Merawat Kenangan (2)

Ketika aku berkunjung d ipertengahan kota, aku berjumpa dengan sebuah bunga menawan di jalanan. Aku ingat berulang kali, kau menunjuknya ketika kita sedang bersama. Setiap kali aku berjumpa dengan sang bunga, maka pikiran tentangmu adalah yang pertama terlintas dalam ingatan. Rasanya ingin sekali aku bercakap, namun sudah pasti aku akan dikira gila bilamana mengajak sang bunga memulai percakapan. Ada begitu banyak cerita yang kita punya, ketika sang bunga memprakarsarai pertemuan kita. Entah ketika aku yang di tengah kota, pun sebaliknya. Sayangnya, menatap sang bunga bahkan menikmati pergerakannya telah membuatku sadar bahwa kita sudah berjarak.

I remember when you were all mine, watched you changing infront of my  eyes. What can I say?

Sejak aku putuskan menghilangkanmu, ada ruang yang rasanya sudah kosong sejak lama. Ruang yang dulunya aku putuskan menampungmu di sana. Ruang itu bukanlah ruang rindu maupun ruang sendiri, sebaliknya; ruang itu adalah ruang yang dibangun atas dasar bersama. Ruang yang terbangun dengan kokoh ketika kita sama-sama tak kuat untuk saling mempertahankan diri. Kita berdua memilih saling jatuh karna merasa saling dibutuhkan, hingga akhirnya terciptalah ruang bersama itu. Ruang yang sejak lama terasa sesak hanya tentang kita. Perlahan, ruang itu telah kosong setelah kita saling menepi dari kisah yang telah kita bangun bersama itu. Apa yang terjadi sebelumnya?. Yang terjadi sebelumnya adalah sebuah kesalahan yang kita lakukan bersama, hingga saling tak termaafkan. Itulah yang menyebabkan ruang bersama itu, terkuras habis hingga tak lagi ada kau di sana. Tak tahu bagaimana semua tentangmuterkuras habis di sana, pikirku mungkin kesedihan menghanyutkanmu hilang entah ke mana. Pikirku, semua akan mudah. Sebaliknya, memang mudah pada dasarnya.Namun sesuatu yang hilang itu, bisa saja kembali ketika ruang itu memanggil ataubahkan berteriak tentangmu. Bagaimana mungkin aku bisa berlari dari sana? –sesekali mugkin bisa, ketika rasa angkuhku sedang memuncak. Sebaliknya, bila rasa angkuhku akan tidur; aku akan pasrah didatanginya seharian–.

Sayangnya, sekarang rasa angkuhku sedang tidur panjang; akhirnya aku hanya bisa pasrah karna pertahananku telahroboh sejak sang ruang bersama itu terus meneriaki tentangmu. Pertama; sang ruang bertanya tentang keberadaanmu, yang sungguh tak aku ketahui sejak aku pamit. Kedua; sang ruang bertanya tentang sisakisah kita, yang sungguh tak bisa aku jelaskan karna sesungguhnya aku tak bisavmenjelaskannya dengan tinta yang kau maupun sang ruang itu beri. Ketiga; sang ruang bertanya mengenai pertahananku, selama ini. Pertanyaan ketiga yang begitu tegas ditanyai  oleh sang ruang itu membuatku, kalut dan lenyap dari beberapa jawaban yang sedang menari di kepalaku.

Saat aku berharap bisa menjelaskanmu pada sang ruang, aku hanya mampu berkata demikian; kau sedang berlayar, perahumu telah berkelana di lautan sejak kita berdua menepi di pulau yang berbeda. Aku memilih memulai kehidupan yang baru, sedang kau berusaha mengejar yang baru dengan berkelana ke ujung lautan. Sebenarnya aku bingung, sejak kapan bisa kau temui ujung lautan?. Saat itu kau hanya pergi tanpa jawaban dan berharap menemukan apa yang sedangkau kejar. Ingin sekali aku tertawa, menyaksikan kau pergi mendayung denganharapan menemukan seseorang di sisi; mungkin setiap harapanmu telah kau tempel di ujung dayung yang sedang kau gunakan untuk memukul lautan. Mungkin rasaangkuhku sedang bangkit sehingga mengejek pilihanmu adalah yang bisa akulakukan. Sayang, mendayung harapanmu adalah pilihan terbaik. Namun untuk mengejar hingga di ujung lautan, apa yangakan kau temukan di sana?. Tak tahu sudah berapa banyak samudera yang kauarungi dengan perahu beserta dayungmu, tak tahu juga tentang berapa banyakmatahari dan rembulan yang bergantian hadir menerangi gelapnya lautan padamu. Bulan masih bercahaya menerangi malammu di sana.

Sisa kisah kita telah berampas. Ketika aku menyaring dengan habis apa saja yang perlu aku rawat tentang kenangan kita, aku pilah tentang keunikanmu. Kau yang pasrah terhadap apapun yang terjadi menjadikan dirimu adalah orang yang tangguh. Jangan tanya tentang aku; sebab aku tak bisa mengenang apa yang aku lakukan padamu, selain hanya melukaimu. Luka-luka yang cukup banyak merobek kisah kita. Kita telah tercemar oleh luka-luka yang aku dahulukan. Tapi aku merasa itu adalah hal paling wajar, ketika kita sudah saling tak mampu. —kita menyerah—.

Kisah kita sudah tercekik hingga napas pun tak lagi ada. Napas yang sudah tak berhembus di dalamnya, menandakan telah mati. Bagaimana selanjutnya?. Telah kita pilih untuk menghentikan segala tanah yang pernah kita pijaki bersama, telah kita pilih untuk berhenti saling menatap walaupun tanpa sengajasaling bertemu dan telah kita pilih untuk megandaskan segalanya. Pilihan untuk mengandaskan segalanya adalah pilihan untuk memacetkan segala tinta yang pernah mengisahkan tentang kita. Tinta yang menulis setiap lembar yang kita kisahkan.Tinta yang dahulu selalu penuh, tinta yang bahkan tak pernah aku pikirkan akanmati. Bahkan pikirku, bila hendak mati akan aku cari tinta yang baru.sayangnya, setiap tinta pada dasarnya berbeda. tinta itu sekarang, sudah takmampu lagi menggerakkan menulis tentang apapun yang mengindahkan hariku. Tinta itu bahkan menuntunku menuliskan kelamnya hariku, hingga hari ini tertuliskan.

