Sang Rindu dan Kau, Kak.

img_20181011_2008272064972033.jpg

Aku kemas rindu yang sudah aku buang dari ingatan. Rindu yang sudah tergadaikan itu aku bungkus dalam kemasan yang takkan bisa membuat rindu itu berlarian terbang bilamana angin datang menjemput. Aku lupa bahwa rindu itu masih bernyawa. Rindu itu masih tahu jalan pulang, hingga dia menerjang penutup kemasan yang sudah aku jepit sekuat tenaga. Rasanya sang rindu dan kemasan yang aku pakai untuk menampungnya berkelahi sedemikian hebat, hingga sang rindulah yang menjadi pemenangnya.

Kali ini sang rindu datang padaku, si penjahat yang membunuh rindu. Akulah penjahat yang membunuh nyawa sang rindu, akulah yang membuat sang rindu tak bisa bernapas. Sayangnya, aku sudah tertangkap oleh sang rindu yang terus mengejarku. Sang rindu datang padaku, sebab katanya akulah rumahnya. Aku adalah tempatnya bersemayam, sebab aku yang menanamnya, memupukinya hingga sudah menjadi dewasa lalu tahu bahwa dia telah bernyawa dan tak pantas untuk mati. Aku keliru, soal itu.

Baiklah, ini murni adalah salahku. Aku yang menjumpainya, aku yang mencari-cari dirinya hingga sang rindu tumbuh dengan lebat dalam ingatan. Rindu yang dulu selalu datang tanpa kupinta, rindu yang selalu menenangkan pula rindu yang membebatku habis-habisan. Kadang aku benci padanya, pada sang rindu manakala dia menuntutku untuk menghubungi kau yang aku rindukan. Nyatanya, aku dibuat tak berdaya oleh sang rindu hingga menjumpaimu sebagai penenang rindu.

Sang rindu itu telah bertumbuh dengan lebat dalam ingatanku, ketika kita bersama. Sekarang kisah kita sudah berbeda, sebab kita tak lagi bersama. Kita sudah saling berpunggungan, kita sudah saling menyerah bahkan tak ada lagi kita yang dahulu selalu membuatku rindu. Kisah kita sudah mati. Iya kan?. Aku tak ingin membangunkan kisah yang sudah mati itu, sebab rasanya mengenangnya saja membuatku sulit meredam sang rindu yang telah tumbuh bersamaan dengan kisah ini.

img_20181007_0736391814805255.jpg

Kisah ini sudah berakhir bertepatan dengan banyaknya narasi yang aku tulis tentangmu, sejak kita memutuskan untuk berpisah. Narasi-narasi sedih, hingga narasi yang sudah tak ber-rasa pun sudah aku luapkan di sini, di linimasa blogku. Sejak aku menuliskan tentangmu, sejak aku pilih bersembunyi hingga sudah tak ada lagi persembunyianku tentangmu. Semua tentangmu telah memenuhi linimasa blogku, hanya untuk membuatku segera melupakanmu.

Sang rindu yang aku bilang sejak awal ketika tanganku menari di atas papan keyboard juga sudah biasa saja. Aku hanya tertarik menuliskan bagaimana aku bunuh sang rindu yang hidup untukmu. Sang rindu itu tumbuh bersama kisah kita, karna memang kita terbiasa untuk segalanya. Terbiasa bercerita, terbiasa saling berbagi hingga terbiasa menemukan solusi yang menyenangkan. Obrolan kita pun bukan soal masa depan, sejenak kita berpikir bahwa siapa yang bisa memprediksi masa depan hubungan ini? yang kita katakan adalah terus berbaik sangka pada kendali Tuhan, ketika sudah tak lagi bersama!.

Aku sudah berbaik sangka dengan menemukan solusi terbaik adalah melupakanmu. Memang tak semudah itu melupakanmu, yang memang punya daya pikat yang membuatku terpikat begitu dalam. Caramu berbicara, caramu menaklukanku adalah caramu menjemput masa laluku yang dahulu telah aku buang. Kau bangunkan lagi dengan caramu hingga membuatku mengasihi segalanya. Kau mengingatkanku untuk tak boleh tersakiti oleh kata-kata sakit, kau membuatku bangkit berkali-kali hingga mantap menatap cermin lalu tertawa mengapa aku bisa sebodoh itu. Kau memang bagian terindah yang dititipkan Tuhan ketika aku merayakan hari ulang tahunku, setahun yang lalu. Kau buat aku terpana, hanya dengan hal-hal sederhana yang kau lakukan. Aku tak butuh apapun untuk membuktikan ketulusanmu, sejak awal aku menetapkan pilihan padamu aku tersadar bahwa ada seseorang yang penuh dengan ketulusan telah melengkapiku selama ini. Sejak itu, sang rindu bertumbuh untukmu dalam diriku. Kau yang hingga sekarang masih terus tersebut dalam ingatan sudah bisa aku tepis posisimu, posisimu sudah tak sama seperti dahulu lagi. Kau tahu kan, bagaimana kita berdua berjuang menolak rindu masing-masing? kau juga tahu bahwa setelah kita tolak rindu itu, hingga akhirnya kita saling mengakui telah rindu, serindu-rindunya walau kau yang mengakuinya lebih dulu, hingga aku susul pengakuan itu.

Setelah aku ungkapkan hal itu, bagaimana bisa sang rindu ini tak tertuju padamu?

Kau dan sang rindu sudah menyatu dalam ingatan. Rasanya aku ingin memberontak, aku ingin membunuh semua tentangmu yang bernyawa dalam ingatanku, namun kekuatan soal dirimu terlalu kuat dan rumit dibumi-hanguskan. Aku sudah terlanjur tumbuh bersama sang rindu yang nyatanya hanya tertuju untukmu.

Aku pilih untuk melenyapkanmu dalam ingatan, melalui tulisan yang perlahan-lahan membuatku melupa. Dibandingkan dahulu ketika aku menyembuhkan diri, jerawatku tumbuh subur di wajah. Sawah jerawat yang menempati wajahku telah sesak, hingga aku menolak bercermin. Aku pun tak dapat tidur nyenyak, sebab sesekali aku menjerit ketika kau datang menghampiri lelapku. Itu adalah hal terlucu dan tersadis ketika aku diserang patah hati. Aku terserang hingga sakit, sesakit-sakitnya!. Perlahan-lahan aku berani menulis semua tentangmu, mengkritisi kelemahanmu yang aku cintai serta menyatakan kekagumanku. Semuanya itu aku tulis ketika semua tentangmu masih sangat ber-rasa. Tak tahu sudah berapa banyak tulisan yang lahir soal dan untukmu, namun aku sudah dengan lapang dada menulis dengan tak ber-rasa lagi tentangmu. Aku telah berhasil!

