KAWANAN GADISKUU.

Selamat hari kasih sayang Umis a.k.a KAWANAN GADISKUUUU!. Apa yang istimewa di hari ini? yang istimewa hari ini adalah hujan yang menyapa pagi kita hingga mencekal keringat berhamburan beruntun tergantung pada kening. Iya kan?. Terima kasih untuk tanggapan-tanggapan unik yang Lindaku dan Itiku berikan, sebab Acaku dan Lediku masih belum ambil bagian dalam menerangkan makna kasih sayang menurut mereka. tapi biar saja……,

Mengulas makna kasih sayang menurut Lindaku dan Itiku, ternyata punya kesamaan. Kesamaannya terletak dalam ciri kesederhanaan yang berupa tak perlu sesumbar me’label’i kasih sayang bisa dijangkau, melainkan melakukan sesuatu yang kelihatannya tidak kelihatan. Bingung? (haha). Maksudku adalah melakukan semua orang dengan seimbang, ketika ingin disayangi ya harus lebih dahulu menyayangi orang lain. Yang paling penting adalah mempertahankan dan menjaga rasa sayang dan kasih tak menjadi pudar seiring terkupas oleh zaman. Baru saja aku baca beberapa pesan menyentuh yang Itiku kirim di grup kita, sederhana: mari kita lepaskan segala topeng yang menopengi kita selama ini. Mari kita belajar percaya lisan bernada masing-masing. Mari kita bisukan lisan yang menularkan penyakit dengki dan kesal. Ayoooo!

Banyak hal bisa tertelan hilang terambat massa, hingga kadang kala kita menjadi semakin menjauh lalu berubah menjadi asing. Itu adalah hal wajar kan, umis? Tapi aku yakin bahwa semua yang terambat hilang tertelan massa adalah urusan nanti. Urusan nanti itu bisa kita rekayasa dari sekarang dengan segera melakukan apa yang Itiku telah anjurkan dan katakan tadi. Bila Itiku beretorika soal menghitung momen kita bersama, pikirku jangan dihitung. Sebab kekuatan takkan pernah habis bila dihitung. Bukankah itu hanya membuang-buang waktu?. Aku kira dunia kita sudah terlalu kelabu bila menghabisi waktu dengan menghitung perjumpaan. Aku kira perjumpaan yang terabadikan dalam potret mesra kita, terlalu fana bila dikondisikan sebagai rasa bahagia. Bukankah bahagia tidak terbatas pada ruang dan waktu? eeeeeeeaaaaaaaaaa.

Kasih sayang menurutku adalah cara sederhana menolak kebencian, menolak seluruh keraguan dan menjangkiti kehidupan dengan romansa-romansa pada semua orang. Aku ingat ketika aku, Lindaku dan Lediku berkunjung ke pantai dan angin besar meniup dengan kasar rambut keritingku yang sudah sebahu (haha). Aku terus menghabiskan waktu dengan mencemaskan rupa rambutku yang akan megar, se-megar batu karang tempat kita berpijak kala itu (haha). Terang saja, mereka menepis seluruh keraguanku dengan berkata bahwa rambutku masih terus dan akan terus baik-baik saja!. Ternyata hal-hal positif bisa datang dari hal sesederhana itu ya?

Kita memang punya dunia masing-masing yang kadang telah menenggelamkan kita. Tapi tenang saja, kita masih bisa terapung dengan cara saling menyadari kadar kasih sayang yang kita punya!. Arus deras dalam dunia kita, kadang membentuk kita menjadi terasing. Tapi jangan sampai kita mengasingkan diri, sebab itu adalah hal buruk. Iya kan?. Jadi mari kita abadikan terus kasih sayang yang kita punyaa, bagaimana pun caranya!

Hari ini adalah hari kasih sayang. Pagi kita sudah terhiaskan dengan gambar menawan yang Lindaku buat dan kirimi untuk kita (merci, Lindakuu!). Kita pula telah membiangkainya pada timeline whatsapp masing-masing. Mari kita lestarikan kasih sayang diantara kita, kawanan gadisku.

Last: I like me better when i am with you, Kawanan Gadisku!
Iklan

Membedah Kasih Sayang Versiku.

Bagaimana dengan perayaan Hari Kasih Sayang punyamu nanti?

Pertanyaan yang paling banyak tersorot ke arahku. Terang saja, perayaan ini tidak pernah aku rayakan dengan selebrasi tahunan, jangankan selebrasi tahunan; menggenggam sosok gandengan pun, tidak (haha). Jangan salah, ada genggaman yang selama ini paling erat; tentu saja handphone, laptop dan lagu-lagu kawan setiaku!.

Setiap hariku adalah kasih sayang. Sesayang matahari dengan bulan yang selalu bergantian menyapa langit. Sesayang pagi dan sore yang selalu setia berganti dengan porsi yang sama dan seimbang. Sesayang langit dan lautan yang selalu biru dan terindah membentuk hari dan waktu. Sesayang langit dan awan yang saling melengkapi dan menegur hujan yang datang bertamu tanpa pernah diprediksi. Begitulah, hari kasih sayangku sehari-hari. Bagaimana denganmu?

Jawaban pamungkas yang aku jawab dengan lugas dan tegas, sekaligus membungkam jernih dan kencangnya pertanyaan yang mendarat pada telingaku. Pertanyaan yang sejak dua tahun terakhir selalu menghiasi februariku. Februari kering yang selalu dipenuhi dengan derasnya gelombang panas yang menciptakan atmosfer kepanasan dam gelombang yang menyebabkan dedaunan hijau berubah menjadi kuning melayu lalu mati syahid diuraikan tanah. Itu juga adalah keistimewaan februari ter-kering yang menjumpai dan menyengat hariku. Bagaimana denganmu?

Kita terlibat diskusi mengenai kasih sayang, yang katamu abstrak dan tak terdefenisi. Sekilas memang benar juga yang kau bilang, karna sebagian besar orang di dunia ini sulit sekali menjelaskan dan mendefenisikan kasih sayang versi mereka. Kau pun terang-terangan tak ingin mendefenisikannya padaku, tak tahu apakah itu benar-benar tak terdefenisikan menurutmu atau hanya bualan belaka yang kau ciptakan supaya kau makin kelihatan sok menderita perkara patah hatimu kemarin (haha). Pagi tadi aku sibuk menyusun gelas seusai memasak dan mendapati diri mengingat tingkah konyolmu dalam obrolan kita kemarin. Bukankah lebih menarik bila aku mengabadikannya melalui tulisanku dan menjelaskan secemerlang mungkin (haha) kasih sayang versiku?.

Kasih sayang itu ibarat piring keramik. Dia sudah terbentuk, tersedia, hanya saja sulit terjamah. Tahukan mengapa sulit terjamah? Yaa karna dia itu keramat!. Kasih sayang memang begitu, dia keramat. Sekali kau tertaut kepadanya, dia akan terus bersejarah dalam ingatan. Singkatnya, kasih sayang bisa jadi story of your life!. Kalau di awal aku bilang kasih sayang itu seperti alam yang tak pernah saling meninggalkan, itu tercipta dari pikiranku atas penglihatan dan terpengaruh kegemaranku. Tahu kan?

