Arogansi.

Apa yang kau lakukan ketika teks mengatakan baca, tapi tidak ada balasan?

Adalah kutipan dari film yang aku tonton kemarin. Sebenarnya ada banyak cara memerangi pikiran bilamana menemui peristiwa yang demikian. Teks bukanah sekedar dibaca namun direspai. Teks bukanlah sekedar berjilid-jilidnya kata, namun adalah sejumlah permintaan, pertanyaan juga pernyataan. Lalu bagaimana lagi, bilamana berujung tak berbalas? sederhana, sederhanakan pikiranmu. Beri pikiranmu ruang untuk menganalisa setiap pesan yang kau kirim, maupun menempatkan dirimu menjadi dia yang seringkali menerima pesanmu.

kemarin aku bercakap dengan teman lama. Bagaimana mungkin kau kebal dengan perlakukannya yang begitu arogan padamu? selorohku. aku suka arogansinya, ada nyawa didalam arogansinya yang membuatku merasa terikat, jawabnya padaku. aku terdiam, berpikir jauh tentang apa maksud dari jawabannya. Aku memang tak mengenalnya, aku hanya mengetahui perawakannya berbatas ponsel, yang seringkali temanku ceritakan. Aku kira menghadapi orang berarogansi adalah hal yang paling aku hindari, namun temanku malah terikat dengan orang yang demikian. Katanya, arogansilah yang mempertemukan kami.

Pikirku: mana ada arogansi yang membantu mempertemukan? setiap arognasi dilibatkan, pasti ada perdebatan tanpa kata, suasana yang mencekam dan tak mau lagi terlibat dalam situasi itu. Namun sekali lagi, semua yang ada dikepalaku hanya seputar berpikir tanpa tersampaikan lewat bibir maupun lisan. Jemari yang ingin bertanya dalam kata, seketika enggan bertanya, menolak membabi-butanya melontarkan kata yang harus aku analisa. Aku lelah menganalisa setiap katanya, yang sulit terpecahkan (haha).

-Arogansinya menebal, manakala kita berdebat. Aku sering mengalah dan meminta maaf duluan, setelah kita berdebat. aku pun yang terus menanyai kabarnya, tanpa enggan berharap dia memberi kabar-.

Aku terkejut dengan pengakuannya. Sekiranya kita sama, aku juga pernah bertemu dengan arogansi yang mirip dengannya. Nahas, arogansinya termakan oleh waktu. Arogansinya menetap pada pemukaan dan meluntur pada akhirnya. Manis memang, menyadari pertemuan berdasarkan arogansi, namun mengandaskan pertemuan bukan karna arogansi. Setiap arogansi memang harus dibayar dengan ketulusan, biar apa? Biar arogansi melemah sedini awal, berkembang secukupnya dan mati setelahnya.

Kepada temanku: terima kasih sebab ceritamu menghidupkan cerita lamaku, namun dengan akhir yang berbeda. Semoga kau tak ditimpa beban oleh arogansinya, bersedialah juga berperang dengan arogansinya dan semoga segala hal baik mencarimu!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s