Aku keluarkan semua tentangmu dari ingatan, aku kumpulkan semuanya tanpa tersisa. Aku taruh menjadi satu dalam kemasan, lalu aku kemas dengan rapi. Aku jepit penutupnya supaya tak beterbangan ditiup angin, karna hal yang paling aku benci adalah angin. Dia datang dengan jahatnya lalu menerbangkannya bahkan menjemputnya kembali padaku. Angin memang kurang ajar!. Aku jepit sekuat tenaga hingga peluhku menjadi sungai kecil di atas meja. Aku pikir untuk membuangnya ke dalam selokan, hanya menciptakan sampah baru yang menambah menimbunnya sampah pada selokan tak berdosa. Kala itu gerimis bertamu di rumahku, syukurlah. Gerimis kecil menjadi sungai dengan arus deras di selokan, hingga lebih mudah menenggelamkan rindu itu di lautan. Aku buang saja sang rindu yang sudah aku bungkus dengan rapi itu. Aku buang ke sungai berarus deras di depanku, tanpa rasa berdosa sekalipun. Nyatanya memang sudah tak ber-rasa soalmu, hingga membuangnya saja aku merasa lega.

Setelah aku buang aku tutup pintu rumah. Aku tutup dengan gembok. Malamnya aku tidur, namun sang rindu menghampiri. Kemasan itu aku temukan sudah terbuka, ah sungguh keji sang rindu yang datang kembali terus menerus. Tapi sudahlah, aku panggil sang rindu untuk datang lagi. Aku bilang padanya, aku ingin bebas darinya. Kau tahu apa yang dikatakan sang rindu padaku?

“Aku tak pernah meremas napasmu. Aku tak pernah membuatmu terbeban. Kau tahu mengapa aku terus menghampirimu? Tak sadarkah kau bahwa aku yang tumbuh dalam kisahmu bukan hanya untuk dirimu sendiri, ada dia di sana yang sungguh dengan deras merindukanmu. Aku tahu kau pandai mengendalikan diri dan rasa hingga sekarang aku (sang rindu) sudah tak sesubur sejak awal menumbuhi dirimu. Dia di sana sedang merindukanmu habis-habisan. Dia di sana sedang melukis indah parasmu yang terus terbenam dalam ingatannya. Aku (sang rindu) yang hidup dalam ingatannya pun terus menghajarnya tentangmu. Tak ada sedikitpun yang bisa aku hapus tentangmu darinya. Dia menolakku (Sang rindu) untuk pergi. Dia bahkan membiarkanku semakin dewasa bersamanya. Sedang kau? Kau bunuh aku, kau meremas leherku, kau buang aku dan kau campakkan aku hanya untuk melupakannya. Semua tentangnya sudah meluap dari ingatanmu, dan ya kau sudah berhasil!. Aku (sang rindu) hanya ingin tinggal dalam dirimu, ingin membantumu melupakannya dengan caraku. Tolong, terimalah aku (sang rindu) kembali.”

Semua yang dikatakan sang rindu padaku dalam percakapan kita sama adalah sama denganmu. Pada awalnya aku terbeban, namun sekarang aku sudah tak ingin membunuh sang rindu lagi. Baiklah, aku ijinkan sang rindu tinggal dan dewasa dalam diriku. Soal kau yang tumbuh bersama rindu, terima kasih untuk terus memeliharaku dalam ingatan. Kau yang terindah dan yang paling ber-rasa tanpa dibumbui apapun. Bolehkah kukirimkan sesuatu padamu melalui sang rindu dalam ingatanmu?

img_20181011_2008361969522371.jpg

Teruntuk yang dahulu menjadi satu-satunya: ketika aku menuliskan ini, aku undang segala rasa yang dahulu aku buang bersama sang rindu. Mereka datang kembali, hingga aku menulis sepanjang ini padamu. Sejak lama aku sudah menghapusmu hanya dengan tak peduli soalmu, walau aku sangat peduli. Aku menolak pesanmu, walau sesekali aku akan senyum kegirangan melihat pesan-pesan pendek terlucu darimu. Kau masih terus sama sejak dahulu hingga sekarang. Sedikitpun kau tak berubah, kau tak berubah bahkan ketika kebersamaan kita sudah berubah. Kau mengunjungiku berkali-kali, hanya untuk mengingatkanku beberapa hal yang membuatku terluka. Segitukah aku, kau kenal?. Aku mengasihimu sebanyak apapun yang bisa aku deskripsikan. Seseorang yang merobohkan tembok yang aku bangun bertahun-tahun, seseorang yang membuatku suka apapun yang ada pada dirinya dan  seseorang yang membuatku belajar memelihara seseorang sebaik mungkin dalam ingatan. Kaulah seseorang yang membuatku terus berkata jujur, tanpa pernah bersembunyi. Bahumu yang masih kuat menampung peluhku, bahumu yang masih kuat menampung kekesalanku. Bahumu yang selalu kau berikan, ketika aku tak pernah pinta.

Tanganmu yang masih hangat menuntunku, bahkan tanganmu yang masih dengan hangatnya menenangkan amarahku. Senyummu masih kau lukis di hadapanku, walau aku masih membuang senyumku ketika menatapmu. Kakimu yang selalu membuatku tak ingin mundur, kakimu yang membuatku paham apa arti beriringan. Kakimu membuatku paham bagaimana bekerja sama untuk menemukan jalan keluar. Kakimu yang menuntunku tak terantuk bantu hingga terluka dan sakit. Kau sudah sebegitu berharga dalam ingatanku, kau sudah mendaging dalam hati dan ingatanku. Kau yang selama ini selalu aku tolak kehadirannya, justru yang paling ter-rindukan diantara yang sudah-sudah.

Kak, sang rindu membuatku menulis sepanjang ini tentangmu. Maafkan aku yang berkali-kali tak mampu melupa tentangmu. Aku hanya ingin menenangkan pikiran tentangmu, namun cara menenangkan pikiran tentangmu adalah menulis ini padamu. Kau masih terbutuhkan, kau masih paling terbutuhkan. Namun apa dayaku? Kita sudah terjarak oleh pilihan, kita sudah terjarak oleh waktu dan kita sudah terjarak oleh apapun yang sudah menjadi dunia kita. Kita sudah berbeda sejak beberapa bulan yang lalu. Aku tahu bahwa kisah kita masih melekat pada pikiran kita masing-masing, namun kita sudah menjadi diri sendiri dan telah terbiasa. Tak mengapa, sang rindu menghajarku habis-habisan. Tak mengapa, kak. Sesekali mengingatmu menjadikanku merasa bahwa kenangan memang hal sulit untuk terkelupas dalam ingatan. Kenangan kita sepertinya menjadi luka yang tak mengering. Aku tak ingin menyembuhkannya, aku juga tak menganggap perpisahan kita sebagai luka yang menyakitiku. Sebenarnya pada awalnya, aku mengira bahwa kau adalah luka ketika kita membicarakan perpisahan ini baik-baik. Dan ya, aku dibuat takluk oleh prasangka luka tentangmu. Ternyata sudah aku sadari bahwa, kau bukanlah luka. Kau mendaging dalam ingatanku, kau mendaging dengan sikap nyata yang membuatku terpikat ratusan kali.

