapati ada rerumputan yang bertumbuh di sana.

img_20181104_1650431782476750.jpg

Rerumputan itu sudah memenuhi seluruh tanah di tempat yang berbeda itu. Tak tahu apa yang istimewa dari tanah ini, hingga reremputan memilih untuk memenuhi tanah itu dengan tubuh mereka. Aku jadi ingat bahwa kisah ini telah aku tinggalkan bertahun-tahun yang lalu. Kisah yang sudah aku hapus sekian lalu, dan sekarang aku ingin mengunjunginya hanya karna rasa penasaranku yang berlebihan.

img_20181104_165240982987515.jpg

Tak aku temukan sedikitpun, jejak manusia di sana. Hanyalah jejakku yang tertinggal di sana, di tanah yang gersang yang baru saja aku lintasi beberapa menit yang lalu. Kali ini aku tetap berdiri di tempat yang sama, pilihanku detik ini. Tak ada apapun yang aku temukan selain aroma perpisahan yang mematikan suburnya tanah ini. Kini aku ingat bahwa sesungguhnya, aroma perpisahan-lah yang telah membunuh suburnya tanah itu. Para rerumputan pun enggan menjumpai tanah itu, hanya karna sang tanah terus menyimpan aroma perpisahan. Aroma perpisahan ini tak membusukkan tumbuhan apapun, ia hanya sedang merekam bagaimana perpisahan terjadi sepanjang waktu yang lalu itu. Aku tertawa tipis, bagaimana mungkin sang tanah bisa beralih fungsi menjadi lemari yang menyimpan aroma perpisahan?. Ah, rupanya aroma perpisahan ditumpahkan pada sang tanah. Sang tanah yang tak bersalah, berulang kali menampung pedihnya perpisahan.

Sejak meninggalkan kisah ini di beberapa waktu yang lalu itu, telah membuatku melupa bagaimana perpisahan itu terbentuk. Bagaimana karya darinya yang merenggut segalanya yang tercipta. Perpisahan itu telah membuatku tak melihat apapun darinya di setiap jendela yang aku lihat. Udara segar yang aku cari pun, menolak bertamu pada jendela kamarku. Udara segar pun menolak menyuburi tanah yang gersang ini. Bahkan tak ada perjanjian apapun yang bisa mereka buat, hanya untuk saling menolong. Ternyata kisah yang sudah berlalu bersama dengan seluruh isinya sudah menjadi asing, sejak hari pertama aroma perpisahan itu menggema di udara. Bagaimana dengan hal-hal baru selanjutnya?

img_20181104_165929918611235.jpg

Kisah yang berakhir ini hanyalah ingin ditemui kembali, katanya. Dia rindu pada seluruh kejadian yang lalu, sejak dia dihinggapi oleh aroma perpisahan. Perpisahan yang sejatinya, tak begitu menyakitkan. Iya kan?. Bilamana menyakitkan ketika hujan kesakitan menimpa kepala. Aku rasa sejak waktu yang lama itu, semua tentang kisah yang lalu itu sudah gugur dari ingatanku. Tak ada lagi yang merintih berjuang serta tak ada lagi yang merintih dan banyak lagi yang lainnya. Tak sedikitpun kebahagiaanku terenggut melalui perpisahan ini, walau memang benar segala yang dahulu itu masih tersimpan di sana, di kisah yang sudah berlalu itu.

Sejak aku berkunjung ke kisah yang lalu, sudah tak ada yang perlu diragukan lagi. Tanah yang kering dan yang penuh rerumputan di tempat yang berbeda telah menyimpan dengan rapi kisah itu bertahun-tahun lamanya. Mungkin semuanya sudah lenyap, hingga yang tersisa hanyalah aroma perpisahan yang tetap menajam di usianya yang telah menahun. Tak tahu dengan pemeran-pemeran yang menciptakan aroman perpisahan itu seperti apa sekarang.

img_20181104_165240982987515.jpgagain, here. 

–Untuk kesekian kali pada tanah yang terus menyimpan aroma perpisahan—

Masihkah terus kau biarkan dirimu tersakiti? Tak baik menjadikannya bersatu denganmu. Bukankah kau sendiri yang telah memilih menyimpannya? Apa untungnya untukmu? Kau begitu berjasa mengisahkan satu per satu hal yang telah aku lupakan. Kau merekam bagaimana peluh dan kata-kata berhamburan ke tanah bahkan melayang ke udara, hingga perpisahan itu menjadi nyata. Apakah selama ini kau simpan segalanya, agar aku menyaksikannya sedemikian rupa ketika aku mengunjungi kisah ini?

Hanya aku kan yang berkunjung?, aku tak butuh jawaban apapun soal ini. Aku hanya tak ingin kau menyakiti dirimu untuk hal bodoh yang menjadi kisahku di waktu yang lama itu. Terima kasih, karna kau telah mengisahkannya lagi (dan lagi, nantinya).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s