Pertahananku sudah goyah, sejak lama. Sejak tembok yang aku bangun, tak punya dasar yang kuat. Dasar yang aku maksud adalah keangkuhanku. Sejak lama keangkuhan itu membentukku menjadi kuat, hingga kelihatan tak peduli pada apapun. Dan ya, memang aku berhasil menjadidemikian. Tapi setelah sang ruang bersama itu telah kosong untuk waktu yang lama, keangkuhanku enggan berkuasa lagi. Keangkuhanku bahkan memilih melakukan hibernasi untuk jangka waktu yang tak bisa aku prediksikan. Itulah mengapa, sejak awal aku bilang bahwa pertahananku goyah dan telah roboh ketika kekuatanku ituenggan bertakhta dalam diriku. Batinku sudah kecut dan tawar hari, dan hanyabisa babak belur dihajar oleh sang rindu. Sebentar,benarkah rindu?

Ya, tujuan ruang bersama itu berteriakdan berontak adalah memang hanya tentang rindu. Rindu yang sejak dahulu bermodalkan segala tujuan untuk melicinkan kisah. Hanya saja, lelah dihajar rindu telah membuatku terbiasa. Terbiasa menanggapi semua menjadi setiapepisode yang harus aku hadapi. Dan ya, aku sedang menghadapinya. Hanya saja, untukmu bahkan namamu yang terus memintaku mengisi ruang bersama kita yangdahulu penuh itu. Sekalipun tak ada niatku untuk mengemis bahkan dengan tujuanmemintamu tinggal. Sejak kau memilih mendayung perahumu ke ujung lautan, telahaku ijinkan seluruh kisah kita enyah, namun rupanya kisah itu membelok dan memelukku erat. Aku kewalahan, rasa dingin bahkan hangat pun sudah tak mempan. Aku tak sadar bahwa sedang dipeluk dengan eratnya, namun rasa pelukan itu enggan membuatku terperdaya. Namun sudahlah, sejak aku pilih mengosongkan ruang bersama itu bahkan sudah menikmati seruan rindu dari sang ruang itu; sudah aku putuskan menjadikannya biasa. Dan yang paling akhir;

Teruntuk sang ruang bersama; tahukah kau bahwa segalanya tentangmu sudah tak berasa?. Terima kasih aku ungkapkan dengan tulus, karna darimu aku telahmengerti arti sebuah kenangan. Aku telah mengerti arti menyimpan keunikan dalamsebuah ruang bersama yang utuh. Telah aku pahami arti kasih yang terus memelukdan terpelihara.

Iklan

Merawat Kenangan.

Malam ini, berkunjung di waktu yang telah larut tak aku lakukan seorang diri. Sambil berjaga-jaga dalam perjalanan, rasa kantuk pun dengan beruntun mengeroyok diriku. Alhasil, aku yang sibuk membuat diri terjaga dengan menatap layar ponsel di bawah sinar lampu jalan. Malam ini, adalah malam-malam berikutnya aku begitu menyibukkan diri. Menikmati setiap pergerakan yang tak pasti, hingga sibuk menghitung dan menebak apa jadinya hari esok dan hari-hari mendatang. Sebagai pengelolah hariku, rasanya aku telah kalah menjadikan hari ini berharga. Aku hanya sibuk berbaring di ranjang, namun kantuk tak kunjung datang. Aku sibuk menatap ponsel dan membalas banyaknya pesan singkat disana, yang tentu saja menyaring habis rasa kantukku hingga tak tersisa. Rasa kantuk saja enggan bersarang padadiriku, karna tak mengijinkannya datang.

Aku bangun dari ranjang dansegera mematikan ponsel, agar tak merasa diganggu olehnya yang rasanya telah memanggilku berkali-kali. Aku nyalakan tv, namun tak menemukan sejumlah program tv yang bisa aku nikmati untuk usiaku. Aku putuskan menulis sebanyak mungkin pada kertas, namun  rasanya lebih banyak coretan daripada kata maupun kalimat yang termuat disana. Sebenarnya apa yang ingin aku lakukan?. Aku hanya ingin menjadikan hariku berharga, itu saja. Siang yang kelabu beserta mendung, telah menjadi rasa syukur bagiku karna dengan mudah mematikan rasa kepanasan yang sungguh menjemukan. Menghibur diri sendiri dengan menandungkan lagu kesukaan pun rasanya tak bergairah. Belum lagi ketika mendengar namaku dipanggil dari bilik kamar yang berbeda, rasanya begitu melelahkan menantikan banyaknya permintaan yang beruntun hadir ketika aku responi panggilan itu. Aku putuskan menulis disini, menulis tentang cerita sepanjang hari ini. Siang ini,aku dihibur oleh lagu kesukaanku ketika aku putuskan menyalakan kembali ponselku. baiklah, ada rasa yang sedikit lega ketika dengan mudah menghibur diri sendiri. Aku buka satu demi satu pesan, namun rasanya tak ada gairah aku membaca pesan yang lalu. Aku ingin melihat narasi yang sejak lama lahir bersama dengan kisah yang sudah mati.

Melihat yang lama adalah suatu pilihan ketika suatu kenangan menyapa. Bukan rasanya aku telah terbawa perasaan, sebab rasanya lucu bila aktifitas  mengenang dikaitkan dengan terbawa perasaan. Perasaan itu adalah hal paling berharga yang kita punya, jadi jangan mempersalahkan perasaan ketika dia memutuskan untuk menyapa yang sudah lama, walau hanya dalam bentuk kenangan. Sebaliknya, di sana tak ada satu pun jebakan yang dipasang. Ia hanya sedang mengemis untuk dijamah. Ia hanya sedang mengemis untuk dipelihara sebelum akhirnya dia mundur dan larut dalam ingatan. Beruntunglah bila ia larut dan terus dikenang, tapi bagaimana bila tidak?.Bukan sesuatu yang mudah untuk menggoyahkan yang sudah pergi. Biar saja raga dan jiwanya pergi, namun biarlah apapun yang dia lakukan terkenang. Bila kau ingin selamanya, silahkan saja!. Bagiku, aku akan menyimpannya sekedarnya saja. Sebab aku adalah orang yang mudah pelupa, makanya aku putuskan untuk terus menulis supaya bila aku ingin mengingatnya, aku akan membaca satu demi satu apapun yang aku kisahkan disini. Itulah yang aku maksudkan dengan merawat kenangan—.

Aku telah mengandaskan segala yang tadinya aku pikir sifatnya mendadak. Namun sebuah pilihan ini, telahmeyakinkanku bahwa sesuatu yang mendadak itu adalah jalan keluar. Soal pilihanini pun, ada banyak pertimbangan yang lahir dari hati yang tentu saja berujung penyesalan. Apa jadinya bila hidup ini terkait dengan penyesalan?. Sebaliknya, penyesalan bagiku telah menjadikanku menjadi orang yang tak pernah berhentimencoba. Mencoba hal yang aku yakini, bukan yang orang lain yakini. Saat ini,aku tak ingin ada penghakiman untuk setiap keputusanku, sebab diriku sendiri telah bertindak menjadi hakim utama atasnya. Belum lagi dengan diakumulasi secara matematis oleh si mulut-mulut penghakim yang menjamur sekarang ini. Aku telah lelah menampung seluruh praduga mereka yang tentu saja selalu menyudutkan. Itulah gunanya orang-orang yang tak berguna, selain dengan mudah menyerang dan mematikan orang lain.

