Hadiah Terbaikku, Sepanjang Masa.

Ambon, 01 Desember 2018

Di dua 24 tahun yang lalu, aku dan saudari kembarku mendatangi bumi. Kami keluar dari rahim mama, dengan selisih waktu tiga menit ketika kami dilahirkan. Tak bisa aku gambarkan suasana kala itu, satu yang pasti adalah rasa sangat bahagia dari papa, mama dan kedua kakakku akan kedatangan kami. Kata kakak tertuaku, “aku berlari ke rumah dua buah jambu air untuk kalian”, ketika mendapati kabar bahwa kami telah tiba di rumah. Dia bersedih ketika kami tak bisa memakan jambu biji yang dibawanya itu.

Lembar demi lembar ketika kami tumbuh terekam dalam album foto yang sekarang sudah menguning termakan usia. Lembar demi lembar potret yang merekam bagaimana kami menangis, kami tertawa, hingga bahagia ketika bergantian berbaring di pangkuan mama maupun papa. Satu potret yang sudah sulit dikenali adalah ketika usiaku baru setahun, berpakaian serupa dengan kedua kakakku sambil berpegangan tangan lalu dipotret. Jangan tanya bagaimana aku bahagia melihat foto yang sudah tak terkenali itu lagi, setiap kali aku buka potret itu ada ratusan cerita yang tersimpan di dalamnya.

Kini, kami telah tumbuh menjadi gadis yang berulang tahun di hari ini dan telah didatangi oleh usia 24 tahun; usia yang menunjukan kematangan dalam segala segi kehidupan. Di balik sukacitaku malam ini, ada banyak doa yang telah dipanjatkan oleh papa dan mama dalam diam, juga oleh saudara-saudaraku. Rasa bahagia malam ini adalah bukti bahwa penyertaan Tuhan terus menyertai, karna aku selalu dikuatkan dengan ayat kitab suci yang aku baca setiap pagi dan malam. Rasa syukurku ingin terus aku ungkapkan untuk malam ini, ketika langit malam dengan megahnya membuatku merasa menjadi miliknya. Bulan telah bertamu di atap rumahku, dan aku menjadi begitu berselera untuk tersenyum menatapnya puluhan kali. Aku yakini bahwa Sang Pemilik Hidup ini, telah mengirimkan sinyal sukacitanya melalui semesta yang bersinar di malam ini. Sungguh romantis kasih Tuhan dalam hidupku.

Biasanya aku punya tradisi musiman ketika merayakan ulang tahunku. Aku akan berdialog dengan Tuhan dengan sejumlah penawaran yang berharap akan segera direstuiNya. Dialog-dialog itu melahirkan banyak-banyak ingin yang sempat membuatku merasa ingin sekali merekayasa kenyataan. Tapi aku salah, aku hanya boleh mengasihi apapun yang terjadi dalam hidupku maupun yang akan menemani usia 24 tahunku, nanti. Di hari sukacita ini, ada banyak senyum yang aku rekam hari ini. Senyum-senyum terbahagia dari keluargaku. Ingin rasanya aku menuliskan rasa terima kasih kepada keluargaku yang terus menemani dan mencintaiku.

Teruntuk Papa, Sang Pria Sejati yang sesungguhnya: sosok terbijaksana yang selalu menenangkan. Aku mengidolakan papa, sebagaimana yang terlihat oleh kedua mataku. Sosok terpandai yang mampu mengemas canda maupun serius menjadi nasihat-nasihat. Darinya aku belajar bahwa, tak selamanya nasihat harus berisikan kata-kata amarah yang menusuk. Nasihat pun bisa dibalut dengan canda yang cukup mengena. Papa adalah seseorang yang terus berdialog dengan Tuhan. Darinya aku belajar untuk jujur kepada Tuhan tanpa keinginan apapun. Katanya; waktu Tuhan tak pernah terlambat. Maafkan aku yang seringkali melawanmu, Pa.

Teruntuk Mama, Sang Wanita Sejati yang sesungguhnya: sosok yang tak pernah berhenti berbicara. Kadang aku akan sangat jengkel, hingga merajuk terhadap sikapnya yang kelewatan. Namun darinya aku belajar untuk tak menjadi pendendam, dengan cara melampiaskan segalanya lewat kata-kata supaya meredam amarah dan segera melupakan amarah itu. Mama pula adalah orang yang selalu menginginkan hal-hal baik terjadi dalam hidupku. Selalu aku dengar namaku di setiap nyanyian doa kedua orangtuaku. Dari mereka aku belajar tentang arti mengasihi dan ketulusan. Maafkan aku juga yang lebih sering melawanmu, Ma,