Kasih sayang itu kata dasar yang terbentuk dari dua rasa yang disebabkan, hingga terasa dalam perasaan. Mau aku sebutkan apa saja? rasa rindu. Tahu kan bagaimana rindu bertakhta? Coba saja kau baca ungkapan-ungkapan rindu yang menjamur dan membengkak selama ini. Bukankah rindu adalah yang paling bergejolak dalam kasih sayang?. Memang benar adanya, mengingat sepak terjang rindu yang bergelombang berturut-turut menyapa hingga semakin terkulai tak berdaya. Selanjutnya yang tercipta adalah ketulusan. Ketulusan mungkin adalah hal paling final dari kasih sayang. Terdengarnya agak riskan, namun sesungguhnya ketulusan pun adalah sesuatu yang paling berharga yang dimiliki oleh kasih sayang. Rindu dan ketulusan akan bergantian berproses hingga kasih sayang semakin matang, mereka berkeliling berputar dan berorientasi pada satu hal yang mendatangkan kebaikan!

Aku tak bilang ini terkait hubungan cinta antara dua orang muda, melainkan ini aku pelajari dari semua orang yang mengasihiku dan juga sebaliknya. Melihat kedua orangtuaku menceritakan perjuangan mereka membesarkanku, ahh aku terharu. Mendengar kedua kakakku bercerita tentang masa kecil kita bersama, ahh aku bahagia. Melihat saudari kembarku tumbuh menjadi pribadi cemberut namun penyayang, ahh aku semakin bahagia. Melihat adikku yang tumbuh menjadi pribadi yang egois, membuatku kadang berpikir untuk mengutamakan diri sendiri lebih baik adanya. Cinta sesederhana ini mampu membius dan membungkamku memahami serta menciptakan kasih sayang versiku. Bukankah ini sudah aku sebutkan kemarin? Ahh, aku terus saja mengulang (haha).

Semalam kau bertanya mengenai kasih sayang yang pernah aku tujukan bagi seseorang yang pernah aku putuskan untuk memberikan hatiku, kan?. ahh, mengapa lagi kau tanyakan soal itu? Kau seakan membuka gerbang kelam yang selama ini sudah aku kunci! Kau paham kan, bagaimana usahaku meniadakannya lalu berubah semakin baik? Bukan karna aku tak rela melepaskannya, aku sudah sangat rela dengan sepenuh hati melepaskannya!. Sebaliknya, aku tak ingin tinggal dan larut bersama puluhan romansa indah yang dahulu aku raih bersamanya. Aku malah ingin dia bahagia, tapi bukan denganku. Sebab selama ini aku sudah berusaha sekeras mungkin menolak kehadirannya, tanpa pernah merasa ingin bersalah atas keputusan yang aku simpan rapat-rapat ini. Jadi sekarang aku sedang menikmati usahaku ini dan usaha yang lain dalam mengembangkan potensi diri untuk mencinta (eeeeeaaaaa). Baiklah, akan aku jelaskan padamu!

Kasih sayang bagi lawan jenis yang pernah menjerat hatiku adalah hal terindah namun berbeban berat. Karna setelah aku jatuh hati, aku lupa berpikir untuk membangkitkan hati bila nanti akan sakit dan terkulai lemas. Kasih sayang aku punya mungkin sama besar dengan caraku mengasihi diriku. Aku takut dia terluka, aku takut dia sedih dan takut terhadap apapun yang membuat dia menderita. Semakin kasih sayangku bertambah-tambah, semakin aku melihat cerminan diriku didalam dirinya. Bertambah-tambah kasih sayangku padanya, membuatku semakin takut kehilangannya. Aku lupa bahwa hubungan percintaan bukanlah sesuatu yang mudah dikendalikan. Aku lupa bahwa hubungan percintaan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan sesuatu yang memang harus dijalani saja tanpa harus punya rasa takut. Semakin hari aku telah sadar bahwa semakin aku takut kehilangannya, peluang besar kehilangan akan lebih dekat menjemput. Menjemput dan menggiring hubungan cinta itu berada di tapal batas kekuatannya untuk berdua. Itulah yang memang (dahulu) aku alami. Ketakutan itu menjadi nyata, kita melepaskan ikatan yang dahulu mengikat. Berusaha terlihat baik-baik saja, dan tak memberi ruang untuk saling kelihatan terluka. Setelah saling terbuka untuk saling menyembuhkan, yang kita temukan adalah saling bercerita setiap hari hingga mentawarkan kasih sayang yang dahulu pernah berdenyut di dalam dada kita masing-masing. Hingga akhirnya aku paham bahwa kasih sayang yang sejati adalah melepaskannya. Membiarkannya terbang se-bebas mungkin, melihatnya jatuh se-terkapar mungkin dan melihatnya menemukan tujuannya sebaik mungkin.

Persetan dengan genangan kenangan yang tak pernah mengering, sebab itu hanyalah urusan pribadi. Melepaskannya adalah satu-satunya jalan terbaik ketika kehilangan telah menjemput. Mempertahankannya hanyalah suatu tindakan bodoh yang mengupas habis harga diri dan menutup kemungkinan pulih setelah patah hati menyerang. Bukankah itu hanya merugikan diri sendiri?. Itulah mengapa aku selalu bilang, mencintai dengan dewasamenghasilkan kasih sayang yang berkelas. Merenggangkan otot-otot hati yang selama ini terjepit, memulihkan rasa tamak yang jadinya memalukan dan menyembukan segala rasa aniaya yang tercipta oleh kasih sayang yang tamak dan rakus. Bukankah aku kelihatan sedang mengguruimu? (haha). Aku sudah pernah merasa tamak dengan kasih sayang yang nyatanya mencekik seseorang, hingga aku sadar betapa aku bodoh mempertahankannya. Hingga di kisah yang lalu ini, kisah yang aku sebut termanis; membantuku menerapkan kasih sayang yang sejati adalah ketika aku mampu melepaskannya ketika hatiku berontak. Aku sudah dengan senang hati melepaskannya bahkan menganjurkannya untuk melakukan hal yang sama denganku. Karna aku tak ingin berlama-lama tinggal dalam kepedihan kasih sayang yang hanyalah milikku seorang. Menyayangi seseorang dengan kadar overdose hanya menyakiti diri sendiri, lalu dengan sengaja mencekiknya hingga tak bisa bernapas dengan teratur. Bukankah cinta yang tulus hingga menghasilkan rindu, harus membiarkannya bertumbuh dengan caranya tanpa punya intervensi yang berkelanjutan? Bukankah harus ada “ruang sendiri” dan membiarkannya menyatu “sepi” dengan dunianya?

Ahh, mengapa pula tulisan ini begitu panjang? Nyatanya aku sudah menjelaskan dengan cemerlang pengalamanku yang memang selalu irit aku lisankan. Lisanku memang hanya berupa rindu yang memuaskan hasrat hati, namun logikaku sudah dengan sepenuh hati menolak hadirnya. Bukankah caraku melampiaskannya hanya dengan menciptakan kata rindu, adalah caraku menolak hadirnya? Tolong bedakan mana rindu mempertahankan dan mana rindu yang melepaskan!. Selama ini aku hanya menyusun kata rindu tanpa pernah memintanya tinggal. Bayangnya serta kenangannya memang tinggal, namun meminta raganya terus menopangku disamping adalah suatu tindakan memalukan bila aku melakukannya!

Ahh, jawabanku telah membuka gerbang patah hati terbaikku yang dahulu. Tak mengapa, karna aku jarang bercerita padamu dengan nada; anggaplah lebih baik membagikannya dalam aksara. Kau tahu mengapa aku berani menuliskan ini? karna aku sudah melepaskannya, makanya aku mampu berterus terang menulis kisah sebentarku ini. Ini bukan menunjukan bahwa aku belum move on, melainkan aku menjelaskan kasih sayang versiku yang sudah aku terapkan sebelumnya. Aku harap ini berguna untukmu, dan jangan coba-coba mengejekku setelah membacanya! Oke?

HILANG.

