Beribu Nyata, yang Menyatakan Diri

img_20180910_1431191489673553.jpg

Masih penuh dengan nyata terbaik yang masih terbentang sepanjang nyata itu kelihatan. kadang nyata itu mendukakan, namun aku hanya ingin mengatakannya sebagai nyata terbaik sekarang. Soal yang aku katakana bahwa nyatanya, nyata itu buruk; sesungguhnya ketika itu pertama kali menyapa. Kadang aku berusaha memburamkan pandangan, menggelapkan penglihatan hanya untuk menolak kedatangan sang nyata itu. Tapi aku salah semakin aku berlari dari sang nyata itu, sang nyata itu dengan mudah berlari memelukku. Lantas bagaimana lagi? Terima saja!. Pinta kecil yang berteriak dalam hati. Kadang kala, aku menerimanya denan persungutan bahkan dengan ketidak tulusan. Sayangnya, sang nyata itu tak peduli dengan bagaimana aku menerimanya. Sang nyata itu akan terus datang, jika sang semesta telah memberi restu.

Baiklah, nyata-nyata itu terus mengasah kedatangannya hingga aku telah terbiasa. Terbiasa merasakannya sebagai beban hingga merasakannya sebagai sebuah lelucon yang membuatku berhenti melangkah. Kadang pun, aku dibuat penuh dengan keraguan hingga kekuatiran yang begitu dalam hingga aku terperangkap di dalamnya. Sayangnya, tak ada yang melihatku terperangkap di dalam sumur yang telah aku galih sendiri hingga menenggelamkan diri sendiri ini pula. Ironis memang, bila nyata itu menghampiri. Mengingat nyata-nyata yang telah menjadi kenangan sempat berpihak, membuatku enggan menengoknya. Ada yang benar-benar menelanjangiku kejujuranku, menelanjangi kesakitan, hingga keadaan tak berdaya menjadi tempat terbaik. Apalagi yang mampu aku perbuat? Sekali lagi, terimalah saja!.

Perih memang, mengingat ada banyak peluh berganti air mata yang mengujani wajah. Mata yang sembab, wajah yang ditumbuhi jerawat dengan suburnya, tangan dan kaki yang sulit bekerja sama adalah langkah selanjutnya yang terjadi sebagai respon atas sang nyata itu. Sesaat terasa lelah, lelah berkabar, lelah menanti, hingga lelah pada segalanya termasuk sang nyata yang sedang menghampiri itu. Ini bukanlah suatu surat persungutan, ini adalah lembar bercerita terkait nyata-nyata terbaik yang sekarang telah membelajarkanku.

Nyata-nyata itu telah membuatku sungguh-sungguh terbiasa. Bila malam telah menghampiri hingga aku berbaring di ranjang sambil menatap langit-langit kamar, aku tertawa dalam sunyi bahkan bercerita pada sunyi sambil menitipkan pesan, pada sang semesta untuk membuatku lebih kuat lagi menanti sang nyata yang akan dikirimkannya pada waktu yang berikutnya. Aku jadi ingat bagaimana sang nyata itu mengubah keadaan terburuk pun menjadi sangat baik, disaat aku tak mampu berprasangka baik.  Sedikit pun, tak ingin lagi berburuk sangka pada kendali Tuhan lewat nyata-nyata yang terkirim oleh sang semesta.

Masih teringat dalam tawa kecil, diri ini masih merengek sedih meminta yang nyata-nyata baik saja yang menghampiri. Sekali lagi, itu adalah hal terkonyol. Sekarang, sudah aku pahami bagaimana nyata-nyata terbaik dibungkus oleh Tuhan lewat sang semesta untuk menghampiri insannya. Insan-insan yang tertunduk letih, namun tak letih berkepanjangan.

Tetaplah berbaik sangka pada kendali Tuhan, !

Iklan

P E S O N A

img_20180910_163452381143581.jpg

Menamatkan segala pesona yang dulu dengan mudah terserap dari seseorang, bukanlah hal baru. Bukan pula hal yang mudah. Memudahkan penyerapan pesona hanya dengan lirikan mata yang memandang. Sangat mudah kan? iya, sangat mudah ketika mata tanpa beban memandang. Mata tanpa kesakitan menerkam segala yang indah dipandang. Jika sebelumnya aku hanya bercerita soal hati dan berserah pada kendali Tuhan, kali ini rasanya aku ingin bercerita soal bagaimana mata dengan mudah melukai tuannya. Ini bukanlah kisah sedih, hanya saja rasanya ingin bercerita soal bagaimana mata dengan fungsi paling setia menemani, melukai hingga membekas begitu lama.

Soal mata, memang rasanya tak bisa memilih kemana dia memandang. Ah, aku salah. Mata dengan mudah memilih ke mana dia memandang, dan menamatkan pandangannya sepanjang hari. Ya begitulah, alasan untuk menyehatkan bahkan menyegarkan mata yang kadang lelah berkedip melihat sesuatu yang memanjakan mata. Baiklah, aku tak pandai menatap mata orang lain sebab rasanya jika mata sudah saling menatap, akan sulit berlari ke arah lain dan pilihan untuk bersarang pun akan lebih mudah.

