Masih Bernyawa Rupanya?

Bagaimana mungkin, aku lupa dengan tulisan lama ini? tulisan yang sudah tidur hampir dua tahun dalam laptop usangku ini. Tulisan yang aku tulis ketika statusku sedang berdua denganmu, yang dahulu selalu datang dan tak pernah pergi. Ahh, membacanya membuatku terbawa pada masa tempo hari. Membacanya membuatku terheran-heran dengan pesonamu yang terus saja berdatangan. Pertemuan yang tak sengaja terjadi, melahirkan kenyamanan dan keinginan berdua terlaksana begitu saja. Keinginan berdua yang nyatanya sudah wafat sejak usianya belum menyentuh harapan kita. Baiklah, keputusanku adalah memajangnya pada linimasa blog pribadiku. Boleh kan? (aku tak butuh persetujuanmu!, haha). Hey kau, ada beberapa yang aku tambahkan ketika tanpa sengaja aku mendengar sebuah lagu dari drama kesukaanku yang seketika membuatku mengingat tentangmu.

Semua mimpi beruntun menyapa. Entah soal keadaan terbaru yang membayangkannya tentu saja merasa membahagiakan. Entah soal rekayasa batin dan rekayasa rasa yang membuatku enggan berlama-lama disana. ahh, ada banyak mimpi rupanya yang terdaftar dalam kepalaku ini.

Mengenalkanmu pada dunia adalah pilihanku sekarang. Aku hendak memperkenalkanmu tanpa mau menyiapkan tempat bagimu untuk bersembunyi. Kau terus saja bersembunyi dan menolak penawaranku, sebab memang kita berdua sudah sepakat untuk menimpan ini rapat-rapat. Perjanjian yang terdengar konyol, namun sesungguhnya inilah sisi paling menarik darimu. Sisi tersembunyi ketika kau bisa melucu dengan sempurna, ketika kau bisa berpuisi dengan anggun dan ketika kau bisa menyelaraskan duniaku. Sisi tersembunyimu ini yang kini membuatku merasa perlu memperkenalkanmu pada dunia. Bisa kau bayangkan, bagaimana kau bisa tertawa riang di tengah kerumunan manusia? Kelihatannya pasti menyenangkan, lebih menyenangkan daripada melihatmu betah mengamati konstruksi bangunan yang membuat peluhmu berbaris tak rapi pada peluhmu. Bisa aku bayangkan, tentu saja kau takkan meragu melakukannya. Hanya saja, kau enggan melakukannya untukku. Kau enggan membuat bayangan terbaikku itu sempat tersaksikan oleh dunia. Tapi aku tak bersedih, sebalknya; aku justru senang. Kau terus mempertahankan itu. Kau tahu kan artinya bagaimana? Tentu saja, sisi tersembunyimu yang menarik itu hanya akan dinikmati sendiri olehku saja (haha). Sudahkah kau paham?

Kau bilang di tempatmu bekerja, ada satu sungai kecil yang terus saja kau kunjungi. Katamu, itu adalah kawan kita. Dia yang menemaniku, ketika kita bersua lewat panggilan telepon. Kau juga berulangkali mengirimi banyaknya gambar rumput yang menghasilkan bunga, pula kau kirimkan tempat yang kau kunjungi dan kau korbankan harga dirimu ketika aku memaksamu memotret banyaknya hal yang aku sukai. Ahh, awalnya tentu saja kau tolak bahkan menyertakan hujatan padaku. Belakangan kau menjadi seorang yang menyenangkan tanpa perlu aku paksa. Kedengarannya, sepertinya aku egois. Itulah alasan aku selalu meminta maaf, bila kau tak mau. Namun aku tak pernah memaksamu, kan?

Katamu banyak sekali lebah yang menyengat madu pada bunga-bunga di sekitar sungai. Tak kau sebutkan bunga apa yang kau maksud. Aku hanya menyesal, mengapa tak kau abadikan segalanya ketika itu sedang kau tangkap dengan penglihatanmu. Mendengar kau bercerita saja sudah semenarik itu, bagaimana nanti bila aku melihatnnya secara langsung? Ahhh, take me there!

Kau tahu kan, setiap perbincangan dan percakapan kita sudah pasti akan aku sisakan dalam tulisan-tulisanku. Kau juga tahu kan, bagaimana kau buatku terpesona dan terkesima dengan sikapmu?. Rasanya tanpa perlu aku minta pun, kau paham maksudku. Walaupun maksudku adalah kau telah paham apa yang aku suka, dan kau pun telah mendukung semua kecintaanku ketika aku abadikan rasa cintaku melalui tulisan. Terima kasih, sayang!

Kita terpisah milyaran kilometer, namun rasanya bercerita denganmu begitu menarik. Mendengarmu bercerita banyak hal adalah hal mengagumkan. Aku senang, bila di beberapa kesempatan kita bertemu dan terus saja bercerita. Rasanya ada banyak konektivitas yang membuat kita terus terhubung. Bila aku punya kuasa dan tercapai untuk berwisata ke tempatmu, aku ingin melihat sungaimu. Sungai teman kita itu. Sungai indah yang selalu aku dengar derai airnya, derainya menyentuh bebatuan dan melihatnya mengamati lebah yang menyengat madu. Is this what they have been calling love?