Aku sudah berpakaikan sukacita untuk mengenalmu lebih jauh. Bercanda denganmu sekarang adalah suatu kegemaran yang membuatku terus beruntun menyapamu. Kadang aku begitu sebal bila kau tak menyapa, hingga aku pun turut berusaha melupakanmu begitu saja dari hariku. Sesungguhnya aku sudah tak berdaya menanti kabarmu, yang untuk kesekian kalinya menghilang terus menerus. Sekarang sedang apakah kau?

Memutuskan berteman dekat denganmu awalnya aku kira akan terasa biasa saja. Aku yang memang sedang sendu dan berduka atas kenyataanku terjawab dengan hadirmu yang membuat tawaku menggema di udara. Selalu di tiap malam kita bertemu dalam dering, bercerita sepuasnya dan dengan leluasa saling berbagi hal bodoh yang pernah kita lakukan. Kita buat satu peraturan untuk membatasi topic yang terus kita bincangkan dan tentu saja sampai saat ini batas itu tidak pernah dilanggar. Kita pernah berujar tentang kriteria masing-masing, sambil mengandaikan bagaimana jadinya bila kita berdua yang terpilih oleh semesta untuk dipasangkan. Bagaimana, apakah kau mampu?, seruku dalam hati yang berupa sebuah penantian. Rupanya aku menginginkan hal yang sama, namun nahas! Tak boleh terjadi, sebab selama ini aku tahu aku hanya dianggap seorang teman biasa, bukan teman special!. Setelah aku analisa dengan saksama, ternyata kau punya penantian untuk bersama sebagai pasangan namun bukan aku orangnya. Seseorang yang katamu, tak akan kau tahu rupanya namun sedang kau lukis parasnya di ruang imajinasimu. Ahh, bukankah itu adalah hal mengagumkan?

Tak tahu sejak kapan aku merasa bahwa aku terus saja suka semua tentangmu. Melihatmu membagikan kriteria gadis impianmu, melihatmu melukis parasnya yang tiada henti terus saja kau lakukan, melihatmu membuat sketsa dengan paras biasa saja, melihatmu menunduk dan melukis serta melihat gerak bibirmu yang menjelaskan bagaimana berkesannya menikahi seseorang yang terus saja mampir dalam ruang imajinasimu. Tahukah kamu, bahwa aku terus berdebar menyaksikan semuanya?. Kebiasaanmu ini memang sudah lama kau tekuni, hal yang awalnya aku buat jadi ejekkan; kini berubah menjadi sebuah alasan mengapa aku menambatkan pilihan padamu, yang selama ini menyebutku sebagai teman!. Kita tak pernah melakukan kontak fisik yang mungkin saja bisa membuatku jatuh hati seketika sejak awal, mungkin saja. Intensitas pertemuan dan obrolan kita pun adalah hal ringan yang sangat ringan dan segera usai ketika dibahas. Tak tahu sejak kapan, kesederhanaan itu sudah merembes pertahanan dalam hatiku, merembes mengairi keringnya pertahanan. Pertahanan yang sejak lama sudah berdiri kokoh. Aku terus saja dibuat kagum dengan sikapmu yang nyatanya bukanlah untukku. Mungkin benar, aku sudah terlanjur terhanyut dalam derasnya arus perasaan yang membuatku sudah tenggelam lama di sana. Harusnya sejak awal aku harus paham bagaimana perasaan mampu bertakhta dalam kerajaan hati, memberikan titah untuk terus melestarikannya. Harusnya aku paham sejak awal!

Sejak awal aku tak pernah hati-hati menyikapi dan menilai perbuatanmu. Aku tak pernah mengusir aura kekaguman berujung rasa suka padamu. Tapi aku tahu ini masih terus berputar di level awal yang masih bisa aku tangani dan kelola sekuat tenaga. Tak tahu sejak kapan aku begini, aku terus memaki diri, merutuk hati dan terus menyadarkan diri untuk menyadari bahwa aku tak boleh keluar batas dengan hal bodoh seperti ini.

Pertemuan kita layaknya pasang-surut air laut yang terus saja begitu. Kita pernah bertemu dan bercerita hampir setiap saat, tapi kita pernah membisu hampir pula setiap saat. Sepertinya itu sudah menjadi hal yang wajib, yang nyatanya bagiku sudah terasa biasa saja. Kita masih saling menonton pergerakan masing-masing dari IG Story, yang membuatku tersenyum tipis ketika mengetahui keadaanmu yang sepertinya terus saja bahagia.

Tanpa sadar, rindu sudah menggumpal dalam daging hatiku dan terus berdenyut cepat hingga membuatku terus terjaga terus-terusan. Tanpa sadar logika dan hati sudah bekerja sama membuat mata dan jemariku mengetik namamu dalam kontak, yang seketika itu menghubungimu. Dering pertama membuatku ketakutan dan segera memutuskan panggilan keluar, namun kau sudah lebih dulu melakukan panggilan lagi kepadaku. Harus kuapakan rasa malu yang membuatku sudah tak terdaya?. Seketika banyaknya alasan lahir dan tersebut dalam panjangnya pesan siingkatku, hingga kau tak merespon. Sejak saat itu, aku urung bertanya kabarmu. Aku urung mengetahui keberadaanmu dan urung mengetahui tentangmu. Segera aku hapus kontakmu (haha). Bukankah aku terlalu kekanak-kanakkan? Biar saja, setidaknya untuk mengikis habis rasa ingin tahu tentangmu.

Soal kau yang tak tahu ataupun tahu, aku pun tak punya kuasa untuk memberi tahu. Bukankah itu adalah satu hal yang (agaknya) memalukan?. Banyak yang bilang akulah yang harus pertama merengkuhmu dan berbicara terus terang. Bisakah semudah itu?. Sayangnya, tak pernah semudah itu. Terlalu berat dan aku terus saja terbebani rasa malu. Bukankah selama aku menyimpan rapat semuanya, takkan ada yang memalukan?. Bagaimana denganku? Aku hebat kan? mengingat pertemanan kita sudah cukup lama. Menghapusmu sejak awal adalah pilihan yang tepat. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali aku menyapamu. Dan kau pun kelihatannya juga sudah lupa, bagaimana dekatnya kita. Bolehkah aku menuliskan seluruh kesahku disini?

Kepada sang pria yang merobohkan pertahananku, bagaimana rasanya ketika melihatku beberapa kali salah tingkah, karna aku tak sanggup mengendalikan diriku? Bagaimana rasanya melihatku terus menatapmu tanpa perlu memilikimu? Bukankah selayaknya patut disanjung atas kerja kerasku meniadakan segalanya yang terus ‘ada’?

Kepada sang pria yang merobohkan pertahananku, aku tahu; di posisi ini agaknya aku yang kelewatan. Aku tak pernah ingin ada di posisi ini, namun setiap pergerakanmu selalu aku nikmati dari hari ke hari. Aku bergurau dalam hati bahwa aku terjebak dalam masa mengerikan yang aku ciptakan sendiri. Ini tak salah kan? tak salah kan, bila sebenarnya aku suka segalanya tentangmu?.

Kepada sang pria yang merobohkan pertahananku, kita layaknya dua yang tak asing namun satunya telah mengasingkan diri. Rupanya harus aku ralat; bila aku analisa, ternyata kita berdua yang telah mengasingkan diri. Aku terlalu ceroboh dan hilang kendali menyikapi rasa ini, hingga kau berhamburan pergi. Sepertinya kau mencium hal mengerikan, hingga kau memilih menghilang. Apakah kita harus berakhir seperti ini?. Sebenarnya ada hal yang tak bisa kita paksakan, kendalikan serta prediksikan. Hal yang tak bisa aku paksakan dan kendalikan adalah menolak seluruh kenyamanan yang kau berikan. Sedang hal yang tak bisa aku prediksikan adalah mencari-cari kesempatan untuk menghilang dan meniadakan semua sejak awal, alih-alih melakukannya. Aku sudah lebih dulu dihinggapi dan berselimutkaan menyukai padamu. Itulah yang tengah menimpaku. Rasanya begitu memalukan terjadi pada diriku, yang selalu kelihatannya begitu angkuh dan menjaraki diri.

