Mengisahkanmu,.

Memasuki minggu terakhir bulan April, kembali lagi kukenang caramu memperlakukanku. Di setiap kepura-puraanmu tersimpan sejumlah kejujuran yang sedang kau tampilkan. Di setiap candaanmu ada ungkapan sayang yang bertubi-tubi kau katakan. Di setiap ungkapan kekesalanmu, ada rasa kepedulian yang sangat membara. Di setiap ceritamu ada rasa ingin berbagi yang kau tunjukan padaku. Di setiap keseriusanmu terselip berbagai rasa yang bercampur aduk yang sedang ingin kau perlihatkan padaku. Bermula dari perkawanan yang tak disengajakan, kau datangkan sejumlah kenyamanan yang sudah aku raih darimu. Kau memasuki hariku yang tak menentu suasananya dan memiliki segudang penawar untuk setiap rasa buruk maupun baik di hariku. Kita berdua sama-sama orang yang paling kaku untuk berbagi, namun sepertinya waktu telah mengesahkannya hingga kita terbiasa. Kau mulai berbagi soal ceritamu yang dulu, begitu pula aku. Letak kenyamanan itulah yang membuat kita berdua membuka segala rahasia yang pernah kita simpan rapat-rapat. Letak kenyamanan itu pula yang membuat kita berakrab berlama-lama mengalahkan malam walau kantuk sudah menyapa.

Mengulang bahkan mengingat segalanya ke belakang, ada banyak pelajaran yang kau bagikan dan kuraih darimu. Katamu, tak baik bila kemarahan bersarang di pikiran. Kemarahan itu candu, hingga mengkhianati setiap kejujuran yang ada. Katamu, jika marah katakan saja. Cacilah objek kemarahanmu hingga kau puas tapi dengarlah pembelaannya. Jangan kau pergi setelah cacimu terealisasi lalu tak menginginkan penjelasan. Itu tak baik. Darimulah, aku belajar untuk lebih banyak mendengar. Mendengar untuk lebih banyak berpikir bahwa tak ada sekalipun yang salah mengenai pendapat. Katamu pula, jika aku sedang marah aku boleh dengan leluasa mencaci dirimu namun jangan sedikitpun untuk melaksanakan jurus diam seribu bahasa, itu sama saja membunuh kepercayaan dirimu. Baiklah, sudah aku biasakan hal itu. Kau seringkali mendapatkan perlakuan tak menyenangkan dariku yang dengan leluasa mencacimu, namun sekarang aku sudah mengerti bahwa itu sungguh melukaimu. Makanya sekarang kita lebih sering membuka diri untuk menerima setiap kritikan mengenai sikap kita yang kadang menjadi penyebab merenggangnya cerita kita.

Jika suasana buruk sedang menghinggapi diri kita masing-masing tak jarang masing-masing kita saling melemparkan kekesalan hingga kita menciptakan jarak yang bisa saja ditempati oleh berbagai penyebab. Sisanya, kita akan terlarut berlama-lama di jarak itu. Namun sampai sekarang, sudah kita temukan cara untuk menghindari penyebab jarak itu tercipta. Kau tahu kan? kita akan berdiskusi soal masalah yang sedang kita hadapi lalu sama-sama mencari solusi untuk menghindari penyebab itu menciptakan jarak yang bersifat semakin. Itulah mengapa aku bilang bahwa semakin ke sini, kau semakin menunjukan sikap terbaik versimu yang juga telah menjadi versiku. Kau telah menjadi terbaik versimu, ketika setiap ketulusan selalu kau titipkan diantara kepura-puraanmu, kesedihanmu, kejujuranmu, kebahagiaanmu dan kepribadianmu. Kau merelakan dirimu yang kaku untuk melebur bersama duniaku, hingga kau gadai kegengsianmu menjadi setara denganku. Menjadi seperti diriku tak mudah. Aku punya banyak keinginan yang cukup melibatkanmu dan kau sempat kewalahan karnanya. Namun sekarang, kau bahkan memintaku untuk tak bersembunyi untuk tak melibatkanmu. Sudah, kau memang sudah menjadi paling terbaik versimu yang menjadi versiku juga.

Iklan

Cerita Awet Kita, Sepanjang Hari

Selamat Sore, teruntuk kawan bercerita. Apa yang terjadi di harimu? akankah ada jutaan cerita yang mengisahkanmu? Aku yakin, pasti tak ada. Hari ini, aku bersama kaum gadisku bertemu. Kami menyaksikan hari bahagia seorang kawanku, yang sudah menyandang gelar baru semenjak hari ini di pukul 01.20pm siang tadi. Bagaimana denganmu? Aku tahu, pasti kau sibuk mendeskripsikan tempat-tempat wisata baru. Wisata indah, wisata yang menyimpan sejuta pesona alam bahkan siapapun yang ada bersamanya. Aku tahu, setiap hari kau akan mendeskripsikan hal yang sama berulang kali padaku.