Akhirnya tak pernah lagi aku kesana. Harapanku sudah putus dan melayang ke udara begitu saja. Tapi tenang saja, akan aku ungkapkan harapanku melalui tulisan ini. ingin sekali aku kesana, namun kesana adalah harapan terakhir yang sekarang sudah tak ada lagi dalam keinginanku. Melihatnya melalui layar ponsel adalah juga termasuk sebuah kunjungan kan? bila kau membaca ini, baiklah. Kamu harus membaca lirik lagu indah ini. Ini bukanlah permintaanku yaa, ini hanyalah penggalan lagu kesukaanku.

Take me on, down on river. I’ll go wherever it leads to you. Take me on, into your arms. I’ll go wherever world you’re on.
Iklan

Teman Sejatiku!

Halo kau, bagaimana dengan hidupmu? Sudah lama aku tak mendengar kabar apapun tentangmu. Melihat pergerakanmu melalui media sosial pun sudah jarang bahkan tak pernah lagi aku lakukan. Akankah kita berakhir seperti ini? bukankah sedari awal kau yang bersikeras memelihara “pertemanan” yang kedengarannya hanya sekedar mempertahankan?

Memang tak mudah. Setelah kita saling menyerah, pertemanan semakin terbuka lebar dengan banyaknya luka-luka baru yang datang setiap hari. Banyaknya luka itu semakin mempertipis harapanku, bahwa pertemanan ini bisa bersifat kekal. Harus ku akui bahwa denganmu, senyumku berkembang merekah senantiasa. Tawaku nyaring dan merdu terdengar bersama hembusan angin. Ceritaku tiap hari datang seperti gelombang laut yang bergulung-gulung menyapa pantai hingga meninggalkan pantai pun tak pernah ia lakukan. Semuanya berjalan dengan sendirinya, tanpa sekat hubungan maupun pertemanan. Rupanya kau telah lupa, telah aku hilangkan seluruh rasa yang bergejolak dalam dada; telah aku hilangkan sensasi menanti dan menanti berkali-kali kedatanganmu sendirian, telah aku hilangkan rasa yang dahulu membuatku melihat kau sebagai hal yang membuatku berdebar dan telah aku hilangkan segalanya yang dahulu selalu membuatmu terasa begitu nyata bahkan ketika ragamu berada di milyaran kilometer yang berbeda.

Semuanya telah aku hilangkan, hingga sesekali cerita terbaruku adalah bagaimana aku berusaha menggapai yang baru setelah kau telah pergi meninggalkan. Tak pernah sekalipun aku berpikir bahwa caraku bercerita akan melukaimu, hingga kau pergi menyeberangi lautan. Baiklah, aku tahu bahwa bukan karna aku melainkan ada tujuan berbeda dan alasanku terhadapmu turut memperyakin dirimu menyeberangi lautan. Aku yang terus mendesakmu bercerita tentang bagaimana kau berikan hatimu pada seseorang yang baru pun, membuatmu beku. Beku tanpa jawaban; mencair pun tak ada dalam daftarmu. Kini, kau telah berubah menjadi seseorang berbeda.

Darimu aku paham, bagaimana seseorang mampu mempengaruhi orang lain. Darimu aku paham, bagaimana berharap memberikan nyawa pada kisah yang sebenarnya telah cukup lama berakhir. Darimu aku paham, bahwa kasih sayang tak bisa digadaikan dengan apapun termasuk seseorang yang baru. Kesalahanku padamu adalah membiarkanmu pergi bahkan mendukungmu, tanpa pernah meminta penjelasanmu. Aku tahu, ketika kita berdua seorang diri; tentu saja penjelasanmu akan terdengar oleh udara dan membuatku merasa paham. Kesalahanku adalah tak membiarkan kau mengatakannya dan membiarkannya terpenjara begitu saja dalam hati dan pikirmu. Sekarang semuanya sudah berakhir, semuanya sudah berlalu di banyaknya bulan yang terus berganti. Semakin sering aku berusaha menggapai kabarmu, semakin kau tenggelam dalam ketidakhadiranmu dalam percakapan kita maupun hidupku lagi. Terus terang, aku tak tahu apa yang terjadi. Ada yang salah denganku? Adalah pertanyaan yang berteriak keras dalam hatiku dan berusaha untuk terus menemukan jawabannya. Jawabannya tentu saja darimu, apa kau tahu?

Semesta begitu mengagumkan dengan merestui kedatanganmu beserta penjelasanmu. Kita saling menyapa ketika duduk saling berhadapan. Aku dengan senyum kegembiraanku dan kau pula demikian. Selama ini, mungkin yang merasa ringan dan tak bersalah atas apapun adalah aku. Kau sebaliknya, kau merasa berat dengan apapun yang terjadi antara kita. Kau datang dengan sekelompok luka yang tak tersembuhkan. Ngerinya yakni luka itu terhasilkan ketika kita masih bersama. Jelas sudah, aku adalah sumber lukamu dan kau mau saja terus terluka karna sikapku; tanpa pernah memberitahu kesalahan terparahku itu. Kemarin kita saling bercerita dan terus saja tertawa dengan kisahmu yang sedang merantau. Tiba-tiba kau begitu serius menjelaskan tentang apa yang terjadi hingga menyebabkan kau menepi dari pertemanan kita. Kau memintaku menanggalkan topeng teman sesaat dan memintaku tinggal menjadi yang dahulu; yang berkuasa atas harimu. Ralat, bukan berkuasa. Maksudku, kau memintaku untuk kerapkali bercerita apapun padamu bukan sebagai teman melainkan sebaliknya. Kau paham kan?