Terakhir, sudah aku kendalikan rasa berbaik sangka pada kendali Tuhan. Kak, terima kasih telah mencintaiku dengan caramu yang sederhana. Terima kasih telah mencintai segala kurangku yang katamu tak pernah mematikan dirimu. Terima kasih telah menjadikanku sebagai orang yang terus berpikir untuk berbaik sangka pada kendali Tuhan. Semoga kau berbahagia dengan semestinya, dan semoga kau terus berbuat baik pada setiap orang. Akan banyak orang yang terpikat dengan ketulusanmu, kak!.

Iklan

Mentari Pagi yang Membongkar Persembunyian Kita

img201604260907552123707834.jpg

Pagi ini, mentari dengan sengat tertajamnya menusukku. Menusuk kita, yang sejak malam bersembunyi darinya. Kita bukan takut disinari olehnya, hanya saja kita takut tertangkap olehnya yang selama ini mencari persembunyian kita. Sangka kita bahwa segalanya akan tertutup dengan sangat rapat adalah sungguh-sungguh salah. Nyatanya yang tadi tertutup itu telah terbuka dengan lebar.

Ini bukan soal masalah memalukan yang membuat kita bersembunyi, ini adalah soal kita yang tak suka mengumbar kisah ini. Akan lebih baik kita menikmatinya saja, daripada tertonton oleh orang lain. Sebenarnya itu adalah gagasanku, yang tanpa sengaja pun dibenarkan olehmu. Katamu, benar juga. Makanya kita memilih selama ini bersembunyi di persembunyian kita, tanpa membuat banyak orang bertanya-tanya. Rasanya ternyata begitu menyenangkan, merasa tak ada yang melihat, tak ada yang menyaksikan sampai tak ada yang bertanya bagaimana posisi kita di hidup masing-masing.

Itu adalah tempat ternyaman, ketika menjalaninya tanpa banyak yang mengumbar. Biarlah kode-kode asmara yang kita buat di catatan kecil pada sosial media masing-masing, menjadi tanggung jawab kita yang akan kita pertanggungjawabkan bila hanya kita berdua yang sedang bercerita. Kita senang bersembunyi di tengah keramaian, tanpa saling bergandengan tangan. Kita suka berbisik ketika banyak orang sedang berteriak, kita suka tersenyum ketika orang lain sedang tertawa bahagia dan kita senang bercerita ketika orang-orang sedang tak bersama. Bagiku, ini adalah hal yang sangat mudah ketika urusan pribadi benar-benar menjadi urusan pribadi. Namun bagimu, ada beberapa hal pribadi yang menjadi konsumsi keluargamu. Sedang aku, memang selalu menutup rapat kisahku dengan siapapun. Kau suka beradaptasi dengan duniaku yang memang benar-benar tertutup, pada awalnya. Kau tak tahu bahwa aku suka bersenandung ketika yang lain sedang marah, kau tak tahu bahwa aku sangat suka bercanda di tengah kesukaanku untuk bersembunyi. Katamu, akan mudah untuk aku adaptasikan.

Pagi ini, kita tak pandai saling bersembunyi. Mentari menangkap kita dengan perangkapnya. Perangkap yang selama ini kita hindari, namun akhirnya kita terperangkap di dalamnya. Lalu bagaimana sesudah ini?

Kita telah menyiapkan kisi-kisi jawaban, bilamana ada ratusan pertanyaan mengenai kisah ini. Kita akan menghadapi ujian-ujian yang akan diadakan oleh orang lain terkait pelajaran yang selama ini kita pelajari bersama. ya, pelajaran soal bagaimana kita dengan tangguh bersembunyi. Bagaimana persembunyian ini tersusun dengan rapi, hingga sama sekali tak tersadar meski selama ini kita kelihatan bersama. Pada awalnya aku kira ini akan berhasil, nyatanya aku salah; sebab seberapa lamapun kita bersembunyi tetap saja kita akan ditemukan. Dan Pagi ini, atas restu semesta kita ditemukan.

Ketika kita berdua memutuskan tak bergandeng tangan di tengah keramaian, kita malah dipaksa memberikan kejelasan untuk kisah ini, untuk kisah yang selama ini kita sembunyikan. Kita adalah orang kuat yang sama-sama menanggung beban pertanyaan ini. Katamu; ah, sungguh tak nyaman begini. Dengan ekspresi tak mempesona kali ini, yang aku iringi dengan tawa. Sayang, tak ada gunanya menyesal. Lebih baik, saling menyiapkan diri menghadapi pertanyaan itu.

Ujian Kemarin; tanpa sengaja kita tertangkap sedang berdua di taman baca. Kita diperhadapkan dengan tawa besar oleh kawanmu, yang langsung mengundang tawa bersama. Kita hanya saling tertawa dan saling setuju untuk menertawakan apa saja yang dibuat orang lain terhadap kita.

Tak ada yang salah kan bila bersembunyi di balik kisah ini? aku yakin tak ada yang salah. Ini hanya soal pilihan, soal kenyamanan bersama. Bila untuk kenyamanan, untuk apa peduli dengan yang sudah-sudah terjadi pada yang lain?. Dalam sebuah kisah, tak penting untuk diketahui orang lain. Seberapa besar aku tertular dan menularkan kebaikan dalam kisah ini adalah yang penting.

Karnanya sejak aku memilih bersama, sebisa mungkin akan aku sembunyikan pada siapapun. Terkai sensai dan rasa berdebar, memang tak bisa aku sembunyikan. Akan lebih nyaman untuk didiskusikan bersama, sebisa mungkin menjadikan kau sebagai teman terkasih adalah hal yang snagat-sangat wajar. Terkait posisimu yang tak bisa bergeser dari ingatan adalah mutlak. Karna berhari-hari menghabiskan cerita denganmu, menjadikanku sebagai pribadi yang suka berbagi. Rasanya ada yang menanggung sedih bahkan bahagiaku, dan itulah kau. Maafkan aku yang membiasakan kau bersembunyi, hingga kita tertangkap mentari di Pagi ini.