Hari ini aku tak sempat membalas rentetan pesanmu yang menanyakan keberadaanku, aku hanya memberikan keterangan bahwa aku sedang berkumpul dengan teman-temanku. Kau juga sibuk bertanya apakah aku tiba di kampus dengan selamat? Apakah aku sudah bertemu dengan mereka? apakah aku menyiapkan kejutan seperti apa? Setelah ini pasti akan ada banyak foto yang termuat di whatsappku. Begitulah yang menjadi pertanyaanmu yang membuatku senyum sendiri menerima banyaknya pertanyaan yang belum sempat terjawab. Apalagi ketika aku salah mengirimkan voice note karna aku tak fokus membalas pesan temanku, kau hanya membalas dengan rekaman suara tawamu yang khas sambil menunjukan potret dirimu yang menunjukan wajah kebingungan yang terlalu dipaksakan. Karna aku kewalahan menunggu temanku hingga menyebabkan bad mood berkepanjangan, aku tak sempat membalas pesanmu. Kau lalu bertanya apakah aku sibuk? Sebenarnya bukan sibuk, hanya tak ingin menjawab pertanyaan dari siapapun. Aku memang orang yang moody-an sehingga pasti kau pula akan terkena imbasnya.

Setelah aku mampu meredakan bad mood dengan menumpahkan seluruh amarah dan kekesalan pada tujuannya, aku menjawab satu persatu pertanyaanmu. Kau masih tetap disana, menantikan jawabanku dan sudah tentu kau tahu bahwa aku sedang tidak dalam emosi yang stabil, hingga kau biarkan saja dan tak ingin bertanya. Kau hanya bertanya, kapan pulang?. Aku sudah tak mampu membalasnya lagi, sebab kesibukan berfoto hari ini yang memang adalah momen langka untuk berkumpul. Sekalian berpotret bersama, untuk mengabadikan momen menyenangkan ketika berkumpul hingga sesaat melupakanmu. Kau juga masih menanti, setelah aku kembali lalu pergi lagi. Aku kembali hanya dengan menyatakan, aku akan kembali, maaf ya. Sedang mengobrol di sini. Nanti aku kabari, kalo sudah selesai ya!. Kamu hati-hati, Tuhan Berkati. Kau merayuku untuk mengobrol di video pendek berdurasi dua menit sebelum aku menutup obrolan kita, tapi aku tolak karna kesibukan ini lalu segera menutup obrolan kita karna tak ingin melewatkan cerita bersama kaum gadisku. Kau membalas dengan mengirimiku sebuah seruan seperti sebuah lagu. Isinya, take ur time, I’m waiting. Kau tahu bahwa aku akan kembali dalam waktu yang lama dan obrolan yang mungkin akan singkat, tapi aku punya banyak cerita. Setelah aku kembali, kau juga masih menunggu aku kembali. Jika harus menuturkan seberapa sabar kau menunggu, bukan baru hari ini kau buktikan seluruh perkataanmu. Caramu memperlakukanku yang semena-mena pergi lalu kembali, membuatku merasa bahwa mengenalmu adalah suatu keuntungan ketika berkali-kali kau menunjukan kepedulianmu. Aku bahkan selalu bertanya-tanya bahwa kau sudah tentu sibuk dengan duniamu, tapi kau bilang bahwa kau handal dalam manajemen waktu. Baiklah, kali ini kau benar.

Hari ini kau memaksaku bercerita tentang hari ini, namun aku terlalu letih karna semua momen adalah berharga di hari ini hingga tak mampu aku ungkapkan semuanya. Kau hanya tertawa lalu berkata, aku hanya ingin menatap wajahmu yang bercerita tiada henti. Entah bagaimana, setiap pernyataanmu selalu menjadi lelucon bagiku. Karnanya tawa selalu menemani percakapan kita yang tak jelas durasinya. Kau bercerita hari ini soal keterlambatanmu memberi kabar padaku, hingga aku marah. Sebenarnya aku tak marah, aku hanya kelelahan secara fisik hingga memilih beristirahat. Dan jika aku lama membalas pesanmu, sudah tentu pertanyaan paling wajib darimu yaitu apa kau marah?. Sebenarnya semakin aku mengenalmu, banyak hal yang aku pelajari darimu. Katamu, apapun yang kita ceritakan akan menunjukan setiap perasaan kita. Di situlah kita bisa menilai seseorang yang begitu peduli atau tak peduli atas segala peristiwa. Karnanya, aku tak ingin berlelah menjelaskan padamu. Biarlah kau menerka sendiri. Aku juga demikian, tak ingin bertanya atau berusaha menemukan penjelasan darimu. Bagiku, jika sudah waktunya kau pasti akan memberikan panjangnya penjelasan mengenai perubahan sikapmu. Hari ini adalah untuk kesekian kalinya sejak perkenalan dan kedekatan kita terjalin, kau mampu menantikan aku di tengah kesibukanmu yang meroket. Kesibukanmu sudah menjadi kembang api yang melayang diudara, namun ampasnya tak menghilang karna meninggalkan jejak di tempat tak terduga. Ketika kau begitu sibuk, kau menghilang beberapa saat lalu kembali di jam yang tak menentu.

