Kepada Temanku.

Halo, happy midnight! Siangku terasa panjang, karna mentari yang tiada pandai menusuk dahi mencipta peluh, malah dibuat kegirangan mendapati teks yang isinya cerita dari temanku! Halo, kamu! Terima kasih telah menghubungi dan memberi cerita dengan sepenuh hati.

Aku setuju, bahwa menemukan sosok berharga ditengah hujannya masalah kadang malah memberi peluang mencintai menjadi begitu besar. Kian hari kian membesar, namun ada saja dibuat patah oleh keangkuhan hati yang mudah sekali teraplikasi pada perilaku. Inilah awal cerita patah hati yang terjadi sejak beberapa tahun lalu.

Temanku adalah orang mengagumkan, cara bicaranya bisa melebihi kecepatan pesawat jet ๐Ÿ˜‚ tapi dia cantik luar dalam (eeeeaaaa). Bertemu dengan seorang pria yang manis, membuat mereka saling cocok satu sama lain. Saling mengisi kekurangan dan memperlabakannya menjadi kenangan (eeeaaa). Hari yang kosong menjadi terisi karnanya, mendapatkan perhatiannya dan banyak-banyak lagi selanjutnya. Banyak hal menakjubkan nan mengagumkan yang temanku peroleh darinya, tentu saja berujung memberi cinta yang sebegitu dalam. Apa buktinya?

Pria ini keren. Dia sanggup membuat temanku berpaling dari yang lama dan yang sudah-sudah, tanpa terhambat oleh apapun. Hati temanku sudah penuh untuknya!. Dia sanggup memberi ketenangan di tengah badai hidup yang menerpa dan memberi kepastian ditengah hati yang hampir hilang harapan. Dia sanggup memberi kelepasan ditengah banyaknya jerat yang menjerat. Dia berjuang tiada lelah, sanggup mengempiskan egonya, berkata jujur karna selalu lemah dan tak pandai berbohong. (walau lebih dulu dipaksa๐Ÿ˜ ). Dia sanggup, sanggup, sanggup dan sanggup melakukan banyak hal hingga siapa yang tak akan betah? He was treasure in this relationship.

Setelah bersamanya, temanku merasa menemukan dirinya pada diri pria ini. Rasanya seperti bercermin. Defenisi ‘pendamping’ versi temanku, telah tersemat pada diri pria ini. Pada dasarnya, menemukan cerminan diri pada pasangan adalah hal keliru, menurutku. Bagaimana akan bertumbuh bila melulu sama dalam segala aspek? Cermin memang menghasilkan gambar diri, namun jangan salah. Cermin hanyalah menampakkan hal yang nampak nan kelihatan. Aku yakin, yang kelihatan itu pasti hanyalah yang manis-manis. Tahu kan, bilamana yang banyak-banyak lainnya tak nampak?.

Banyak waktu terlewati. Banyak ujian menguji kekuatan kebersamaan diantara mereka. Yang satu meminta penjelasan, dan yang satunya memberi penjelasan. rasa bersalah memang teramat dalam berasa, ketika rasa sayang mengudara. Inilah yang nampak dalam panjangnya narasi yang aku baca tadi sore.

Percintaan ini menguat dalam hati, meminta maaf setulus hati, mudah saja membacok habis keangkuhan untuk menamatkan kisah yang masih berumur muda ini. Terang saja, kedewasaan memberi terang pada jiwa yang gelap dan buta pada keinginan-keinginan yang sifatnya sementara dan hanya menguntungkan diri sendiri. Hati sudah terlanjur dijerat oleh sikap yang terlanjur mengistimewakan rasa, rasa sayang pun memenuhi seluruh ruang dalam hati. Sayangnya hati masih tak kuat untuk mau bertahan, pilihannya adalah mengandaskan kisah ini.

Setelah berakhir, terbukalah hal yang selama ini membalut perpisahan yang tersimpan rapat diantara mereka. Ada diskusi dewasa yang mendewasakan mereka, dan ada nyata-nyata baru yang cukup berani menyentak jiwa. Ada nasihat yang rasanya membalut luka masing-masing, setelah berusaha baik-baik saja menghadapi perpisahan. Aku yakin, mereka berdua adalah insan yang dipertemukan semesta tanpa harus saling menggenggam namun memberi sensasi bahagia, agar belajar bagaimana saling membahagiakan orang-orang tersayang di masa depan.

