Kejutan Tuhan.

Memasuki pertengahan bulan November tahun 2018, aku menemui nyata paling baru. Status baru yang selama ini selalu aku hindari, status yang tak pernah aku impikan, bahkan status yang sama sekali tak pernah aku inginkan menjadi nyata walau aku sudah mendengar status itu berkicau di udara hingga berteriak dengan keras tepat di depanku, dan sesungguhnya aku tak punya kesempatan untuk menolaknya. Semuanya aku akui atas kendali Tuhan menjadi kejutan terbaru untukku. Mungkin ini adalah caraNya mengikat diriku untuk belajar menjadi pribadi yang setia terhadapNya, walau sesungguhnya tak mudah aku terima kejutan ini. Lantas aku tertawa kecil dalam lelapku, mana mungkin setiap kejutan tak mengagetkan? Setiap kejutan adalah peritiwa-peristiwa yang harus kau syukuri!

Aku terkejut dari lelapku sejak saat itu. Aku terbangun dan telah menjadi sangat sadar bahwa aku sudah menjadi orang yang dipilihNya mendapatkan hak istimewa ini. Walau sesungguhnya untuk menempati kejutan dariNya ini, aku masih dibebat habis-habisan olehNya. Aku pikir, ini adalah caranya mendidikku menjadi kuat untuk umpatan-umpatan yang terdengar jelas melalui pendengaranku. —tak mengapa—

Bila harus aku tulis bagaimana perasaanku merasakannya akan sangat panjang. Sebab banyak sekali hal tak menyenangkan yang aku telan begitu saja, bahkan aku balas hanya dengan senyum hingga aku pamerkan gigiku yang tak rapi ini. Tapi aku bersyukur bahwa aku bukan tipe pendendam dan aku bukan tipe yang mengingat-ingat dengan lama kekesalanku pada orang-orang yang tak begitu penting. Syukurlah aku mengangap mereka hanyalah sebagai kerikil-kerikil kecil yang harus aku hadapi untuk mensyukuri kejutan dari Tuhan.

Di waktu pertama; aku rasa ada banyak kesalahan yang sudah aku lakukan, namun aku tak butuh dimaafkan oleh mereka, sebab sudah aku kerahkan seluruh kemampuanku untuk membedah apa yang selama ini dititipkan Tuhan. Di waktu pertama aku dikerjai hingga air mata hampir merembes keluar di penghujung mataku, namun syukurlah aku tahan. Semesta membantuku menjadikannya sebagai peluh, agar terlihat bahwa aku kewalahan menghadapi serangan dari mereka.

Di waktu-waktu mendatang hingga sekarang ada banyak pertanyaan yang sesungguhnya tak mampu aku prediksikan akan keluar dari mulut-mulut mereka. Sekali lagi aku beruntung, tanpa menjawab pun aku sudah ditolong oleh mereka sendiri yang aku tahu pun tak menolongku. Mereka hanya sekedar mengutarakan pendapat mereka yang kebetulan akan dengan mudah menyepakati apa yang selalu aku katakan. Sekali lagi, ini bukan karna aku tak suka dengan mereka. Namun sekarang akan lebih sulit melihat seseorang yang bermuka dua, kadang topeng yang terpasang terlalu cantik hingga kadang pun aku terlena menyaksikannya. —memang seperti itu—-

Dari semua pengalaman ini, aku merasa bahwa sedang dididik oleh Tuhan menjadi pribadi yang kuat. Aku sedang diasuhNya menjadi pribadi yang tahan uji, menjadi pribadi yang tak tersakiti oleh kata-kata kejam, menjadi menjadi pribadi yang sedang belajar bersyukur untuk hal tersedih sekalipun. Bukankah ini adalah hal yang membuktikan bahwa aku sedang sungguh-sungguh diasuhNya?

Melewati setiap proses ini kadang aku merasa sendirian. Aku merasa tak ada seorangpun yang dapat menolongku, aku hanya berlarian seorang diri. Aku telah sadar bahwa  sejak beberapa waktu yang lalu, sekarang pun aku sedang diasuh olehNya. Aku sedang diasuhNya menjadi orang yang kuat dan belajar mendewasakan diri melalui setiap kerikil-kerikil tumpul hingga yang paling tajam. Tahukah kau bagaimana kerikil tumpul dan tajam itu yang membentukku hingga menyadari bahwa aku sedang diasuhNya?

