Terik.

Terik kemarin, aku berjumpa dengan kenangan kita. Ahh, sedih sekali. Melihat terik berkuasa memenangi hari, tanpamu yang selalu berujar tentang banyaknya peluh yang mengairi kening. Aku memang suka bercerita tentang terik yang tak kunjung reda, itulah mengapa kau gemar sekali bercanda bernada terik ataupun bertema semesta denganku.

Bukanlah sebuah surat cinta akibat putus, ataupun ditinggalkan bahkan meninggalkan. Sebuah surat manis berisikan hal manis tentangmu yang manis, memang tak pernah padam. Apinya selalu bergelora, membadai hingga menerpa hati, menciptakan gulungan-gulungan asmara kian hadir, setelah sekian lama pupus. Asmara tentang pertemanan yang kian hari kian manis, berdenyut memberi harapan bahwa ada percakapan yang senantiasa lahir.

Padamlah sudah semua harapan. Asmara tentang pertemanan yang mewarnai percakapan selalu nyaring dibahas, kapan saja. Padamlah harapan, bahwa impian mengunjungimu sesederhana: halo, memang membertakan jemari. Jemari saja sudah terasa berat, bagaimana dengan lisan? Tentu saja akan lebih berat! ๐Ÿ˜

Kau pergi dengan impian baru, meninggalkan karna tak terbiasa denganku dan tiba-tiba hilang lalu merengek minta dikunjungi. Siapa yang bersalah? Tak ada. Kita berhak berjuang memenuhi keinginan hati dan hari, hingga menjadi saling tak terbiasa. Berusaha membiasakan pun sudah tak sanggup, satu-satunya jalan terbaik adalah menghilang bersama. Senyapkan pemberitahuan, menjadi silent talker. Itu sudah terwujud, kan?

Saling membeku, berhutang menyapa dan tak mampu membayar sapaan. Kita bahkan saling menunggu, siapa yang bertahan paling lama diam dengan semua keenganan diantara kita. Keengganan tak pasti, yang menjulang pasti; mengubur ke’pasti’an pahit diantara kita. Banyak yang aku sesali, bahwa diskusi dan kesepakatan kita untuk saling mengerti; sudah memudar sebelum berkembang.

Lahan yang basah memang becek, itulah mengapa kita terperosok dan tersungkur. Mengotori segala pilihan, dan tak berusaha membersihkannya. Kita mengotori pertemuan indah, pertemanan manis dan hampir memaniskan kisah ini. Menyesal pun tiada guna; bagaimana selanjutnya?

Menikmati hari. Berkunjung pada terik yang dahulu adalah topik bercerita, romansa berdiskusi dan kemesraan yang saling melindungi. Mengabadikan setiap waktu, lalu dengan cermat menepi di sini, bercerita di ujung lisan tak sampai.

Kepadamu: terima kasih telah menjadi kawan bercerita sepanjang tahun ini. Desember akam segera pergi, dan kau bahkan tak mampir di awal Desember๐Ÿ˜….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s