Pesona adalah selanjutnya yang ditemukan, atas perantara mata. Maksudku, pesona bukan sekedar hal fisik melainkan sesuatu yang tersembunyi di balik objek yang ditangkap mata. Bukankah itu manusia? Tentu saja, karna sekarang lebih nyaman aku bercerita soal seseorang bahkan lebih. Pesona itu yang sebelumnya tenggelam, akan dengan mudah naik ke permukaan. Pesona yang tadinya sudah tertidur lelap, kini bangun dengan sendirinya dan melakukan aktifitasnya. Itulah yang aku pahami soal pesona, yang dengan sekejap mampu disebut dengan daya tarik.

Daya tarik menjadi media dua orang bahkan lebih bernyaman-nyaman untuk bersama. Ah, mengapa soal kebersamaan yang penting aku bahas? Sebab, pesona tidak bisa disebut pesona ketika dia tidak ditemukan. Pesona dalam diri seseorang tak bisa langsung ia sadari atau temukan, sebab jika iya maka dia akan menjadi orang angkuh. Pesona itu akan ditemukan oleh orang lain, yang akan membuat orang lain itu bahagia berada didekatnya. Itulah yang aku maksud mengapa pesona begitu penting. Daya tarik maupun daya pikat adalah dua hal yang saling tarik-menarik. Setelah seseorang terpikat maka dengan sendirinya dia akan bernyaman-nyaman dengan hal yang ditemukannya dalam diri orang lain. Mudah kan? tidak juga. Menemukan daya pikat maupun pesona pada orang lain, kadang juga tak kita sadari. Kadang ada rasa gemas bercampur amarah yang membuat kita lupa bahwa kita sudah terpesona padanya, hingga peduli. Ini tak juga berlaku bagi sepasang kekasih, namun berlaku bagi siapapun yang saat ini sedang bersama/berdekatan dengan orang lain.

Karnanya, berpandai-pandailah mengendalikan rasa terpesona. Sebab daya pikat akan dengan mudah menghantui. Aku rasa, lebih menyenangkan mempesonakan orang lain. Baiklah, bagi kalian; Ku ucapkan selamat teruntuk pihak-pihak manapun mampu dibuat terpesona oleh kalian!.

Surat Terima Kasih, Untukmu.

Sajak kemarin yang kau bisikan lembut di lapang terluas, rasanya begitu teduh diiringi angin yang memeluk waktu serta melodi laut yang mengiringi. Sajak sederhana yang sesungguhnya tak mudah aku pahami. Di balik tegasnya dikau, ada sajak yang diam-diam kau bisikan. Di lapang terluas yang ramai itu, kau berbisik hingga aku tertawa. Bukan soal sajak termanis itu, tapi soal bagaimana kau berbisik. Ya aku tahu, selama ini ketika kita berbicang kau selalu menegurku karna cara bicaraku yang selalu kelepasan hingga membuatmu malu. Katamu, itu memalukan. Kadang aku pun merasa, caraku memalukan juga. Tapi tenang, kemarin aku tak memalukan kan?

Sajak termanis yang kemarin kau senandungkan tipis di kuping ini, sudah aku lupa. Soal kesastraan yang membuatku menatap tajam wajahmu, hingga kau tertawa. Sejak kapan kau bisa begitu? Sudah berapa kali aku mengulang pertanyan yang sejak kemarin aku tanyakan padamu di nyata kita bertemu, maupun nyata dalam percakapan di ponsel? Haruskah aku reka-ulang kejadian kemarin? Sepertinya harus, namun terkandaskan karna minus sajak yang kau lantunkan tipis di kupingku. Tak mengapa kan?

img_20180623_1403201320780602.jpg

Kemarin, dengan tiba-tiba kau mengajak bertemu. Kisah kita yang sudah berlalu di waktu yang berlalu sekian jauh, kini hidup lagi dengan nuansa berbeda. Kisah yang dulu lebih dibumbui pertengkaran sekarang lebih minim bahkan sekalipun tak ada. Lantas aku tak mengatakan ini kisah kita, lebih tepatnya pertemuan kita. Sejak kita menghidupkan pertemuan yang dulu mati itu, sekarang kita lebih banyak bercerita soal bagaimana menjadi orang yang lebih baik. Entah itu terbalut jenaka maupun ratap. Harus aku katakan, kau adalah pria tergila yang sekarang sudah menapaki jenjang dewasa yang membuatku keheranan mendengar setiap kata yang melompat dari bibirmu juga melihatmu memperlakukan orang lain dengan sangat santun. Sepertinya kau banyak berbenah ketika kita memilih jalan masing-masing. Iya kan?