Tentu saja aku tolak! Kau takkan tahu bagaimana aku menyembuhkan diri dari patah hati dan berusaha membuat diriku baik-baik saja sampai aku benar-benar baik-baik saja. Kau takkan tahu bagaimana aku berusaha normal membangun pertemanan denganmu, ketika kita sudah jelas-jelas saling berpunggungan. Inilah yang aku sebut fase tersulit bagiku. Aku adalah orang yang paling rentan goyah dan yang paling rentan berputus asa dibalik semua senyum gilaku. Aku hebat kan?

Kau tersenyum dan menggeleng kepalamu. Kau bilang bahwa kau juga demikian. Kita berdua adalah dua kutub yang saling tarik menarik, pula kita adalah dua insan yang saling membutuhkan dan terbutuhkan. Anggap saja kita saling mengobati hal-hal terpendam yang sebenarnya tak pernah kita katakan pada siapapun. Aku berpikir keras dan teryakini dengan opinimu ini, sebab kenyataannya memang demikian. Namun aku gagal meyakinkan diri untuk terus berdua denganmu, karna banyak hal yang memotong bahkan mengiris kebahagiaan kita. Guna apa pula kita bertahan, bila seringkali nyata menganiaya kita?. Aku sedang berusaha meyakini diri sendiri dan aku selalu gagal. Harapanku semakin hari semakin besar ingin terus berdua denganmu. Namun kegoyahanku ini membuatku putus asa dan tak ada sedikitpun secercah harapan untuk kisah ini terbentuk kembali. Dengan hati yang penuh dengan keragu-raguan, aku berusaha menolak penawaran terbaik darimu. Penawaran yang mengenyangkan kelaparanku selama ini dan penawaran yang tak pernah membuatku dahaga. Sayangnya, penawaran terbaik ini telah ditangkap oleh angin. Telah aku tolak, segalanya!. Sempat aku undang api cinta untuk membakar semua ragu yang ada, namun api cinta itu tak mampu menghanguskan seluruh ragu yang ada. Alhasil, tak ada lagi kita yang dahulu.

Kau menunduk sembari tersenyum namun tak berusaha meninggalkan. Aku menangkap penyesalan dari matamu dan penyesalan pun membuatku terus meremas jemariku. Kau berusaha menggapainya, kau berusaha menenangkanku yang kelihatannya justru terluka dengan sikapku sendiri. Ahh, aku memang aneh! Kau bilang aku tak baik-baik saja justru ketika solusi terbaik telah aku lahirkan di percakapan ini. Kau memang pandai menafsir gerak-gerikku dan sudahlah, semuanya sudah aku putuskan begitu. Aku sempat berpikir bahwa, cinta adalah dari dua orang berbeda yang semakin mirip. Kita memang mirip, namun bukan untuk cinta. Kita memang bersama, namun alasannya bukan pula untuk cinta. Cinta yang benar akan datang dengan sendiri, tanpa ada perlawanan; tanpa ada pengorbanan sepihak, tanpa ada sayatan yan melukai.

Aku meminta maaf untuk kesekian kali. Selalu saja kau mengangguk dengan senyuman yang merenggut rasa bersalahku, selalu saja kau bilang tak ada yang salah. Hari ini telah kau taruh banyaknya beban di pundakku, kau tahu soal apa? Soal kau yang terus memaafkanku. Baiklah, memaafkan adalah menambah beban pada si peminta maaf; ahhh, aku merasa itu sudah terjadi padaku. Melihatmu seringkali membuatku gusar. Kau tahu mengapa? Karna aku selalu terjebak dengan pesonamu. Aku terus saja tersesat dengan pesonamu dan selalu saja begitu. Ajakanku, mari terus bersama! sebagai teman sejati yang terus menopang.

Kepada Lediku, Tersayang.

Haloo Ledikuu! Ini adalah tulisan pertamaku tentangmu, ketika tanpa sengaja kemarin kau membuka akun wordpress di ponselku dan kemudian melihat beberapa tulisan yang ditujukan untuk Linda, Iti dan Aca. Kau pun mengatakan, bahwa tak ada yang aku tuliskan untukmu. Itulah mengapa, aku putuskan menuliskan tentangmu, yang begitu jarang berkumpul (haha).

Lediku adalah orang mengagumkan dan punya banyak acara luar, yang mengharuskannya jarang bertemu dengan kita. Tak mengapa, aku paham bagaimana seorang sibuk menata kehidupannya. Asalkan jangan sibuk sendiri (haha). Tapi aku pun adalah salah satu yang beruntung (setelah Linda) yang kemarin pula menghabiskan waktu bersama. Saling menunggu dan ketika bertemu, saling membuat penawaran untuk berkunjung ke beberapa tempat; semuanya urung hingga pilihan jatuh pada kunjungan kita ke pantai; aku, Lindaku dan Lediku.

Sepanjang perjalanan menuju kesana, ada banyak cerita yang kita bagikan bersama dengan angin namun tak menyisakkan luka padanya. Bukan pula cerita gila yang aneh, hanya seputar apa yang mengagumkan untuk dibahas. Sama-sama meneduhkan kepala dibawah terik mentari yang menyengat; yang membuat keringat berperang di dahi masing-masing. Tak mengapa, bukankah semuanya terbayar dengan banyaknya foto indah? (hihi). Belum lagi kaki-kaki yang mulai gontai dan goyah melintasi karang demi karang, hanya karna penasaran dengan indahnya ujung pantai yang punya sejuta sepi yang tak pernah kesepian. Ahhh, betapa menyenangkan!.

Untung saja, langit merestui pertemuan kita hingga tak dia gugurkan gerimis kecil maupun besar, yang bisa kapan saja menyentuh hingga memukul kepala kita. untung saja tidak!. Langit kemarin begitu biru, gradasi air laut pula hijau kebiruan adalah pengiring cerita kita di hari kemarin. Bermandikan peluh yang menghiasi sekujur tubuh adalah hal biasa ketika kita berjumpa dengan pantai. Iya kan?

