Kepada yang ingin tinggal namun akhirnya memberi bekas.

Setelah saling menyendiri, menikmati perpisahan yang tak terencana, lalu tiba-tiba saling berpamitan (walaupun didahului olehmu), kita menyendiri. Menikmati pergerakan hati yang luka karna sayatan, menikmati perpisahan yang tak kunjung usai dikenang dan menikmati cara logika menggembok hati menciptakan skenarionya. Setelah saling berpamitan, tentu saja dihinggapi suasana sunyi. Tanpamu, tanpaku, dan tanpa kita. Yang tersisa hanyalah kenangan yang perlahan sudah mulai longsor dalam kediaman hatiku. Berharap terkubur jauh didalam palung hati.

Setelah purnama yang panjang, kau berkunjung. Ponsel berdering, kau memberi jumpa lewat kata dan suara. Kau memberi jumpa, meminta perjumpaan berdurasi 72 jam. 72 jam bagimu berbagi soal sendu, kelabu, patah hati dan kau tata hatimu, serta memaafkan diri sendiri. Ceritamu dan kau, sudah sukses membuatku terjaga hingga kini. Purnama panjang yang aku sediakan untuk menghapusmu secara perlahan, seketika runtuh menimpa kepalaku. Hatiku yang berdenyut kencang mendengar suara dan membaca narasimu yang khas. Kau tahu, apa yang aku temukan lagi tentangmu? Kau masih sama seperti yang dulu, tak berkurang atau berubah sedikitpun. Kau yang sempat hilang, kini telah kembali. Membawa seonggok rasa manis yang melebur hingga memberi wewangian di alam hati. Semesta tentangmu, sudah hinggap dalam ingatanku. Ahh, kau jago memporak-porandakan hati yang sudah aku tata dengan susah payah😁.

Say something i’m givin up on you, adalah katamu yang selalu menarasi pendek penutup percakapan kita. Kali ini malah kau pakai untuk menciptakan diskusi yang kau rindukan. Diskusi yang kau tahu takkan pernah berhasil memberi tujuan atau kesempatan. Diskusi yang kau tahu akan berisi hal-hal wajar, menjelang perpisahan. Lalu mau bagaimana lagi?

Mau maju untuk melangkah, mencipta dunia baru dan menanami kisah yang baru. Mau menemui orang baru, mau punya bayang baru, mau tak punya apapun yang memberi ruang kembali menatap masa lalu. Mau bangun untuk berhenti menulis kisahmu yang sukses memberi sejuta makna berharga tentang kasih, yang sebenarnya tak pernah membekas. Mau, mau, dan mau yang banyak lagi, yang tak mampu dan belum punya daya cipta baru. Jadi inikah cara untuk menyerah?

Menyerah tak sebercanda itu. Bertemu dan saling berpisah yakni hal rutin.. Namun semua yang rutin takkan mudah diubah ataupun dihapus. Semua masih terlalu halus untuk dihapus, masih terlalu keras untuk dihempas dan masih terlalu kuat untuk diserang. Belum lagi, kau yang tak mau menyerah. Masih saja datang, menawarkan harapan baru yang selalu saja berhasil mencuri perhatian dan memberi ruang untukmu.

Bila gelar ‘mantan’ adalah yang pantas disematkan untukmu, aku malah tak sampai hati memberi gelar itu padamu. Kau boleh jadi mantan, tapi semua tentangmu terlalu membekas, tak pernah menjadi mantan. Pandai memberi kasih, pandai menciptakan kasih, pandai menjaga dan tak pandai melepas. Kau adalah insan yang terlalu membuatku terpana. Insan yang memberi ingatan manis, sekalipun manisnya berasa pahit.

Kepada yang ingin tinggal namun akhirnya memberi bekas; halo! Terima kasih telah berkunjung. Sudah datang dengan mengumpulkan keberanian, membentengi pernyataan yang menolak tanya, dan yang selalu tak pernah berubah. Mengapa kau harus semanis itu?. Bila keberuntungan berpihak padaku di beberapa waktu yang lalu, ketika hanya kau yang menggenggam kedua jemariku, mengusap apapun yang melukai, maka keberuntungan itu masih tetap berpihak padaku. Artinya, kau harus membagi-bagi genggamanmu dan caramu mengusap luka dijemariku pada kedua tangan yang baru. Bukan lagi denganku.

Kepada yang ingin tinggal namun akhirnya memberi bekas; terima kasih telah berjuang sekuat juangmu, mempertahankan diri untuk tak patah oleh kata. Untuk tak patah oleh nyata atau tanya, dan berusaha mempertahankan ‘kita’, walau jelas-jelas semesta menolak kita. Semesta kita saling mencinta, namun tak memberi restu. Jadi bukankah sudah mengisyaratkan, kata “pisah” harus segera diaplikasikan?.

Kepada yang ingin tinggal namun akhirnya memberi bekas; memilih mengakhiri segala memori manis, sudah. Sudah benar-benar berhenti. Menengoknya pun sudah tak ingin. Namun, siapa sangka hati bisa seterbiasa ini menantikan yang baru? Sayangnya yang baru yang dinantikan masih urung datang, yang berkunjung malah kau. Penetap lama yang datang dengan banyak hal yang lama. Bagaimana hati bisa sekuat itu tak nyaman dengan yang lama-lama, yang mencinta dan mencipta kenyamanan sedemikian dalam?

Kepada yang ingin tinggal namun akhirnya memberi bekas; seraya bercermin, mencari bekas yang tinggal tentangmu.. Kau tahu apa yang kudapat? Semua tampilan diriku di cermin selalu kau bilang yakni nikmat Tuhan. Selalu bertanya tentang bagaimana menyusun senyum, tanpa alasan ketika bersamamu. Masih tak terbantahkan, ketika semua tentangmu masih tersusun rapi di lemari hati dan ingatan yang telah memberi sinyal, mana yang akan dia jaga sekuat tenaga. Untuk setiap nikmat Tuhan yang kau bilang, aku paham bahwa mencinta gambar Tuhan bukan melulu soal fisik. Namun gambarnya yang tersimpan jauh didalam, ketika menyelaminya dan menemukan berharga-berharga yang tak terdefenisikan. Aku sudah menemuinya padamu, terima kasih.

Untukmu, terima kasih telah menambatkan pilihan hati pada diriku walaupun pada akhirnya, kita harus berpisah karna keputusan bersama. Kisah ini sudah tamat, namun kita tak ingin tamak. Bila ditanya, seberapa besar keinginan untuk kembali; maka jawabnya tentu saja, sebesar bulatnya hati yang tak ingin rapuh oleh noda. Namun syukurlah, keinginan itu ditusuk mati oleh logika hingga memilih menanggapi pilihan hati sebagai ujian dan harus dibumihanguskan. Akhirnya aku sadar bahwa bersama tak melulu soal dating, namun tangan yang bebas menjabat memberi jumpa.

Untukmu, terima kasih telah memberi bekas manis yang tiada henti berhenti. To your unconditionally love; merci beacoup.