Aku tuliskan semua ini, hanya karna permintaanmu. Kau meminta untuk aku tak pernah berhenti menanggapimu, kau meminta aku tak pernah berhenti mengabarimu, kau memintaku tak pernah berhenti berkata jujur soalmu, kau memintaku untuk ketika marah boleh mencacimu asalkan jangan pergi apalagi ketika kau sedang menungguku (adalah permintaan terkonyol darimu!), kau memintaku untuk terus bersahabat denganmu jika (……….. kau isi sendiri saja) dan kau memintaku untuk saling membuka kejadian paling memalukan diantara kita. Apa kau tahu bahwa aku tertawa ketika menuliskan ini mengingat semua ekspresi wajahmu yang terekam di mataku. Menemukanmu ketika suasana asing menyelimuti cerita kita, tak pernah terpikir bahwa kedekatan kita bisa awet seperti sekarang. Katamu sekarang, kita berdua sudah menunjukan sikap paling sebenarnya. Aku yang cepat kesal walaupun itu hanya candaan dan kau si perasa yang sangat tinggi kadarnya. Setiap permintaan-permintaanmu yang sejatinya belum mampu aku sanggupi, selalu menjadi perbincangan yang serius darimu. Aku tak pernah bisa berjanji tuan, aku hanya takut semuanya tak tertepati.

Aku hanya bisa berjanji terus di sisimu, untuk bersamamu mengalahkan waktu yang selama ini kita kejar dan aku berjanji akan terus mengelilingi dunia bersamamu di setiap percakapan kita. Lewat tulisan ini aku kirimkan terima kasih padamu, yang sejauh ini selalu membuatku memiliki alasan untuk berbenah, yang sejauh ini selalu menyisipkan keseriusan di setiap candaanmu, yang sejauh ini menjadi teman paling nyama bercerita tentang apapun. Terima kasih banyak!.

Membungakan Tiap Episode Hariku

img_20180422_115345802243640.jpg

Membungakan segala kisahku setiap hari adalah kegemaran tersendiri yang sekarang sedang aku geluti. Menatap setiap bunga yang aku jumpai di manapun, akan selalu aku kaitkan dengan segala episode hariku. Di tambah lagi, sekarang kegemaranku ini sudah menjadi topic harian yang akan aku bincangkan dengan seseorang. Entah dia menyampaikan pendapatnya ataupun memperkenalkanku dengan bunga-bunga asing yang tak pernah aku jumpai. Syukurlah, ada dia yang bisa berbagi seputar kegemaranku sekarang.

img_20180419_1835031377989414.jpg

Membungakan segala kisahku, tak tahu mengapa sekarang begitu menyenangkan melakukannya. Mencari-cari kesamaan, mencari-cari hubungan dan korelasinya lalu menghubung-hubungkannya hingga layak dijadikan cerita dan menyenangkan jika dibaca. Semacam cara menyelamatkan diri dari kepenatan yang hampir saja mampu membunuh kenyamanan. Kenyamanan ini sudah tumbuh kembali, walau pernah terhalang dan diintai hingga menunggu waktu pembantaian yang tepat untuk menutup rapat-rapat kenyamanan. Soal kenyamanan yang aku ciptakan untuk diriku sendiri, belum maksimal. Masih sangat tergantung suasana hati. Katamu, mungkin karna aku masih muda. Masih sangat labil dalam hal emosi, hingga semuanya masih diputuskan berdasarkan suasana hati. Ya aku setuju, itu ada benarnya. Soal suasana hati memang tak bisa dipungkiri bahwa hati adalah nyawa paling besar dalam diri manusia setelah pikiran. Keduanya sering bertolak belakang, namun hati lebih mudah untuk menaklukkan pikiran. Pikiran kadang kala kalang kabut menghadapinya. Apalagi jika satu episode yang terjadi mampu mengikis bahkan merobek lalu mematahkan kestabilan hati, aku yakin pikiran akan termangu-mangu tak karuan karna diperdaya oleh hati. Soal hati, benar katamu. Mampu melabilkan semua orang. Apalagi aku yang terus membungakan segala kisahku yang didalamnya turut juga kau, aku kisahkan. Kau tahu mengapa aku memilih bunga? Bukan karna ia indah, itu terlalu umum dengan alasan paling klasik. Alasanku memilih bunga karna ia tak pernah berhenti menghibur. Masihkah klasik? Iya. Alasan lainnya karena aku mengagumi dirinya yang melindungi diri walau sudah pasti nyawanya akan berhenti ketika aku memetiknya. Tak penting soal itu, karna bagiku caranya melindungi diri dari gemuruh hujan, badai angin maupun serangga-serangga yang bersemayam bahkan memakamkan diri di tubuhnya tak pernah mampu ia keluhkan. Itulah bagiku, mengapa dia mampu melindungi diri.

img_20180419_1058401743353001.jpg

Defenisi melindungi sebenarnya sama dengan menjaga diri. Bunga mungkin tak pernah menjaga diri, ia biarkan dirinya digunakan oleh yang lainnya. Itulah sebenarnya bagiku yang namanya melindungi, ketika memberikan dirinya bagi orang lain. Aku tak bisa seperti itu, karnanya kukagumi kekhasannya di hadapanku sekarang. Banyak bunga yang aku jumpai tak pernah kutahu namanya, banyak bunga yang aku jumpai juga tak pernah disebut bunga sebab lebih banyak disebut rumput. Bunga rumput adalah yang selalu aku sebut bahkan aku baca di artikel-artikel yang lain. Aku seringkali membungakan kisahku bukan karna untuk melindungi orang lain, aku belum mampu. Sungguh sekalipun, belum ataupun tidak mampu. Aku hanya mampu membungakan segalanya, agar segala yang berat di ingatan maupun memori tak menyurutkan seluruh kenyamananku atas segala episode kehidupanku. Yang buruk maupun yang baik mampu aku syukuri dengan semestinya, agar Tuhan tak jemu-jemu memberkati kehidupanku.

img-20180412-wa00151957506536.jpg

Terima kasih kepada seluruh bunga yang aku libatkan untuk membungakan kisahku, kalian memang inspirasi segala mahkluk!.