Aku dibuat terkejut dengan ajakan bertemu yang tak seperti biasanya. Kau tahu bahwa aku tak suka berlama-lama, hingga kau menentukan tempat kita bertemu yang lebih mudah dijangkau dan tentunya lebih ramai. Kau tahu, aku tak suka kesunyian. Di sana, kau banyak bercerita soal duniamu yang baru, pilihanmu yang baru, aktivitasmu yang lebih baru bahkan segala yang baru termasuk kapan kau mencukur habis hingga kembali memelihara seluruh janggut dan kumis tipis yang membuatmu kelihatan berbeda, ditambah pula kacamata minus yang sudah kau kenakan sejak enam bulan yang lalu. Untung saja, suaramu tak berubah hingga membuatku mengenalmu lebih cepat. Sedang aku? tak ada yang berubah. Sekarang lebih sehat cara berpikirnya, lebih sehat cara bicaranya namun tetap masih menertawai segala yang terjadi padamu.

Pada kesempatan inilah, kau menyempatkan sajak termanis yang aku lupa bagaimana menarasikannya di sini. Sejak kau putuskan untuk membisikannya padaku, aku terkejut hingga menatapmu tajam. Agak berlebihan kan? iya, banyak berlebihannya. Mengingat kau yang dulu selalu irit bicara, namun berbicara sebanyak waktu itu tentu saja tak biasa!. Kau tertawa sejadi-jadinya hingga mengatakan bahwa aku selalu terkesima denganmu (haha). Melihatku tertawa hingga melahirkan ribuan tanya padamu, selalu kau tanggapi dengan mengatakan itu memalukan!. Itu artinya kemarin aku mempermalukanmu?

Kau tertawa sejadi-jadinya. Di balik tawamu yang bahagia, ada rasa haru yang aku rasakan. Kapan kita tertawa sekeras ini? kapan kita berani berjalan bersama? setelah semuanya terkandaskan oleh nyata kita yang dahulu. Sepertinya pikiran kita selaras, kau juga bertanya mengenai pertanyaan yang sama. Rasanya tak perlu lagi kita bersembunyi pada nyata, karna sekarang kita telah bebas dari kisah kita yang sakit kala itu. Soal sajak yang kau bilang, katamu kau membacanya di perpustakaan lalu segera membeli bukunya di toko buku. Walaupun aku dibuat jengkel, karna kau merahasiakan judul bukunya. Dan ternyata kau juga sudah punya banyak post di IG (hhaha) dengan panjangnya keterangan soal patah hati dan menemukan cinta. Siapakah yang mampu merobohkan tembok “persembunyianmu”?

Tak kau jawab. Tatapanmu lurus pada lautan yang ada di hadapan kita. Baiklah, biarlah itu menjadi rahasia terdalammu, sebab aku pun tak ingin mencangkul rahasiamu yang tak tahu kau tanam di mana. Namun lewat tulisan ini, harus aku sampaikan bahwa sejak dulu hingga sekarang kau selalu menakjubkan. Setiap persembunyian bahkan hal yang tak tersembunyi lagi sekarang, selalu berhasil membuatku mengagumimu. Entah ketika kau irit bicara, irit tertawa bahkan lebih banyak bersembunyi. Sekarang kau dengan “sampul” paling baru bahkan punya senjata menaklukan hati lawan jenis, membuatmu kelihatan lebih baik!. Sajak termanis itu membuatku mengerti, betapa sederhananya dirimu dengan seluruh yang tersembunyi padamu. Soal kau yang tenang namun tak setenang kelihatannya, soal kau yang selalu menjadi tempat ternyaman bercerita soal masalah pribadiku dan soal kau yang punya cara pandang paling baru dan ter-anti mainstream yang membuatku ingin segera enyah dari percakapan kita. Entah sejak kapan kau bisa se-menakjubkan sekarang.

Aku tahu, kau selalu menyelipkan waktu tersibukmu untuk membaca lembar demi lembar tulisan di linimasa blog milikku. Kau juga tahu bahwa aku sudah banyak bercerita tentangmu, bahkan mulai menunjukan ketertarikanku pada bunga yang katamu, begitu indah. Entah bagaimana, kemarin bunga itu mendatangi kita berdua. Kau menjemput bunga itu, lalu mengenggamnya hingga menciptakan sajak terkonyolmu hingga aku tertawa kewalahan melihat tingkahmu yang sekarang semakin menunjukan perbedaan tiada tara. Entah berapa banyak sajak yang terlempar dari bibirmu, jika salah satu batu-batu di dekat lautan bisa bercerita pasti dia bisa mengingat dengan lengkap setiap kata termasuk tanda baca yang kau katakan maupun yang kau bisikkan padaku.

Kau memintaku menggenggamnya, lalu memotretnya menggunakan jemariku.

img_20180901_0751511656644487.jpg

Baiklah, kali ini biarkan aku mengatakan sajak yang dari sisiku untukmu, untuk menggambarkan waktu itu:

img_20180901_075112589955623.jpg

Teruntuk, pria berkacamata yang sekarang lebih banyak melawak. Melihat raut wajahmu yang sejak dulu tak berubah, terang saja membuatku kelepasan tertawa. Tertawa melihat bagaimana kau berpura-pura angkuh namun tak bisa angkuh dengan sempurna. Ingin rasanya kuucapkan terima kasih, namun rasanya sudah terlalu usang karna berabu. Kau paham kan maksudku? Itulah sebabnya, aku urung mengucapkan terima kasih padamu, sejak kemarin. Kau sudah berubah begitu banyak, akankah kau pelajari setiap masukan bernada kritikan dariku di kisah kita yang lalu?