Sejak mentari melihat kita, bahkan meminta langit membantu memuluskan serta meluruskan pertemuan kita, kita sudah tertangkap olehnya. Hanya saja, tak kita sadari sejak awal kita memutuskan bersama. Tapi sudahlah, seburuk apapun kita bersembunyi dia sudah berhasil menerangkan pada dunia bahwa kita sedang membangun kisah ini. Untukmu, terima kasih telah menyelaraskan dunia besarmu dengan dunia terkecil milikku.

img201604260907552123707834.jpg

Teruntuk Mentari Pagi, rasanya aku tak ingin menulis apapun tentangmu sebab kau jahat untuk tak merestui persembunyianku. Namun sudahlah, sudah terlewat sekian jauh bagaimana kau merebut kita dari persembunyian kita dan menerangkan pada dunia bahwa kita sedang berjuang membangun kisah ini. Mentari Pagi, kau memang hebat membuatku tersipu ketika dihujani pertanyaan hingga kewalahan memberikan jawaban. Aku pikir bahwa yang ingin tahu hanya saudara-saudariku, nyatanya mereka tak banyak bertanya sebab menghormati keputusanku. Mentari Pagi, kau membuatku sadar bahwa ada banyak orang yang hanya penasaran mengapa aku menutup rapat cerita kisahku dengannya. Kau membuatku mengerti apa itu penjelasan, dan bagaimana menemukan bahagia yang hanya diri ini rasakan. Sekali lagi, aku tak marah karna kau tak merestui persembunyianku. Aku dibuat kagum, bagaimana kau membuatku menikmati persembunyian ini beberapa waktu lamanya, hingga kau siap mengakap aku dan dia. Terakhir, aku sudah berbaik sangka padamu. Terima kasih, Mentari Pagi yang membongkar rahasia kita!

2016.

img201604260859461385203906.jpg

Tahun 2016. Kau bangunkan kisah yang telah tertidur. Kau buat aku mengenangkan semua yang telah berlalu bersamamu. Bukan rasanya ingin hilang, hanya saja memang telah hilang bersama angin. Telah hilang, sehilang-hilangnya sejak tahun 2016 berakhir.

Ini bukan soal seruan rindu yang berteriak dalam ingatan, ini hanyalah segumpal ingatan yang kembali menyapa. Segumpal ingatan yang telah berlemak di sudut memori dan ingin disentuh, hingga akhirnya tersentuh. Setelah tersentuh, aku hanya ingin bercerita soal apapun di tahun 2016, ketika pijakan kakiku adalah tempat terasing, yang kini sudah terbiasa.

Di tahun 2016, di desa kecil dengan 38 Kepala Keluarga, aku bermukim di sana. Tak salah, 26 April 2016 aku tiba di tempat itu. Berhari-hari menjadi penumpang kapal, hingga tiba di desa itu membuatku merasakan atmosfer baru. Tak mandi, tak menyisir rambut, hingga lupa soal defenisi “rapi” ketika kewalahan menjadi penumpang kapal.

img20160425182314849862243.jpg

26 april 2016, kakiku menyentuh pasir pantai desa Nusiata. Desa kecil yang akan aku tinggali dua bulan lamanya. Petang itu menjadi petang paling berbeda, petang yang nampaknya begitu asing.

img201604251818471405680131.jpg

Yang aku lihat jalanan yang agaknya sempit, tak ada lampu apapun. Yang terlihat hanyalah pohon tanaman Kole, yang berbaris menyambutku (mungkin). Petang itu berubah menjadi malam, malam yang hanya diterangi nyala pelita. Sunyi, tak terdengar suara teriakan maupun jeritan. Yang terdengar hanyalah suara air laut yang memang berada di depan maupun belakang desa itu. Baiklah, ini adalah nyata yang sungguh-sungguh baru. Nyata ter(beda) sepanjang waktu.

img201604260907552123707834.jpg

Subuh menjadi ramai. Terdengar pijakan manusia mengejar waktu, sebelum mentari menyapa. Terdengar suara pukulan jagung pada wadahnya, terdengar jejak kaki para nelayan yang menyiapkan diri ke laut, terdengar suara sapu yang menghantam tanah dan jalanan, terdengar suara air yang terangkat dari sumur hingga diangkut ke rumah warga, terdengar suara anak-anak mengucapkan selamat pagi lalu beranjak ke sekolah, dan terdengar suara orang-orang datang berkunjung. Baiklah, ini adalah pagi teramai yang aku lihat. Pagi yang ramai dan Petang yang sunyi. Begitulah perbandingan baru yang aku temui di sana, di hari pertama aku dinobatkan menjadi warga bukan sebagai tamu. Ucapan selamat datang yang ramah dan tradisional membuatku menolak lupa yang terus-terusan menghajar.

Banyak nyata paling baru yang aku temukan di sana, melihat perempuan dan laki-laki sama kuatnya adalah salah satunya. Kegigihan dan ketulusan itu membuatku melupakan rasa membatasi diri untuk mencoba. Segalanya harus dilewati, sederhananya seperti itu yang mereka terapkan.

img20160426091755801720116.jpg

Siang, terik dengan jahatnya menghantam. Tak mengapa, nyatanya terik sudah mengakrabkan diri sejak pagi tadi. terik dan matahari selalu menyengatku di sana, hingga aku tak mampu bersembunyi. Siang milikku di sana, rasanya agak sepi. Namun aku tolak sepi dengan berkunjung ke banyak tempat seorang diri, dibantu dengan kawan-kawanku ketika mereka tiba di rumah!.

img201605171829471437925011.jpg

img201605171828161064105250.jpg

Aku punya banyak kawan, mereka adalah anak-anak cantik dan gagah di usia mereka. mereka punya keahlian yang mereka tularkan padaku, salah satunya adalah keberanian. Mereka mengalahkan arus kehidupan, yang nyatanya membuatku sempat enggan menatap. Mereka dipaksa dewasa dengan pengetahuan yang seharusnya belum mereka pahami, tapi itu adalah hal baik.

img201605301756151481610186.jpg

Rasanya aku begitu menyatu dengan Petang, di sana. melihat matahari berangsur-angsur lenyap adalah hal paling berkesan yang aku lakukan. Tak hentinya aku dibuat kagum dengan segala sesuatu yang sunguh-sungguh menjadi paling baru.

Malam, untuk pertama kalinya aku lihat bagaimana bulan bersinar terang menyelimuti desa. Aku melihat dengan leluasa bagaimana bulatnya bulan dari dekat. Malam-malam yang aku habiskan hanya untuk bercerita dengan angin, bercerita dengan waktu maupun sibuk membaca buku.

img20160517182525938755736.jpg

Petang, Subuh (Pagi), Siang dan Malam itu begitu berbeda nan asing. Tak mengapa, semuanya aku simpan dalam potret ponsel. Ada banyak cerita yang tersimpan, bahkan banyak yang direkayasa dengan kata-kata agar terdengar manis. Nyatanya, tak segalanya manis. Aku yakin, manis tak pernah selamanya. Semua yang tak manis, mampu dimanisi saja dengan atau tidaknya kenyataan. Nyata paling baru di sana menjadi hal sebaru-barunya yang sekarang sudah begitu akrab dalam ingatan. Tak tahu mengapa aku menulis hal ini, sekali lagi ini bukan soal rindu. Ini soal potret lama yang membengkak dalam memori ponsel, yang rasanya ingin aku abadikan dalam narasi lucu ini. Tanpa sadar semua yang sudah berlalu selama dua tahun ini, masih melekat juga di ingatanku. Lucu ya?

