Di Ujung Kisah.

Small talk, no conversation. Adalah penggalan lirik lagu kesukaanku kini. Mengiringi waktu terbosan, menjelaskan sejumlah peristiwa yang sedang aku alami. Ahh, rasanya sudah semudah ini terkoneksi dengan hal-hal yang aku gemari. Jemari ingin mengisahkan hal manis.

Siang tadi aku bercermin, menemui diri dalam bayangan semu yang ikut tersenyum ketika saling menatap. Ada bayang di ruang maya, yang juga bercerita tentang aktifitasnya yang sedang bercermin. Ahh, betapa lucu! Bercermin ditengah ketidaksengajaan, mengulas rindu di balik cermin.

ingatkan pertama kali kita bertemu?-Di balik senyum yang berpeluh, kau bersembunyi ketika menyembunyikan tawa. Tanpa sengaja saling memandang hingga menciptakan obrolan kecil. Kala itu, cermin telah menangkap aura kedekatan walau jarak pandang yang berjarak. Raga yang berjarak, hingga melambai di persimpangan menuju tujuan. Pertemuan tanpa nama😁. Bila waktu bisa kuputar, ingin sekali tertawa sejadinya bahwa bisa bercerita selepas itu dengan orang asing.

Keasingan itu berubah menjadi keakraban yang manis. Mencumbu setiap kata, melagukan setiap kalimat dan menarasikan sejumlah perasaan. Berbekal kesukaan yang sama, mempererat jarak dibalik kata. Menjadi saling ketergantungan akan nilai sebuah kata yang sebisa mungkin menarasikan keadaan kita. Situasi kita yang sulit dijelaskan, menjadi mudah dijelaskan melalui narasi masing-masing dibalik lagu-lagu kesayangan. Iya kan? Tentu saja, kau yang bilang begitu padaku.

Tetiba kita berjarak lautan. Ahh, pelan-pelan mulai berubah. Waktu telah mengubah segalanya. Mulanya pelan-pelan yang berubah itu mudah ditepis. Tertepis oleh rasa saling percaya tanpa dibumbui rasa curiga, berbekal berharap segalanya akan terus baik-baik saja dan melestarikan cara berpikir positif. Kita berdua yakin akan keyakinan itu.

Tak butuh waktu lama keyakinan itu goyah. Mencari pembenaran akan pelarian, bersinggah di tanah yang salah dan bertumbuh karna telah terlanjur tertanam. Sisimu yang sudah letih terlanjur jatuh hati pada yang lain. Aku? Tidak tahu.

Saat itu aku berjuang untuk berpikir baik-baik saja. Berbaik sangka pada semesta sudah aku lakukan. Jarang menghubungimu telah menciptakan jarang-jarang berikutnya. Jarang-jarang itu kian mendalam dan menelan kita. Kita tenggelam. Senyummu yang manis, percakapanmu yang terindukan, dan narasimu yang merdu; sudah mati.

Jadi bagaimana? Bukan soal pasrah, tapi sudah sebaiknya mengembalikan dirimu menjadi orang asing. Menitipkanmu pada perbedaan dan menjadikanmu berbeda. Sekedar berterima kasih, bahwa perbedaanmu yang sekarang telah membaik, daripada membiarkanmu tenggelam dalam pembenaran akan diri sendiri.

Kepadamu; terima kasih, kau yang tangguh mengetuk pintu hati. Memberi sejumlah harapan ketika tiada mampu berharap, dan menjadi orang terdekat yang punya banyak waktu mendengar dan memberi cerita.

Kepadamu; terima kasih, kau yang berjuang sekuat hati untuk memluk hati namun tak pandai merengkuhnya sekuat hati. Aku tak kecewa, aku senang sepenuh hati. Seujung hati telah terbakar sejak kau pergi dan berlari menempuh tapak yang lain. Perjalananmu kian tangguh, yang tak butuh siapapun untuk menolong. Aku kira itu untuk baikmu, nyatanya kau telah hangat dipelukan berbeda.

Kepadamu; pantas saja kau hilang, waktu telah mudah menelanmu. Tak mengapa kau pergi, aku tahu bahwa datang dan pergi adalah keseimbangan dalam pilihan. Ketika kau bersikeras menerobos kerasnya hati, kau pun akan bersikeras pergi sekuat hati. Bersikeraslah dalam keseimbangan. Kau pantas pergi dan aku pun pantas membiarkanmu😊

Kepadamu; tak ada yang salah dengan kita. Suratan semesta mungkin menitipkan kita masing-masing pada kisah sementara yang memberi banyak rasa. Suratan semesta yang menulis indah pertemuan tanpa sengaja setara terencana. Memberi tinta manis, hingga berjejak menjadi kenangan. Suratan semesta membelajarkanku bahwa ada yang bersikeras tinggal dan bahkan ada juga yang ingin pergi tanpa alasan. Itu memang pedih, namun seketika tahu bahwa sebelum memperlakukan orang lain, perlu juga menjadikan hati sebagai contoh. Merasa sejauh mana hati bisa bertahan😊

Kepadamu; akhiri ini dengan kebahagiaan. Terima kasih untuk segalanya! Kisah yang berakhir, kasih yang masih bertahan dan kunjunganmu yang menghentikan langkahku untuk berhenti berpikir tentangmu. Aku berjanji, ini adalah yang pertama juga terakhir; menuliskan peristiwa menemukanmu di tumpukan insan yang bercermin, namun dipertemukan oleh tawa yang tersimpan. Menuliskan caramu merenggut perhatianku dan perhatianku yang telah menjadi milikmu. Setidaknya sejumlah peristiwa itu telah membuatku belajar banyak hal.

Akhir Desember hampir mendekat dan menjumpaiku. Kau datang setelah sekian Desember kau lalui seorang diri. Aku masih melewatinya dengan keluarga, tak tahu denganmu. Tanpa asa kau memberi jumpa, menggenggam ingatan dan melihat peluang. Tak ada lagi asa yang perlu kau rengkuh, karna segala asa sudah mati tentangmu. Semesta punya cerita dan bahkan berusaha mengembalikanmu. Ralat; menjumpaimu lagi dalam lembar kisahku. Sudahlah, perjumpaan berbaris kata dan jumpa yang berdurasi singkat telah mampu selesai! Terima kasih. Di ujung kisah ini; selamat tinggal❤

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s