Surat Sederhana Untukmu.

Sejak sore, aku mendengar lagu terbaru milik idolaku. Lagu paling romantis yang membuat telingaku syahdu, bersama setipis rasa yang masih terngiang sejak lama. Ada beberapa kata yang sejenak, mengendarai pikiranku untuk berkunjung tentangmu, tentang ‘kita’ yang lama. Tentang percakapan yang masih terus menghangat dalam ingatan, yang menjuntai panjangnya kasihmu yang masih tak lekang oleh waktu. Bolehkan, aku pajang disini?

Sejak hadirmu yang justru menciptakan sensasi tak biasa, malah sering menghubungi bilamana waktu sudah menanti untuk beristirahat. Kau malah, sukses membuatku menanti tanpa menciptakan janji yang muluk-muluk. Kau selalu memulai percakapan dengan: ‘Talk less, our conversations in the dark. World is sleeping’, tak tahu mengapa, bisa sesama ini caramu memulai percakapan dengan lirik lagu yang sedang menjadi kegemaranku kini. Apa kau berbisik padanya tentang caramu membuka percakapan?. Karna dunia yang sedang tertidur, membiarkan kita dengan leluasa bercakap tentang hari yang segera berlalu. Hati yang tak tahu akan seperti apa nantinya, namun berharap terus untuk kuat menepati waktu sesuai dengan nyata. Pembicaraan kita memang singkat, sekedar menyapa diwaktu pagi dibuka, dan mulai sedikit memuat banyak percakapan di tengah malam. Karna waktu yang enggan memberi restu, aku pesimis tentang kehadiranmu. Jarak yang semakin melebar dan menebal, malah mengubah pandanganku, setidaknya untuk belajar memahami duniamu.

Aku punya masalah kulit yang seringkali membuatku insecure. Aku gagal percaya diri, sering menghujat diri hingga menolak bercermin. Aku sering menghibur diri dengan membaca kutipan-kutipan bersifat positif, namun suasana hati terlalu sulit ditebak. Kadang menolak bercermin, atau bila harus bercermin, sudah pasti akan menghitung jumlah jerawat yang memerah merona pipi. Hatiku ternoda, rasa cinta akan diriku seketika luntur. My insecure is always the top of our conversation. Kelihatanya aku memang egois, namun membutuhkan dukungan agar merasa lebih baik adalah yang ku butuhkan saat itu. Kau selalu menjawab sederhana: ‘With my eyes, you are perfect as you are’. Jangan tanya tentang rasa ketersima punyaku, sebab sesungguhnya aku selalu memakinya sesuka hatiku setelah mendengar jawaban terlucu itu 😁. Tapi jawaban itu tidak pernah berhenti atau hanya bersifat singgah dalam percakapan kita. Kau bahkan berbisik pelan di kupingku dengan kalimat yang sama, ketika aku mulai sibuk merapikan rambut yang menurutku megar sejadi-jadinya. Aku memang tersipu, merasa lamban berpikir namun setelah aku analisa segalanya, aku hanya ingin bilang terima kasih! Sudah begitu manis memberi percaya diri, karna aku tahu bahwa energi positifmu selalu bisa aku resapi dan selalu tertransfer menembus jantungku❤.

Kau yang sanggup membuat situasi gaduh menjadi tenang, luput sudah gaduh-gaduh bergaduh antara kita; kau sanggup menjadikannya situasi yang layak diajak berdiskusi. Aku menjadi pandai menerima perbedaan, belajar paham banyaknya visi yang berbeda dan belajar mendengar lebih banyak. ~ternyata seberuntung itu, belajar mengenal orang lain lebih dalam~. Setelah aku yang belajar mereda ketika berbeda, kau malah memberi peringatan keras: ‘i won’t ever try to change you, i will always want the same you’. Masih membekas bagaimana kau berharap reaksiku akan berbeda ketika kita tanpa sengaja akan memulai perdebatan tentang perbedaan yang tampak. Kita yang sama-sama melunak, membuat kita sama-sama tertawa. Permintaanmu begitu sederhana namun terlalu membekas: jangan berubah, sekalipun aku nanti tak disisi.

Sejak pesanmu untuk meminta tak berubah, aku malah bingung. Sebab itu bukan hal sepele untuk tidak dipedulikan. Ada yang berbeda sejak lama, sejak tak bisa lagi saling memberi harap dan malah belajar berpikir realistis. Sejak kau sering mengirim surat eletronik tentang ulasan patah hatimu tentang kita. Aku sering tertawa, membayangkan bagaimana ekspresimu yang mengiring tulisanmu hingga aku baca. Aku sering penasaran, bagaimana kau ingat betul sikapku yang kadang selalu saja aku lupakan dengan mudah.

Sejak kita berdikusi panjang tentang saat ini, tentang hati yang tak lagi tenang karna berpisah, tentang jarak yang sudah sangat menjauh, tentang perbedaan yang sudah lagi tak bisa didiskusikan, tentang caramu dan caraku yang nanti hanya akan dikenang, tentang hari dimana kita akan saling merindu dengan sadisnya, tentang hari dimana kau bahkan aku yang akan menemukan pengganti, tentang cinta yang berkunjung, mati dan menghilang, dan tentang kita yang sulit bahkan tak bisa saling melupa. Kita yang saling berpamitan dengan: ‘my love is everywhere you are’.

Sejak, sejak, sejak dan sejak hadirmu terasa begitu lama ingin tinggal dalam pikiran, aku sudah sadar bahwa begitu banyak hal berharga darimu yang mendalam. Tentang kesederhanaan yang menyusun hal-hal manis, tentang maaf yang benar-benar bernilai, tentang juang yang terlalu pandai berjuang, tenang niat mendalam untuk bertahan dan tentang kesepakatan berakhir yang dan untuk mengakhiri. Untuk segalanya yang terus memberi warna dan menciptakan gambaran paling baru, terima kasih banyak telah sejenak tinggal dan berusaha keras untuk berjuang beranjak.

Untuk Pria Sederhana yang Gagal Mencipta Rayu, namun Syahdu Memberi Gaduh pada Hati; i’m yours. I have to leave now💓.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s