Sedikit. Asalkan tak banyak, nanti merugi sendiri. Yang jelas, terima kasih kepada apapun yang hinggap di ingatan. Apapun yang terlintas tentang dua tahun yang lalu, apapun yang dulu asing namun bermakna indah. Sekali lagi, Terima kasih!.

Rumputmu di Kisahku

img_20181009_090416191717050.jpg

Aku pandang seluruh rumput yang rasanya terus menyapa. Aku ingat, ada satu jenis rumput yang sudah aku lupa namanya. Dahulu, kau selalu mengiriminya padaku; sampai sang rumput itu terus hadir di linamasa media sosialku. Aku seringkali, mengingatmu melaui hal-hal yang receh seperti itu. Kau mampu menerjang segala yang besar untuk membuatku, ingat tentangmu. Kau memang jagoan, sebab kau buat aku ingat tentangmu melalui hal-hal yang hampit tiap hari bertamu di hariku.

Rasanya, ingin sekali menulis tentangmu berkali-kali. Kini, seonggok rasa yang namanya rindu itu menyapaku. Menyapaku untuk berkisah atau menarasikanmu di sini, di tulisan harian yang menumpuk di laptopku. Seonggok rasa itu, terus mendesakku untuk secepatnya menulis tentangmu walau baru tadi pagi, insiden menyedihkan menghampiri pagiku. Rasanya, ingin secepatnya mengabarimu bahwa sesuatu yang buruk bertamu di pagiku, namun selurh tentangmu sudah hilang tak membekas di ponselku. Yang tersisa tentangmu, hanyalah sesak dalam ingatan. Kadang aku ingin melarikan diri, namun tak ada cara lain selain mengunci diri di kamar. Karnanya, tak ada yang bisa aku lakukan lagi selain bercerita soalmu yang terus hadir dan bertamu dalam ingatan.

Seonggok rasa itu membuatku kembali merasakan hadirmu. Hadirmu yang sudah sangat jarang, tapi tak benar hilang. Sesekali kau masih menyapa, sesekali itu tak banyak percakapan kita selain saling bertanya keadaan masing-masing, sambil menyematkan harapan-harapan baik bagi masing-masing. Ah, masih romantis juga ya? semua hal yang kau lakukan, adalah hal termanis. Rasanya aku susah melupakan semua tentangmu, soal rumput yang kau ceritakan bahkan soal cerita yang kita skenariokan. Kak, aku rindu!. Tiba-tiba jemariku, menulis pernyataan pendek yang terdiri dari tiga kata. Kau membuatku berkali-kali berteriak dalam diam, aku metertawai diriku. Apa kau tahu? Tentu saja kau tak tahu, dan syukurlah seluruh narasiku tak kau paham, karna tak punya banyak waktu mampir untuk membaca. Aku tak pernah memintamu tinggal, namun rasanya seluruh ingin itu lahir ketika ketulusanmu merobohkan egoku. Ketulusanmu telah dengan gampang memperdayaiku, memperdayai seluruh egoku yang membuatku tak ingin kehilanganmu. Sayangnya, aku sudah merasakan kehilanganmu. Aku sudah rasa, bagaimana kau hilang dan begitu membekas hingga sekarang.

img_20181009_090329412668931.jpg

Kemarin rasanya, kau menyapaku kembali lewat rumput musiman yang aku jug tahu darimu. Tak ingin aku petik tubuhnya, namun rasanya melihatnya membuatku mengingat segala tentangmu. Apa kau ingat, bagaimana kau menyuruhku menepi dari panasnya terik dan kau turun ke selokan untuk meraih sekecil bunga yang kau peroleh dari tubuh rumput? Kak, bagaimana bisa aku lupa?

Kenyataan telah menyadarakanku, ketika gerimis menyentuh kepalaku. Kau telah tak ada, bahkan hanya sekedar pesan singkat di ponsel. Siapa yang bersalah? Aku, akulah yang bersalah. Aku yang menolak asamu, menolak hadirmu hingga kau pergi. Tapi bukankah, kita berdua yang memilih pergi? Ah, mengapa lagi aku banyak bertanya di sini?

Seonggok rasa rindu yang berdenyut kencang dalam diriku ini, kembali mengingatkanku bahwa kau adalah seseorang berharga yang terus terpelihara dalam ingatan. Kau telah merumputi tanah memoriku, kak. Tak tahu bagaimana bisa kau datang dan subur dalam ingatan. Mungkin pupuknya, adalah ketulusanmu. Ketulusan yang berkali-kali membuatku merindukannya tanpa terkendali.

img_20181009_091427234386278.jpg

Kak, aku sangat berterima kasih untuk setiap kisah kita. Nyata yang kita skenariokan, nyatanya bukanlah kita yang menjadi pemainnya. Mungkin pemainnya adalah kau dengan orang lain, atau aku dengan orang lain. “Orang lain” itulah, yang semesta rahasiakan dari kita. Iya kan?. Aku masih ingat, bagaimana tawamu menerjang amarahku, bagaimana kita meniup badai yang menyakiti kisah kita. Masih segar di pikiranku, lembutnya teguranmu yang kadang menyebalkan. Sesungguhnya, aku hanya rindu pada seoongok kecil kisah yang berdempatan di ruang ingatan. Tak apa kan, bila kau kuhidupkan dalam tulisan ini?

di Pagi kemarin, semua tentangmu datang kembali. Rasanya, jika kau datang aku ingin memintamu tinggal. Tapi itu bukanlah solusinya kan? solusinya, adalah seperti katamu Tetaplah Berbaik Sangka pada Kendali Tuhan!. Kini, sedang aku pelihara kalimat ini supaya aku terus berbaik sangka padaNya.

 

terakhir: terima kasih untuk setiap rumput yang kau rumputi dalam kisah kita, rumput yang terus mekar dalam ingatan dan nyataku, rumput yang terus berotasi pada dirimu dan rumput yang membuatku sulit melupakanmu. Entah aku tergolong dalam orang yang terluka karna kisah ini, ataukah yang telah bisa menerima hingga terbiasa menuliskan cerita tentangmu. Aku tak bisa menilai diriku sendiri, kak. Tak ada pagi dan malam kita, tapi setidaknya rumput kisah kita terus menjalar dalam ingatanku. Sampai jumpa di masa depan, bila kita saling menyapa!

