Sementara dan Bertahan.

Halo! Aku bertemu denganmu di persinggahan perjalanan baru. Tak ada tujuan menemukan seseorang yang berarti, selain membangun pertemanan. Pertemanan yang tanpa sengaja terjalin, membuatku menemukan hal menarik pada diriku, begitu katamu. Kau tawar aku menjadi sahabat, sebagai pembuka perkenalan. Aku sanggupi penawaranmu, karna melihatmu sebagai kakak yang menawan sekaligus melahirkan tawa ringan dengan wajahmu yang khas.

Pertemanan ber-rasa saudara terjalin dengan aman dan nyaman. Menemui setiap masalah menjadi perbincangan dan saling menghubungi ketika keadaan sedang ingin bertegur sapa. Pertemuan menyenangkan terjadi. Ada pandangan berbeda yang tak mampu aku tebak, sebagai awal perbedaan yang nampak dari sikapmu. Belakangan kau mulai terbuka, menjujurkan semua yang menggunung dalam hatimu. Bercerita tentang awal menyukai, hingga mengagumi setiap detil sederhana yang aku lakoni. Kebiasaanku perlahan mengambil perhatianmu, dan membuatmu mempelajarinya. Timbullah kesamaan yang berbeda, sekedar memberi ikatan kecil yang membuatku berpaling bilamana ingin bersama mempelajari sesuatu.

Pertanyaan untuk bersama menggema dan menggaung dalam pendengaranku, bersamaan dengan lisanmu yang aku tangkap. Ada pertanyaan yang membutuhkan jawaban, sehingga aku enggan menanggapinya.

Pikirku, mungkin kau akan enggan menyapa, bertanya atau membangun percakapan. Mungkin kau akan berhenti berjiwa berjasa dalam menanggapi percakapan denganku. Sekaligus kau lenyap dalam dering dan pesan pada ponsel.

Sebaliknya, kau bertahan. Kau tunjukkan padaku mana yang sementara dan bertahan. Mana yang enggan meniadakan sepi sebatas penolakan, namun berusaha menjalin hubungan baik dan mana yang punya orientasi berbeda dibalik setiap penawaran. Rupanya kau memang serius bertanya dan benar-benar tak butuh penolakan. Pertanyaanmu pun bersifat tanya dan mengharuskan jawaban, tanpa harus menuntut banyak. -what a beauty-.

Terima kasih telah bertahan untuk sekian sementara yang panjang, yang tanpa prihatin menghilangkan ke’sementara’an dan memperkuat pertahanan untuk bertahan. Setelah banyaknya sementara yang penuh keraguan, telah dikumpulkan menjadi pertahanan yang panjang, telah berjasa membangun jiwa yang nampak dalam setiap pertahanan.

Untuk segala sementara yang kesekian kali, sementara yang tak mudah goyah dan sementara yang lama sifatnya: pada hati yang tak sementara memberi rasa dan tak sementara meyakinkan rasa, terima kasih telah bertahan diantara segala ke’sementara’an yang semu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s