Maafkan aku, Lediku; karna ini baru surat pertemanan pertama yang aku tuliskan untukmu. Bukan karna aku melupakanmu, melainkan intensitas pertemuan kita yang lebih jarang bahkan untuk waktu yang lama perjumpaan kita terbentuk. Anggap saja, kemarin adalah hari beruntung hingga kau turut ambil bagian dalam rencana pertemuan kita. Karna ini adalah surat pertama, akan aku rincikan bagaimana aku mengenalmu, Lediku!

Teruntuk Lediku yang sangat jarang berjumpa; satu hal yang paling aku benci darimu adalah ketidakpastianmu akan janji maupun waktu yang sudah kita tentukan. Jangan tanya padaku, bagaimana aku tata emosi ketika aku menghubungi dirimu, dan kau jawab dengan puas: baru akan mandi (itu adalah hal tergila yang pernah aku dengar. Haha). Bertambah pula dengan banyaknya janji pertemuan kita yang sudah kau setujui, namun mendekati masanya; kau malah tak bisa berjumpa karna ada urusan mendesak yang kepentingannya adalah diatas segalanya. Aku paham, hanya saja potretmu dalam banyaknya unggahan terkait kawanan gadisku begitu jarang. Ini bukanlah suatu persungutan maupun mengkritikmu Lediku, ini adalah murni suara hati yang berteriak dalam batin yang menggerakan jemariku mengetik pada papan hurup di laptop usangku ini.

Teruntuk Lediku yang sangat jarang berjumpa; kemarin kau bercerita tentang rutinitasmu di kampung halaman kan? harapku, semoga semuanya diberkati. Aku bangga padamu yang punya self-regulation yang sangat baik, bahkan hampir tak pernah terjamah dalam pikiranku. Waah, derika memang jago! adalah ketika mendengar kau bercerita tentang itu. Tapi aku begitu senang, ketika kau berbagi mengenai hal itu!. Semoga sebukit doa yang bergejolak dalam batin, yang kau rapalkan dalam sembahyang singkat terpadatmu, yang pula kau pinta untuk Tuhan turut campur tangan didalamnya adalah hal yang benar-benar sangat direstui Tuhan. Semoga semesta mendengar pinta dan harapmu, hingga kau takkan pernah mencemaskannya!.

Teruntuk Lediku yang baru kemarin berjumpa; aku lihat ukuran tubuhmu sudah mendekati ideal (haha). Ini adalah murni pujian tertulus dariku. Semoga kesehatan adalah bagian dan pengiring dalam tapakan hidupmu, semoga kau makin mempertipis keterlambatanmu dalam segala hal (hihi), semoga kau makin mempertebal keceriaanmu dan semoga kau semakin punya banyak waktu bersama kita! (hihi).

Wajah cantikmu sudah menghiasi linimasa blog pribadiku ini, karnanya harus aku sertakan foto terbaik kita yang jarang terdokumentasi (haha). Dengan penuh senyuman aku kumpulkan potret kita dan menulis tentangmu disini.

Dengan cinta, Ella.

Arlojiku dan Kau.

Di tengah Januari yang hampir habis, tekadku adalah berhenti menengok bahkan menjenguk semua yang tertinggal dahulu, yang sempat membuatku tersenyum jutaan kali.

Ingin rasanya aku putar waktu, ketika berkali-kali aku jarum jam terus berputar di pergelangan tanganku. Ingin rasanya aku buka satu per satu semua yang sekarang sudah aku jepit hingga hancur itu, lalu menggabungkannya menjadi satu yang utuh kembali. Semuanya hanya adalah ingin dan ingin yang banyak aku temui dalam memoriku.

Setelah aku putuskan memotong pendek rambut, hingga tampilan baru menjadi hariku sekarang. Kau tahu kan, ini bukan pertama kalinya aku berbuat demikian. Ini adalah kali kesekian aku lakukan, dengan harapan memangkas habis semua tentang kita dahulu. Tak tahu, sihir apa yang kau punya hingga aku begitu terpaut menginginkanmu sedemikian rupa. Ini adalah tahun yang benar-benar baru, namun tak tahu mengapa semua tentangmu rasanya masih terus yang lama. Telah aku nodai banyaknya harapan untuk segera menghapusmu, namun mengingat bayangmu yang terus menghantuiku membuatku terus menjadikanmu hidup disana, di dalam ingatanku.

Aku tonton berkali-kali jarum detik pada arloji milikku. Rasanya, masih sama. Tak ada yang berubah selain jarum detik yang terus berputar pada lingkaran kecil yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Aku bukan orang yang suka terlambat, namun menggunakan arloji di tangan kiriku adalah setahun belakangan ini baru aku kenakan. Itu pun karna usulmu, yang katanya menutup kecilnya ukuran pergelangan tanganku. Rasanya saat itu, itu adalah penghinaan. Namun dengan lembut kau jelaskan bahwa melihat jarum jam lebih baik dari melihat angka jam di ponsel. Saat itu, banyak kali aku mengernyitkan kening dengan alasan bodoh yang kau tawarkan dengan tujuan meyakinkanku. Saat itu aku tolak, karna aku memang tak suka menggunakan arloji di tangan kiriku. Kau rupanya, menawarkan arloji sebagai hadiah darimu, namun segera aku tolak. Bagiku, hadiah tak harus diukur dengan pemberianmu. Ketika kau meluangkan waktu menatap mataku, melihat bibirku bercerita dan membantuku menemukan solusi atas masalahku; adalah hadiah paling berharga yang selama ini tertancap dalam ingatanku.  