Kepada sang pria yang melucuti “tembok pertemananku”, baiklah. Bila kau menghilang untuk alasan ini, mari kita bersepakat!. Sama-sama kita menghilang, sama-sama kita menjauh, sama-sama kita terasing dan sama-sama saling menjaraki. Tahukah kau, bahwa aku sudah dipenuhi dengan kendali? Sejak awal aku memang selalu penuh kendali. Bila aku menatap kau yang mengeringkan peluhmu saja, aku anggap itu biasa. Aku hanya senang melihatmu merancang seperti apa gadis impianmu, aku kira itu adalah hal paling mengagumkan. Sejak itulah, kau selalu terlihat mengagumkan dibalik mataku. Namun aku tak pernah mau terbudaki oleh rasa suka ini, hingga aku menepi beberapa kali. Mungkinkah itu yang menjadi penyebab kau juga turut hilang?. Tak mengapa, aku tahu perihal tabur-tuai. Aku akan terus mengingatmu yang bijaksana dan murah bercerita.

Terakhir, semoga kau menemukan sang paras yang kau lukis di ruang imajinasimu di bumi yang kau pijaki sekarang. Melihatmu tiba di sana, adalah rasa syukurku. Akhirnya, tujuanmu selama ini tercapai! Aku patut berbangga pernah menjadi saksi kau berjuang hingga kesakitan. Selamat menemukan sang paras sederhana itu!

Surat Mengupayakan Opini-ku.

Ini adalah upayaku menjelaskan opiniku tentang cinta kepada teman terdekatku. Pengalamanku minim, namun bukankah memiliki opini adalah senjata ampuh yang lebih tajam daripada pengalaman?. Aku mengisahkan kisahmu bercampur opiniku. Jadi jangan kebingungan lebih dulu, bacalah hingga selesai setelah itu hubungi aku (hihi).

Kita adalah dua kutub yang mulanya saling tarik-menarik. Bermula dari unsur ketidaksengajaan yang tidak direkayasa, kita berkembang menjadi dua kutub yang selalu tarik-menarik. Menariknya, kita justru merasa tak termiliki, karna sewaktu-waktu kita bisa enyah dan hilang.

Semua banyangan semu yang kita ciptakan telah menjadi semakin mendaging. Harap yang kita kira bisa menjadi nyaman, kini terbantahkan dengan banyaknya kenyataan yang mengikis seluruh harapan. Irismu sudah hilang bersama waktu, namun semua semu yang nyata masih ada untukmu. Bagaimana bisa aku mendekapnya menjadi sesuatu yang sebegitu serius?. Kadang kita memainkan perasaan untuk hal sebercanda itu. Menyiapkan ruang semu lalu meniadakannya dalam sekejap. Padahal untuk menyiapkan hingga menciptakan ruang semu itu, nyatanya butuh tenaga. Iya kan?. Tenaga yang tentu saja diisi dengan berbagai episode menarik. Memilah-milah adegan terbaik lalu mengembangkannya menjadi suatu cerita romantis. Oh my, how they lie!. Kita terjebak dalam cerita yang kita ciptakan dan kitalah pemeran utama dalam cerita itu. Hal yang dimulai dengan ke”semu”an, akan melahirkan semu-semu tak berarti seterusnya, berikutnya dsb. Cinta itu kuat seperti maut, namun kita mengundang maut datang lebih dahulu sebelum cinta. Bukankah sudah kita anggap cinta sebercanda itu?

Maut yang aku maksud dalam cinta adalah kita menenggelamkan tujuan awal. Tujuan awal ini hanyalah mengisi kekosongan belaka, tanpa ada embel-embel pengikut. Tadinya kita kira bahwa hati kita takkan terketok dengan mudah. Kita salah terka, hati kita nyatanya digedor dengan paksa hingga akhirnya terbuka dengan lebar. Tahu kan, mengapa digedor dengan paksa?. Karna banyaknya perbuatan yang menyentuh kalbu dan banyaknya perbuatan yang mengguncang perasaan menjadi semakin terbuka. Cinta itu harus datang dengan sebuah kepastian bukan semata-mata karna suatu alternatif pribadi yang hanya menguntungkan satu pihak. Bukankah cinta diprakarsai oleh dua hati? Lalu bagaimana dengan satu hati yang merasa diuntungkan? Bukankah itu adalah awal maut dalam cinta? Itu sungguh merugikan!. Mekanisme yang kita atur sedemikian baik, seketika menjadi berubah dan hancur menjadi perasaan yang tak terkendali. Memang kita sudah menganggap cinta sebercanda itu!

Hal yang mulanya kita anggap bercanda berkembang menjadi serius dengan harapan tak pernah saling meluka. Kita kira bahwa perkara cinta saja sudah cukup, nyatanya cinta tak pernah cukup. Semuanya harus diselingi oleh pengorbanan dan ketulusan. Kita tak punya kuasa mengutus pengorbanan dan ketulusan mampir dan tinggal dalam hubungan ini. Maksudku, hubungan semu ini. Hubungan yang bermula dari semu, nyatanya mampu saling memikat dengan perhatian-perhatian terjelas yang ditampakkan. Hal yang semu itu kini berubah menjadi saling berjabat takut ditinggal, meninggalkan bahkan ditinggalkan. Kau tahu kan, ke mana arah tulisan ini? tentu saja, kepada hati yang saling berjabat dan terikat.

Dahulu hingga kini; kita saling menjabat sebagai pemegang hati, pengendali rasa dan banyak hal lainnya. Saling pemegang hati membuat kita rentan terhadap rasa cemburu dan membabi buta berprasangka buruk. Pengendali hati kadang membuat kita mengoyak akal sehat supaya berperan lebih banyak, agar jangan terbodohi mata yang kadang tak mampu menjelaskan. Bukankah semuanya sudah termasuk dalam muatan yang sama dan seimbang?

Terjelaskan sudah bahwa cinta bisa datang dari berbagai arah, dengan tujuan yang sama: memiliki. Selebihnya mengkadarkan segalanya menjadi seimbang adalah hal terbaik dan sekuat tenaga yang harus terus terpelihara. Soal bagaimana balasannya, lihat saja nanti!. Mekanismenya memang harus seperti itu, memberi dan memberi. Tak ada yang namanya memberi dan menerima, sebab jika demikian cinta yang dimiliki akan menjadi timpang, pincang bahkan lumpuh. Bukankah cinta yang sebenarnya harus saling menggenggam? Bukankah cinta yang sebenarnya harus menyehatkan dan menguatkan? Bukankah cinta yang sebenarnya harus melupakan istilah “menangkap dan ditangkap”? karna cinta yang sejati nyatanya berasal dari sebuah ketulusan yang melafaskan peran saling menemukan.

Jangan jadikan pengalaman tersemu ini, menjadi hal memalukan. Sebaliknya, nikmatilah mekanisme terbaik ini. Mekanisme yang tersengajakan oleh semesta untuk membentuk kita menjadi orang yang tak memandang rendah ketulusan, memandang hina apa yang kita pikir semu, dan belajar mengerti bahwa cinta bisa datang dari mana saja. Begajulan maupun baik, hanyalah pandangan. Yang seharusnya dinilai adalah ketulusannya. Iya kan?