Dini Hari Bersama

Selamat Malam duhai kantuk yang masih tertahan, mengapakah kau enggan meninggalkan? Aku letih berdiam diri karna tak bisa mencegahmu untuk pergi. sebenarnya yang aku ingin bukan kantuk yang tertahan, yang aku ingin kantuk yang benar-benar datang lalu menetap. Bukan yang hanya tertahan sebentar lalu sudah pasti akan pergi dengan cepat juga. Malam ini di tengah waktu yang sudah tengah malam, telingaku masih dibungkam dengan lagu-lagu pilihan pengantar tidur. Kau tahu kan, tipe lagu macam apa yang akan menghiburku untuk segera tidur? Iya, lagu patah hati serta jiwa yang berasa melayanglah yang aku pilih. Kau tahu mengapa? Supaya semua kesedihan yang tertahan, larut bersama kantuk yang sudah menetap.

Bagaimana dengan harimu? hari ini, hari ini adalah hari yang panjang. Rutinitasku masih sama, masih tetap menjalankan ritual tidur siang dan sekarang sudah mulai terbiasa. Setiap pukul satu, selalu kantuk akan datang dengan lebih mudah. Mungkin karna hari ini, hujan datang bertubi-tubi sehingga uap dingin bertamu di awan-awan rumahku hingga aroma kantuk menari-nari bahagia di atas kepalaku. Hari ini aku tak pulas dan puas tertidur, masih tetap dihinggapi aura kepanasan yang berjoget di kening hingga keringat yang membuatku tak betah telentang di ranjang. Karnanya aku tetap saja, tak merasa menyenangkan hari ini.

Malam ini, ada gerimis kecil yang menghantam kepalaku. Gerimis sungguhan, bukan pengandaian. Rasanya tak sakit, sama sekali tidak. Hanya lebih cepat membuatku kedinginan, di bawah sinar rembulan yang menyinari jejakku. Kau tahu apa yang aku lihat? Tentu saja bulan. Bulan penuh yang melingkar di langit malam yang hitam serta gelap. Sebenarnya jika aku perhatikan lama, terlihat cukup menyeramkan ternyata. Apalagi dengan suasana mencekam, di tengah hitamnya langit malam. Tapi ada banyak hal yang terjadi di bawah sinarnya, ada bahagia yang terekam, ada sedih yang terdengar bahkan ada peristiwa-peristiwa yang menggelikan waktu. Peristiwa malamku, malam ini terlalu datar untuk aku ungkapan. Setiap hari selalu begitu, hingga aku dibuat tak berdaya karnanya. Jika aku mampu mengendalikannya, pasti sangatlah menyenangkan. Pelan namun pasti, sudah terbiasa. Bukan, antara terbiasa lalu menjadi rutinitas dengan belum terbiasa lalu menjadi pelit hati. Antara menerima kenyataan lalu mencoba untuk menjadikannya menyenangkan.
Sekarang sudah pukul dua dini hari dan mataku masih terbuka lebar menatap layar laptop, jari-jariku menari bebas di papan keyboard serta ponselku bergetar karna kau terus menyuruhku tidur. Mataku belum menemukan kantuk yang cemerlang, karnanya aku memikirkan untuk membuat diriku lelah dan dihampiri kantuk yang beruntun. Kau di sana, terus saja menyuruhku tidur namun tetap mengirimi banyak pesan untuk memastikan bahwa mataku masih terbuka dan jemariku masih berjoget di papan tombol laptop. Kau juga tak kunjung tidur hingga membuatku terus saja membalas pesanmu. Yang pasti, menyenangkan jika sudah sampai dini hari masih ada orang yang menemani waktu begadangku, lalu berusaha merayuku untuk tidur. Entah itu berpura-pura prihatin atau sebaliknya, kau juga sedang sibuk di sana.

Selebihnya, ada hal menyenangkan di balik setiap malamku. Itu karna, ada kau di sana. Pelengkap peristiwa menyenangkan maupun menyedihkan. Katamu, bulan juga bertamu di rumahmu. Ya pasti, kita masih tinggal di bumi yang sama. Terima kasih, karna melengkapi malamku selama ini. Aku terlalu mengagumimu.

Menguak Menjelang Panjangnya Hariku

Pagiku dibuka dengan menatap langit lalu memprediksi mengenai hujan maupun melebarnya awan yang menambah kesan romantis di setiap tatapanku pada langit. Pagiku ini, setiap hari selalu sama. Sama untuk menatap langit, memotret daun rumput tapi syukurlah memperlancar hariku yang tadinya tersendat selain melakukan tugas menjadi pengangguran. Juga kau yang hadir di pagiku, entah hanya mengatakan Selamat Pagi, Kepunyaan!.

