To my beautiful girl ❤

Kepada temanku yang ingin sekali menerima wejanganku 😂, setelah kisahnya nyaring bergema menutup dini hari punyaku, baiklah aku tuliskan ini sebagai hadiah untukmu.

Halo! Di ujung sapa yang tak sempat menyapa, ingin kusampaikan panjangnya impian. Ralat, bukan impian. Tapi manisnya sikapmu yang berujung meninggalkan. Aku akui, kadang aku membuatmu jengkel hanya berharap kau mampu mengubah kebiasaan yang tak membuatku terbiasa. Nyatanya kau sudah terlalu nyaman, harapku: ingin sekali mencoba merasuki duniamu, menjadi sepadan denganmu dalam bersikap, namun urung hanya karna tak bisa dan tak nyaman. Berkali-kali mencoba namun gagal.

Perdebatan tak bisa dihindari. Berharap berakhir dan siap saling meninggalkan. Tak ada yang bisa diperjuangkan, selain saling pergi menemukan dunia masing-masing sambil mengintrospeksi diri, sudah sejauh mana saling mengerti.

Di ujung persimpangan setelah saling meninggalkan, ada kebiasaan yang berubah. Kau yang dahulu dengan pandai merayu dan bertahan sekuat tenaga, malah pergi hanya karna masalah sepele. Ya sepele menurutku, namun tak sepele menurutmu. Kadang aku pun tak bisa paham cara berpikirmu yang sulit ditebak. Kadang kau dibuat kenyamanan dengan hal diluar logika, yang seringkali aku hindari. Sayang, kita berbeda. Perbedaan adalah bumbu dalam asmara. Namun bagaimana bisa kau paksa aku menjadi seperti inginmu? Tiap orang memang berbeda, tak perlulah kau bandingkan nyata yang sudah jelas berbeda. Aku tak bisa menyamakan diri dengan orang lain, hanya sekedar menciptakan kenyamanan padanya, hingga membuatku lupa diri bahwa aku sudah menopengi diriku sendiri.

Sebelum kisah ini benar-benar kandas, kita bercakap. Mencoba memulihkan segala kenyataan yang terus saja berbeda. Bersembunyi dibalik setiap kenyamanan milik masing-masing, ada beberapa yang terbilang tak mudah. Ada beberapa yang masih bisa disepakati, walau belum ada kesepakatan yang terjadi. Masih ada penawaran untuk kembali, karna kita sadar bahwa rasa sayang mampu mengalahkan segalanya, dan akan terus berakhir dengan saling memaafkan. Hingga akhirnya percakapan mudah dan ringan menjadi berat, manakala kita berkeputusan untuk mengakhiri segalanya. Ada rasa kecewa di hati masing-masing, yang mengharapkan bisa kembali menabur tawa dan menuai bahagia dibalik tiap kesukaran dalam kisah ini. Sayangnya, kesukaran ini benar-benar mendukakan hati kita berdua. Ini sudah berakhir, dan hanya saling mengatakan selamat tinggal.

Kepada temanku yang menyesali keputusannya: Tak ada yang perlu disesali sebab keputusanmu terlalu bagus. Kau pantas pergi dengan sejumlah kenyamanan yang tak perlu kau ubah. Bilamana kau berjuang sekuat hati untuk masuk dalam dunianya namun terus saja gagal, itu artinya kau tak bisa sama sekali memaksakan dirimu! Kau boleh mendukungnya sekuat tenaga: atau bahkan menegurnya bilamana kau rasa itu salah. Namun jangan mengorbankan dirimu sendiri demi kepentingan berisikan kenyamanannya. Itu artinya kau tumbalkan dirimu sendiri, demi dia yang belum bahkan tak pasti bisa melakukannya untukmu.

Kepada temanku yang menyesali keputusannya: temanku, ingatlah bahwa dalam kisah cintamu, ada kau dan dia. Ada kalian berdua yang terus saling mengisi. Ada berdua yang belajar mengedepankan kebaikan bersama dan berusaha saling menyamankan masing-masing. Ingat, ada kalian berdua. Sudah sejauh mana dia menyamankanmu? Hanya bermodalkan kata tanpa nyata kan? Sebaiknya jangan lagi kau korbankan egomu demi dia yang terus mendulang egonya menjulang tinggi dalam kisah kalian. Tak boleh ada yang dominan, harus seimbang demi kebaikan bersama.

Kepada temanku yang menyesali keputusannya: ingatlah, bahagiamu adalah milikmu dan versimu. Kau berhak menentukan bahagiamu harus dijalan mana, dengan siapa dan harus bagaimana. Memang benar harus ada yang dikorbankan, tapi sekali lagi, bukan kau sendiri yang membangun kisah cintamu. Dia yang mengajakmu bersama, berjanji merangkul dan menjabat bahkan menggandeng tanganmu disetiap waktu. Tentu saja harapanmu menjadi besar, mendengar bahkan tahu modal kata-katanya ketika mengajakmu. Dia mempesona, aku tahu itu. Apakah dia pernah berusaha menyamakan bahagia versimu dengannya? Tidak kan? Seperti yang kau bilang, dia malah mengubahmu menjadi sesukanya.

Kepada temanku yang menyesali keputusannya: sudahlah, tangisi perginya dan berakhirnya kisahmu. Tangisi juga cintamu padanya, tangisi hingga kau lelah menangisinya. Sesudah itu, bangkitlah. Sadarilah bahwa memang yang berakhir sudah benar-benar berakhir. Tak perlu lagi kau menjadi orang lain dan merasa bahwa telah menyangkali dirimu sendiri. Kembalikan dirimu versimu yang sejak lama aku kenal. Aku juga rindu kau yang dahulu, setelah kau kembali menjadi dirimu yang lama semalam.

Terima kasih kepadamu yang bercerita. Terima kasih karna aku bisa belajar banyak darimu. Jangan lagi kau tumbalkan dirimu demi orang lain. Ingatlah, kau adalah orang yang paling berharga bagi dirimu sendiri.