Datang, Bertahan & Pergi.

Halo kamu! Terima kasih karna telah enggan menyapa maupun berkabar. Mulanya aku tepis dengan menghibur diri sendiri dengan segala aktifitas yang membuatku produktif, dan terima kasih karna setelah kau pergi aku makin pandai mengolah emosi dan tak jumawa terhadap masalah sepele, seperti dirimu.

Aku tahu bahwa dalam kisah cinta ini, ada kita berdua yang saling mengisi. Belajar mencintai kekurangan masing-masing, seperti komitmen kita sedari awal. Kita tak ingin kaget dan malah saling meninggalkan ketika kekurangan kita; membuka tabir baru dan menciptakan retak yang bisa roboh menindih kita. Penindasan akan terjadi setelahnya, karna memilih mengembara entah kemana, hingga mengorbankan kisah cinta yang digadang-gadang akan happy ending.

Akhirnya, sebuah halangan datang menghadang. Sebuah kisah tanpa dibumbui ego pasti akan begitu datar. Walaupun ego adalah musuh dari setiap pemilik hubungan. Ada salah satu yang begitu banyak mengalah tanpa perlu menuntut. Ada satu yang begitu menuntut, namun akan lemas seiring waktu. Keduanya akan saling mencintai kekurangan masing-masing, hingga berhasil saling memperjuangkan. Segala keegoisan telah mati, berganti rasa cinta yang meluap-luap. Tiba di titik ini adalah satu kenyataan yang tak mudah, berperang melawan ego dan memenangi rintihan ego bersama, -yeeeeeaaaay-.

Bagaimana dengan akhir kisah ini?

Berakhir. Berdiskusi pun tiada mampu bahkan sanggup menyelamatkan kisah ini. Yang satu berprinsip untuk pergi, dan yang satu tiada daya untuk mempertahankan. ~Masalah harga diri dan ego, telah kembali berkuasa~. Anehnya, setelah saling meninggalkan malah semakin hati-hati menyimpan komunikasi. Masih ada nama masing-masing dalam panjangnya daftar stories di social media. Tak ada usaha menepi ataupun lari. Jadi harus bagaimana?

Tak ada kuasa untuk mengembalikan ataupun semacam itu. Kuasa untuk memperbaiki hati dan membiasakan diri melihatnya terus hadir dalam ruang maya, adalah caranya menjaga(ku) dari jauh. Kadang aku malah menghakimi diri tentang berpikir bahwa dia masih ingin kembali, setidaknya dalam lisan yang tak bersuara. Gagal; kita sudah berpisah berkilo-kilo jaraknya dari kisah ini. Juga tentang anggapanku tentangnya yang menjagaku; ini hanyalah upaya menyelamatkan dan memperbaiki hati setelah segala kenyataan tertera menyata dalam pandangan.

Aku senang, mengenalmu dan belajar tentang sosok sederhana namun mampu menciptakan banyak tanya. Aku senang bahwa dalam keengganan kita yang terus saja diselimuti egoisme, kita masih berusaha merekatkan jarak sebagai teman, tanpa berteman!

Ahh, tenang saja! Semua tentangmu yang membukit disini, tak akan aku hapus. Aku senang, bahwa aku belajar memaknai segala proses yang aku alami, sekalipun berakhir tak bahagia. Sebenarnya sederhana, bahagia kan tak melulu soal tawa dan berdua kan?

~terima kasih telah datang, bertahan dan akhirnya pergi tanpa kata~