IMG_20180408_140830

Menjelang Siang, kau tahu bahwa aku akan menonton birunya langit dan laut, hijaunya dedaunan dan gugurnya tua daun yang bertamu di tanah. Aku juga mengomentari dan menyelamatkan jemuran dar amukan hujan, yang ditandai dengan gelapnya awan di langit siang. Kau akan tahu, lalu dengan tenang bercerita tentang hal yang sama pula padaku. Baiklah, kali ini kita sudah bisa selaras. Di awal, kita sama sekali tak selaras. Kau suka sapi yang adalah binatang besar. Katamu, potret sapi selalu memenuhi galeri ponselmu. Aku tahu, bahwa masing-masing orang punya kegemaran tersendiri soal kegemarannya. Dan aku menghormati binatang favoritmu itu. Namun sekarang, entah bagaimana kau menolak kebiasaanmu dan menyadari bahwa itu aneh. Tak ada yang aneh sayang, yang aneh hanyalah sudut pandangmu dan cara kau menatapnya. Jika baik, mengapa kau hentikan?, kau sudah jelas akan menjelaskannya padaku sebanyak mungkin mungkin mendekati sepuluh urutan alasanmu yang kau beberkan padaku.

Menjelang Sore, aku sibuk dengan duniaku. Kau tahu kan? iya, tidur siang. Cara mengistirahatkan pikiran dari berbagai pikiran yang sudah membebani hari dan sudah sangat sering menghantui lelapnya tidurku di malam hari. Karnanya, menghadirkan tidur siang adalah melenyapkan beban pikiran untuk sementara, mungkin karna siang hari yang terang benderang hingga membuatku bisa lelap walau tak banyak jam seperti di malam hari. Kantuk di siang hari lebih cepat dan mudah menghampiri daripada di malam hari. Di malamku biasanya, kantuk sulit menghampiri. Tak tahu mengapa, mungkin karna beban-beban pikiran yang sudah menumpuk lalu menggunung hingga memberatkan kepala hingga kantuk pun sulit datang untuk bersarang. Tapi tak mengapa, ada banyak cara yang bisa aku lakukan. Entah sekedar menatap layar ponsel atau layar tv serta mendengarkan musik yang aku gemari.

Menjelang Malam, kau datang dengan kabarmu, soal harimu, soal duniamu, soal semua yang terlintas di kepalamu. Ya, kita memang saling bercerita. Entah aku yang bosan lebih dulu, atau kau. Biasanya aku, hingga aku menyertakan jawaban diplomasi tiga hurup iya dan dengan segera kau akan tahu bahwa aku sudah bosan mendengar ceritamu atau sekedar meresponi seluruh ceritamu mengenai hari itu. Biasanya kau akan mempersilahkan aku untuk bercerita lagi, tapi kau akan segera tahu jawaban paling singkat dariku bahwa aku tak punya cerita apapun. Kau akan merayu supaya aku bercerita soal apapun, tapi akan aku tolak lalu kau menghadirkan cerita baru yang lebih bagus lagi untuk kita diskusikan. Sebenarnya aku bahkan kau membutuhkan itu, hanya untuk menemukan dan mengetahui bagaimana seseorang punya pikiran yang berbeda dengan kita. Bila stok bercerita kita telah usai, kau akan mengatakan hal konyol yang menurutku lucu dan tak lucu sama sekali. Soal lucu dan tidaknya, aku tahu bahwa kau juga sedang berusaha menghiburku dengan jutaan kekonyolan tak konyol yang kau ciptakan serta hidangkan di setiap malamku, karna memang hanya malam baru kau berkunjung lalu menetap entah di kenyataan atau sekedar percakapan. Aku lupa, bila stok kekonyolanmu juga telah berakhir kau akan menghadirkan ratusan pertanyaan padaku yang tentu saja akan membuatku bersedia menjawabnya. Kau akan meresponinya dengan menyertakan tanggapanmu, lalu berkata yang sejujur-jujurnya padaku. Soal pengalamanmu, soal sudut pandangmu yang tak jarang membuatku juga berkomentar bahwa sudut pandangmu itu terlalu membuang-buang waktu. Tapi sudahlah, tiap orang lebih mengenal dirinya sendiri. Dan sudah tentu setiap lawan bicaranya akan mampu untuk hanya berkomentar dari sisinya. Entah setelah itu, menghasilkan perdebatan atau melahirkan sebuah solusi yang baru. Selebihnya malamku akan segera ditutup atau akan pergi bila sudah dihampiri kantuk yang sedari tadi ditunggu. Kau akan mengerti, lalu kita akan saling menutup malam dengan mengucap Selamat Malam, our timeless!.

 

Untukmu, Yang Masih Sulit Memilih

FB_IMG_1505794987295Satu waktu yang kau punya, untuk menyendiri. Menyendiri adalah pilihanmu untuk membuang seluruh energy negatif yang cukup menyita harimu. Ya, aku mengerti bahwa kau sudah cukup lelah dengan semuanya, lelah dengan harimu, lelah dengan pikiranmu dan juga lelah denganku. Kita telah saling mengisi, saling memahami dan sudah sangat untuk saling beriringan namun tetap saja ada banyak kendala yang menemui kita. Kendala itu sudah mengasinkan kita hingga sudah tak layak dikonsumsi lagi, jika harus dikonsumsi lagi maka yang terjadi hanyalah menghasilkan muntahan demi muntahan yang tadinya tak layak itu. Lalu harus bagaimana? Memaniskannya atau menghangatkannya lagi? cukup sulit bila harus dipilih antara keduanya. Jika harus memaniskannya, maka menambahkan pemanis. Itu artinya hanya untuk mengenang yang sudah lewat untuk menjadi semangat yang tadinya sudah kendor. Berhasil memang, namun aku yakin tak sampai ratusan menit. Hanya beberapa menit yang lebih sedikit dari sepuluh. Jika harus menghangatkannya, mungkin harus ditambahkan air juga. Lalu? Apa gunanya, selain semuanya tenggelam begitu saja?. Maksudku, menghangatkan bukanlah solusi terbaik. Semuanya akan tenggelam, yang tersisa hanyalah tubuh dan rupa, sedang yang menjadi pelepas beban sudah hilang.

