Teruntuk, Tuan.

Eloknya parasmu, seirama dengan eloknya pribadimu. Pribadi ter-menyenangkan yang pernah kugenggam jemarinya. Ada ruang kosong di antara jemariku yang sejak dahulu tak pernah aku ijinkan untuk diisi. Sejak paras dan kepribadianmu yang setara, yang seketika merenggut perhatianku, sejak itulah kau mampu mengisi ruang kosong pada jemariku. Ruang kosong itu, kau isi dengan genggaman lembut yang seketika menenangkan. Ruang kosong itu seketika terisi penuh namun sesuai dengan porsinya. Tak pernah aku merasakan kekurangan maupun kelebihan pada ruang kosong yang sudah terisi itu.

img_20180620_150426_51579978649.jpg

Jemarimu menggenggam erat jemariku. Tak pernah lekang oleh waktu di ingatanku, bagaimana kau menggenggam jemariku yang membuat langkah kita menjadi beriringan. Hal yang tadinya adalah kehampaan belaka, kini menjadi penuh tak tahu mengapa. Jawabannya adalah kau. Kau yang menghempas ruang kosong dengan dirimu dan kau yang mengisi ruang kosong itu dengan dirimu.

Eloknya pribadimu membuatku berkali-kali tak mampu melupakanmu. Melupakan setiap inchi pada sikapmu yang sungguh-sungguh menawan. Tahukah kau bahwa aku sudah terpesona, sejak waktu pertama kau mengisi ruang kosong pada jemariku? Genggamanmu rasanya berbeda, yang aku temukan adalah adanya rasa ketulusan yang kau titipkan disetiap genggamanmu. Aku menemukanmu hal itu sejak matamu yang tak pernah sekalipun berpindah ketika mendengar ribuan ceritaku, sejak kau tak pernah mengeluh ketika aku sedang berantakan terhadap setiap kenyataanku dan sejak kau tak pernah meninggalkanmu bahkan ketika aku ingin sekali meninggalkanmu. Bagaimana mungkin tak kurasakan setiap ketulusan yang kau titipkan pada sabarnya sikapmu, terhadapku?

Kau elok pada segala hal yang tersimpan padamu. Kau selalu menepis segala tudingan yang aku lahirkan dari bibirku, berkali-kali. Kau selalu dan selalu menguatkan ketika aku lengah terhadap waktu dan ketika aku bertindak berlebihan pada diri sendiri. Kau berkali-kali melihatku terikat oleh egoku sendiri, berkali-kali kau melihatku berpikir berlebihan, hingga berkali-kali banyaknya kau melihatku berlebihan pada diri sendiri. Tak pernah sedikitpun kau meninggalkan, kau hanya menasihati dengan lembut. Hingga saat ini, kau adalah tempat ternyaman untuk perteduhanku. Segala yang telah busuk dalam hatiku menjadi segar kembali, hanya dengan sikapmu yang selalu menenangkan. Tak tahukah kau, bahwa telah kunobatkan kau takkan tergantikan dalam ingatan? Kau adalah pemandangan baruku, untuk melihat segala hal yang baru untukku. Kau ajarkan bagaimana berbaik sangka pada kendali Tuhan, bahkan ketika hatiku sedang dibuat retak olehNya. Kau ajarkan bahwa jangan membusukkan hati hanya karna aku tak bisa bertahan dengan, nyata-nyata yang menyedihkan. Kau sudah berkali-kali membuatku melupakan hal sedih, bahkan ketika hal sedih selalu menghampiriku berulang kali.

Entah bagaimana kau bentuk hati dan pikirmu, menjadi sebijaksana itu. Tak takutkah kau, bahwa aku bisa terpesona berjuta-juta kali? tentu saja kau takkan pernah takut. Aku tahu bahwa tak pernah kau pikirkan hal itu, karna kau hanya melakukan apapun yang bisa kau lakukan. Aku tahu bahwa kau hanya sedang berbuat baik padaku, yang sama-sama adalah mahkluk mulia di hadapan Tuhan. Kau sudah melakukan tugasmu dengan benar, tuan. Kau sudah sangat melekat dalam ingatanku. Namun pertanyaan mengenai takut dariku untukmu, rupanya adalah pertanyaan yang berbalik pada diriku sendiri. Namun aku selalu mengaduk akal sehat, bilamana takut kehilanganmu. Sebab sesungguhnya kehilangan adalah pasti dari setiap konsekuensi yang ada. Menggenggam jemarimu saja adalah suatu keberuntungan, jadi aku putuskan untuk tak berpikir lebih selain menyiapkan diri untuk segala kemungkinan terburuk yang bisa datang bertamu dan menjemputku, kapan saja. Iya kan?