Soal seseorang yang tak pernah menghakimi, mungkin adalah kau yang masih terus di sisi. Cara menghakimimu adalah cara terhalus, yang selalu mengatakan bahwa jangan berhenti menyerah. Awalnya aku pikir bahwa itu adalah sebuah motivasi, namun sekarang aku pikirbahwa itu adalah ejekan yang paling mutlak atas setiap pilihan yang aku tempuh.Aku rasa bahwa kita berdua memang tajam ketika saling menghakimi, belum lagidengan banyaknya tujuan-tujuan gila milik kita masing-masing. Aku rasa bahwatak ada yang salah dengan kita, sebab di usia kini; kita memang masih memahkotai diri dengan egoisnyamasing-masing. Apa yang beruntung dari sebuah keegosian?, ada beberapa. Ketikadengan kepala dingin melihat sesuatu yang tulus didalamnya. Terdengarnya, gilakan?

Namun ketika bersamamu, aku lihatbahwa keegoisanmu telah membuatku untuk mementingkan diriku sendiri lebih dulu.  Aku lihat bahwa bagaimana aku bertindak untuk menyenangkan diri sendiri adalahingin paling dasar yang sedang aku semogakan. Aku menyadari bahwa sampai kapanpun, apa yang aku perbuat pun akan aku tuai. Karnanya, keegoisan iniadalah langkah awal untuk mengasihi diri sendiri di dalamnya.

Terakhir, keegoisan kita telah menyebabkan kita berseberangan. Untuk saling menggapai, kita diharuskan untuk saling menyeberang. Terkendala jarak adalah bagian-bagian dari kita yang telah bersebarangan. Apa lagi yang bisa kita perbuat?. Yang bisa kita perbuat hanyalah saling mengasihi apapun yang sudah berlalu, tanpa pernah memulai untuk menghakiminya. Menghakiminya adalah ke”aku”an terburuk yang hanya bisa kita sematkan didalamnya.

Untukmu; keegoisan ini rasanya takkan pernah punah. Dia masih terus menyatakan diri, sampai aku merasa terus terpenuhi untuk terus menerus melakukan semua yang baik bagi diriku. Terima kasih karna caramu mengajarkanku merawat kenangan, adalah dengan mendahulukan diri sendiri sebelum memutuskan memasukan kepentingan orang lain bersama dengan diri sendiri.

Hadiah Terbaikku, Sepanjang Masa.

Ambon, 01 Desember 2018

Di dua 24 tahun yang lalu, aku dan saudari kembarku mendatangi bumi. Kami keluar dari rahim mama, dengan selisih waktu tiga menit ketika kami dilahirkan. Tak bisa aku gambarkan suasana kala itu, satu yang pasti adalah rasa sangat bahagia dari papa, mama dan kedua kakakku akan kedatangan kami. Kata kakak tertuaku, “aku berlari ke rumah dua buah jambu air untuk kalian”, ketika mendapati kabar bahwa kami telah tiba di rumah. Dia bersedih ketika kami tak bisa memakan jambu biji yang dibawanya itu.

Lembar demi lembar ketika kami tumbuh terekam dalam album foto yang sekarang sudah menguning termakan usia. Lembar demi lembar potret yang merekam bagaimana kami menangis, kami tertawa, hingga bahagia ketika bergantian berbaring di pangkuan mama maupun papa. Satu potret yang sudah sulit dikenali adalah ketika usiaku baru setahun, berpakaian serupa dengan kedua kakakku sambil berpegangan tangan lalu dipotret. Jangan tanya bagaimana aku bahagia melihat foto yang sudah tak terkenali itu lagi, setiap kali aku buka potret itu ada ratusan cerita yang tersimpan di dalamnya.

Kini, kami telah tumbuh menjadi gadis yang berulang tahun di hari ini dan telah didatangi oleh usia 24 tahun; usia yang menunjukan kematangan dalam segala segi kehidupan. Di balik sukacitaku malam ini, ada banyak doa yang telah dipanjatkan oleh papa dan mama dalam diam, juga oleh saudara-saudaraku. Rasa bahagia malam ini adalah bukti bahwa penyertaan Tuhan terus menyertai, karna aku selalu dikuatkan dengan ayat kitab suci yang aku baca setiap pagi dan malam. Rasa syukurku ingin terus aku ungkapkan untuk malam ini, ketika langit malam dengan megahnya membuatku merasa menjadi miliknya. Bulan telah bertamu di atap rumahku, dan aku menjadi begitu berselera untuk tersenyum menatapnya puluhan kali. Aku yakini bahwa Sang Pemilik Hidup ini, telah mengirimkan sinyal sukacitanya melalui semesta yang bersinar di malam ini. Sungguh romantis kasih Tuhan dalam hidupku.

Biasanya aku punya tradisi musiman ketika merayakan ulang tahunku. Aku akan berdialog dengan Tuhan dengan sejumlah penawaran yang berharap akan segera direstuiNya. Dialog-dialog itu melahirkan banyak-banyak ingin yang sempat membuatku merasa ingin sekali merekayasa kenyataan. Tapi aku salah, aku hanya boleh mengasihi apapun yang terjadi dalam hidupku maupun yang akan menemani usia 24 tahunku, nanti. Di hari sukacita ini, ada banyak senyum yang aku rekam hari ini. Senyum-senyum terbahagia dari keluargaku. Ingin rasanya aku menuliskan rasa terima kasih kepada keluargaku yang terus menemani dan mencintaiku.

Teruntuk Papa, Sang Pria Sejati yang sesungguhnya: sosok terbijaksana yang selalu menenangkan. Aku mengidolakan papa, sebagaimana yang terlihat oleh kedua mataku. Sosok terpandai yang mampu mengemas canda maupun serius menjadi nasihat-nasihat. Darinya aku belajar bahwa, tak selamanya nasihat harus berisikan kata-kata amarah yang menusuk. Nasihat pun bisa dibalut dengan canda yang cukup mengena. Papa adalah seseorang yang terus berdialog dengan Tuhan. Darinya aku belajar untuk jujur kepada Tuhan tanpa keinginan apapun. Katanya; waktu Tuhan tak pernah terlambat. Maafkan aku yang seringkali melawanmu, Pa.