Kurang lebih seperti itulah yang memang sekarang sedang terjadi. Diantara pilihan, memaniskan ataukah menghangatkan dan bersedia semuanya tenggelam? Dilemma memang, bila harus memilih antara keduanya. Bisakah tak memilih?. Semakin berlari, maka semakin dikejar. Ini kehidupan bukan sebuah pertandingan yang memakai masa. Massa yang terjangkau beberapa pekan lalu hilang seterusnya. Lalu kita harus bagaimana?. Aku pikir jalan satu-satunya adalah membicarakannya dengan sadar tanpa kadar emosi, tanpa bumbu amarah, tanpa penyedap kebohongan. Semuanya harus dinyatakan secara sadar tanpa tambahan apapun, dengan hanya membicarakan secara berdua. Mengeluarkan seluruh gumpalan-gumpalan yang mengendap di dada, gumpalan yang tersangkut di ujung bibir, gumpalan yang menghalangi pikiran baik bernapas di kepala. Semuanya jangan dicampur-adukan dalam sebuah percakapan. Jika memang membutuhkannya, tuangkanlah seadanya. Tuangkanlah sesuai waktunya, dan sekali lagi hanya tuangkan. Jangan muntahkan!. Karna baunya yang tak sedap akan menyebar kemana-mana, hingga menyebabkan perasaan tak nyaman.

Begitulah kita, jika harus memutuskan demikian. Satu-satunya pilihan paling terbaik adalah selesaikan dengan bahagia, selesaikan dengan sewajarnya, selesaikan dengan perasaan ketika dulu saling menemukan lalu kemudian berkomitmen. Selesaikan dengan jalan damai dan perasaan tenang. Aku yakin, semuanya akan mengenyangkan kita. Tak pernah ada kelaparan yang merenggut nyawa hubungan kita, jika memang nyawa telah merenggut hubungan kita biarlah ia mati bahkan lenyap dengan bahagia. Bukan dengan kesakitan yang menyisakan penderitaan. Penyesalan pasti ada, namun tak sebanyak bahagia yang kau rasa. Bila bahagia telah melingkupi, tak ada yang akan selalu disesalkan. Jika iya, lebih baik disesali sesuai waktunya dan jangan menabungnya di arsip penyesalan, karna satu saat akan muncul jika kembali dicari dan diperlukan. Hingga semuanya menjadi nyata dengan sebuah air mata, itu terlihat terlalu sedih. Entah mengharukan ataukah menyedihkan. Selebihnya, biarlah kau yang memilih.

Teruntuk, kawanku yang tak pernah lelah berkisah.

Catatan Pendapatku, soal lagu Palace milik Sam Smith

Malam ini aku ditemani lagu indah milik Sam Smith berjudul Palace. Lagu paling manis di hariku yang sama sekali tak manis. Sudah pasti emosi lagu ini akan tertransfer dengan sendirinya di malamku, karna lebih menyenangkan mendengarkan lagu ini di kala malam telah memeluk. Aku tak bercerita soal pengalamanku yang berkaitan dengan lagu ini, hanya saja aku ingin berbagi soal pendapatku mengenai indahnya lirik-lirik yang manis namun terkesan pedih di dalamnya. Beginilah lirik lagunya,

download (2)

My head is filled with ruins, most of them are built with you. Now the dust no longer moves, don’t disturb the ghost of you. They are empty, they are worn. Tell me why what we built this for, on my way to something more. You’re that one I can’t ignore. I’m gonna miss you, I still there. Sometimes I wish we never built this palace. But real love is never a waste of time.

Yeah I know just what you’re saying, and I regret ever complaining. About this heart and all its breaking, it was beauty we were making. And I know, we’ll both move on, you’ll forgive what I did wrong. They will love the better you, but I still own the ghost of you. I’m gonna miss you, I still there. Sometimes I wish we never built this palace. But real love is never a waste of time.

Soal judulnya saja Palace yang berarti istana, disamakan dengan sebuah hubungan yang layaknya istana. Dibangun bersama pasangan, hingga terbiasa dengan seluk-beluknya yang berarti baik-buruk yang sama-sama dinikmati. Ya, kurang lebih begitu jika secara singkat mencoba untuk memahami pesan yang disampaikan secara lugas mengenai judul lagunya.