Kini, rasanya aku melihat sesuatu yang baru padamu. Matamu yang tak pernah bersembunyi lagi, kisahmu yang bukan menjadi rahasiamu lagi dan sekarang kau lebih yakin dan mantap berbagi seluruh ceritamu padaku. Bukan maksudku membandingkanmu dengan dirimu yang dulu, namun sekarang rasanya kau begitu baru, sebaru-barunya. Memangnya aku kertas ya? katamu menimpali ketika aku sedang berusaha jujur menyatakannya secara langsung kemarin.

Melihatmu yang melibatkanku dalam scenario sastra yang lahir dari bibirmu membuatku tertawa sejadi-jadinya ketika kau dengan tampang terjujur mulai beretorika. Ada apa denganmu? Lagi-lagi aku kembali bertanya. Aku tahu, kau sudah kewalahan dengan pertanyaan yang selalu saja lahir dari diriku.

Soal bunga yang kemarin aku pegang dan sama-sama kita abadikan di ponsel masing-masing, rasanya bunga itu terus mewarnai keberadaan kita. Kemarin pun, kita sama-sama bungkam jika harus terpaksa mengigat bagaimana kita bercakap tentang bunga itu di waktu yang lalu. Yang jelas, bunga itu memang indah pada dasarnya. Tak perlu kita katakan pun, sepertinya ia telah paham bahwa ia menghidupkan pertemuan kita kala itu.

Teruntuk, kau yang kini bersamaku di lapang terluas dengan pribadi terbaru. Tahukah kau, bahwa itu mengagumkan?. Terima kasih, telah mendengar seluruh yang dulu selalu aku katakan padamu. Terima kasih telah menumbangkan egoisnya dirimu. Sejak kemarin, kau terus kutatap karna rasanya kau yang sekarang telah menjawab seluruh permintaanku yang sejak dulu menjadi bianglala perdebatan kita. Terima kasih untuk setiap waktu yang kau sisihkan untuk mendengarkan aku berkata dan terima kasih untuk setiap ucapanku yang tertinggal di ingatanmu.

Kemarin pun tanpa sengaja atau disengajakan (tak tahu juga), kau mengatakan bahwa setelah merasa kehilangan akan lebih mudah belajar bagaimana seseorang yang peduli akan terus menghakimi dengan tujuan positif. Kau kembali berbisik, terima kasih padaku. Walau aku tahu bahwa kau memenuhi ucapan terima kasih padaku, dengan seluruh hal yang dulu aku hakimi tentangmu. (maafkan aku, yang terlalu banyak menuntut 😀 ).

Terakhir, maafkan aku yang rupanya masih menyisakkan kengerian di setiap percakapan kita, entah yang bersifat jenaka maupun yang menghakimi. Terima kasih telah membangun kediaman pertemanan kita. Jika kau berkata setelah merasa kehilangan, akan lebih mudah belajar bagaimana seseorang yang peduli akan terus menghakimi dengan tujuan positif: sedang aku berpikir bahwa setelah kebersamaan yang telah berhenti, lahirlah babak baru yang sesungguhnya. Babak untuk menghentikan harap dan babak menatap nyata-nyata paling baru. Masing-masing kita terluka dan sembuh dengan cara masing-masing. Itulah mengapa, kita bisa saling tertawa ketika melihat perubahan-perubahan pada kita. Terima kasih untukmu, yang tak pernah menghentikan kebersamaan kita.

*Jika kau membaca tulisan ini: terima kasih banyak telah meluangkan waktumu membacanya. Jangan besar kepala jika aku mengatakan banyak terima kasih di sini (haha)*

Sajian Asing Dalam Diri.

img_20180909_1844332057445412.jpg

Sejak langit sore kemarin bercahaya lampu jalan, semua tentang yang dulu kembali bersinggah. Jangankan bersinggah, sepertinya semua tentang yang dulu itu telah tinggal. Ah apalagi kali ini yang ingin membuatku bercerita banyak? Kali ini, soal kegelisahan tiada tara. Bukan soal kisah yang tak kunjung selesai, melainkan soal risalah hati yang menggelikan. Soal gelisah yang menyerang percaya diri, soal gelisah yang menjangkiti seluruh rasa kagum pada diri sendiri. Entah ini soal melupakan seluruh rasa yakin pada diri sendiri ataupun soal menghapus rasa kagum pada diri sendiri. Entah bagaimana kupingku terlalu terjangkit oleh omongan orang yang menipiskan perkataan yang layaknya didengar oleh diri sendiri. Entah bagaimana narasi dari orang lain terdengar lebih meyakinkan daripada narasi yang dilahirkan dari diri sendiri. Apakah aku kurang berdialog dengan diri sendiri?