Teruntuk Mama, Sang Wanita Sejati yang sesungguhnya: sosok yang tak pernah berhenti berbicara. Kadang aku akan sangat jengkel, hingga merajuk terhadap sikapnya yang kelewatan. Namun darinya aku belajar untuk tak menjadi pendendam, dengan cara melampiaskan segalanya lewat kata-kata supaya meredam amarah dan segera melupakan amarah itu. Mama pula adalah orang yang selalu menginginkan hal-hal baik terjadi dalam hidupku. Selalu aku dengar namaku di setiap nyanyian doa kedua orangtuaku. Dari mereka aku belajar tentang arti mengasihi dan ketulusan. Maafkan aku juga yang lebih sering melawanmu, Ma,

Teruntuk Kedua Kakak Perempuanku, Kak Dian dan Kine: kalian adalah orang yang membuatku bersemangat mengejar gelar sarjana, yang sudah aku sandang sejak setahun yang lalu. Kalian yang membuatku ingin belajar banyak hal, sejak diskusi-diskusi kita membuatku ingin terus belajar. Sejak kecil, aku bertumbuh bersama kalian. Aku petik bermacam-macam ajaran hidup tentang keberanian, pengorbanan dan rasa mengalah. Sesungguhnya aku belum bisa, namun ketika melihatnya berkali-kali lahir dalam keseharian kalian membuatku ingin mengasah diri menjadi pribadi yang berani, rela berkorban dan punya rasa mengalah. Sejak lama aku ingin berkisah tentang bagaimana kalian mempengaruhi diriku, hingga aku menjadi aku yang sekarang. Bila ada kata lain selain terima kasih, akan aku ungkapkan. Aku sadar, aku adalah adik yang seringkali tak sopan terhadap kalian. Aku baru sadar aku telah menyakiti kalian, ketika kalian tanpa sengaja membentakku. Tak mengapa kak, aku paham bahwa menghargai orang yang lebih tua adalah hadiah sederhana yang bisa aku berikan. Dari kalianlah aku mengerti bagaimana percaya pada Tuhan dengan sepenuh hati, melayani Tuhan lewat sesama dan belajar mengasihi semua hal buruk yang terjadi. Kadang aku bahkan tak mengerti, mengapa kalian bisa begitu sabar dan bersyukur akan segala kejadian yang tengah kalian hadapi. Melihat bagaimana Tuhan memberkati kehidupan kalian, aku mengerti bagaimana bahagianya menjadi orang yang rendah hati. Terima Kasih untuk Kak Dian dan Kine, yang tanpa pernah lelah menyapa dan mengabari bahkan sesekali membuatku resah mendengar beberapa permintaan teraneh, hihi. Selebihnya, aku begitu menyayangi kalian. Rasa syukurku karna memiliki kalian, adalah hal terindah.

Teruntuk Saudari Kembarku, Olla: kau adalah gadis berkepribadian paling buruk yang paling aku kenal. Gadis yang tak pernah bisa berbicara dengan pelan, sebab kau lebih suka berteriak. Tak tahu darimana ajaran ini kau pelihara dalam dirimu. Satu yang membuatku bersyukur memilikimu adalah caramu menyelesaikan masalahmu. Kau menyembunyikannya dengan sangat rapi hingga kita semua tak sadar bagaimana kau mendapati masalah itu sampai bagaimana kau menyelesaikannya. Itulah kekuatanmu yang kau tunjukan padaku, bahwa percaya diri dan percaya pada Tuhan adalah hal terbaik dalam menyelesaikan setiap masalah yang sedang dihadapi. Aku berdoa semoga kau lebih rajin berdoa (haha).

Teruntuk Adik Lelakiku, Nyong: pria paling rajin belajar yang aku temui di abad ini. Pria yang akan dengan gigih mengejar impiannya, adalah dirimu. Kau pula adalah pribadi paling menyenangkan sebab penuh dengan guyonan yang melahirkan tawa renyah kita bersama. Kau pula adalah orang yang takkan peduli pada siapapun yang berbicara buruk tentangmu, juga aku bangga pada rasa percaya dirimu. Kau selalu berhasil menjadi dirimu sendiri, dan berhasil meyakinkan kita semua bahwa apa yang kau pilih untuk dirimu adalah benar-benar yang terbaik. Kadang aku lelah hati melihatmu bahkan dengan terang-terangan menghujatmu, namun kau dengan rasa percaya dirimu itu mampu menepis hujatanku dan menjadikannya lelucon. Aku doakan semoga kau terus berhasil mengejar impianmu, sebab melihatmu bahagia adalah juga bahagiaku! (ciiiieeeee)

Teruntuk saudara-saudaraku: terima kasih paling banyak, telah mengukir cerita lucu kita bersama sejak masa kanak-kanak hingga dewasa ini. Kita telah melihat perjuangan masing-masing, dan telah saling mendukung dan mendoakan. Terima kasih telah menjadi yang paling terbaik, diantara yang paling terbaik di depan mata. Benar bahwa, ketika sedang berburu dihutan haruslah membawa saudara kandung. Ketika serigala maupun singa hendak menerkam, kita bisa berpegangan tangan dan berlari bersama untuk menghindari serangan serigala maupun singa. Itulah arti sesungguhnya persaudaraan, dan orang-orang yang mampu aku membuatku menceritakan apapun adalah kalian. Semoga cinta kasih dalam persaudaraan kita tidak pernah menipis tetapi semakin menebal, semoga cinta kasih dalam persaudaraan kita tidak terkikis hingga dimakan usia.

Kejutan Tuhan.

Memasuki pertengahan bulan November tahun 2018, aku menemui nyata paling baru. Status baru yang selama ini selalu aku hindari, status yang tak pernah aku impikan, bahkan status yang sama sekali tak pernah aku inginkan menjadi nyata walau aku sudah mendengar status itu berkicau di udara hingga berteriak dengan keras tepat di depanku, dan sesungguhnya aku tak punya kesempatan untuk menolaknya. Semuanya aku akui atas kendali Tuhan menjadi kejutan terbaru untukku. Mungkin ini adalah caraNya mengikat diriku untuk belajar menjadi pribadi yang setia terhadapNya, walau sesungguhnya tak mudah aku terima kejutan ini. Lantas aku tertawa kecil dalam lelapku, mana mungkin setiap kejutan tak mengagetkan? Setiap kejutan adalah peritiwa-peristiwa yang harus kau syukuri!

Aku terkejut dari lelapku sejak saat itu. Aku terbangun dan telah menjadi sangat sadar bahwa aku sudah menjadi orang yang dipilihNya mendapatkan hak istimewa ini. Walau sesungguhnya untuk menempati kejutan dariNya ini, aku masih dibebat habis-habisan olehNya. Aku pikir, ini adalah caranya mendidikku menjadi kuat untuk umpatan-umpatan yang terdengar jelas melalui pendengaranku. —tak mengapa—

Bila harus aku tulis bagaimana perasaanku merasakannya akan sangat panjang. Sebab banyak sekali hal tak menyenangkan yang aku telan begitu saja, bahkan aku balas hanya dengan senyum hingga aku pamerkan gigiku yang tak rapi ini. Tapi aku bersyukur bahwa aku bukan tipe pendendam dan aku bukan tipe yang mengingat-ingat dengan lama kekesalanku pada orang-orang yang tak begitu penting. Syukurlah aku mengangap mereka hanyalah sebagai kerikil-kerikil kecil yang harus aku hadapi untuk mensyukuri kejutan dari Tuhan.