Kepada teman terdekatku, bagaimana dengan pendapatku? Semoga menjawab seluruh keresahan yang menggumpal dalam hatimu. Terima kasih mau mempersilahkanku menuangkan kisahmu di linimasa blog pribadiku, tak mengapa kan aku utarakan sedikit opiniku?

Kepada teman terdekatku, belajarlah menghargai setiap orang yang mampir maupun tinggal dalam kisahmu. Ada banyak hal menarik yang bisa membuatmu semakin kuat menapaki waktu. Jangankan waktu, jalanan terjal berlubang pun takkan melukaimu. Asalkan kau siap sedia belajar menikmati segalanya sedini mungkin. oke?

Kepada teman terdekatku, aku penasaran bagaimana tanggapanmu setelah membaca ini. Kirimkan salamku pada sang pesona semu yang menjabat hatimu sedemikian erat itu. Aku hanya terkesima mendengar bagaimana dia berusaha membuatmu menjernihkan akal bulusmu (haha) dengan hal sedemikian menarik yang kau ungkapakan.

Lalu pada sang pesona yang memikat hati temanku, terima kasih telah melingkarkan tanganmu pada jemarinya sebagai pertanda kau siap menjelaskan segala yang semu itu. Usahamu memang benar-benar patut diapresiasi. Usahamu memang patut diteladani, mengingat bagaimana temanku selalu menjadikan dirinya menjadi pihak yang selalu beruntung. Kau hebat, bisa membuatnya berpikir tentang “saling menemukan”. Sebab aku sudah pernah meyakinkannya, namun rasanya usahaku sia-sia. Sekali lagi, terima kasih!

Untuk sebuah penantian yang selalu aku inginkan beserta sejumlah opini yang selama ini tertanam dalam pikiranku, aku menulis ini untukmu teman terdekatku!.

Cerita Manis Kita.

Dahulu aku menjulang hati penuh dengan prasangka patah hati yang menerkam dan mendekam. Aku balut suasana hati menjadi dingin membeku teratur selamanya. Pikirku, selamanya. Selamanya ini aku balut dengan kedinginan, dengan tembok yang bangunannya berlapis luka dan duka yang menganga. Aku berubah menjadi si dingin yang berbalut emosi tak stabil. Hari terang adalah hari dimana aku berprasangka baik namun enggan berpikir soal hati yang dingin. Selamanya telah menjadi pilihanku. Malam telah menerkam segalanya, segalanya kembali seperti yang aku setel dan atur; bahwa hati ini telah dijulang dengan prasangka tak karuan yang menghadirkan luka dan duka yang menganga. Pikiran itu menyelimuti hati, hari dan pikir. Ketiganya searah, hingga logika lebih berkuasa dari segalanya. Menulis tentang rindu hanya berupa mengikuti prasangka yang segenap merindu, sayangnya aku salah. Jangankan merindu, ini masih berupa emosi tak stabil yang sulit dikendalikan.

Hari berangsur berubah semenjak angin hangat datang menyapa. Sepertinya semuanya telah berubah. Aku bertemu denganmu; sang pria yang meruntuhkan tembok, menghapus prasangka patah hati, dan membalut suasana hatiku menjadi hangat sedemikian mencair dalam hati, hari dan pikir. Selamanya, yang dahulu tertanam dalam ingatan seketika menjadi tercabut hingga ke akar. Lalu bagaimana?. Sepertinya segalanya telah berubah. Mungkin aku tengah lengah ketika kita berkenalan, hingga aku menjadi seperti ini. Aku hilang kendali, aku tak mampu mengemudikan hati yang rasanya telah kau sentuh tepat pada bagian terdinginnya. Hatiku telah mekar, tanah hatiku telah subur hingga menyegarkan bila bersamamu. Melihat matahari menenggelamkan diri walapun rasanya darahku hampir habis dihisap nyamuk, tetap saja terasa menyenangkan karna kau tepat disampingku. Manik mataku adalah cerminan dirimu pula kau sebaliknya. Sepertinya kau dengan mudah menerangi semua yang gelap dalam hari dan hati lalu perlahan menjadikannya senantiasa bercahaya. Mungkinkah kau kusebut pahlawan?

Ternyata bercahaya saja belum cukup. Aku lupa bahwa badai besar bisa saja mengguncangku lalu meredupkan cahaya itu, hingga menggelapkannya seperti semula. Semula yang selamanya berharap dingin membeku, berprasangka patah hati dan tak mampu mengatasi luka serta duka yang menganga. Aku selalu menyimpan persediaan keraguan dalam setiap keputusan. Tak banyak yang aku sediakan, mungkin hanya sekecil kepalan tangan kananku, yang sedikit demi sedikit aku campur dalam sejumlah keyakinan. Sejumlah keyakinan itu masih bisa menghapus sekepal keraguan itu, hingga rasanya sekepal keraguan akan dengan mudah sirna tak tertinggal maupun membekas. Aku kerahkan seluruh kemampuan, melahirkan segenggam besar keraguan namun apa daya; sekelompok keyakinan terus saja menghadang. Aku menyerah!

Dengan sekejap, keraguan dan segalanya menghilang. Kebebasan mencinta telah merasuk hatiku, hingga aku mampu memberikan ruang besar dan luas untuk siapa saja tinggal dan mendekam. Kau yang sedari awal terus berdatangan. Perlahan namun pasti, ruang untukmu sudah tersedia di sana; di hatiku. Dua kepal tanganmu adalah segenggam rasa yang kau buat aku, sulit terlupakan. Dua kepal tanganmu sudah dengan senantiasa menghadap segala perih yang menimpaku. Sepertinya rasa cintamu bermula dari kedua kepal itu. Aku kalah, sekilas aku kira kau hendak coba-coba; ternyata kau enggan bercoba-coba, kau memantaskan pilihan menjadikanku sebagai yang terpilih. Aku takut, aku enggan berjanji. Seteru ku ternyata adalah hati, yang juga menetapkan pilihan kepadamu. Di sinlah, mulanya logika dan hati menjadi tak sejalan dalam diriku. Semuanya menjadi sulit terkendali.

Berkali-kali kau berujar untuk bersua, keenggananku merajai pikiranku. Manik mata ini sulit menepis rasa bahagia bila bertemu. Pertama kalinya, hati mampu mematahkan kerasnya logika menguasaiku. Seterusnya, keduanya terus bergantian menemaniku menentukan pilihan. Pilihan yang melahirkan banyaknya debar bergejolak dalam dada, dan penyesalan yang dibisikkan oleh logika. Tak tahu mengapa, semuanya bisa aku nikmati dengan santun dan tanpa terkuras emosi tak stabil yang dahulu menjadi pengiring penempuh keputusan.

Kau. Kau buat segalanya menjadi berirama dan kau buat segalanya menjadi seimbang. Tak tahu lagi bagaimana akan aku perbaiki hati, hari dan pikir, bila sekali-kali kau menghilang; entah ditelan bumi ataupun pergi dari asmara ini. Tak tahu, ini hanyalah penantian duka yang senantiasa akan aku peringati; bila nyatanya memang terjadi. Mana yang kau pilih?

Tak ada jawaban untuk pertanyaan terbodoh itu. Memangnya siapa yang ingin mengakhiri saat-saat bahagia ini? memangnya siapa yang akan bertanggung jawab atas penyesalan berakhirnya kisah ini?. Semuanya tak butuh jawaban. Yang terbutuhkan adalah terus berteman di sisi, terus berteman dengan keyakinan, dan terus memusuhi sejumlah keraguan.