img_20180910_232944395464208.jpg

Aku terasing pada diri sendiri, terasing pada hati sendiri dan terasing pada kemampuan diri. lantas memilih, menapaki terjal yang menikam sendirian, dan semakin terasiing pada diri sendiri. Berulang kali aku berujar ingin mengasihi semuanya, namun terlupakan ketika narasi dari orang lain lebih meyakinkan, setelah aku kalah meyakinkan diri sendiri. Ataukah aku terlalu lengah pada diri sendiri? ataukah aku yang sulit mengendalikan diri sendiri hingga lebih dipermudah dikendalikan oleh orang lain?

Sejak beberapa waktu yang lalu, rasanya aku ingin menjawabnya seorang diri. Aku coba bertanya pada diri sendiri, namun seringkali terabaikan untuk menemukan jawaban. Malah aku lebih asyik menemukan solusi pada orang lain, daripada bagi diriku sendiri. Ya, sejak awal aku paham bahwa aku adalah mahkluk sosial yang bisa saja menemukan solusi dari cara berpikir yang bukan dari sudut pandangku, namun tak seberapa sering ada benarnya. Lebih banyak aku membutuhkan pendapat dari diriku sendiri untuk menempuh pilihan. Sulit juga ya? iya, sungguh sulit di kesempatan yang begitu sederhana. Memergoki diri sendiri yang kadang dibuat sedih atas pilihannya tak lantas mampu menyalahkan diri sendiri. Tak jarang memaki diri, memaki waktu, menyalahkan keadaan. Itulah yang berulang kali terlaksana. Kadang menggelikan, namun lebih banyak mendebarkan. Mendebarkan jiwa, mendebarkan raga bahkan mendebarkan asa yang sejak dulu sulit bergetar. Inilah yang aku katakan di narasi sebelumnya, bahwa tertawa adalah pilihan paling terbaik.

Menertawai omongan orang yang menurutku lebih berharga dari omongan diri sendiri, mendengar yang lain lebih baik daripada mendengarkan diri sendiri bahkan membantu orang lain lebih mudah dari membantu diri sendiri. Akibatnya sakit sendiri, lelah hati sendiri dan menderita sendiri terlampir kekuatan menjalani hari.

img_20180809_23011828916007.jpg

Rasanya ini adalah tulisan ter-lucu di sepanjang aku bercerita. Entah mengapa di Pagi yang mendung berasa kelabu, aku ingin menulis tentang ini. Belakangan, mencekoki diri dengan menulis refleksi diri rasanya ada segerombol awan pekat yang tiba-tiba terlepas di udara hingga menyebabkan hujan (haha). Sejak kemarin, rasanya hujan telah menemaniku menulis tentang refleksi diri. Terima kasih, sudah membantuku menyatakan kesalahan atas diri sendiri.

Tengoklah Aku Jika Kau Sedih dan Putus Asa

Tertumpah sudah rasa bahagia yang sejak dulu bersemayam dalam ingatan. Rasa bahagia yang dulu dengan leluasa hadir, kini lebih hati-hati untuk tinggal. Sepertinya ia sudah tahu, bagaimana rasa bahagia itu dalam sekejap membahagiakan, namun dalam sekejap pula menumbangkan. Baiklah, ini bukan soal pengalaman pribadi melainkan soal berbaik sangka pada segalanya. Menapaki lembar demi lembar kehidupan, membawaku pada dua puluh tiga tahun belajar mengerti maksud Tuhan. Tak mudah memang untuk belajar ikhlas, maupun belajar berbaik sangka seperti yang selalu aku katakan di sini, di lembar-lembar yang lalu dalam tulisan ini.

img_20180911_0100511616752390.jpg

Lembar demi lembar kehidupan itu mengantarkanku pada satu pengertian bahwa berserah pada Tuhan adalah cara paling positif mengakrabi nyata yang sekarang sudah tak berdrama lagi. Bila dulu, rasanya ingin menangis jika kecewa, kini rasanya aku hanya ingin menertawakan segalanya sambil berpikir bahwa baiklah ini adalah hal yang biasa yang tak melebihi kemampuan, karnanya simpan air matamu untuk hal lebih manusiawi.  Bukan maksudku mengatakan bahwa nyata yang sekarang tak manusiawi, namun semakin banyak aku mengerti soal berbaik sangka, entah mengapa air mata ini lebih irit jatuh membasahi pipi. Kalaupun ia jatuh, pada saat yang benar-benar dibutuhkan. Harus aku ucapkan terima kasih padanya, yang sekarang sudah tidak mempermainkanku lagi. terima kasih!