Sejak kali pertama aku menghadapi kejutan dari Tuhan, aku merasa seperti sedang tercekik oleh mereka. Aku tak bisa berkembang dengan caraku, aku tak bisa mengekspresikan emosiku, aku merasa bahwa aku yang sedang mereka kendalikan. Sesungguhnya aku ingin berontak, namun Tuhan menegur. Tuhan mengingatkan untuk belajar berbaik sangka padaNya, dan ya aku patuh terhadapNya. Aku menolak memberontak sambil mempelajari apa yang sebenarnya mereka inginkan. Aku menemukan bahwa mereka ingin aku menyajikan makanan yang sama setiap hari. Lantas aku sudah bosan memakan makanan yang sama tiap hari. Sedang aku hanya seorang diri yang menolak makanan itu, sedang mereka menikmati hal yang sama.

Aku buat hal-hal baru, namun aku ditentang. Kejadian itu telah memilukan hatiku, namun aku berusaha berbaik sangka kembali pada maksud Tuhan. Sesungguhnya yang aku rasa bahwa mereka sedang mengikis habis keberanianku hingga mereka sedang menghajarku dengan cara halus mereka. Namun sekali lagi, aku hanya membalas dengan senyuman terbaikku untuk mengurangi amarah yang sedang membakar hatiku habis-habisan. Sudahlah, itu juga menjadikanku lebih kuat lagi. Aku sempat merasa bahwa bertemu mereka yang berkelompok adalah mimpi paling buruk. Mimpi terburukku di kejutan ter(jelek) ini. Tak mengapa, sekarang aku sudah menganggapnya sebagai hal yang paling aku nantikan. Aku sudah bertemu mereka berkali-kali dan sudah semakin merasa diperkaya oleh sikap-sikap mereka.

Tulisan ini mungkin takkan kalian pahami. Tulisan ini adalah caraku mengungkapkan bahwa cara berbaik sangka pada kendali Tuhan adalah hanya dengan percaya padaNya. Setiap nyata yang Tuhan berikan padaku akan aku anggap sebagai kejutan. Aku pikir bahwa aku tak layak mendapatkannya, hanya karna aku membatasi diri sendiri. Nyatanya, Tuhan sudah menunjukan mengapa Dia memilihku untuk dihadiahi kejutan ini olehNya. Setiap kejutanNya memiliki kerikil yang tumpul hingga menajam, namun semua menguatkan. Aku rasa bahwa aku kerdil hanya karna diriku yang mengerdilkanku. Aku rasa bahwa aku tak mampu, hanya karna aku sedang dihakimi oleh diriku sendiri.

Kejutan yang Tuhan berikan saat ini, hanya sedang aku pelajari. Aku perbaiki diriku yang kadang meledak-ledak untuk masalah sepele. Aku perbaiki diriku yang dahulu tak menghargai pendapat orang lain, kini lebih merasa menghargai orang lain. Aku perbaiki diriku yang dahulu ingin memenangi pendapatku, kini lebih merasa mengalah adalah lebih baik. Dahulu aku menjadi orang yang malas membaca, sekarang aku menjadi ingin lebih banyak membaca hanya sekedar memperkaya diri dengan ilmu-ilmu terbaru. Aku perbaiki diri sendiri bahwa dahulu aku bisa sangat sakit hingga terluka dalam, hanya bila orang lain terang-terangan menyakitiku, kini aku lebih mudah merasa bahwa ada hal yang perlu aku masukkan ke hatiku  untuk membuatku bertumbuh. Aku menjadi lebih belajar memilah mana yang penting aku pelihara dalam ingatan dan mana yang harus aku buang lebih dahulu. Aku perbaiki diri sendiri dengan cara meyakinkan diriku bahwa kini hidupku sedang dirajut dengan indahnya oleh tangan Sang Pencipta. Benang-benang yang dirajutNya adalah kejutan-kejutan yang setiap hari melengkapi seluruh kurangku.

Kini kejutan itu membuatku semakin mengerti diriku sendiri yang rasanya belum bisa aku pahami dengan sungguh. Aku semakin paham bahwa benang-benang yang sedang dirajut Tuhan dalam hidupku adalah caraNya menyadarkanku bahwa aku sedang diasuhNya berkali-kali. Bahwa sesungguhnya untuk menjadi kuat; perlu dahulu terantuk batu supaya tak melupa bagaimana membalut luka, perlu dahulu terpeleset kerikil yang banyak di jalanan supaya lebih hati-hati memilih jalanan bahkan menatap jalanan, perlu lebih dahulu merasa sakit supaya tak lantas menyakiti orang lain. Perlu dahulu sakit hingga mengetahui bagaimana berharganya kesehatan, perlu dahulu menemukan banyak hal untuk dinikmati kini dan seterusnya. Ah, betapa aku menemukan kejutan-kejuatn baru ini.

Last: I don’t know who I am, without you!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s