RIWAYAT PERTEMUAN.

Dunia memang sempit. Hidup memang rumit. Keinginan lebih membingungkan. Saat prasangka berdaulat, segala keinginan mati. Hal menarik pun berubah menjadi hitam dan lebam, mengeroyok segala keinginan hati. Waktu kembali menyapa, mempersiapkan cerita yang tak mudah ditebak. Laksana anggun melambai, memberi bisikkan tentang hal baru.

Memacari diri sendiri adalah pilihan membuktikan sejauh mana mampu mencintai. Memberi segala penghargaan, menuruti segala kemauan dan menegur segala kejahatan yang jahat. Memerangi perkara keinginan yang menggigil, dan menghangatkam kemampuan yang terus ingin diperbaharui. Berjalan semestinya dan mencintai seharusnya, bukan semampunya. Menanggali segala kebaikan yang diperoleh, menghadiahkan diri dengan keinginan yang belum tergapai hingga bercermin memberi senyum; tanda bahagia memang di depan mata, bahagia yang begitu sederhana.

Proses mencintai diri berhasil menarik perhatianmu. Bermula dari percakapan gila, berubah menjadi prasangka mendalam. Belajar memahami, menghormati dan bertegur sapa, tanpa saling memandang telah berterus terang menyatakan ada riwayat pertemuan yang membuahkan cerita. Cerita tentang pertemanan yang denyutnya berbeda dari biasanya, yang cara pandangnya berubah dari biasanya dan cara menanggulangi percakapan yang terus saja berbeda. Ahhh, sungguh membingungkan menarasikannya dalam ungkapan kata tanpa lerlu berterus terang!

Kita berdua memang merekatkan jarak tanpa berusaha merenggangkannya. Kita berterus terang akan keadaan dan menemukan kenyamanan dibalik masing-masing cerita versi kita. Saling belajar menidurkan dan mengubur masa lalu, telah berhasil kita lewati, bahkan sejak saling menyapa dan berkabar. Belajar pelan dan pandai mengulas hati, telah mencuri dan merampok segala bentuk perhatian yang melahirkan penantian. Pertemanan yang bermula tanpa sengaja, berubah menjadi kesadaran yang terus disengaja 😁.

Kita berhasil menggapai sejumlah keinginan yang kita impikan. Kau menemukan duniamu juga aku. Namun kita kalah memperoleh hasil baik, karna kita lupa bahwa kita saling mengenggam 😂. Lihat, betapa naifnya kita yang berpikir untuk saling menghindar. Melupa akan riwayat pertemuan yang menyajikan cerita hangat antara kita, yang kini membutuhkannya😁.

Aku sering tertawa, mengingat keangkuhan kita. Berlari ke tepian pertemuan, saling menolak menatap mata dan mulai jarang tertawa😂. Kita mulai merasa telah menyangkal jati diri, dengan menciptakan orang lain dalam cerita kita. Kita membungkam keinginan. Namun terlalu enggan berterus terang tentang segumpal daging yang sudah terlanjur berdenyut di hati, eeeeeaaaaaaa😂.

Kita berterus terang, demikian. Bercerita tentang prakarya keadaan hati yang sudah terlanjur jatuh pada sejumlah kehangatan dibalik pertemanan. Ini bukan pertemanan yang seumur jagung, pertemanan yang sudah seerat saudara, namun ternoda oleh hati yang terlanjur ingin memiliki dan dimiliki😅. Kita berdiskusi tentang hal itu. Berusaha menemukan perhentian tanpa melukai perasaan masing-masing, tanpa melukai pertemuan yang selama ini terjalin ataupun hati yang sudah tak karuan menjelaskan penantian.

Percobaan untuk mengubah konsep teman menjadi romantisme bak pasangan, rasanya tak berhasil pada kita. Akhirnya kita sadar, bahwa rasa itu cuma sesaat; ketika hati ingin diisi dan mukai terbiasa dengan perhatian yang sama-sama kita berikan.

Kita beruntung, masih berkawan tanpa merasa kecewa bahwa prakarya hati telah tertolak sejak awal 😁.

Terima kasih untukmu, yang terus bersamaku dalam setiap keadaan. Bercerita banyak tentangmu, membantuku pulih dari hati yang retak oleh kenyataan dan menuntunku menjemput bahagia dengan cara sederhana. Bukan karna aku tak mampu melakukannya, aku mampu. Namun aku terlena akan energi negatif yang tertransfer enath dari siapa, patah karna ejekan dan tumbang karna cemooh. Aku tak tahu harus berlari pada siapa, hingga tanpa sengaja tujuanku padamu. Berharap kau adalah orang yang bisa mendengar dengan baik, dan harapan itu memang benar. Kau mendengar tanpa membunuh tangisan, kau menenangkan tanpa menciptakan pertanyaan baru dan tak membentak ketika aku sudah pasrah. Aku sering tumbang mendengar ungkapanmu, namun itu yang menguatkanku. Terima kasih❤.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s