Soal seluruh nyata yang dulu aku angkuhi, nyatanya telah memelukku dengan erat. Telah menekanku dengan kuat. Telah menembakku dengan seksama. Soal nyata yang memelukku, sebelumnya aku minta maaf sebab berlari terbirit-birit ketika engkau dekati, namun apa daya bila kau dan atas izin semesta menyatakan adalah milikku? Aku tak bisa berbuat banyak, selain berbalik memeluknya hingga kita saling berpelukan. Nyata-nyata itu jika aku ingat kembali, kadang menggoresi kepercayaan diri ini. Menggoresi bahkan melahirkan kelam demi kelam baru yang mengaga. Kadang aku bisa lepas kendali karna nyata terlalu bertindak lebih jauh dalam semestaku.

img_20180911_010029712457896.jpg

Semestaku dibantu nyata-nyata itu melahirkan ribuan lembar-demi lembar di sini. Hanya di sini, aku bisa menumpahkan segala nyata yang sudah tak berdrama itu. Soal nyata yang menyebabkan terluka, nyata yang kadang sangat cepat menutup luka, nyata yang menyembuhkan, serta pula nyata yang kembali memeluk masa lalu. Bagaimana mungkin semua nyata itu bisa subur? Pikirku, aku yang mengendalikan diriku atas ijin Tuhan dengan rohNya yang diam dalam hatiku dan membantuku bertindak. Nyatanya, rohNya itu masih aku angkuhi. Masih aku jauhi, tak aku akrabkan dengan nyataku yang kadang membelok di jalan lurus. Setelah semua nyata itu telah menunjukan taringnya yang telah melukai diriku berjuta-juta kali, barulah aku mengerti bahwa segalanya adalah baik!

img_20180911_0101011814952156.jpg

Bila aku tenggelam bersama nyata-nyata yang menyatakan kesakitkan itu, tak mungkin aku bisa menulis sebanyak sekarang. Bila aku menangisi nyata itu, tak mungkin aku bisa berbicara dengan leluasa sambil bercerita bagaimana dulu aku kesakitan dibuatnya. Kini, berbenah sambil mengasihi segala nyata yang menyakiti itu adalah pilihan terbaik. Sembari menertawai segala responku yang dahulu, sembari menghitung banyak kali aku merutuk hati dan hari, sembari tersedu-sedu kewalahan bahkan sesunggukan serta sembab karna hilang harap.

img_20180911_0101321341844069.jpg

Kini, tak tersisa lagi nyata yang sudah kesekian kali menyatakan skenarionya. Kini, dengan penuh rasa percaya atas diri sendiri, lebih berani melangkah sambil merapal doa disertai dentuman ayat suci yang lebih menguatkan. Kini, tak mau lagi meregang bahagia karna masa yang lalu. Kini, menjadikan semuanya sebagai kawan terkarib adalah pilihan untuk terus berbaik sangka pada kendali Tuhan.

Terakhir, untuk diriku yang kadang kewalahan dan memilih mengorbankan dirinya sendiri: ingatlah, bahwa tak ada yang lebih berharga selain mengasihi semua yang terjadi padamu. Aku ingatkan, menangislah bila kau perlu. Tertawalah sebanyak mungkin dalam waktumu, serta kendalikanlah rasamu agar bahagia terus menanti dan bahagia adalah bagianmu. Tenang saja, Tuhan Yesus tetap menyertai tanpa kau sadari. Jangan angkuh pada rohNya, melainkan mintalah untuk terus tinggal dan terus tinggal. Untuk segala kisahmu yang tak beres, tenanglah. Ada penawar yang akan kau dapati, asal jangan menyuramkan diri sendiri.

—darimu, yang kadang bisa sebijak ini—-

Melukiskan serta Menarasikan Terik Langit, Petang Kemarin.

img_20180127_232845457698760.jpg

Ketika terik menikam hingga kedalaman atap rumah, aku telah pasrah menerima serangan kuatnya sengat matahari yang tak kunjung reda. Setelah semakin lelah dan tak berdaya menerima bertubi-tubi serangan yang datang menghajar, rasanya aku ingin mendamaikan diri dengan sang pelaku yang tak bukan adalah terik. “Halo terik, tak bisakah kita berdamai?” Kataku pelan dalam hati.

Aku dituntun oleh terik untuk melihat bagaimana megahnya langit di petang yang telah memasuki pukul 4. Baiklah harus aku katakan bahwa langit kota Ambon rasanya lebih dekat dengan matahari hingga aku merasakan panas yang tiada taranya (haha). Setelah aku dituntun keluar ruangan untuk menyaksikan megahnya matahari, kepalaku rasanya memikul sebuah batu besar yang membuatku tak lantas berjalan selain hanya meneduhkan kepala pada tiris-tiris gedung. Tak lama terik menyengatku hingga aku melihat megahnya langit yang sebenarnya. Baiklah, langit petang ini tengah begitu terik namun tak sedikitpun menghilangkan kesan eksotisnya langit yang sebiru ceriaku!.