Beberapa waktu kemudian, aku dihadiahi arloji oleh saudariku. Teringat sudah tentangmu yang dahulu sempat merekomendasikan agar arloji melingkat di tangan kiriku. Mampir sudah ingatanku dengan alasanmu meyakinkanku melakukan hal demikian. Alasan yang masih saja membeku dalam ingatan, tanpa pernah ingin aku mencoba memahaminya. Baru aku sadari, betapa menyenangkannya menonton jarum jam berputar. Baru aku sadari, bahwa menatapnya lebih membahagiakan daripada melihat angka pada ponsel. Masih inginkah kau dengar tanggapanku mengenai alasanmu itu?.

Telah aku sadari, bahwa sejak lama kita masih saling menggenggam dengan begitu hati-hati. Telah aku pahami maksudmu, bahwa kenangan itu memperkuat kan? maksudmu, menguatkanmu juga denganku. Mengapa kau bungkus hal semenarik itu, dengan alasan konyol yang tak bisa aku tebak sekalipun?. Baiklah, aku akui; sudah berbulan-bulan yang lalu aku telah kalah darimu. Bahkan tak pernah aku sadari, bahwa kau sedang berkata untuk merawat semua yang dahulu kita lalui. Intuisiku sekarang baru membuatku sadar akan hal ini. Baiklah, kau telah mempersiapkan diri dan juga mempersiapkanku untuk sewaktu-waktu genggaman kita lepas dan menjauh. Sekarang, sudah nyata kan?. Setelah aku paham semua maksud yang kau lontarkan dahulu itu, ingin sekali aku bertanya: will you call me to tell me you’re alright?. Tapi tenang saja, tak aku lakukan. Sebab sekarang, sudah pasti kau sedang sangat bak-baik saja.

Kepada seorang yang cinta arloji: terima kasih telah membuatku terbiasa dengan semua yang dahulu, terima kasih kepada semua waktu yang berputar juga yang terekam pada jarum detik pada arloji yang melingkar di tangan kananmu, terima kasih karna di banyak kesempatan kau anjurkan hal yang menarik bagiku!. Kau adalah jarum panjang dan jarum pendekku. Aku adalah angkamu. Terima kasih, karna begitu banyak hal yang kau tujukan untukku; bahkan dengan seluruh waktumu telah kau jadikan aku TUJUAN.  Bukan di masa sekarang, namun di masa lalu. Tenanglah, ini bukan tangisan sakit hati yang berteriak sejak lama. Ini adalah murni suara hati yang ingin sekali menjelaskan tentang caraku mengerti apa yang kau katakan padaku. Kode-kode yang kau lemparkan, harus aku akui memang hebat. Harus aku analisa satu demi satu, dan analisa itu baru terwujud belakangan. Tak mengapa kan, agak terlambat?. Ahhhh, bukan agak terlambat; tapi sudah begitu terlambat. Lantas aku bertanya dalam ingatan, bagaimana jika sejak  lama (dahulu) aku paham maksudmu? Mungkin saja aku akan mengira, ini adalah permintaan terhalus darimu untuk mengakhiri kisah terburuk kita saat itu. Iya kan?. Untung saja, baru aku sadari sekarang. Bila saat itu, sudah pasti akan aku lahirkan banyaknya pidato gila tentangmu! (haha).

Terakhir; kepada seorang pria yang cinta arloji: halo kak!. Bagaimana kabar arloji usangmu yang selalu kau tatap ketika kedatanganmu membuatku jengkel? Bagaimana kabar arloji yang katanya, telah menemani senyum dan tangismu bertahun-tahun itu? sungguhkah dia rekam perjalanan kisah kita? benarkah dia merekam rintihanmu? Benarkah dia merekam isakmu dalam diam? Benarkah dan benarkah masih sama kau dengan sekarang?. Ini adalah pertanyaan terbanyak tentangmu dan arlojimu!. Banyak waktu aku berziarah pada setumpuk kenangan termanis yang memahitkan pikiranku, meracuni pandanganku untuk suatu hal yang baru dan merekayasa kebahagiaan tersingkat di sepersekian detik mengenangmu!. Mengapakah harus kau yang terus mengabari? Aku rasa kau mengejarku seperti jarum detik, yang  terus saja berusaha menggapai banyaknya angka dalam lingkaran arloji kita. Terima kasih, telah terus memelihara aku dengan sebukit keangkuhanku dalam hidupmu!. Aku tak tersanjung, sedikit pun. Pun aku tak merasa tercekik ataupun tersandung kisah kita yang dahulu dan kekerabatan kita yang sekatang. Satu hal: aku terpana dengan kesungguhan dan ketulusanmu! Aku terpukau dengan cinta dan kasih terbaikmu, untuk semua orang termasuk aku! Terima kasih karna kau pernah menjadi jarum panjang dan jarum pendekku, pula kau jadikan aku tujuanmu di waktu yang lama dan sudah berlalu!. Kak, Tuan Irit Kata-ku, terima kasih begitu banyak untukmu!.


Dengan arloji hitam berlingkar kecil, di pergelangan tangan kiri ini; aku mengunjungimu!

2019 dan Kau.