Kau tahu bagaimana meyakinkan aku, kau tahu bagaimana melenyapkan kedinginan hatiku, kau tahu bagaimana mengusir rasa egoisku dan kau tahu bagaimana menjadikan rasa cinta kasih berkembang menjadi pesat dalam asmara kita. Tak banyak yang bisa aku deskripsi, sederhana: kau buat segalanya menjadi baru. Kau potong segala ketidaknyamanan yang aku ciptakan, kau mengajakku turut serta dalam menciptakan perasaan nyaman dengan saling mengenal lebih dalam. Kau pangkas segala kepahitan yang kau ubah menjadi manis, kau hapus segala kegelapan menjadi cahaya berseri-seri dan kau buat segala ketidakpastian menjadi kemungkinan yang patut dipelihara. Kau memang begitu pantas tersimpan dalam ingatanku, sang priaku.

Tak tahu dengan hari esok, apa yang akan terjadi. Biar saja itu menjadi perihal hari esok. Yang jelas, aku hanya ingin menikmati masa ini. Masa yang membuat aku lupa bahwa sejak lama aku adalah si dingin dan perlahan menjadi si dingin yang terhangat.

Cerita ini akan terus terkenang dalam hati, hari dan ingatan ini. Terima kasih untuk seluruh keyakinan dan rasamu yang terus mengawetkan keyakinanku. Bermula dari dua kepal yang aku kira kesengajaan, ternyata sebaliknya; dua kepal yang menerangkan sejumlah kepastian. Kepastian yang telah mendekam di manik mata terdalam ini. Terima kasih telah kau persilahkan aku bercermin pada dirimu, untuk berangsur melatih diri menjadi orang yang tak konyol bersembunyi dibalik luka patah hati terdahulu. Harus aku akui bahwa sudah aku terima semua yang dahulu dan bahkan menertawai diri, mengapa aku menjulang bangunan berisikan duka yang menganga tiap waktu.

Cerita ini adalah awal mula aku menjadi aku yang sekarang. Keputusan yang awalnya aku kira sepihak, nyatanya adalah keputusan termanis yang aku buat. Aku bukan orang dingin, aku hanyalah orang yang sedang hati-hati menentukan pilihan. Sekarang, aku bukanlah menjadi orang yang dingin maupun hati-hati. Aku sudah menjadi orang yang siap dengan kesakitan yang menyakiti, luka yang melukai dan setiap proses yang harus aku nikmati. Bukankah ini adalah sebuah keharusan yang aku pilih?

Cerita ini adalah kisah manis yang pertama kali aku rasa. Kisah manis yang memaniskan hatiku. Kisah manis yang menjadikanku orang yang ingin menyapa. Perkara bila nanti kita berpisah, bukankah tangisan yang akan mengiring? Jangan siapkan air mata manis itu, siapkan saja rasa lapang dada. Aku takkan meminta apapun bila nanti kita berpisah, karna yang punya kuasa mempertemukan dan mengakhiri hanyalah semesta. Tulisan ini akan aku buat sebagai pengingat bila di kemudian hari, bila kau berpeluang melukaiku. Kenangan manis-lah yang akan membuatmu terus baik dalam ingatanku nanti. Tak tahu nanti bilamana kita saling menyakiti, aku hanya ingin memajang rasa syukurku bersamamu dalam narasi ini.

Terakhir: berjanjilah untuk terus saling mengasihi, bila rasa sayang kita akan memudar maupun tawar. Menawarkannya bukankah menjadi pilihan? Tolong, jangan.

Nota Pembelaan.

Tentang seorang teman yang selalu melengkapi, aku sudah merasa terlengkapi dengan hadirmu. Hadirmu turut pula mengegenapi seluruh ganjilku yang selalu kosong. Tak kau sadari itu?

Bagaimana dengan kalimat pembuka tadi? tak bergetarkah hatimu? Ahh, jangan dulu soal hati! Apakah kau merasa merinding ketika membacanya? Harusnya iya!. Kalimat itu mengandung unsur magis untuk membius matamu menjadi terlelap ketika mampir di limimasa blog pribadiku ini (haha). Bagaimana dengan banyaknya potret pribadiku? Baiklah, itu harusnya aku tanyakan pada pesan singkat (hihi). Bagaimana rasanya membaca banyaknya curahan hatiku? Aku yakin, kau semakin besar kepala! Iya kan?. Bagaimana rasanya menonton habis drama korea kesukaanku? Terima kasih sudah menghabiskan waktumu melihat pria tampan berparas manis di drama itu!. Harusnya kau ucapkan terima kasih ketika aku berpeluh penuh keberanian berujar tentangmu disana. Aku rangkai banyaknya kata manis untuk mengungkapkan pribadimu yang hanya satu di dunia ini. Tapi sekali lagi, takkan aku hapus apa yang sudah aku tulis! Bukankah tak ada yang tahu, bahwa itu kau?. Harusnya kau jangan khawatir, sebab namamu pun tak pernah menggema di sana. Jangan berpikir lebih untuk kertas berlembar empat yang baru kemarin aku pajang disini, di linimasa blog pribadiku. Aku sudah gerah, bila kau terus menghujaniku dengan pertanyaan-pertanyaan terkait sugesti gilaku.

Bila aku menyebut hadirmu telah menggenapi seluruh ganjilku yang selalu kosong; sepertinya aku terlalu berlebihan. Sempat menjadikanmu berharga sebab kau menjadikanku melihat dunia dengan caraku, adalah memang terlalu berlebihan mengkarakterisasi dirimu. Rupanya kau bukan demikian, iya kan?. Tapi tak mengapa, alasanku mencantumkan itu di awal agar tulisan ini tidak kelihatan seperti mempermalukanmu.  Bila kau tak mau aku sematkan lelaki terkasih, baiklah akan aku ubah. Karna katamu kau sudah malu karna dipermalukan olehku, nantikan suratku mempermalukanmu berikutnya!.

Anggap saja kemarin aku sedang dirasuk aura negative, yang tiba-tiba menjadikanmu pusat untuk aku telusuri. Anggap saja aku sedang terperdaya oleh pesona burukmu, hingga mudah saja mengungkap seluruh rasa bersalah yang sepatutnya kau tanggapi dengan penghargaan namun kau berikan ejekkan. Aku sudah terlanjur sakit hati untuk tanggapan gila tak beruntung yang aku terima. Rasanya ingin sekali menghujatmu, namun urung karna lebih berharga memakimu disini. Tapi tenang saja, aku tak setega itu untuk memakimu sekuat tenaga. Aku hanya akan menuliskan rasa kesal tiada tara ini, di sini. Bila kau bilang aku sombong, aku tak peduli (!).

Jadi maksudmu dengan berterus terang melalui tulisan adalah sikap sombong? Aku rasa pikiranmu terlalu sempit. Bagaimana bila suaraku tak sanggup menjadi nada untukmu? Aku tahu kau takkan meminta bahkan memaksaku menandungkan sebuah kejujuran di waktu yang tepat. Bukankah perkara mengungkapkannya adalah semua dalam kendaliku? Ahh, rupanya kau tak pintar menganalisa!. Aku sedang berhati-hati menjelaskan apa yang selama ini tertahan dalam diriku, dan kau mengacaukannya di waktu begitu singkat. Sombong adalah sikapmu yang begitu angkuh mengucapkan terima kasih!

Lalu bagaimana dengan sombong-ku yang sekarang?

Kau salah menilai ketulusanku melalui narasi. Seharusnya aku menyesal menuliskannya untukmu, namun aku merasa bahwa lebih malu bila aku tak mengakuinya. Jadi bila kau merasa itu memalukan untukmu, sebaiknya kaumenjaraki diri dengan ponsel dan linimasa blog pribadiku. Cukup mudah kan?