img_20180826_1622301641123655.jpg

Aku baru sadar bahwa terik kali ini telah memastikan bahwa aku tak boleh bersedih hati untuk terik yang terus menghantam. Ralat, maksudku bukan menghantam. Maksudku, terik sedang melaksanakan tugasnya untuk mengejarku yang belum mampu menyadari caranya bekerja untuk memegahkan langit yang sejak dahulu selalu aku kagumi.

img_20180826_162147376041791.jpg

Warna gedung gereja yang sudah kecoklatan menambah kesan mendalam. Gedung gereja yang ramai tiap hari minggu memperindah langit petang ini. Ya, sedari tadi aku sedang berada di gereja namun karna tak kuat menahan panasnya ruangan aku menepi pada halaman kosong di samping gereja. Sekitar sejam aku berdiri sendiri sambil sesekali mengecek ponsel berharap ada sebuah pesan yang masuk untuk memecahkan keheningan petang itu dalam sendiriku. Aku semakin lupa bahwa sejak tadi aku tak sendiri, ada angin yang memelukku, ada suara pohon yang bergesekan bahkan ada suara merdunya ombak laut yang sedang beraktifitas di seberang jalan. Aku menengok langit lalu berusaha mengabadikan suasana sore tadi yang menyenangkan.

img_20180826_162206665324483.jpg

Teringatku akan sosok seorang yang dulu selalu bersenandung soal langit. Kita sama-sama menggemari langit malam, bahkan tak jarang aku pernah menulis mengenai langit malam ketika aku bahagia karnanya. Sekarang telah aku putuskan mencintai segala sesuatu yang aku dapati dari dirinya. Sesungguhnya, tak ada seorang pun yang benci terhadap langit. Semua insan di dunia ini begitu mengaguminya. Dulu, aku pun begitu. Mengagumi langit entah di siang ataupun malam. Namun, tak ada narasi apapun yang aku ciptakan untuk menunjukan kekagumanku kepadanya. Hingga akhirnya, aku belajar untuk mencurahkan segala kekaguman, keluh kesahku, suara hatiku yang tak sempat terucap di bibir.

Aku belajar mengangumi langit dengan begitu luasnya, karna aku sadar langit telah memayungiku selama ini hingga memuluskan segala pertemuanku dengannya, di waktu yang lalu.

img_20180811_181544583620632.jpg

Kaki yang dulu selalu beriringan dengannya pun, kini juga muncul dalam setiap cerita yang aku ciptakan. Kaki yang dahulu selalu lelah diajaknya mengintari setiap sudut kota, kini sudah kembali pada mulanya yaitu terasa lelah untuk berjalan. Yang diinginkan kaki ini, hanya memeluk bantal bahkan mendarat di kursi sambil membantu mata merilekskan tubuh untuk membaca maupun sekedar mendengar musik.

img_20180131_1718501186640426.jpg

Bahkan sesekali kaki yang sudah berdebu seringkali merindukan perjalanan yang dulu terus dikutuki namun terindukan.
img_20180809_225829384388972.jpg

Ah, apalagi selanjutnya mengenai dia yang mengajariku banyak hal?. Sesungguhnya jika aku sedang bosan menanggapi waktu, aku akan membaca satu demi satu dari puluhan narasi yang aku buat. Di sana, aku rasa bahwa ada berjuta-juta hingga bermilyar kalimatku untuknya. Entah soal mengaguminya, soal memarahinya maupun soal mendeskripsikan siapa dirinya. Jika aku baca kembali, mengapa setiap ceritaku hanya bermuara padanya? apakah aku tak bisa melupakannya?

Bukan tak bisa melupakannya, tapi telah banyak cerita yang dikisahkannya untukku hingga aku ikut terbawa pada setiap kisah yang kita dirikan bahkan ciptakan bersama. Sekarang dia telah bahagia, dan aku pun telah bahagia. Karnanya, setiap tulisan bahkan narasi yang melibatkannya adalah ungkapan terima kasih yang tak terucap dengan kata terima kasih!.

Kala itu, aku (kita)…

Di malam yang pekat, tak ada yang menerangi. Di bawah sinar rembulan, terpayunglah pantai di malam hari. Memutuskan untuk memutuskan pikiran disana, membuatku tak banyak lagi bertanya-tanya bagaimana keadaan pantai di malam hari, selain hanya berpikir bahwa akan ada kegelapan pekat yang terekam. Suasana pantai tadi malam, dipadati dengan aktifitas nelayan yang senyap akan suaranya. Yang terdengar hanyalah jejak kaki manusia diiringi dengan hempasan ombak yang memukul karang. Aku pun merasakan bagaimana aura air laut menempel pada kulit yang membuatku sudah betah karnanya. Belum lagi angin malam yang memelukku erat, semalam. Kedinginan akan angin malam yang terus saja memelukku sejak aku tiba di sana, hingga aku beranjak di sana.

img_20180822_213659705781723.jpg

Semalam, bulan memayungi langit dengan indahnya. Tak sedikitpun ia melukai malam yang gelap dengan sengatnya kegelapan. Malah sebaliknya, ia terangi kegelapan dari kejauhan. Mana lagi yang tak indah soalnya?