Di waktu pertama; aku rasa ada banyak kesalahan yang sudah aku lakukan, namun aku tak butuh dimaafkan oleh mereka, sebab sudah aku kerahkan seluruh kemampuanku untuk membedah apa yang selama ini dititipkan Tuhan. Di waktu pertama aku dikerjai hingga air mata hampir merembes keluar di penghujung mataku, namun syukurlah aku tahan. Semesta membantuku menjadikannya sebagai peluh, agar terlihat bahwa aku kewalahan menghadapi serangan dari mereka.

Di waktu-waktu mendatang hingga sekarang ada banyak pertanyaan yang sesungguhnya tak mampu aku prediksikan akan keluar dari mulut-mulut mereka. Sekali lagi aku beruntung, tanpa menjawab pun aku sudah ditolong oleh mereka sendiri yang aku tahu pun tak menolongku. Mereka hanya sekedar mengutarakan pendapat mereka yang kebetulan akan dengan mudah menyepakati apa yang selalu aku katakan. Sekali lagi, ini bukan karna aku tak suka dengan mereka. Namun sekarang akan lebih sulit melihat seseorang yang bermuka dua, kadang topeng yang terpasang terlalu cantik hingga kadang pun aku terlena menyaksikannya. —memang seperti itu—-

Dari semua pengalaman ini, aku merasa bahwa sedang dididik oleh Tuhan menjadi pribadi yang kuat. Aku sedang diasuhNya menjadi pribadi yang tahan uji, menjadi pribadi yang tak tersakiti oleh kata-kata kejam, menjadi menjadi pribadi yang sedang belajar bersyukur untuk hal tersedih sekalipun. Bukankah ini adalah hal yang membuktikan bahwa aku sedang sungguh-sungguh diasuhNya?

Melewati setiap proses ini kadang aku merasa sendirian. Aku merasa tak ada seorangpun yang dapat menolongku, aku hanya berlarian seorang diri. Aku telah sadar bahwa  sejak beberapa waktu yang lalu, sekarang pun aku sedang diasuh olehNya. Aku sedang diasuhNya menjadi orang yang kuat dan belajar mendewasakan diri melalui setiap kerikil-kerikil tumpul hingga yang paling tajam. Tahukah kau bagaimana kerikil tumpul dan tajam itu yang membentukku hingga menyadari bahwa aku sedang diasuhNya?

Sejak kali pertama aku menghadapi kejutan dari Tuhan, aku merasa seperti sedang tercekik oleh mereka. Aku tak bisa berkembang dengan caraku, aku tak bisa mengekspresikan emosiku, aku merasa bahwa aku yang sedang mereka kendalikan. Sesungguhnya aku ingin berontak, namun Tuhan menegur. Tuhan mengingatkan untuk belajar berbaik sangka padaNya, dan ya aku patuh terhadapNya. Aku menolak memberontak sambil mempelajari apa yang sebenarnya mereka inginkan. Aku menemukan bahwa mereka ingin aku menyajikan makanan yang sama setiap hari. Lantas aku sudah bosan memakan makanan yang sama tiap hari. Sedang aku hanya seorang diri yang menolak makanan itu, sedang mereka menikmati hal yang sama.

Aku buat hal-hal baru, namun aku ditentang. Kejadian itu telah memilukan hatiku, namun aku berusaha berbaik sangka kembali pada maksud Tuhan. Sesungguhnya yang aku rasa bahwa mereka sedang mengikis habis keberanianku hingga mereka sedang menghajarku dengan cara halus mereka. Namun sekali lagi, aku hanya membalas dengan senyuman terbaikku untuk mengurangi amarah yang sedang membakar hatiku habis-habisan. Sudahlah, itu juga menjadikanku lebih kuat lagi. Aku sempat merasa bahwa bertemu mereka yang berkelompok adalah mimpi paling buruk. Mimpi terburukku di kejutan ter(jelek) ini. Tak mengapa, sekarang aku sudah menganggapnya sebagai hal yang paling aku nantikan. Aku sudah bertemu mereka berkali-kali dan sudah semakin merasa diperkaya oleh sikap-sikap mereka.

Tulisan ini mungkin takkan kalian pahami. Tulisan ini adalah caraku mengungkapkan bahwa cara berbaik sangka pada kendali Tuhan adalah hanya dengan percaya padaNya. Setiap nyata yang Tuhan berikan padaku akan aku anggap sebagai kejutan. Aku pikir bahwa aku tak layak mendapatkannya, hanya karna aku membatasi diri sendiri. Nyatanya, Tuhan sudah menunjukan mengapa Dia memilihku untuk dihadiahi kejutan ini olehNya. Setiap kejutanNya memiliki kerikil yang tumpul hingga menajam, namun semua menguatkan. Aku rasa bahwa aku kerdil hanya karna diriku yang mengerdilkanku. Aku rasa bahwa aku tak mampu, hanya karna aku sedang dihakimi oleh diriku sendiri.

Kejutan yang Tuhan berikan saat ini, hanya sedang aku pelajari. Aku perbaiki diriku yang kadang meledak-ledak untuk masalah sepele. Aku perbaiki diriku yang dahulu tak menghargai pendapat orang lain, kini lebih merasa menghargai orang lain. Aku perbaiki diriku yang dahulu ingin memenangi pendapatku, kini lebih merasa mengalah adalah lebih baik. Dahulu aku menjadi orang yang malas membaca, sekarang aku menjadi ingin lebih banyak membaca hanya sekedar memperkaya diri dengan ilmu-ilmu terbaru. Aku perbaiki diri sendiri bahwa dahulu aku bisa sangat sakit hingga terluka dalam, hanya bila orang lain terang-terangan menyakitiku, kini aku lebih mudah merasa bahwa ada hal yang perlu aku masukkan ke hatiku  untuk membuatku bertumbuh. Aku menjadi lebih belajar memilah mana yang penting aku pelihara dalam ingatan dan mana yang harus aku buang lebih dahulu. Aku perbaiki diri sendiri dengan cara meyakinkan diriku bahwa kini hidupku sedang dirajut dengan indahnya oleh tangan Sang Pencipta. Benang-benang yang dirajutNya adalah kejutan-kejutan yang setiap hari melengkapi seluruh kurangku.