Kepada temanku: halo kamu! Bagaimana? Selamat bertumbuh dalam ringkasan patah hati, yang kelihatannya sederhana namun tak bisa ditangani dengan cara yang sederhana. Aku tahu, sesekali hatimu pasti berbisik ~i remember when you were all mine~๐Ÿ˜. Kau hebat! Memberi cinta sepenuh hati, bercerita sepenuh hati dan menarasi panjang akhir cerita cinta ini. Sederhana: tiap kisah cinta ada dua penikmat didalamnya. Tak hanya salah satu yang istimewa, kalian berdua istimewa. Tak cuma salah satu diantara kalian yang berjuang mempertebal hubungan ini agar berakhir bahagia, kalian berdua memang benar-benar berjuang mempertebal hubungan ini, namun apa dikata? Anggap saja semesta tak merajut cerita bahagia diantara kalian. Setuju?

Kepada pria yang membuat temanku patah hati parah: halo kamu! Ah, aku tersanjung dengan sikapmu! Benar-benar tahu mana tujuan, namun tak pandai menjadikannya tujuan. Kau hanya melabuhkan hatimu beberapa saat padanya, lalu dengan cepat berlayar ke pelabuhan yang baru hingga menetap disana. Jadi bagaimana rasanya meninggalkan? Ah bukan, kalian saling meninggalkan. Setidaknya tak ada yang tak bersalah, keduanya memilih berakhir dan saling meninggalkan. Terima kasih sudah memberitahu banyak hal baik pada temanku, memberinya kenyamanan surgawi๐Ÿ˜‚ dan malah selalu berhasil menjadi ‘dirimu’ yang dia sayangi sebegitu adanya. Kau pandai memberi peluang hati untuk mencinta semakin melebar, memberi peluang mencinta sesederhana dirimu dan pandai memberi daya untuk memikat temanku! Temanku sudah terpikat, kau harus tahu itu๐Ÿ˜Š. Dan ya, selamat berbahagia juga dengan kehidupanmu kini.

Kepada temanku dan pria yang menbuatnya patah hati parah: halo kalian! Bagaimana rasanya? Sama-sama keji dan angkuh kan kalian? Tak mengapa. Aku percaya, bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah restu Tuhan. Kalian mungkin hanya diantar oleh semesta namun gagal direstui oleh Tuhan. Kalian adalah dua keping berharga yang tak saling menyatu. Keping yang saling terdampar lalu saling menemukan. Keping yang sudah menjadi sekeping, lalu akhirnya berpisah dan menjadi serpihan-serpihan keping. Keping-keping yang tetap masih berharga. Setidaknya kalian pernah merasa bagaimana dititipkan oleh semesta dalam kehidupan masing-masing, merasakan sayang yang terjadi secara alami walau sempat terjadi penolakan maupun ditolak.

Kepada temanku: media hatimu masih penuh dengannya, melihat dari bagaimana kau menggambari sikapnya melalui milyaran kata tadi, aku jadi paham bahwa media tentangnya masih tersimpan rapi pada galeri hatimu. Ya jangan kau hapus, tak mengapa. Sesekali kau bisa menengoknya dan belajar pula dari media miliknya yang masih kau jaga. Bukankah menyimpan hal baik tentu saja akan bersifat membaik untuk seterusnya?. Terima kasih karna hatimu bahkan tak ternoda oleh perpisahan walau memang sempat menyesal sedemikian sedikit๐Ÿ˜…๐Ÿ˜.

Kepada temanku: sebagai sesama perempuan yang minim pengalaman asmara (aku) namun handal berbagi tips menyembuhkan hati (eeeaaa), aku sarankan agar jangan memusatkan dirimu dalam setiap hubungan. Bilamana kau mencintainya sepenuh hati, jangan biarkan dia tersesat. Biarkanlah dia terjatuh lebih dulu supaya mudah tahu, jalan mana yang harus dia tapaki. Namun jangan menghalanginya bertumbuh, biarkanlah dia bertumbuh dengan caranya, kemudian rengkuhlah dia bilamana dia kembali. Bila kau adalah tujuannya pulang, tentu saja dia takkan tersesat atau hilang. Dia perlu terhanyut hingga menyimpang ke kiri dan ke kanan, supaya menemukan keseimbangan. Iya kan?