Hari ini adalah hari kedua di tahun yang baru. Resolusi andalanku adalah berhenti mengenangmu, namun apa daya jemariku berontak dan memaksaku untuk menulis tentangmu di linimasa IG milikku. Ini adalah perintah kedua yang dikehendaki oleh jemari ini, untuk seketika menulis tentangmu ketika kantukku dipenuhi oleh peluh yang menerjang dan menumbangkan rasa lelapku siang tadi. Setelah sehari yang lalu aku puas mematahkan keinginan jemariku, sekarang aku pasrah untuk bertindak sesuai keinginannya sebelum aku lelah dibutakan olehnya.

Di tahun baruku, masih ada kau yang tetap menjadi orang pertama mengirimkan sejumlah harapan bagiku di tahun 2019 ini. Aku masih saja tersenyum tipis dengan rasa tertulus walau sebenarnya tak ada lagi penantian tentangmu untuk memulai tahun 2019 ini. Sepertinya kau pula demikian, mengirimkan sejumlah hal itu dengan perasaan lega terlarut pemandangan kawan di setiap pesan singkatmu. Tak ada panggilan suara, yang ada hanyalah saling membaca tanpa saling meresponi. Tahun baru milik kita berdua, rasanya sepi tak bahagia. Iya kan?

Membuka hari kedua di 2019 punyaku, tak ada lagi kau. Bahkan mengandaskan pikiran yang melayang ke arahmu, sudah tak lagi aku lakukan; sebab rasanya tak ada lagi daya untuk mengingat atau berkunjung pada kenangan kita. Walau sesungguhnya, sepi menyiksa ketika tak ada lagi seseorang yang bisa aku hujat dengan leluasa untuk hanya membangkitkan mood-ku. Aku begitu egois kan?. Terakhir kali kita saling bertegur sapa adalah ketika menutup 2018 milik kita. Di sana, masih ada kita yang saling mengucapkan maaf (walau aku yang mendahuluinya) ketika menutup tahun kemarin dengan sejumlah hal buruk yang mengandaskan impian bersama. Sejak itu, tak ada lagi nyanyian-nyanyian baru di awal tahun baru ini. Hujan kemarin, membuat hariku kelabu dengan harapan segera melepaskanmu dari ingatan. Baiklah, harus aku katakan bahwa aku baru saja mematahkan impianku untuk berhenti menulis soal patah hati terkelamku ini. Namun baiklah, harus aku tuliskan ini semua tentangmu hanya dengan harapan terus mengenangmu yang begitu tulus dan baik hati. Bolehkah ku tulis tentangmu yang sejak kemarin menghadirkan rindu di awal tahun?

Tenang saja, rindu ini bukan rindu yang terpasang seperti dulu. Rindu ini pula bukan terpasang dengan otomatis, sebab sebenarnya mengendarainya adalah hal yang paling menjijikan bagiku. Terang saja, merindumu yang tak lagi mengakrabi hariku adalah hal terkeji yang menelan keberanianku. Rasanya ingin sekali mempermalukan diri namun menahan semuanya, hanya saja menyajikan segumpal kengerian yang mengaga. Bukankah harus segera aku bereskan, bukan?. Rindu ini hanyalah tentang mengenangmu, yang terus saja hidup dan dewasa dalam benakku. Sebenarnya, aku ingin meremajakan kenangan tentangmu, namun dia tumbuh dengan pesat dan membuatku kewalahan. Kau tahu kan, bagaimana sulitnya mengatur orang dewasa? Dia punya pilihannya sendiri!. Itulah yang aku rasa ketika kenangan tentangmu tumbuh dewasa dalam tubuh pikiranku.

Kemarin aku ditemani sebuah minuman hangat, yang mengibaratkan kisah kita kemarin. Sang minuman hangat adalah penghilang dahaga yang aku rasa, yang sejak kemarin terus menyakitiku. Setelah aku hirup, tak ada lagi aroma pertemanan setelah perpisahan kita di penghujung tahun 2018. Kita berdua sudah mengaduk begitu banyak akal sehat dalam adonan percakapan kita, sehingga aroma wangi tak menggema di udara maupun apapun yang terlarut di udara. Rasanya adalah rasa tertawar yang membangkitkan peluhku bergerilya menghantam dahi dan seluruh kulitku. Kita berdua bahkan saling memutuskan untuk mengakhiri segala jalur yang mengakibatkan kita masih bisa kembali. Kau tahu apa yang aku rasa? Rasanya ada kelegaan yang selama ini tertahan. Sebenarnya keputusan itu sudah sejak lama aku idamkan, hanya saja itu menjadi dambaan pribadi yang menggoresi hati. Luka yang tadinya lahir dari kisah terbaikku denganmu, bertambah dengan sayatan panjang dan takkan kering ketika dambaan itu menggema dalam pikiranku. Setelah kita saling memutuskan untuk mengakhiri segalanya, sayatan itu rasanya mengering seketika. Dambaanku untuk mengakhirinya denganmu sudah bisa bernapas dengan sehat, tanpa ada rasa sakit yang menghalangi.

Aku tuliskan ini dengan banyaknya senyum yang lahir ketika dambaanku telah menjadi dambaan kita. Nyatanya kita berdua sudah saling mendamba untuk benar-benar saling melepaskan. Kita berdua berhak bahagia dengan banyaknya pelajaran yang kita tonton dari kisah yang telah berlalu. Aku dengan kengerian yang menyengatmu, dan kau dengan seluruh kebaikan dan kesabaran yang membuatku gemas. Rasa saling melengkapi yang kita punya dahulu sudah karam dan berkarat. Mencungkilnya pun, takkan mengembalikan pada bentuknya yang semula kan?