Teruntuk Kedua Kakak Perempuanku, Kak Dian dan Kine: kalian adalah orang yang membuatku bersemangat mengejar gelar sarjana, yang sudah aku sandang sejak setahun yang lalu. Kalian yang membuatku ingin belajar banyak hal, sejak diskusi-diskusi kita membuatku ingin terus belajar. Sejak kecil, aku bertumbuh bersama kalian. Aku petik bermacam-macam ajaran hidup tentang keberanian, pengorbanan dan rasa mengalah. Sesungguhnya aku belum bisa, namun ketika melihatnya berkali-kali lahir dalam keseharian kalian membuatku ingin mengasah diri menjadi pribadi yang berani, rela berkorban dan punya rasa mengalah. Sejak lama aku ingin berkisah tentang bagaimana kalian mempengaruhi diriku, hingga aku menjadi aku yang sekarang. Bila ada kata lain selain terima kasih, akan aku ungkapkan. Aku sadar, aku adalah adik yang seringkali tak sopan terhadap kalian. Aku baru sadar aku telah menyakiti kalian, ketika kalian tanpa sengaja membentakku. Tak mengapa kak, aku paham bahwa menghargai orang yang lebih tua adalah hadiah sederhana yang bisa aku berikan. Dari kalianlah aku mengerti bagaimana percaya pada Tuhan dengan sepenuh hati, melayani Tuhan lewat sesama dan belajar mengasihi semua hal buruk yang terjadi. Kadang aku bahkan tak mengerti, mengapa kalian bisa begitu sabar dan bersyukur akan segala kejadian yang tengah kalian hadapi. Melihat bagaimana Tuhan memberkati kehidupan kalian, aku mengerti bagaimana bahagianya menjadi orang yang rendah hati. Terima Kasih untuk Kak Dian dan Kine, yang tanpa pernah lelah menyapa dan mengabari bahkan sesekali membuatku resah mendengar beberapa permintaan teraneh, hihi. Selebihnya, aku begitu menyayangi kalian. Rasa syukurku karna memiliki kalian, adalah hal terindah.

Teruntuk Saudari Kembarku, Olla: kau adalah gadis berkepribadian paling buruk yang paling aku kenal. Gadis yang tak pernah bisa berbicara dengan pelan, sebab kau lebih suka berteriak. Tak tahu darimana ajaran ini kau pelihara dalam dirimu. Satu yang membuatku bersyukur memilikimu adalah caramu menyelesaikan masalahmu. Kau menyembunyikannya dengan sangat rapi hingga kita semua tak sadar bagaimana kau mendapati masalah itu sampai bagaimana kau menyelesaikannya. Itulah kekuatanmu yang kau tunjukan padaku, bahwa percaya diri dan percaya pada Tuhan adalah hal terbaik dalam menyelesaikan setiap masalah yang sedang dihadapi. Aku berdoa semoga kau lebih rajin berdoa (haha).

Teruntuk Adik Lelakiku, Nyong: pria paling rajin belajar yang aku temui di abad ini. Pria yang akan dengan gigih mengejar impiannya, adalah dirimu. Kau pula adalah pribadi paling menyenangkan sebab penuh dengan guyonan yang melahirkan tawa renyah kita bersama. Kau pula adalah orang yang takkan peduli pada siapapun yang berbicara buruk tentangmu, juga aku bangga pada rasa percaya dirimu. Kau selalu berhasil menjadi dirimu sendiri, dan berhasil meyakinkan kita semua bahwa apa yang kau pilih untuk dirimu adalah benar-benar yang terbaik. Kadang aku lelah hati melihatmu bahkan dengan terang-terangan menghujatmu, namun kau dengan rasa percaya dirimu itu mampu menepis hujatanku dan menjadikannya lelucon. Aku doakan semoga kau terus berhasil mengejar impianmu, sebab melihatmu bahagia adalah juga bahagiaku! (ciiiieeeee)

Teruntuk saudara-saudaraku: terima kasih paling banyak, telah mengukir cerita lucu kita bersama sejak masa kanak-kanak hingga dewasa ini. Kita telah melihat perjuangan masing-masing, dan telah saling mendukung dan mendoakan. Terima kasih telah menjadi yang paling terbaik, diantara yang paling terbaik di depan mata. Benar bahwa, ketika sedang berburu dihutan haruslah membawa saudara kandung. Ketika serigala maupun singa hendak menerkam, kita bisa berpegangan tangan dan berlari bersama untuk menghindari serangan serigala maupun singa. Itulah arti sesungguhnya persaudaraan, dan orang-orang yang mampu aku membuatku menceritakan apapun adalah kalian. Semoga cinta kasih dalam persaudaraan kita tidak pernah menipis tetapi semakin menebal, semoga cinta kasih dalam persaudaraan kita tidak terkikis hingga dimakan usia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s