Kini kejutan itu membuatku semakin mengerti diriku sendiri yang rasanya belum bisa aku pahami dengan sungguh. Aku semakin paham bahwa benang-benang yang sedang dirajut Tuhan dalam hidupku adalah caraNya menyadarkanku bahwa aku sedang diasuhNya berkali-kali. Bahwa sesungguhnya untuk menjadi kuat; perlu dahulu terantuk batu supaya tak melupa bagaimana membalut luka, perlu dahulu terpeleset kerikil yang banyak di jalanan supaya lebih hati-hati memilih jalanan bahkan menatap jalanan, perlu lebih dahulu merasa sakit supaya tak lantas menyakiti orang lain. Perlu dahulu sakit hingga mengetahui bagaimana berharganya kesehatan, perlu dahulu menemukan banyak hal untuk dinikmati kini dan seterusnya. Ah, betapa aku menemukan kejutan-kejuatn baru ini.

Last: I don’t know who I am, without you!

Teruntuk, Tuan.

Eloknya parasmu, seirama dengan eloknya pribadimu. Pribadi ter-menyenangkan yang pernah kugenggam jemarinya. Ada ruang kosong di antara jemariku yang sejak dahulu tak pernah aku ijinkan untuk diisi. Sejak paras dan kepribadianmu yang setara, yang seketika merenggut perhatianku, sejak itulah kau mampu mengisi ruang kosong pada jemariku. Ruang kosong itu, kau isi dengan genggaman lembut yang seketika menenangkan. Ruang kosong itu seketika terisi penuh namun sesuai dengan porsinya. Tak pernah aku merasakan kekurangan maupun kelebihan pada ruang kosong yang sudah terisi itu.

img_20180620_150426_51579978649.jpg

Jemarimu menggenggam erat jemariku. Tak pernah lekang oleh waktu di ingatanku, bagaimana kau menggenggam jemariku yang membuat langkah kita menjadi beriringan. Hal yang tadinya adalah kehampaan belaka, kini menjadi penuh tak tahu mengapa. Jawabannya adalah kau. Kau yang menghempas ruang kosong dengan dirimu dan kau yang mengisi ruang kosong itu dengan dirimu.

Eloknya pribadimu membuatku berkali-kali tak mampu melupakanmu. Melupakan setiap inchi pada sikapmu yang sungguh-sungguh menawan. Tahukah kau bahwa aku sudah terpesona, sejak waktu pertama kau mengisi ruang kosong pada jemariku? Genggamanmu rasanya berbeda, yang aku temukan adalah adanya rasa ketulusan yang kau titipkan disetiap genggamanmu. Aku menemukanmu hal itu sejak matamu yang tak pernah sekalipun berpindah ketika mendengar ribuan ceritaku, sejak kau tak pernah mengeluh ketika aku sedang berantakan terhadap setiap kenyataanku dan sejak kau tak pernah meninggalkanmu bahkan ketika aku ingin sekali meninggalkanmu. Bagaimana mungkin tak kurasakan setiap ketulusan yang kau titipkan pada sabarnya sikapmu, terhadapku?

Kau elok pada segala hal yang tersimpan padamu. Kau selalu menepis segala tudingan yang aku lahirkan dari bibirku, berkali-kali. Kau selalu dan selalu menguatkan ketika aku lengah terhadap waktu dan ketika aku bertindak berlebihan pada diri sendiri. Kau berkali-kali melihatku terikat oleh egoku sendiri, berkali-kali kau melihatku berpikir berlebihan, hingga berkali-kali banyaknya kau melihatku berlebihan pada diri sendiri. Tak pernah sedikitpun kau meninggalkan, kau hanya menasihati dengan lembut. Hingga saat ini, kau adalah tempat ternyaman untuk perteduhanku. Segala yang telah busuk dalam hatiku menjadi segar kembali, hanya dengan sikapmu yang selalu menenangkan. Tak tahukah kau, bahwa telah kunobatkan kau takkan tergantikan dalam ingatan? Kau adalah pemandangan baruku, untuk melihat segala hal yang baru untukku. Kau ajarkan bagaimana berbaik sangka pada kendali Tuhan, bahkan ketika hatiku sedang dibuat retak olehNya. Kau ajarkan bahwa jangan membusukkan hati hanya karna aku tak bisa bertahan dengan, nyata-nyata yang menyedihkan. Kau sudah berkali-kali membuatku melupakan hal sedih, bahkan ketika hal sedih selalu menghampiriku berulang kali.

Entah bagaimana kau bentuk hati dan pikirmu, menjadi sebijaksana itu. Tak takutkah kau, bahwa aku bisa terpesona berjuta-juta kali? tentu saja kau takkan pernah takut. Aku tahu bahwa tak pernah kau pikirkan hal itu, karna kau hanya melakukan apapun yang bisa kau lakukan. Aku tahu bahwa kau hanya sedang berbuat baik padaku, yang sama-sama adalah mahkluk mulia di hadapan Tuhan. Kau sudah melakukan tugasmu dengan benar, tuan. Kau sudah sangat melekat dalam ingatanku. Namun pertanyaan mengenai takut dariku untukmu, rupanya adalah pertanyaan yang berbalik pada diriku sendiri. Namun aku selalu mengaduk akal sehat, bilamana takut kehilanganmu. Sebab sesungguhnya kehilangan adalah pasti dari setiap konsekuensi yang ada. Menggenggam jemarimu saja adalah suatu keberuntungan, jadi aku putuskan untuk tak berpikir lebih selain menyiapkan diri untuk segala kemungkinan terburuk yang bisa datang bertamu dan menjemputku, kapan saja. Iya kan?

img_20181104_165912442690728.jpg

Kau selalu menitipkan cerita tentang alam yang menjadi kegemaranmu, hingga kegemaran kita menjadi sama. Apa saja ketika didiskusikan denganmu, tentu saja akan melahirkan hal-hal baru. Sebegitu menyenangkan bilamana berbagi apapun denganmu, termasuk berbagi perasaan. Dulu selalu saja tak terpuaskan, dan ingin menginginkan lebih. Namun sekarang, sebelum berpikir bahwa apapun tak cukup, pikiran semacam itu tak lagi bersarang dalam ingatanku. Semuanya terpuaskan, entah dari mana pikiran bisa bersarang dalam ingatanku. Yang aku ingat, kau selalu bilang bahwa tak perlu menambah maupun mengurangi, yang penting cukup. Dan sejak saat itu, aku selalu merasa cukup. Aku ingat, dedaunan yang kau bilang pun selalu membuatku bersemangat untuk seketika menulis apapun tentang percakapan kita. Tuan, sadarkah kau bahwa kau telah merobohkan apapun yang dahulu menjulang tinggi dariku.

img_20181104_1659551100879337.jpg

Teruntuk tuan yang melekat dan membekas dalam ingatan:

Tuan, tak tahukah kau bahwa posisimu takkan bisa direnggut dengan mudah dalam ingatanku? Berkali-kali namamu berteriak keras dalam diam. Berkali-kali kau bertamu dalam ingatanku, berkali-kali dan berkali-kali berikutnya kau dikisahkan oleh ingatanku. Lalu bagaimana bisa bibirku menyembunyikan namamu yang menghujani pikirku? Tentu saja, bibirku akan memanggil namamu. Memanggil namamu adalah hal terakhir ketika aku sudah tak berdaya, bila pikirku memperdayaiku dengan berkali-kali menyajikan dirimu. Bisakah seperti itu? entah bagaimana kau terus berteduh dalam ingatanku. Padahal tak ada terik maupun hujan yang bisa menggoresimu, namun pikiranku adalah perteduhanmu. Aku sudah kalah, sejak kau mengisi ruang kosong diantara jemariku. Aku sudah merasa begitu beruntung mengenalmu, sebab kau buat aku mengubah kebiasaan-kebiasaanku yang seringkali aku benci.