Terakhir, ini bukanlah amarah beruntun sejak kemarin. Ini hanyalah pembelaan. Tak mengapa kau berujar bahwa aku punya banyak hal untuk diungkapkan selain masalah pribadiku, nyatanya aku telah salah menjadikanmu sebagian potong dariku. you’re officially stranger!. Terkait apapun yang aku tulis disini, kau tak perlu mengomentarinya. Aku sudah cukup nyaman menjadikannya daftar tulisan panjang yang aku baca sewaktu-waktu, bila aku sedang ingin membacanya. Ada masalah denganmu, soal ini?. Bagaimana dengan rasa malumu yang sekarang? Sudah cukup merana kan? ahhh sudahlah!. Jemariku sudah cukup sengit menulis tentangmu!

Semoga Tuhan Allah sumber segala kasih karunia, mengaruniakanmu akal sehat yang tak terpengaruh rasa malu yang justru memalukan dirimu sendiri. Semoga kau paham, sepaham-pahamnya!.

Kepada Lelaki Terkasih.

Malam ini rupanya bintang enggan bersinar kecil menyapaku, ketika aku berdiri di depan teras rumahku. Aku hanya disapa oleh gerimis kecil yang membuatku merasakan merinding kecil. Aku masih berdiri teguh berharap melihat bintang menyapaku dengan menunjukan tampangnya. Sayangnya, satu pun dari mereka tak berdatangan. Bulan pun demikian, bila di malam yang biasanya aku sibuk mengabadikan potret bulan dan bintang; malam ini langit sepi, hanya berteman gelap malam yang (sepertinya) menakutkan. Bagaimana dengan malammu, disana?

Pertanyaan tersering yang menyapaku ketika malamku akan segera aku tutup. Terpaut beberapa jam, aku sudah memeluk guling sedang kau baru saja berpijak pada ruang pribadimu. Masihkah seperti yang dulu, ataukah perlahan telah berubah?. Gerimis kecil dan besar adalah pengiring kita sejak dahulu. Ingatkah kau?. Ada milyaran alasan untuk kita saling berjumpa dengan gerimis, namun kau selalu mendahulukan kesehatan yang mahal harganya!

Darimu aku belajar apa itu paham naturalis, namun tetap mendahulukan Sang Pencipta. Belakangan aku merasa kebingungan dengan kegemaranku yang selalu menulis tentang alam. Baru aku sadari bahwa kau nyatanya sudah menjadi bagian dalam kegemaranku. Kegemaran berkisah dengan dan tentangmu. Akankah kau sadari hal itu?. Tanpa pernah bertanya pun, ratusan pesan darimu selalu bertanya tentang menghidupkanmu dalam banyaknya kata. Kita gemas perihal saling menjuluki dengan julukan manis yang hanya menjadi milik kita. Julukan yang isinya berupa kode mengasihi yang selama ini selalu kita inginkan terjadi. Apakah kau sadar akan satu hal yang selalu aku sadari ini?

Kita pernah menjadi orang lain untuk menyenangkan sekitar, right? Yes, I did!. Adalah jawaban kita, ketika kita tengah berdiskusi tentang itu. Setelah banyaknya hari, purnama kejadian dalam pertemanan ini kita lalui, kita menjadi the best version of me. Kita menjadi diri sendiri. Terbukalah hal yang selama ini kita tutup, terbukalah hal yang selama ini kita rahasiakan. Pelan namun pasti kita semakin saling terbuka untuk saling mendengar. Inilah syurga (haha) ketika menjalin asmara (tanpa status) dengan sepenuh hati. Kau bilang asmara bukanlah suatu status maupun keadaan yang harus dikejar. Kau bilang itulah alasanmu terus-terusan betah sendiri (haha). Itu adalah alasanmu yang kau balut dengan pencitraan terhakiki yang aku dengar. Am I right?

Ahh, aku rasa alasanmu cukup logis. Itulah alasanku senang berlama-lama menghabiskan banyaknya topic untuk berdiskusi denganmu. Berdiskusi denganmu adalah tujuanku merapatkan hati padamu namun urung memilihmu. Menyenangkan adalah defenisi menemukanmu, ketika menjadikanku teman bercerita. Tak aku temukan romansa berbau asmara yang terjangkiti mabuk kepayang, sebaliknya aku malah lebih banyak menemukan topic tentang dunia yang sudah tua ini. Bercerita tentang tsunami, gunung merapi dan banyak hal lainnya. Waktu yang kita habiskan pun hanya menghabiskan memori masa kecil dan tingkat kedewasaan menanggapi suatu masalah. Dusta mana lagi yang bisa menipu kenyamanan ini? dusta mana lagi yang mampu membuatku menyangkal kenyamanan termanis ini?

Asmara kita tak tahu sejak kapan terjalin. Panggilan kita pun tak pernah mengindikasikan sebuah kisah baru dimulai. Rasanya bersamamu adanya sebuah asmara yang lama telah terjalin (asmara pertemanan lebih tepatnya), namun kita tak tahu sejak kapan. Bukankah kita aneh? Ahhh, biarlah kita dihakimi oleh dunia. Aku sudah terlalu nyaman begini. Menginginkanmu adalah tak pernah terukir dalam inginku. Lantas aku kebingungan sendiri menanggapi kehadiran kita yang rasanya telah menjadi asmara sejak lama. Mungkin aku yang hanya telah dibutakan dengan rasa “saling” ini? mungkin saja. Di banyak kesempatan aku merasa tak nyaman dengan sejumlah kodemu yang tentu saja berisi menambatkan hati. Kodemu yang aku tafsir dengan saksama namun dengan tempo yang begitu lamban. Bagaimana bisa aku tak sepeka itu?. Menjadikanmu sebagai asmara dan romansa adalah jawaban ketika tanpa sengaja kau bertanya untuk menemukan jawaban. Sayangnya, pernyataanku begitu datar; tanpa ada suatu hal yang hendak aku raih. Lantas aku kan yang bersalah?. Ada banyak pertanyaan yang kau tujukan, pertanyaan yang sebenarnya selalu aku tepis ketika kepekaan sedang bersarang di kepalaku. Sebaliknya, jawaban yang tanpa sengaja aku berikan justru membuatmu semakin berharap ketika aku sedang begitu tak peka. Keputusan sepihak yang aku buat rasanya memang sudah mengiris keinginanmu. Alasan kita berkawan adalah karna kita telah saling terhubung. Kau membuatku paham bagaimana dibimbing tanpa belajar. Kau membuatku paham, bagaimana suatu kegagalan berarti dalam, ketika gagal telah menyapaku. Kau buat aku bertumbuh dengan sikapku dan menjadi diriku. Tak ada intervensi darimu, namun sedetik pun tak pernah kau tinggalkan. Temanku bilang, dewasa adalah sikapmu!.