Bagiku mendengarkan penyanyinya menuturkan setiap lirik dalam alunan musik sederhana nan indah, aku turut sedih merasakan emosi yang menjadi nyawa dalam lagu ini. Jiwa dalam lagu ini mengisahkan soal dinamika dalam hubungan atau pasang-surut hubungan yang selama ini sudah terbangun. Berikut akan aku utarakan soal pendapatku,

My head is filled with ruins, most of them are built with you (kepalaku terisi reruntuhan, yang sebagian dibangun bersamamu): mendengar dan menghayati pembuka lirik lagu ini saja, sudah bisa dibayangkan bagaimana sedihnya hubungan yang sebenarnya sudah hancur. Soal reruntuhan yang mengisi kepala, aku yakin itu soal kenangan yang dibangun bersama pasangan entah itu menyenangkan maupun menyedihkan. Yang namanya kenangan, tak bisa lepas dari keduanya bukan? Saat reruntuhan itu mengisi kepala bahkan hampir menindih kepala, sebenarnya itulah bagian tersedih. Bagaimana sama-sama berjuang, namun yang tersisa hanyalah reruntuhan yang menandakan bahwa ada istana yang telah hancur setelah berjerih untuk membangunnya. Seluruh peluh yang terkumpul bahkan bisa ditampung itu, kini hanya berupa reruntuhan yang terus muncul di ingatan dan akhirnya merasa terus dihantui. Selebihnya apa yang bisa dilakukan, selain dinikmati saja?

Now the dust no longer moves, don’t disturb the ghost of you (sekarang tak ada debu yang bergerak, jangan ganggu bayanganmu): apa jadinya bila ada debu yang tak bergerak? Mungkin anginnya sengaja ditiadakan di antara reruntuhan itu. Inilah bagian paling mengharukan, sebab debu dalam reruntuhan pun adalah bagian dari istana yang dibangun bersama pasangan. Jika debu itu bergerak dan diterbangkan oleh angin, mungkin kepingan-kepingan kenangan (reruntuhan) akan berubah, akan tak sama dengan yang sedang memenuhi kepala. Itulah mengapa, dia mengatakan untuk jangan ganggu bayanganmu. Soal bayangan saja sudah dipertahankan, tentu saja kenangan atau reruntuhan itu tetap dihidupkan. Reruntuhan itu tak mau berpindah ataupun dipindahkan, dia tetap ada dengan harapan masih bisa direnovasi.

They are empty, they are worn (mereka telah kosong, mereka telah rata): debu itu sudah kosong dan telah rata, yang artinya sudah tak ada lagi yang tersisa. Semuanya sudah hilang. Inilah yang menyatakan bahwa semakin dipertahankan, maka akan semakin hilang. Semakin dihidupkan, semakin disadari bahwa semuanya telah lenyap dan tak ada yang tersisa lagi.

Tell me why what we built this for, on my way to something more. You’re that one I can’t ignore. (katakan padaku mengapa kita membangun ini, di jalanku kau adalah seorang yang tak bisa aku abaikan): pada bagian ini penulis lagu ini ingin menyampaikan pesan, bahwa mengapa telah berjuang membangun semuanya namun berakhir? Mengapa harus berakhir ketika pasangannya adalah seseorang yang sama sekali tak bisa diabaikannya? Soal mampu atau tidaknya mengabaikan orang yang dikasihi dengan hati yang sungguh, adalah sangat sulit. Ketika dia tak disisi saja, membayangkan bayangannya saja sudah bahagia. Lalu bagaimana jika dia yang nyata sudah memutuskan untuk pergi? masih bisa membahagiakan diri, dengan menghadirkan bayangannya di sisi. Di sinilah mungkin, yang biasanya dikatakan bahwa cinta memiliki kekuatan, untuk memiliki walau sudah tak dimiliki lagi. Memiliki yang telah pergi dan tidak sebaliknya. Biasanya para pecinta akan kalah di bagian ini, sebab para pecinta lebih memilih untuk memiliki namun tak rela untuk melepaskan. Di beberapa artikel yang aku jumpai menyatakan bahwa yang namanya cinta sejati adalah rasa tulus yang sesungguhnya. Rasa tulus menerima kenyataan yang kadangkala terlalu sulit dipahami, semuanya memang perlu rumus yang dikerjakan dengan tepat. Kemungkinan gagal pasti besar, namun jangan pernah berhenti berusaha. Begitulah, yang selalu terisi mengenai kutipan nasihat bila beberapa artikel mulai mengisahkan soal makna cinta sejati yang sebenarnya.

I’m gonna miss you, I still there. Sometimes I wish we never built this palace. But real love is never a waste of time (aku akan merindukanmu, aku tetap di sana. Kadang aku mengharapkan, kita tak pernah membangun istana ini. Karna cinta sejati, tak pernah membuang-buang waktu): setelah menerima kenyataan bahwa hubungan itu harus dan sudah berakhir namun menolak bayangnya pergi, tetap saja rindu akan bersarang. Rindu akan lengket dan rekat terus menerus. Rindu akan melekat dengan kuat hingga berakar dan terus bertumbuh, karna menolak bayangnya pergi. Lalu selebihnya, hanya akan berjanji bahwa aku akan terus di sana, di istana yang dibangun ketika kita. Inilah yang menandakan bahwa, tak ada janji yang bisa dijanjikan namun janji yang sempat terucap. Janji yang mungkin akan sulit diingat, namun yang ditawarkan. Janji yang ditawaran itu dinyanyikan, sebab berpegang pada pemahaman bahwa “cinta sejati tak pernah membuang-buang waktu”. Banyak orang yang berkata dan percaya bahwa, sejauh apapun kaki melangkah dan hati bersinggah di beberapa pelabuhan, akan tetap kembali pada cinta sejatinya jika rumah itu sudah ditemukan untuk meneduhkan kaki yang lelah melangkah dan hati yang sudah kebal akan sakit. Soal pertanyaan mengapa pernah membangun hubungan ini bersama, rasanya saat cinta datang mengapa tak pernah menyiapkan pertanyan seperti itu? pertanyaan seperti itu hanya akan muncul ketika sudah lenyaplah suatu hubungan. Cara terbaik untuk menjawabnya adalah menyertakan serta menghadirkan seluruh kenangan, supaya hadirlah jawaban bahwa dia sempat jadi versi terbaik menurutmu.