Itulah yang membuat kita memantaskan keputusan itu, setelah sudah begitu lama saling bersembunyi dan menolak sedih. Kita telah lama meringkuk dalam persembunyian dan pura-pura baik-baik saja, lewat narasi yang kita ciptakan. Sekarang dengan hati yang lapang dan bersedia melupakan, telah aku kandaskan seluruh rasa yang dahulu kala selalu bersarang padamu. Sudah aku korek dengan habis hingga semuanya telah bersih tentangmu!. Bukannya aku mengelak dan pura-pura baik-baik saja, setelah menyetujui perjanjian dan keputusan kita di tahun baru ini, melainkan sesungguhnya aku sungguh-sungguh ingin melepaskan banyak hal tentangmu. Aku tak ingin mendekapmu dalam ingatanku, bahkan memaksa ragamu beriringan denganku. Sebab sesungguhnya, aku tak ingin kita saling tercekik dan tak bisa bertumbuh dengan saling meyakinkan. Bukankah saling meyakinkan adalah hal paling mendasar untuk mendorong lebih banyak keyakinan yang lain untuk bersama?

Aku rasa kita harus menemukan keyakinan yang lebih dalam pada orang lain, bukan aku padamu dan kau padaku. Kita pernah saling mengisi ruang kosong di hati masing-masing, hingga begitu terpenuhi; sayangnya banyak hal dengan kadar lebih tidak akan berlangsung kekal. Kisah kita hanyalah sebentar, dengan seberkas rasa yang menggumam dalam canda, tawa dan keseriusan. Begitu pula dengan akhir kisah kita yang menyisahkan kenangan yang terkenang. Jangan khawatir, mengharapkanmu kembali padaku saja tak pernah terlintas dalam angan. Melepaskanmu dengan segala keistimewaanmu adalah hal tertulus yang sudah aku pelihara dan sudah aku lakukan!. Takkan aku gugat siapapun, seperti diri sendiri dan kau. Sudah cukup kita saling menderita dan sudah saatnya kita harus berhenti!

Ujung 2018-ku (3).

Ambon, 31 Desember 2018 .

tapak 2018-ku.

Masih soal kejutan dan hadiah, tahun ini adalah tahun istimewa yang sukses menyesatkanku. Aku telah terjebak dalam hubungan singkat, dengan sejumlah kenangan yang sama sekali tak singkat. Singkatnya hubungan itu hanya karna dalam sekejap mata, perpisahan mendulang. Kenangan yang tak singkat pun adalah sejumlah cerita baku yang terus membaku dalam ingatan. Tahun ini telah melatihku memutuskan keputusan yang tak bisa lagi aku tarik kembali. Keputusan yang sesungguhnya lahir dari bibirku, atas diskusi dengan diri sendiri. Keputusan yang ringan di bibir namun begitu berat dijalani. Apalagi kalau soal kebiasaan yang sudah melekat, namun harus dibiarkan meleleh dan pergi tanpa perlu lebih dahulu dihancurkan. Aku sadar bahwa sekian banyak hal, adalah soal memberi dan menerima; dan sesungguhnya itulah yang sedang aku alami sepanjang tahun 2018 ini.

Tahun 2018, aku akui kau melarutkanku di dalammu. Kau larutkan aku hingga terputar bersama pusaranmu, pusaran yang sebenarnya selalu aku hindari. Kau menunjukan bagaimana aku harus memulihkan diri sendiri, akibat keputusan sepihak yang aku pilih. Kau tunjukan pula padaku bahwa bagaimana sepak terjang belajar menjadi setia dan tulus, juga kau tunjukan padaku bagaimana menjadi orang baik yang akan mengundang seorang berkelas untuk terus mendampingi. Orang berkelas yang aku maksudkan sekarang bukanlah sosok yang rupawan, namun satu yang pasti segala sesuatu yang ada dalam pribadinya adalah sangat rupawan. Sikapnya yang begitu rupawan membuatku tenggelam dalam sosoknya, tenggelam dalam seluruh caranya memperlakukanku, bahkan membuatku menatap sesuatu yang baru adalah sebagai perubahan. Soal Kelurga dan kawan-kawanku, aku paham bahwa ada banyak hal tak berguna yang sempat kita benci bersama. Namun aku tersadar bahwa, sesuatu yang sempat aku pikirkan tak berguna itu, telah menjadikanku menjadi orang yang terus mencintai perubahan. Perubahan yang baik-baik pula yang akan mendatangkan sesuatu yang positive guna keberlangusngan hidup yang berkualitas. Dan ya, semua adalah lembaran kisahku di sepanjang tahun 2018 ini.

Menikmati momen Natal bersama keluarga, menikmati setiap perubahan dan mengendarai setiap penyesalan yang terus mengenyangkan, membuatku terus mencintai tahun ini. Tahun yang membuatku memaafkan segala kesalahan yang aku lakukan sejak tahun lalu, sejak aku menangis bersedih untuk waktu-waktu buruk yang aku alami. Di peghujung Desember ini, aku hanya ingin melepaskan apa yang seharusnya aku lepaskan. Melepaskan segala kegagalan yang sempat memelukku, melepaskan seluruh dendam yang membara dalam diri dan ingatan, melepaskan seluruh cinta dalam romansaku yang masih terus menempel, melepaskan segala sesuatu yang buruk yang telah melemak dalam ingatan, dan melepaskan segala sesuatu yang membuatku merasa kerdil berkai-kali dalam menjalani hari.