Aku rasa aku sudah keterlaluan memperlakukanmu begitu. Aku putuskan, bercerita tentangmu kepada seorang teman; karna sejujurnya aku pun resah ketika aku telah mendalami banyaknya narasimu yang kau sampaikan dari pesan singkat maupun ketika kita berhadapan. Temanku bilang, aku sudah cukup keterlaluan dan perlu banyak berbenah. Ada benarnya juga, aku memang keterlaluan untuk selalu saja tak sadar. Rasanya semalam aku dihujani dengan banyaknya pertanyaan tentangmu, tentang mengapa aku pilih kau sebagai my comfort zone!. Sejujurnya aku tak punya alasan apapun. Namun temanku terus saja mendesak dengan menghadirkan banyaknya contoh mengenai kenyamanan. Baiklah, alasanku adalah kau selalu menjadi dirimu dan menjadikanku demikian. Aku menjadi diriku ketika menghabiskan waktu denganmu. Darimu aku paham, mencintai diri sendiri dengan semua pilihan yang aku pilih. Sepertinya aku sudah menjelaskan sebelumnya mengenai ini. Hanya saja, aku masih belum tak mampu menjadikanmu kekasih. Bagiku, sangat tak menyenangkan menjadikanmu sebagai lelakiku. Walaupun sebenarnya, aku selalu menyebutmu begitu. Alasanku menyebutmu demikian adalah karna aku sudah menganggapmu the other half of me; hanya saja melihatmu di kenaikan jenjang pertemanan kita adalah yang selama ini tertahan. Aku tak punya daya untuk berpikir menjadikanmu kekasih. Aku pula tak ingin membuatmu berpikir demikian, sayangnya aku selalu gagal kan? kau selalu bertanya mengenai hal itu, dan aku yang selalu bersembunyi ketika mendengarnya. Aku bingung menafsirkan tujuan kenyamanan ini yang sudah menjadi milikmu. Ini memang benar, bahwa aku saja yang meragu dan malah berani menarik ulur keinginanmu; seraya aku ingin melihat seberapa besar kegigihanmu meyakinkanku. Sayangnya, pikiran ini baru saja terlintas ketika jemariku sedang menyentuh papan tombol ini. Maafkan aku yang selalu lamban menyadari. Ini adalah tulisan pertamaku tentang rasa nyaman ini kepadamu, harusnya kau dengar langsung. Tak mengapa kan, aku ungkap di sini?

Kepada teman lelakiku; maafkan aku yang selalu tak berbela rasa akan seluruh rasamu terhadapku. Aku memang lamban, aku memang terjebak dalam keragu-raguanku dan memang terlalu banyak persepsi yang berbaris panjang di kepalaku. Aku pikir diantara kita tak ada yang tersakiti, namun kata temanku: kau adalah orang yang ternyata cukup tersakiti dengan keputusanku (it’s too late for apologize, right?). Aku memang selalu begitu yang selalu saja terlambat menyadari.

Kepada teman lekakiku; sudah berapa lama? Sudah berapa lama kau bersikeras mempertahankan segalanya? ahh, aku memang tak pandai mengolah indra perasaku. Aku tak pandai berbagi rasa, aku hanya pandai menjadikannya kenyamanan tanpa pernah berani menatapmu di penglihatan yang berbeda. Tak pernah aku berpikir, bahwa selama ini kau melihatku sebagai orang yang ingin kau rengkuh sejak lama. Tak pernah terbesit sedikit pun bahwa hatimu berdenyut ketika bersamaku. Sejujurnya, aku ketakutan melihatmu demikian. Aku selalu berusaha meremas dengan sekuat tenaga agar denyut di hatimu itu tak berdetak lagi. Sayangnya, kau lebih kuat menyimpan segalanya, merapikan segalanya hingga aku tak pernah tersadar. Aku tersadar ketika kau minta aku menatapmu sebagai seorang lelaki yang ingin aku miliki. Terdengarnya ngeri, namun inilah kenyataan yang terus menggelitik kesadaranku. Aku sudah terlalu nyaman menjadikanmu teman, namun rasanya banyak yang menghakimiku dengan pilihan egois yang selama ini aku tempuh. Aku mulai paham mengapa kau memintaku mendengar berulang kali lagu Just a Friend to you milik Meghan Trainor. Maafkan aku yang mengejekmu terjebak dalam friendzone, nyatanya kau tak pernah terjebak disana. Kau punya banyak inisiatif menjadikannya suatu hubungan yang layak diperjuangkan. Maafkan aku yang terus saja lamban, bahkan ketika kau bergumam I’m so much more than just a friend to you. Kau sudah aku anggap sebagai sepotong bagian dari diriku, namun sepotong bagian itu bukanlah yang pantas aku pilih sebagai seseorang yang aku tatap sebagai priaku. Itu pikiranku, tak tahu denganmu.

Kepada teman lelaki terkasihku; apa yang harus aku lakukan? Meraihmu sebagaimana yang kau inginkan? Ahh, beri aku waktu menata dan meyakinkan diri lebih dulu. Kau tahu kan, kelemahan terbesarku adalah terpengaruh oleh sugesti-sugesti gila milikku. Sugesti yang mengindikasikan ada nyata terparah ketika meraihmu sebagaimana yang kau inginkan. Kadang aku tertawa dalam malam, kau tahu aku selalu bertanya dalam gumamku. Apa aku yang terlalu hati-hati ataukah kau yang terlalu menggunakan hati? Jawabannya tentu saja iya untuk keduanya. Aku selalu saja mempertimbangkan banyak hal, termasuk dengan cara berbeda yang nanti kau lakukan ketika aku meraihmu sebagaimana inginmu nanti. Sedangkan kau yang sudah terlanjur menggunakan hati memperlakukanku selama ini. Mungkin aku telah menyentuh satu hal yang sudah pasti membuatmu mempertimbangkan hal itu, hingga di banyak kesempatan terang saja kau ajukan pertanyaan-pertanyaan seputar tujuan perasaanmu. Maafkan aku yang secara tersirat melayangkan maaf ketika tak sanggup berujar di tatap muka kita sejak lama. Maafkan aku yang mengungkapkannya secara tersurat dengan banyaknya lembar dan keyakinan hati memantapkan diri bahwa selama ini aku sadar perihal permintaanmu yang selalu saja aku hindari. Apa kau tahu, bahwa aku tak pernah melihatmu sebagai persinggahan? Kau adalah pelabuhan, sayangnya aku mendaratkan pilihan berbeda untukmu. Pikirku, cause I deserve to find my own, and I think its not you. Rasanya aku akan menyesal bila kau baca panjangnya penjelasanku. Iya kan?. Baiklah, beri aku ruang untuk menata hati dan pikiran. Beri aku ruang untuk mengaduk akal sehat dengan sedikit rasa sayang berbeda untukmu. Aku berjanji akan siap untuk menatapmu sebagaimana yang kau inginkan. Bisa kan? akan aku benahi kesalahan besarku yang sudah cukup lama mengabaikanmu hingga mempermainkan keseriusanmu (ciieeee). Setelah aku benahi segalanya, aku harap kau akan mengerti segalanya. Boleh kan?

Kepada teman lelaki terkasihku; bisakah alasanku menjawab seluruh pertanyaanmu? Aku mohon jangan kau bilang ini sebagai alibiku untuk menolakmu secara lugas. Sejujurnya aku hanya tak paham meyakinkan diri. Jadi bisakah ini menjawab segalanya?. Jangan tanyakan banyak hal setelah kau membaca ini. Membayangkan kau membacanya saja, aku sudah malu setengah mati (haha). Tenang saja, bukankah setumpuk keraguanku sudah aku jelaskan sepanjang ini? aku harap keseriusanku menjawab pertanyaanmu yang terus berulang itu, bisa kau terima.

Terakhir, kepada sang lelaki berjasa yang pandai menyimpan rasa walau sudah meluap-luap: haruskah aku ucapkan terima kasih? Sepertinya harus!. Terima kasih kepadamu, sang lelaki yang begitu berjasa mendengar, dicaci, disembunyikan dan yang selalu tertolak. Terima kasih karna selalu membetahkan aku ketika aku sudah membuatmu jengkel. Terima kasih karna masih mau dilibatkan dalam urusan patah hati yang selalu saja kau hujani dengan amarah kecil perihal mengapa harus dia yang mematahkan hatiku. Ahh, mengapakah harus aku utarakan itu disini? Sudahlah. Potretmu tak pernah aku simpan di galeri ponsel, jadi aku pajang saja foto terbaruku! (haha).