Aku jadi paham bahwa musuh terbesar adalah memang diri sendiri. Perubahan-perubahan kecil yang aku rasa terjadi pada diriku adalah bantuan Tuhan melalui dirimu. Aku jadi sadar bahwa Tuhan melalui semesta menitipkanmu dalam kisah sebentarku ini, ternyata cukup berdampak besar. Aku melihat bagaimana kesabaran melahirkan rasa syukur yang tak jemu-jemu berhenti, bagaimana ketulusan mampu mengabadikan rasa yang hadirnya pun tak tahu sejak kapan, bagaimana ketulusan membuat seseorang menyayangi apapun yang ada pada dirinya sendiri sebelum menyayangi orang lain, dan bagaimana ketulusan akan selalu melahirkan ratusan hal baik dalam pikiran maupun perbuatan.

Tuan, kau sudah menunjukan segalanya padaku. Aku memang tak pernah paham bagaimana seorang sepertimu bisa sedemikian tulus seperti itu, tapi aku tahu sekarang bahwa masih ada orang sebaik dirimu di tengah derasnya kejahatan di masa kini. Kau dan segala kekinianmu di kisah sebentar kita, telah menjadikanku mengingat segalanya yang menjadi kenangan kita. Kau tak pernah bisa terbunuh dalam ingatanku, tuan.

img_20181104_1659012139108192.jpg

Kemarin aku berkunjung ke tempat bersejarah dalam hidupku, aku temukan satu tanaman yang menemani masa kecilku. Seketika pikiranku melayang pada dirimu, ketika jarak di tanaman itu mengingatkanku pada jarak pada jemariku yang dahulu kau isi. Kau sudah sama sepertinya, yang tak bisa hilang dari ingatanku. Tak tahu lagi, apa yang akan aku tulis. Pastinya aku senang mendengarmu baik-baik saja.

Tuan, Terima kasih untuk segalanya!.

Berkunjung di Kisah yang Mati.

Berkunjung kembali ke kisah yang dulu adalah pilihan yang tak mudah. Butuh banyak keberanian untuk memantapkan langkah memilihnya. Aku hanya sedang dihujani pertanyaan untuk berkunjung kembali ke sana, walau aku sudah menyiapkan langkah untuk segera berkunjung ke sana; sekalipun kisah itu telah tutup buku. Kisah itu telah terkikis habis oleh waktu. Yang tersisa hanyalah beberapa pengingat yang mengingatkan. Pengingat yang membuatku menetapkan langkah berkunjung ke kisah yang telah tamat itu.

img_20181104_165240982987515.jpg

Kakiku mengarahkanku untuk menjumpai kisah lalu itu. Bukan jalanan bagus seperti yang dahulu lagi. Sekarang jalanan itu telah gersang, sejak rerumputan menolak menumbuhi tanahnya kisah yang lalu itu. Sejak aku tiba di kisah lalu itu, aku mengalami batuk terus-terusan. Batuk yang seringkali menolak bersarang pada diriku. Batuk kali ini hanyalah karna kegersangan yang terjadi di kisah lalu ini.

Serangga sudah menjadi penghuni kisah ini, walau ketika aku melangkah lebih jauh ke tempat yang lebih jauh aku dapati ada rerumputan yang bertumbuh di sana.

img_20181104_1650431782476750.jpg

Rerumputan itu sudah memenuhi seluruh tanah di tempat yang berbeda itu. Tak tahu apa yang istimewa dari tanah ini, hingga reremputan memilih untuk memenuhi tanah itu dengan tubuh mereka. Aku jadi ingat bahwa kisah ini telah aku tinggalkan bertahun-tahun yang lalu. Kisah yang sudah aku hapus sekian lalu, dan sekarang aku ingin mengunjunginya hanya karna rasa penasaranku yang berlebihan.

img_20181104_165240982987515.jpg

Tak aku temukan sedikitpun, jejak manusia di sana. Hanyalah jejakku yang tertinggal di sana, di tanah yang gersang yang baru saja aku lintasi beberapa menit yang lalu. Kali ini aku tetap berdiri di tempat yang sama, pilihanku detik ini. Tak ada apapun yang aku temukan selain aroma perpisahan yang mematikan suburnya tanah ini. Kini aku ingat bahwa sesungguhnya, aroma perpisahan-lah yang telah membunuh suburnya tanah itu. Para rerumputan pun enggan menjumpai tanah itu, hanya karna sang tanah terus menyimpan aroma perpisahan. Aroma perpisahan ini tak membusukkan tumbuhan apapun, ia hanya sedang merekam bagaimana perpisahan terjadi sepanjang waktu yang lalu itu. Aku tertawa tipis, bagaimana mungkin sang tanah bisa beralih fungsi menjadi lemari yang menyimpan aroma perpisahan?. Ah, rupanya aroma perpisahan ditumpahkan pada sang tanah. Sang tanah yang tak bersalah, berulang kali menampung pedihnya perpisahan.

Sejak meninggalkan kisah ini di beberapa waktu yang lalu itu, telah membuatku melupa bagaimana perpisahan itu terbentuk. Bagaimana karya darinya yang merenggut segalanya yang tercipta. Perpisahan itu telah membuatku tak melihat apapun darinya di setiap jendela yang aku lihat. Udara segar yang aku cari pun, menolak bertamu pada jendela kamarku. Udara segar pun menolak menyuburi tanah yang gersang ini. Bahkan tak ada perjanjian apapun yang bisa mereka buat, hanya untuk saling menolong. Ternyata kisah yang sudah berlalu bersama dengan seluruh isinya sudah menjadi asing, sejak hari pertama aroma perpisahan itu menggema di udara. Bagaimana dengan hal-hal baru selanjutnya?

img_20181104_165929918611235.jpg

Kisah yang berakhir ini hanyalah ingin ditemui kembali, katanya. Dia rindu pada seluruh kejadian yang lalu, sejak dia dihinggapi oleh aroma perpisahan. Perpisahan yang sejatinya, tak begitu menyakitkan. Iya kan?. Bilamana menyakitkan ketika hujan kesakitan menimpa kepala. Aku rasa sejak waktu yang lama itu, semua tentang kisah yang lalu itu sudah gugur dari ingatanku. Tak ada lagi yang merintih berjuang serta tak ada lagi yang merintih dan banyak lagi yang lainnya. Tak sedikitpun kebahagiaanku terenggut melalui perpisahan ini, walau memang benar segala yang dahulu itu masih tersimpan di sana, di kisah yang sudah berlalu itu.