Terapi Diri untuk Melupa Tentangmu

Petang lalu, kita bercakap soal senja yang menyempurnakan.

img_20180926_1942391653587744.jpg

Malam lalu, kita bercerita soal bulan yang menentramkan. Subuh lalu, kita pun berdialog soal suara jejak kaki yang mengagetkan beserta nyanyian burung yang merdu di setiap pagi. Pagi yang berlalu-lalu, sama-sama kita menyibukkan waktu dengan aktifitas pribadi tanpa saling berkabar bahkan tak saling menyapa, hingga waktu yang terasa perlu barulah kita mampu berkabar. Siang yang sudah berlalu lamanya, kita bercerita soal menu makan siang masing-masing dengan kandungan sehat yang menyehatkan masing-masing. Entah di setiap pagi, siang, petang, malam hingga subuh yang kembali menjadi pagi, selalu terdengar nyanyian-nyanyian percakapan dan dialog kita. Banyak hal yang sebelumnya tenggelam menjadi terapung bahkan terangkat ke langit, karna kita yang sama-sama berusaha memunculkannya. Banyak hal pula yang menjadikan kita menjadi semakin terbiasa. Setelah aku ingat-ingat, ternyata banyak kali kita berdebat hingga saling menolak. Setelah aku ingat-ingat kembali lagi, ternyata sudah banyak hal ya?

img_20180812_104700103984099.jpg

~September kita telah habis! Aku harap, September kita menjadi mendung namun mendung itu hanyalah milikku, tak tahu dengan punyamu. Halo mendung, masihkah kau betah di sisi?~

September kita memang sudah banyak habisnya! Sudah habis, sehabis-habisnya!. September kemarin banyak keputusan yang melibatkan kita, hingga kita merenggangkan jarak panjang. Jarak yang mencela setiap perhitungan matematis kita, jika menghitung sudah berapa banyak waktu yang kita habiskan dan taklukkan. Jarak itu sudah mencegah kita untuk kembali berdialog, walau hanya berupa greetings. Jarak itu sudah mencegah kita menjadi dua yang dulu saling melibatkan satu sama lain. Jarak yang menyangkali setiap kebaikan yang sudah sama-sama kita buat di kebersamaan yang dahulu, selalu menghangatkan. Jarak itu sudah memenangi kita.

Sudah aku putuskan menggugurkan semua kandungan tentangmu dalam memori, menghapusmu secara nyata, serta melumpuhkan setiap akses untuk bertemu bahkan hanya saling menyapa denganmu. I did it!. Namun rasanya, tak semudah menghapus kontakmu di ponsel, memblokir seluruh akun sosial mediamu yang terkadang menurutku, aku begitu tak dewasa. Aku batalkan segala cara menghapusmu hingga membiarkan diri terbiasa tak meresponimu, dimana pun. Aku kira cara itu begitu mudah, namun nyatanya menyiksa. Setelah terbiasa, ternyata cukup manjur dan menyehatkan pikiran untuk sementara. Aku kewalahan karna pikiran tetangmu ingin berlama-lama. Aku harus berdamai dengannya, supaya tak menyiksa bila waktu merenung menghampiri.

Aku sudah berusaha semaksimal mungkin menghilangkan setiap tempelan-tempelan tentangmu dalam ingatan, namun tetap saja rasanya sulit terkelupas. Bertambah dengan kesunyian pasca kita berhenti di September yang telah habis kemarin. Rasanya, ingin terus mengisahkanmu sampai aku dihampiri rasa bosan untuk menulisakn bagaimana dirimu di mataku. Itulah alasanku untuk terus menerus menulis tentangmu yang sudah jauh, sejauh-jauhnya. Tulisan ini bukan perkara memintamu kembali, namun untuk menumpahkan segala yang menempel tentangmu. Itu adalah terapi pikiranku, untuk melupakanmu secara perlahan namun pasti. Tenang saja, aku sudah baik-baik saja.

Menguraikan seluruh perbuatanmu di sini, adalah cara terbaik untuk menghapusmu sedikit demi sedikit. Sebenarnya aku tak yakin, namun bila aku kembali membaca lembar demi lembar tulisanku untukmu, aku malah tak ingat aku pernah diperlakukan demikian olehmu. Karna itulah, aku putuskan menulis setiap peristiwaku denganmu adalah langkah awal menghapusmu dari ingatan. Bila banyak yang menyangka bahwa aku tak bisa melupakanmu, aku pikir tak ada yang salah. Sebab semua yang baik darimu aku jadikan hal berharga untuk mengendalikan setiap perbuatan ataupun perlakuan yang aku terima. Bila ada yang tak percaya bahwa menulis adalah cara melupakan, aku rasa harus dipraktikan dulu untuk merasakannya. Karna aku sudah merasakannya, dan itu berhasil. Walaupun, tak berhasil dengan cepat. Tapi bukankah, membiasakannya akan berhasil dengan sempurna?

Melupakanmu dengan sempurna, bukan berarti menghapusmu secara menyeluruh. Aku terus bilang bahwa segala yang baik, sudah aku kalungkan dalam ingatan. Tak tahu denganmu, karna itu bukanlah urusanku. Urusan kita kan sudah selesai. Iya kan?

img_20180911_0059591717445355.jpg

Namun percayalah sedikit demi sedikit, kau bisa punah dari ingatan. Walau namamu dan umurmu, masih segar hingga sekarang. Ketika dahulu pasca kita menyatakan bahwa solusi terbaik untuk kita adalah berhenti; aku enggan membeberkannya pada siapa saja, termasuk menuliskan rasa patah hati itu. Aku masih tertawa bila mengingatnya, namun sekarang sebisa mungkin, aku akan bercerita di sini, si tiap lembar ini untuk mengisahkan apapun yang aku alami. Selain menyenangkan dan menjadi cara melupakanmu, aku juga bisa bercerita tanpa perlu didengarkan oleh siapapun. Ampuh kan?

Bila kau membaca tulisan ini, aku tak ingin kau salah sangka terhadapku. Aku juga tak ingin jadi benalu, di setiap kisah barumu. Karenanya aku katakan bila kau membaca ini, kau juga harus mencoba menuliskan apapun untuk melupakannya secara perlahan. Selamat mencoba, untukmu!

Menetapkan Sangka yang Baik pada Kendali Tuhan

img_20180930_1506272105252616.jpg

Perangkap yang terpasang dalam diri, pada awalnya keliahatn indah. Perangkap yang selama ini terpasang, hanya ada dalam diri. Perangkap yang mencirikan suatu khas yang istimewa dalam diri. Hari ini tak ingin aku bercerita soal orang lain, selain hanya soal diri sendiri. Soal perangkap yang tercipta karna pengalaman pribadi, soal perangkap yang terperangkap dalam diri dan tak bisa dipatahkan, soal perangkap yang mematahkan hati yang tadi-tadinya penuh dengan keyakinan.