Besok, pagiku adalah pagi baru di awal 2019. Ada banyak rahasia yang belum bisa aku singkap, ada banyak kisah yang belum terkisahkan, ada banyak berkat dan berkat lainnya yang sedang menuju alamatnya padaku. Tak tahu, seperti apa nantinya tahun baruku nanti. Tak tahu seperti apa nanti, tahun 2019-ku. Pastinya, aku hanya ingin terus mensyukurinya; terlebih lagi untuk semakin belajar berbaik sangka pada kendali Tuhan.

Akhirnya, 2018; aku pamit!

Terima kasih, telah kau kirimkan sejumlah nasihat baik melalui setiap orang terdekatku. Terima kasih telah kau hapus segala yang meragu dalam ingatanku, terima kasih telah kau buang seluruh energi negative yang bersarang dalam kepalaku, dan terima kasih karna kisah sebentarku telah aku tamatkan hari ini. Menutup tahun ini dengan melepaskan segalanya yang sudah semestinya aku lepaskan, adalah keinginanku yang juga telah direstui olehmu. Tahun ini aku temui banyak kisah menarik, ketika aku terkulai tak berdaya oleh patah hati hingga mengkaryakan patah hati itu lewat tulisan pendek yang sudah menjamur. Tahun ini aku belajar memiliki kemajuan pada diri sendiri, dengan menatap apapun yang direnggut oleh semesta adalah seijin Tuhan. tahun ini sudah aku temukan sejumlah Kasih yang tertanam dan dipupuki oleh cinta yang tak pernah habis dalam hidupku. Dan yang begitu akhir: 2018 telah mengantarkanku untuk belajar mencintai dan melepaskan orang tercinta dengan sepenuh hati!

Ujung 2018-ku (2).

Ambon, 31 Desember 2018.

(2), 2018-ku.

Aku telah berada di garis akhir tahun 2018, tahun istimewa yang isinya penuh dengan hal-hal yang tak bisa aku duga sebelumnya. Ada banyak fantasi yang aku gumamkan dalam lelap, namun nyatanya setiap kenyataan lebih berharga dibandingkan dengan fantas-fantasi yang tak mungkin tergenapi itu. Tahun ini ada banyak kejutan dan hadiah yang semesta tampilkan atas seijin Tuhan. Salah satunya, adalah aku dengan leluasa mencurahkan seluruh beban pikiranku pada tulisan-tulisan ini. Tahun ini, aku dengan bebas mengekspresikan rasa sedih, amarah hingga bahagiaku di sini, tanpa ada yang menghadang, tanpa ada yang membuatku ragu. Sesungguhnya keraguan hanyalah seputar hal-hal diluar kuasaku, yang menyebabkan seteru dalam hati lahir berkali-kali. ya, tahun ini aku belajar begitu banyak hal tentang diriku sendiri.

Sudah mampu aku kendalikan logika dan hati yang dahulu seringkali tak sejalan. Tak sejalannya mereka membuat air mata merembes keluar mengairi pipi hingga aku terisak dalam gelap malam di sudut ruang ganti. Logika dan hati yang berputar soal hal-hal yang aku pikir terus bahagia, tanpa perlu mempersiapkan diri bilamana perpisahan yang berujung derita menghampiri dan tinggal di dalamnya. Aku tak kuat, iya kan?

Setiap kejutan yang semesta kejutkan pada diriku, mampu membuatku berpikir jutaan kali. Kali ini aku telah mampu berpikir tentang untung dan rugi pada diri sendiri, kali ini aku merasa bahwa telah dengan tegas menolak hal-hal yang menyakitiku nanti. Walaupun banyak kali, aku mengalah untuk urusan sepele yang kelihatannya tak sepele. Aku hanya sedang melatih diri untuk belajar siap bersedia dalam segala kondisi bilamana semesta dengan tiba-tiba menunjukan kejutannya. Bukankah ini adalah yang paling istimewa? Setiap hal membuatku belajar banyak, tentu saja soal hal-hal menarik seputar belajar. Belajar tak mudah marah, belajar rendah hati dan belajar ikhlas untuk setiap kenyataan yang memahitkan hari. Pula dengan hadiah yang dihadiahkan semesta atas ijin Tuhan, hadiah yang berkali-kali membuatku melihat dunia baru dari sisi yang berbeda. Aku telah dengan sendirinya menemukan defenisi melayani yang sesungguhnya. Kaitannya erat dengan rendah hati, namun dari sini aku belajar untuk bertanggung jawab dan siap menerima kritikan.

Aku yakin sejak aku ditenun dalam kandungan ibuku, telah Tuhan titipkan sejumlah kebaikan larut dalam diriku. Walau sesungguhnya aku tak sebaik yang aku inginkan. Aku seringkali masih punya sungutan-sungutan kecil yang menggelisahkanku. Belum lagi rasa khawatir yang menyakiti mental beraniku, pokoknya banyak hal yang menghambat diriku sendiri. Namun di akhir 2018 ini, rasanya telah banyak sekali hal yang membuatku belajar. Seperti yang aku sebutkan diatas, bahwa kejutan dan hadiah yang semesta tunjukkan padaku telah membuatku belajar mengasihi diri sendiri. Aku telah mampu dengan tegas mengasihani diriku sendiri, bahkan belajar untuk mencintai setiap hal buruk yang ada pada diriku.

Soal hal yang tertangkap oleh mata pun, seringkali aku tertawai. Apa gunanya menyesali waktu? tak ada. Itulah mengapa aku memilih untuk enggan memikirkan hal-hal kecil seperti itu. Setiap hari aku bernapas dengan udara yang istimewa yang membuatku menikmati hari. Karnanya, aku siap menerima kejutan dan hadiah berikut-berikut dan berikutnya lagi dari semesta!.