img_20181104_165912442690728.jpg

Kau selalu menitipkan cerita tentang alam yang menjadi kegemaranmu, hingga kegemaran kita menjadi sama. Apa saja ketika didiskusikan denganmu, tentu saja akan melahirkan hal-hal baru. Sebegitu menyenangkan bilamana berbagi apapun denganmu, termasuk berbagi perasaan. Dulu selalu saja tak terpuaskan, dan ingin menginginkan lebih. Namun sekarang, sebelum berpikir bahwa apapun tak cukup, pikiran semacam itu tak lagi bersarang dalam ingatanku. Semuanya terpuaskan, entah dari mana pikiran bisa bersarang dalam ingatanku. Yang aku ingat, kau selalu bilang bahwa tak perlu menambah maupun mengurangi, yang penting cukup. Dan sejak saat itu, aku selalu merasa cukup. Aku ingat, dedaunan yang kau bilang pun selalu membuatku bersemangat untuk seketika menulis apapun tentang percakapan kita. Tuan, sadarkah kau bahwa kau telah merobohkan apapun yang dahulu menjulang tinggi dariku.

img_20181104_1659551100879337.jpg

Teruntuk tuan yang melekat dan membekas dalam ingatan:

Tuan, tak tahukah kau bahwa posisimu takkan bisa direnggut dengan mudah dalam ingatanku? Berkali-kali namamu berteriak keras dalam diam. Berkali-kali kau bertamu dalam ingatanku, berkali-kali dan berkali-kali berikutnya kau dikisahkan oleh ingatanku. Lalu bagaimana bisa bibirku menyembunyikan namamu yang menghujani pikirku? Tentu saja, bibirku akan memanggil namamu. Memanggil namamu adalah hal terakhir ketika aku sudah tak berdaya, bila pikirku memperdayaiku dengan berkali-kali menyajikan dirimu. Bisakah seperti itu? entah bagaimana kau terus berteduh dalam ingatanku. Padahal tak ada terik maupun hujan yang bisa menggoresimu, namun pikiranku adalah perteduhanmu. Aku sudah kalah, sejak kau mengisi ruang kosong diantara jemariku. Aku sudah merasa begitu beruntung mengenalmu, sebab kau buat aku mengubah kebiasaan-kebiasaanku yang seringkali aku benci.

Aku jadi paham bahwa musuh terbesar adalah memang diri sendiri. Perubahan-perubahan kecil yang aku rasa terjadi pada diriku adalah bantuan Tuhan melalui dirimu. Aku jadi sadar bahwa Tuhan melalui semesta menitipkanmu dalam kisah sebentarku ini, ternyata cukup berdampak besar. Aku melihat bagaimana kesabaran melahirkan rasa syukur yang tak jemu-jemu berhenti, bagaimana ketulusan mampu mengabadikan rasa yang hadirnya pun tak tahu sejak kapan, bagaimana ketulusan membuat seseorang menyayangi apapun yang ada pada dirinya sendiri sebelum menyayangi orang lain, dan bagaimana ketulusan akan selalu melahirkan ratusan hal baik dalam pikiran maupun perbuatan.

Tuan, kau sudah menunjukan segalanya padaku. Aku memang tak pernah paham bagaimana seorang sepertimu bisa sedemikian tulus seperti itu, tapi aku tahu sekarang bahwa masih ada orang sebaik dirimu di tengah derasnya kejahatan di masa kini. Kau dan segala kekinianmu di kisah sebentar kita, telah menjadikanku mengingat segalanya yang menjadi kenangan kita. Kau tak pernah bisa terbunuh dalam ingatanku, tuan.

img_20181104_1659012139108192.jpg

Kemarin aku berkunjung ke tempat bersejarah dalam hidupku, aku temukan satu tanaman yang menemani masa kecilku. Seketika pikiranku melayang pada dirimu, ketika jarak di tanaman itu mengingatkanku pada jarak pada jemariku yang dahulu kau isi. Kau sudah sama sepertinya, yang tak bisa hilang dari ingatanku. Tak tahu lagi, apa yang akan aku tulis. Pastinya aku senang mendengarmu baik-baik saja.

Tuan, Terima kasih untuk segalanya!.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s