Yeah I know just what you’re saying, and I regret ever complaining (ya, aku tahu apa yang kau katakan, dan aku menyesal pernah mengeluh): dalam sebuah hubungan soal mengeluh-marah-kesal-merengek sudah menjadi makanan. Bila tak ada itu, maka hubungan itu tak ada kemajuan. Tak ada yang bisa didiskusikan jika hal itu tak pernah menghampiri kisah cinta. Tak ada menyenangkannya jika tak mengekspresikan serangkaian emosi seperti itu. Karna hal itu adalah sangat wajar bahkan lumrah untuk terjadi dalam sebuah hubungan, tentu saja akan ada diskusi untuk menemukan solusi supaya jangan ada lagi mengeluh. Namun bila menerima kenyataan bahwa hubungan ini sudah benar-benar berakhir, tentu saja penyesalan akan dulu pernah sama-sama mencari lalu menemukan solusi untuk segala keluh kesah yang tak kunjung hilang. Menyesal memang adalah bagian yang tak bisa dihindari, bila hubungan sudah berakhir. Namun penyesalan bukan hal yang keliru, itu adalah sebaliknya, baik. Supaya mengingat segala yang dulu pernah dilakukan bahkan dilalui, supaya semuanya bisa berangsur-angsur berdamai dengan kenyataan.

About this heart and all its breaking, it was beauty we were making (tentang hati ini dan seluruh patah hatinya, itu adalah hal terindah yang pernah kita lakukan): soal hati setelah mengalami kegagalan di hubungan, tentulah mengalami patah hati. Fase ini adalah yang tersulit dan tentu saja akan dialami oleh seluruh pecinta di dunia. Soal hati yang merengek sedih, soal hati yang menangisi kenangan, soal hati yang berulang kali berteriak meminta kembali, soal hati yang berkali-kali menolak kenyataan dan soal hati yang sama sekali belum tersembuh maupun disembuhkan. Mau diapakan hati ini? pastinya, diterima dan diberi waktu untuk memulihkan hati yang tadinya ditumbuhi bunga-bunga indah. Hati itu layaknya kebun, dirawat dulu baru bisa menghasilkan meKAR-mekar bunga yang mengindahkan kebun. Sama, hati juga demikian. Perlu merasakan lelah dulu untuk memperbaiki bahkan memulihkan, selebihnya sudah bisa menerima kenyataan dan sudah bisa ditata lebih baik lagi. Soal patah hati, ada banyak anggapan. Ada yang mengatakan indah, itulah yang diungkapkan penulis lagu ini. Ia menyertakan pesan bahwa hati dan seluruh patah hatinya adalah yang terindah yang pernah dirasakannya. Soal mencinta dan dicinta, itu bukan hal yang mudah. Soal kita berada di pihak manapun, akan tetap merasakan patah hati sebab sudah tak ada lagi sosok yang dulu menemani hari. Sudah tak ada lagi, sosok yang dulu berbagi waktu. Entahkah patah hati adalah tangisan atau apapun, mari sikapi semuanya dengan positif. Isilah hati yang patah dengan aroma bahagia, supaya hati yang patah akan cepat tersembuhkan dan pulih seperti semula ketika menghirup aroma bahagia itu. Apakah aroma bahagianya? Belajar bersyukur akan segalanya!

And I know, we’ll both move on, you’ll forgive what I did wrong (dan aku tahu, kita berdua akan berubah, kau akan memaafkan kesalahan yang aku buat): pada bagian ini sudah tentu berisikan pesan bahwa masih ada kesempatan. Masih ada kesempatan untuk lebih baik lagi, yaitu dengan saling memaafkan. Kesempatan bukan pertanda untuk hubungan yang sudah berakhir, dimulai kembali. Namun untuk saling dewasa menyikapi kenyataan adalah dengan belajar saling memaafkan segala kesalahan yang pernah dilakukan. Itu adalah cara paling aman menyikapi keadaan, untuk memulai suatu dunia baru tanpa ataupun ada dia di samping.

They will love the better you, but I still own the ghost of you (mereka lebih mencintaimu, tapi aku masih memiliki bayanganmu): soal mantan pasangan, tentu saja dia memulai sesuatu yang baru. Ada yang lebih mengasihinya, ada yang lebih dan lebih padanya. Dan kau masih saja, tanpa pernah menghilangkan sedikitpun rasamu terhadapnya dengan tetap memelihara bayangannya di sisi. Kelihatannya sangat egois, namun di sisi lain ini adalah sikap terbaik. Tanpa pernah mencampuri cinta lain yang telah dimiliki mantan, dengan tetap memelihara bayangannya. Memelihara bayangannya ini, bagiku hanya pada fase memperbaiki diri dan menata hati. Tak perlu menyangkal untuk menolak keberadaan bayangnya, memelihara pun sudah merasa cukup. Menghidupkan kenangan yang tak pernah tidur.

Setelah aku mengulas sejumlah catatan pendapatku atas lagu ini, semoga kalian juga menyukai lagu indah ini dan segera menata hati ketika istana kalian sudah menjadi reruntuhan!.