Semalam aku tatap hingga memutuskan untuk berjalan mengelilingi pesisir pantai, berharap ada apapun yang bisa diajak bercerita. Perlahan air laut menyapa kakiku karna dihantarkan ombak. Dingin, ya hanya dingin yang aku rasakan.

img_20180822_2129152053110188.jpg     img_20180822_2129301203456556.jpg

Aku putuskan untuk menepi jauh dari pesisir pantai hingga mengambil ponsel untuk memulai obrolan di sana dengan seorang kawan. Tak banyak yang kami ceritakan di sana, di obrolan via ponsel selain hanya mengirim potret apa yang sedang kami lakukan dan apa yang menyibukkan malam kami yang berbeda. Aku sibuk dengan bepergian bersama teman-temanku, sedang dia yang tengah sibuk menyiapkan masa depannya di suasana yang berbeda.

Bergetarnya ponsel mengantarkanku pada sebuah kisah lama yang sudah aku putuskan untuk mematikannya. Kawanku, tahu persis bagaimana aku menyembuhkan diri sendiri hingga akhrinya terbuka soal itu kepadanya. Aku tersentak seketika ketika dia mengirim sebuah tangkapan layar akan kirimanku di linimasa IG.

screenshot_20180823_1715262117666750.jpg

Itu kutipan yang aku ciptakan sendiri ketika aku sedang berbahagia di kisah yang lalu itu. Kawanku itu memastikan untuk tak boleh aku pajang kiriman itu pada linimasa IGku. Aku setuju ketika membaca pesannya di detik pertama, dengan anggukan kecil pada diri sendiri. Namun entah bagaimana, rasanya aku begitu kaku untuk menghapusnya. Bukan soal potret matahari terbenam, melainkan waktu serta rangkaian kata yang tercipta ketika aku bersamanya, dahulu.

Aku putuskan untuk tak menghapus sedikitpun tentang apapun yang terekam soalnya, walau kontaknya sudah aku hapus sejak beberapa bulan yang lalu dan menepi dari obrolan bahkan dering darinya. Hanya itu caraku untuk menepi darinya, tapi segala sesuatu yang dulu selalu didukungnya akan segala kegemaranku masih terbaring sehat di ponsel bahkan di linimasa IG. Segala yang dikorbankannya dahulu ketika kita masih bersama membuatku enggan menghapus jejaknya hanya di ponsel juga linimasa IG. Bukan dia satu-satunya, tapi dia yang mendorongku hingga seperti sekarang ketika aku sudah terkalahkan oleh diri sendiri. Maksudku, ketika aku ingin menyerah ada seseorang yang akan berbicara lembut namun terbalut narasi yang menikam kalbu yang membuatku urung menghentikan langkah. Dia juga adalah orang yang terus mendorongku menciptakan ratusan kalimat tentang apapun yang aku rasakan. Itulah mengapa, aku tak ingin menghapus apapun yang sudah tercipta serta yang teralamatkan kepadanya. Ah, aku kembali bernostalgia kembali padahal sebelumnya aku sudah berjanji untuk berhenti menulis tentangnya. Baiklah, biarkan aku membereskan segalanya sekarang. Tulisan ini bukan untuk bernostalgia tentangnya, namun tulisan ini hanyalah mengungkapkan kebaikannya yang berjasa membangkitkan rasa percaya terhadap diriku sendiri dan apapun yang telah aku ciptakan ketika bersama maupun tak bersama dengannya.

Aku duduk sambil meremas sebuah kerikil kecil yang sejak tadi aku pegang ketika aku berdialog dengan pikiranku sendiri.

img_20180822_230213365702945.jpg         img_20180822_2302281319599430.jpg

Bagaimana mungkin segala yang aku cintai ini bisa menghapus seluruh yang dulu tentangnya? Sedang dia adalah orang yang hingga sekarang adalah pembaca setia dari segala yang tercipta dari kedua tanganku. Soal yang ini, semoga dia sibuk sesibuk-sibuknya hingga terlupakan.

Entah ini kerikil ataupun batu kecil yang terus aku pegang ketika api unggun menerangi gelapku dan menghangatkan tubuh yang terus dipeluk oleh angin malam yang mendinginkan,

img_20180822_2138021008898547.jpgsegala yang berbau lautan akan mengingatkanku padanya. Walau dengan berani aku katakan, segala tentangnya sudah mati. Dia yang dulu selalu menyematkan laut di setiap percakapan kami serta potret laut yang senantiasa disertakannya.  Aku kembali membuka kiriman gambar dari kawanku yang sejak tadi tak aku balas. Dia bertanya, ada apa? Sama sekali tak aku balas lagi.

Aku baca dengan teliti tulisan kala itu, Ketika lautan mengirim sejumlah rasa yang terbawa bersama ombak. Waktu itu kau semakin gelisah, sedang aku berbahagia menerima titipan rasamu pada ombak. Percayalah, sudah aku terima. Tulisan ini kembali mengingatkanku akan nyanyian rindu kita terdahulu.