Kepada temanku: cukupkanlah kisah ini membelajarkanmu bahwa kau harus mempertipis ego, angkuh dan gengsimu. Ketiganya adalah racun yang meracunimu, membunuh kesehatan hatimu dan melukaimu menentukan pilihan. Ketiganya mudah menjebak hingga kau terjebak. Hingga pada akhirnya, kau sendirilah yang merasa pahit dan menyesal. Sebaliknya, pertebalkanlah rasa percaya tanpa menaruh rasa curiga dan prasangka. Kau perlu mengaduk kasih disetiap campuran rasa sayangmu, supaya tak tercemar oleh apapun! Jangan biarkan prasangka dan curiga tumbuh subur karna kau pelihara. Yang harus kau pelihara adalah rasa percaya. ~Nobody said it was easy, no one ever said it will be soo hard~. Karna sama-sama tak sulit dan tak mudah, makanya harus kau coba. Oke?

Kepada temanku: setelah membaca pesanmu, aku cukup dibuat takjub. Tak aku sangka bahwa dibalik sikapmu, bisa sebegitu parahnya terserang patah hati. Tak mengapa, itu fase yang harus dinikmati. Jadi, selamat menikmati (haha). Aku tahu kau pandai menempatkan situasi dalam kondisi hatimu, karnanya jangan enggan menyapa patah hati punyamu. Akrabilah dia, ajaklah berdiskusi agar hatimu bisa membaik dan tak membatu (haha). ~overthinking, i dont know who i’m without you. I let my ego swallow me, thats why i might never see you again~ (ini adalah lirik lagu patah hati tercintaku). Bila di masa depan kau alami kisah cinta yang mirip seperti ini, kau harus berani menggenggam dan jangan lagi memberinya celah untuk melepas. Tapi jangan juga kau memeluknya terlalu kuat, hingga dia kesulitan bernapas. Biarkan saja dia mencari dan menemukan defenisi ‘berharga’ tentangmu, supaya kau juga tahu bahwa tak hanya kau yang menganggapnya berharga. Satu lagi, jangan lupa untuk berdiskusi tentang hal sekecil apapun. Jangan melibatkan ego, jangan jadikan dia tamu dalam tiap percakapanmu nanti. Tak akan ada solusi, karnanya bincangkanlah apa yang perlu kalian sepakati termasuk hal sekecil apapun. Cara kalian mencintai tentu saja berbeda kan? Karna itu perbiasakanlah untuk berdiskusi, agar cara kalian mencinta satu sama lain tak akan mudah dipengaruhi oleh apapun hingga berpotensi saling meninggalkan.

Aku pernah merasa berdiskusi menjadi kunci istimewa hubungan bisa awet, sekalipun tidak terbingkai dalam jalinan asmara. Setidaknya diksusi akan membantumu mengerti caranya berpikir, dan bahkan membuatmu mampu menganalisa setiap reaksinya dibalik kata-kata. Satu lagi, bagiku pacar dan teman adalah teman berdiskusi terbaik. Mereka pandai memberi saran, sekalipun teman selalu menjadi orang pertama yang aku hubungi lebih dulu. Namun menjadikan pacar sebagai partner diskusi, akan membantumu mengerti cara berpikirnya atau cara dia menata dan mengolah hubunganmu dengannya. Karnanya, pandailah menempatkan diskusi sebagai senjata mengenalnya lebih dalam.

Itu aku kasih fotoku, setelah selesai berdiskusi dengan teman-teman terbaikku! HAHAHHAHA

Aku tahu kau sudah membaik, hingga dengan ringan bercerita selebar dan sepanjang tadi. Aku juga tahu bahwa bilamana para gadis patah hati mampu berbagi kisahnya, tentu saja karna sudah ringan dipikul hingga mudah dibagi-bagi. Iya kan?

Selamat membaharui hati, bersama hal-hal baru. ~everything has changed~

Terima kasih sudah bercerita panjang dan mau dimuat disini.