Sejak aku berkunjung ke kisah yang lalu, sudah tak ada yang perlu diragukan lagi. Tanah yang kering dan yang penuh rerumputan di tempat yang berbeda telah menyimpan dengan rapi kisah itu bertahun-tahun lamanya. Mungkin semuanya sudah lenyap, hingga yang tersisa hanyalah aroma perpisahan yang tetap menajam di usianya yang telah menahun. Tak tahu dengan pemeran-pemeran yang menciptakan aroman perpisahan itu seperti apa sekarang.

img_20181104_165240982987515.jpgagain, here. 

–Untuk kesekian kali pada tanah yang terus menyimpan aroma perpisahan—

Masihkah terus kau biarkan dirimu tersakiti? Tak baik menjadikannya bersatu denganmu. Bukankah kau sendiri yang telah memilih menyimpannya? Apa untungnya untukmu? Kau begitu berjasa mengisahkan satu per satu hal yang telah aku lupakan. Kau merekam bagaimana peluh dan kata-kata berhamburan ke tanah bahkan melayang ke udara, hingga perpisahan itu menjadi nyata. Apakah selama ini kau simpan segalanya, agar aku menyaksikannya sedemikian rupa ketika aku mengunjungi kisah ini?

Hanya aku kan yang berkunjung?, aku tak butuh jawaban apapun soal ini. Aku hanya tak ingin kau menyakiti dirimu untuk hal bodoh yang menjadi kisahku di waktu yang lama itu. Terima kasih, karna kau telah mengisahkannya lagi (dan lagi, nantinya).

Kepada yang Terkasih: Terima Kasih telah terus Menghadirkan Kasih

img_20181027_1735352032565073.jpgSebuah gedung gereja disinari mentari petang itu. Aku takjub sejadi-jadinya, hingga mengabadikannya dalam sebuah potret. Kejadian ini sudah berulang kali aku lakukan, mengingat ini kali kedua aku menemukan gedung gereja berwarna kuning yang seperti keemasan ketika disinari mentari di setiap petang. Petang dan petang berikutnya, pemandangan seperti ini akan terus berulang, namun aku tak berpikir bahwa kejadian-kejadian yang nampak di depannya akan sama setiap kalinya.

Aku bersembunyi dibalik cerita ini. Cerita tentang seseorang yang tengah membangun masa depannya, dan masa depannya sudah digenggamnya. Banyak hal dia ungkapkan padaku, termasuk katanya tetaplah berbaik sangka pada kendali Tuhan. Kalimat yang berulang kali aku tulis pada linimasa blogku bahkan linimasa instagram millikku. Banyak hal katanya, yang harus dikorbankan. Katanya musuh terbesar ketika membangun masa mudanya adalah dirinya sendiri.

Aku menopang daguku sambil menatapnya dalam, dia yang sedang berada di depanku. Mulutnya tak henti-henti bercerita, bahkan ketika aku sudah meneguk air mineral belasan kali. Dia terus bercerita padaku, bahkan ketika aku sudah menyesal menemuinya hari ini ketika aku sedang mengantuk sejadi-jadinya. Ada banyak cerita yang tak mampu tersimpan dalam ingatanku, sebab beberapa kali mataku terpejam dan aku ditegurnya dalam beberapa kali pula. Sesungguhnya aku tak ingin ditegurnya, sebab apapun yang dikatakannya tidak pernah aku seriusi, apalagi ketika dia sedang marah.

Kali ini, dia meminta waktuku lebih banyak untuk berbagi kisahnya. Entah soal kisah terkelam maupun kisah bahagia diselimuti haru. Aku tak tahu, sebab memprediksi ceritanya, akan segera melahirkan cerita-cerita paling baru setiap hari. Hari ini dia bercerita bahwa dahulu, di beberapa tahun yang lalu dia sempat berkali-kali gagal merintis masa depannya. Soal pendidikannya, bahkan soal asmara yang terselip dalam pendidikannya dirasakannya gagal. Impiannya untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi sempat tertunda, sebab dia harus menghidupi adiknya. Baiklah, kali ini entah bagaimana, kantukku enyah dan aku menyimak apapun yang dikatakannya.
Dia bercerita bahwa dirinya adalah seorang payah yang gagal berkali-kali. Dia telah menyerah, namun sekali lagi dia malu menatap pohon yang tumbuh dengan rindang namun berkali-kali ditebang. Katanya, pohon saja tahan uji, masa aku tidak?. Kali ini dia tersenyum dan menepuk jemariku, katanya memberikan penghargaan pada diri sendiri adalah hal termudah. Setelah itu menjadi hal termudah, aku akan dengan mudah mencintai diriku yang lemah ini. Katanya, aku akan semakin bersemnagat bila aku menatap mataku di cermin dan berujar bahwa kegagalan ini adalah tangga-tangga baru untuk menapaki hari sukses. Dia telah membuktikan padaku, bagaimana dia berjuang. Ketika banjir melanda ibukota tercintanya, dia menerobos banjir itu dan bertamu pada masa depannya. Ternyata, masa depannya telah menjumpainya. Masa depannya telah digenggamnya, namun dia masih seperti dulu. Masih menjadi periang terselimutkan sedih, hingga menjadi teruji diantara yang diuji. Hebat bukan?

img_20181027_1735352032565073.jpgPetang aku menatap gedung gereja, aku teringat akan dia. Dia yang bercerita dan berkali-kali memotivasi diriku. Kita sama-sama pemalu, namun katanya jangan menjadi orang yang terus mau tampil di belakang, kau harus melepaskan rasa malumu untuk menjadi berani dan berada di depan. Aku tertegun mendengarnya dan aku rasa tak ada yang salah padanya. Aku ingat bagaimana dia membantuku meraih keberanian untuk berhari-hari berbagi rasa bahagia ketika satu-per satu pengunjung menghadiri linimasa blogku. Aku ingat bagaimana dia tak mengejek namun terus membuatku ingin menulis setiap hari. Dia tak pernah ambil bagian dalam gedung itu, namun bagiannya telah emmbentuk kecintaanku ketika mengabadikan perasaan lewat aksara-aksara yang berimbun-rimbun dalam kertas. Ah, betapa aku cinta keadaan ini!.

Kepada yang terkasih: terima kasih telah terus menghadirkan kasih.