Perangkap, ya soal perangkap. Soal apalagi yang bisa mengalahkan diri? aku setuju dengan semua yang selalu dikatakan banyak orang bahwa musuh terbesarku, adalah diriku sendiri. Sepintas, aku dibuat cekikikan karna merasa lucu ketika mendengarnya. Mendengarnya saja membuatku geli karna tak mampu menerima pernyataan ini, pada awalnya. Belakangan, setelah perangkap itu menjebakku hingga aku terjebak, jatuh, terluka hingga sulit menyembuhkan diri, baru aku sadar bahwa sesungguhnya pedih yang dirasa bila tak mampu melawan musuh yang mendaging yaitu diri sendiri.

Perangkap paling utama adalah keinginan daging untuk menolak mengasihi seluruh nyata paling baru, atas setiap kisah yang sudah berlalu. Apa jadinya bila tidur yang nyenyak, tanpa kualitas tidur yang sehat? Tak ada, selain merugikan diri sendiri. Selanjutnya siapa yang bersalah? Aku. Aku yang bersalah karna memonitori diriku untuk tak jemu-jemu berbaik sangka dan menolak setiap kenyataan sedih yang tertulis oleh semesta. Sejenak sudah aku desain, beberapa nyata yang sepertinya ada dalam kendaliku. Nyata yang sempurna tanpa cela, tanpa tanjakan, tanpa kerikil dan nyata yang paling aku idam-idamkan. Nyatanya, nyata itu membelok. Nyata itu serong, bahkan tak nyaris sempurna melainkan sungguh berantakan. Berantakan karna nyata yang membuat rusuh atas keinginan diri sendiri. Nyata yang nyatanya penuh dengan tanjakan, penuh dengan kerikil, penuh dengan banyak ketidakistimewaan. Selanjutnya hanya tersisa, nyata yang buruk. Nyata itu membuatku jatuh, tak ingin bangun, tak ingin merawat diri, tak ingin menyembuhkan diri hingga sakit berlama-lama. Nyata itu membungkam aku, hingga nyata itu mengalahkanku. Tak ada hasrat ingin menang, selain menyerah.

Perangkap itu merenggut utuhnya hatiku yang dulu selalu baik-baik saja. Hatiku akan berdenyut kencang bila bahagia setinggi mungkin, namun akan tak berfungsi bila tak bahagia. Apa jadinya hati itu?, sepertiya utuhnya hati itu sudah patah. Tak berbentuk seperti semula, seperti yang rupanya masih baik-baik saja. Perangkap itu adalah segunung keraguan yang menghitamkan putihnya keyakinan. Keyakinan yang tadi-tadinya putih dan bercahaya, seketika menjadi gelap yang terlihat. Akhirnya, terpental hingga kedalaman yang lebih menghitam. Kemana seluruh keyakinan itu? Seketika lenyap. Lenyap tak berampas, lenyap terhempas. Keyakinan itu hilang bersama gelap dan terkubur dalam gelap.

Perangkap memang kejam, berkuasa seenaknya. Menghitamkan seluruh putih yang bercahaya, menenggelamkan segunung keyakinan dan memburukkan seluruh kenyataan. Mengapa semua terjadi?

Diri sendiri. Diri ini kadang menjadi tak terkendali ketika keyakinannya yang sudah segunung itu goyah. Seperti gempa bumi hingga menyebabkan tsunami, keyakinan itu porak-poranda. Keyakinan itu menyebabkan diri sendiri merusak dirinya hingga akhirnya, terjadi bencana yang disebabkan oleh diri sendiri pula. Alih-alih ingin segera memperbaiki diri, yang tersisa hanyalah trauma berkepanjangan menyebabkan kebaperan tiada ujung hingga hati yang semakin patah melebihi patah sebelumnya. Kekuatiran itu menjangkiti seluruh keyakinan untuk pulih, kekuatiran itu adalah sesungguhnya perangkap yang sedari tadi aku maksud. Kekuatiran yang setiap hari semakin panjang melebihi tinggi badanku, yang setiap hari tumbuh subur hingga berlipat-lipat ganda. Mengapa kekuatiran bisa mengintervensi segalanya? Karna aku yang memberi ruang. Karna aku yang dengan leluasa membiarkannya bertumbuh. Bahkan aku sendiri pula yang menanam bibit itu bahkan menyuburkannya hingga tumbuh sehat di dalamku. Tak ingin lagi aku bilang diri ini, karna sejumlah kejanggalan yang nyatanya masih aku tolak untuk menyalahkan diri sendiri.

Setelah beribu nyata yang atas perangkap itu memburukkan nyataku, aku tersadar bahwa benar adanya diri sendiri adalah musuh terbesar. Kadang kala, aku sudah berbaik sangka namun nyatanya berbaik sangka itu berubah menjadi umpatan kecil yang berteriak keras dalam hati. Umpatan yang sesering mungkin ingin sekali aku taklukan, namun aku tak kuasa karna kekuatan itu yang membuat aku letih seketika. Akhirnya, aku kalah karna diri sendiri.

Aku menghibur diri sendiri dengan merapalkan narasi doa singkat yang mampu mengusir sedikit kuatir itu, walau sesungguhnya tak bertahan. Berdosa sekali aku, melemahkan kekuatan doa hanya pada kekuatan kekuatiran yang kurang ajar itu. Hingga aku membaca lembar demi lembar ayat dalam kitab suci, lalu menemukan bahwa kuatir itu terlalu kecil dan masih mampu dikendalikan. Tuhan membantuku lewat semesta untuk bertemu dengan orang-orang kecil yang berpengalaman besar dengan kekuatirannya lalu terus mendorongku untuk mampu mengalahkannya. Tapi aku belum sepenuhnya mampu untuk mengendalikannya. Masih terlalu kecil diriku untuk mengendalikannya, namun sekarang aku sedang berusaha membiasakan diri untuk menolak segunung kuatir yang datang bersarang. Hingga aku sadar, bahwa nyatanya kuatir pun memiliki tempat indah yang bahkan bisa menolak sejumlah yang buruk, tapi tak selalu. Maksudku kuatir pada umumnya adalah perangkap bagi diri sendiri, namun juga sebagai penunjuk untuk menolak yang buruk.

img_20180930_15061163760487.jpg

Sesungguhnya aku yakin, bahwa Tuhan terus berkarya lewat setiap kuatir itu yang kadang terus mendekatkanku denganNya. Walau aku berdosa karna tak percaya padaNya. Sekarang, aku hanya ingin percaya pada Tuhan. Percaya pada seluruh karyaNya yang dinyatakan dalam hidup, bahkan sampai kuatir yang membuatku terus berdialog denganNya.

Lewat tulisan tipis ini, aku ingin bilang bahwa jangan pernah berikan ruang pada kekuatiran yang menyakiti setiap keyakinan. Namun kuatir itu juga mengajarkanku untuk terus mendekatkan diri padaNya, sambil belajar percaya pada apapun yang dibuatNya adalah baik adanya. Tak tahu mengapa aku menulis ini di pagi yang mendung, tapi aku hanya ingin berefleksi atas seluruh kejadian yang selama ini aku alami.

Terakhir, tetaplah berbaik sangka pada kendali Tuhan.

Kau serta Aksara, Narasi dan Percakapan Kita

…………………………………,

Mengakhiri setiap aksara yang kau lemparkan, kini sepi meradang. Tak sesepi pertama kali, menuntaskan segala aksara darimu yang tersisa, kala itu. Aksara-aksara bermakna sakit yang dahulu kita pelihara dan sembuhkan bersama. Kita adalah dua orang yang akan berusaha sekuat raga, melahirkan aksara-aksara baru untuk menemukan makna-makna paling baru bersama. Kita adalah aksara yang kita lemparkan sendiri, kitalah aksara yang demikian. Entahkah soal aksara terbaik hingga terburuk antara kita, kita sama-sama merasa terisi dengan aksara yang demikian, aksara yang kita lahirkan.

Narasi-narasi yang lahit dari setiap aksara yang lahir dari bibir kita, menjadikannya sebuah percakapan panjang yang memotong habis waktu hingga tak tersisa. Narasi yang melebur hingga melebarkan percakapan-percakapan kita, waktu itu. Narasi-narasi yang punya kekuatan magis menghilangkan, membangkitkan, maupun memperkuat nyata dalam kisah kita. Sayangnya; yang aku katakan ini, adalah nostalgiaku tentang kita yang lalu. Nostalgiaku tentang aksara yang melahirkan narasi, narasi yang melebur di dalam kita, narasi yang melebarkan kisah kita hingga narasi penutup kisah kita.

Kau adalah sepersekian objek yang membuatku mampu bercerita berlembar-lembar. Tak putus-putusnya aku bercerita soal dikau, yang membuatku betah melahirkan narasi-narasi ini. Tentangmu bahkan masih termuat dalam setiap lembar dalam narasiku. Kau pun demikian, dengan tata penulisan ter-serius tanpa konten ringan yang menyegarkan rasa ketika membaca maupun tanpa ada rasa ketika menulis (haha). Aksara kita berbeda, namun memperkaya narasi yang menjadi percakapan kita. Mengingat tak banyak kau berkata, namun percakapan kita tak pernah putus. Jutaan topik termuat dalam narasi kita, hingga menjadi menyenangkan berdiskusi denganmu, sebagai kawan berdiskusi ternyaman. Ah, rupanya kau masih membekas hingga sekarang (haha).

Aksaramu berupa potongan-potongan sejarah, hingga rasanya ketika berdiskusi denganmu mengingatku tentang pelajaran Sejarah, ketika bersekolah di SMP maupun SMA dahulu. Potongan-potongan sejarah luar negeri sampai potongan sejarah agama manapun senantiasa melintasi percakapan kita. itulah yang membuatku menyebutmu, memperkaya percakapan kita. Aksaramu pun tak memuat hal terkait masa kini, kau bilang kita harus banyak membaca soal sejarah, walau sesungguhnya jika kau bercerita soal ini aku akan sangat mengantuk mendengarnya. Tak tahu mengapa, mengingat aku tak pernah membalas dengan pernyataan, melainkan sesering mungkin bertanya padamu. Ternyata, berdiskusi soal sejarah juga punya massanya. Nyatanya berdiskusi tentang kita juga pun sudah tak bisa berlanjut, hingga harus berhenti. apa artinya berhenti? sudah jelas, tak bisa berlanjut lagi.

Aksara kita perlahan semakin jarang, kandas hingga akhirnya karam. Semua aksara kita terkubur. Tiba-tiba yang banyak itu hilang, tak tahu kemana. Entah dilarikan angin ataukah terkubur. Keduanya sama saja, sama-sama menghilang. Sama-sama tak tersisa. Sudah tak ada lagi narasi panjang dalam percakapan kita, maupun cerita sejarah yang sejak itu telah aku rindukan. Aku pun membaca sejarah-sejarah yang kau ceritaka, selain memperoleh ilmu juga membuktikan apa yang kau katakan benar ataukah salah. Nyatanya, semua yang kau katakan nyaris tak pernah salah.

Aksara kita yang karam itu, ternyata telah meninggalkan sejumlah keterangan. Keterangan yang kita peroleh, ketika membelakangi karamnya aksara kita bersama. Kita saling menyapa, tanpa bertanya mengapa aksara kita masing-masing telah karam. Walaupun sebenarnya, ingin sekali aku bertanya namun tertahan, tak tahu mengapa. Keterangan yang sama-sama kita peroleh, adalah yang aku katakan sebelumnya; semuanya ada masanya. Sama-sama tak kita temukan aksara baru yang memperkaya percakapan kita, walau aku sering bertanya pada diri sendiri; bukankah yang sudah-sudah itu dengan mudah melahirkan aksara baru? sekali lagi, tertahan semua pertanyaan itu. Sama-sama tak saling menahan, kita karamkan saja aksara, narasi hingga percakapan kita. Sepi meradang masing-masing, masih terus saling melihat snap di WA maupun IG, namun tak lantas juga menyematkan aksara percakapan. Yang jelas karamnya aksara, narasi hingga percakapan kita sudah cukup lama.

Kini, nyatanya sudah semakin membaik. Kita telah sama-sama semakin terbiasa untuk tak saling menyapa bahkan tak ada lagi yang perlu didiskusikan. Sudah terkendali semua rasa yang ingin didiskusikan denganmu. Sudah banyak nyata-nyata baik yang menghampiri kita, tanpa perlu kita bagikan bersama seperti dulu. Nyatanya, nyata-nyata itu mengajarkan kita untuk perlu merasa bahagia sendiri lebih dulu, sebelum bahagia atas kebahagiaan orang lain.

Aku mengisahkan ini, karna kemarin pun kau telah memulai aksaramu yang masih begitu lekat dalam ingatanku. Narasi sejarah lagi dan lagi darimu. Ketika percakapan kita dipenuhi dengan bangunan tua di suatu tempat yang kau kunjungi. Ketika kita telah tenggelam dalam percakapan kita, tak ada yang berubah dari kita dan tak ada lagi yang bisa kita cakapkan di banyak waktu.

Terakhir, terima kasih telah menyapa!